Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
107.Panggil bunda


__ADS_3

Reyhan mengernyitkan dahi nya ketika Shinta menggeser beberapa gambar desain dan di setiap sisi pojok gambar itu selalu ada huruf Z


"Minum" Ucap Reyhan memberikan dua botol air mineral


"Eh.. iya kak, makasih" Ucap Shinta sedikit tersentak karena Reyhan yang sudah ada di belakang nya


Reyhan kemudian duduk di bangku yang terletak di sebelah Shinta, jadi tetap ada jarak di antara mereka


Shinta yang melihat Reyhan beberapa kali melirik tab milik nya pun segera menutup tab itu


"Arsitek?" Tanya Reyhan ambigu


"Ha? arsitek apa nya?" Tanya Shinta balik


"Kamu arsitek?" Tanya Reyhan yang membuat Jannah juga ajudan menoleh kompak


"Pfft.. kakak jadi arsitek? gak mungkin" Ucap ajudan dengan menahan tawa nya


"Shinta kan ngambil jurusan apoteker, emang bisa jadi arsitek?" Tanya Jannah yang memang ada benar nya


"Kenapa nanya gitu?" Tanya Shinta


"Desain bangunan yang kamu buat bagus" Jawab Reyhan


"Oh... aku emang suka gambar desain desain bangunan, sekedar hobi" Jawab Shinta


"Mau maghrib nih kak, ke musholla yuk... kita sholat dulu" Ajak ajudan sebelum Reyhan bertanya lebih jauh lagi, lagian sebentar lagi juga pasti adzan maghrib akan berkumandang


Selepas sholat maghrib di musholla komplek, barulah mereka kembali ke rumah untuk menyiapkan barang yang akan mereka gunakan untuk barbeque nanti


Dalam perjalanan pulang, Shinta beberapa kali tersenyum karena mengingat Reyhan tadi sempat menggunakan masker saat membantu nya membagikan makanan karena sedikit merasa tidak nyaman dengan pandangan ibu ibu komplek pada nya, meskipun Reyhan cuek dan nampak tidak peduli, namun Shinta tau kalau laki laki itu memang merasa tidak nyaman

__ADS_1


Begitu juga waktu selesai sholat, ibu ibu di shaf wanita langsung membicarakan Reyhan yang sempat mereka lihat tadi, Shinta tau itu karena dia juga berada di shaf wanita tapi dia hanya diam sambil terkikik geli


"Lo ngapain senyum senyum gitu?" Tanya Jannah heran dengan sahabat yang duduk di samping nya


"Gak papa" Jawab Shinta menggelengkan kepala kemudian keluar dari mobil nya karena mereka baru saja sampai di rumah


"Jangan ditutup gerbang nya pak, biarin aja" Ucap Shinta mencegah pak Didi yang hendak menutup gerbang karena mengingat ada tamu laki laki di rumah nya


Mereka kemudian memasuki ruang tamu tanpa menutup pintu kembali supaya tidak timbul fitnah nanti nya


"Udah selesai?" Tanya bunda yang memang menunggu mereka di ruang tamu


"Udah bun" Jawab Shinta seraya mendudukkan diri nya di samping sang bunda, begitu juga yang lain nya langsung duduk masing masing


"Kalian... " Ucap bunda menggantung dengan melirik Reyhan juga Shinta secara bergantian


"Kalian apa bun?" Tanya Shinta bingung, ehtah kenapa di saat saat seperti ini justru otak nya mengloading


Belum sempat Shinta menjawab, Reyhan lebih dulu memberi kode agar dia saja yang menjelaskan, Shinta pun mengizinkan karena dia tau perasaan Reyhan yang pasti ingin diberi kesempatan berbicara pada bunda nya


"Gini tante... Reyhan sama Shinta belum punya ikatan sama sekali" Ucap Reyhan menjelaskan dengan sopan dan memberi jeda


"Kenapa?" Tanya bunda karena menurut nya anak jaman sekarang merasa gak afdhol kalau gak pacaran


"Karena Shinta sendiri juga enggan memiliki ikatan kecuali pernikahan" Sambung Reyhan yang membuat shinta membelalakkan mata nya, kapan dia bilang tentang menikah?


