
Hari ini kedua pasutri itu pindah ke apartemen Reyhan yang mana satu lantai dengan milik Rendra, meskipun mama Riana sedikit keberatan dengan keputusan mereka karena pasti rumah orang tua Reyhan akan sepi tanpa anak dan menantu mereka, namun bagaimana lagi? alangkah baik nya memang suami istri tinggal sendiri
"Lantai berapa mas?" Tanya Shinta melirik suami nya yang membawa koper sisa barang barang