"Katanya ikatan pacaran, komitmen, atau apapun itu tidak membuktikan sesuatu jika di antara mereka ada yang berkhianat, Shinta juga bilang kalau janji ikatan apapun tidak seindah janji di buku nikah tan" Ucap Reyhan yang masih ingat perkataan Shinta


Bunda tersenyum mendengar penjelasan Reyhan barusan, dia mengerti kenapa Shinta berbicara seperti itu pada Reyhan, karena sekarang banyak pergaulan bebas bahkan melakukan hal diluar batas dengan mengatasnamakan hubungan pacaran, padahal yang mereka lakukan itu salah dan hubungan terbaik adalah pernikahan yang menyatukan kedua insang secara agama juga negara


"Tapi meskipun kami tidak memiliki hubungan, perasaan kami sama tan, saling mencintai dan melindungi satu sama lain, jadi Reyhan minta maaf kalau tante kecewa" Ucap Reyhan yang berbicara sejujurnya karena dia tidak ingin menutupi apapun dari bunda nya Shinta

__ADS_1


"Kenapa tante harus marah?" Ucap bunda heran dengan kata kata Reyhan barusan


"Lebih baik seperti ini... menjalani tanpa ikatan apapun hingga kalian siap dipersatukan dengan menghela nafas satu tarikan, dan mengucap ijab di depan Alloh swt" Ucap bunda lembut yang tentu saja membuat pipi anak gadis nya itu memerah, sedangkan Reyhan langsung tersenyum dan bersyukur karena Bunda mau memahami keadaan mereka berdua yang tidak ingin memiliki hubungan apapun kecuali pernikahan


"Bunda tau kalau memutuskan pernikahan itu juga tidak mudah, tapi bunda harap nak Reyhan nanti bisa membuktikan keseriusan nya dan kalian tidak akan lama lama mengambil keputusan karena perasaan kalian juga sama" Ucap bunda karena perasaan nya bilang kalau Reyhan itu anak baik yang bisa membahagiakan anak gadis nya, dan jika Shinta dekat dengan laki laki itu berarti mereka sudah lama mengenal satu sama lain


Reyhan senang karena mendengar hal itu,bahkan setelah peresmian nya nanti dia berencana mengenalkan Shinta pada papa nya


"Bunda... " Ucap Shinta yang malu dengan pembicaraan mereka barusan


"Bunda dukung kamu kok" Ucap bunda lirih, meskipun Shinta berhijab namun dia tidak pernah melarang Shinta untuk dekat dengan siapapun selagi mereka tidak melakukan kontak fisik yang melanggar aturan agama


Dalam hati Shinta berterima kasih karena bunda nya memang tidak pernah memandang orang lain dari luar nya, tapi dia tidak tau bagaimana nasib Reyhan jika berhadapan dengan ayahnya nanti


"Terimakasih tante..." Ucap Reyhan tulus


"Kenapa manggil tante? panggil bunda aja gak papa kok" Ucap bunda yang memang selalu welcome dengan orang lain bahkan banyak anak tetangga yang memanggil nya bunda


Kenapa bunda meyuruh Reyhan untuk ikut memanggilnya bunda? karena Shinta tidak pernah membawa laki laki untuk dikenalkan kepada orang tuanya dan ini adalah pertama kali Shinta melalukan nya dan jika seperti ini bunda yakin jika perasaan mereka memang tidak main main mengingat putri nya yang selalu saja menghindari laki laki dengan memasang muka dingin nya


"Iya tan, eh bun.. " Ucap Reyhan kaku


"Cie... tinggal beberapa langkah lagi kapal nya berlayar" Ucap Jannah bersorak ria


"Jan... " Ucap Shinta menekan kata kata nya, sungguh dia sudah sangat malu sekarang, tapi kemudian


"Assalamualaikum..."


"Rey, lo keterlaluan banget kesini duluan gak ngajak gue"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2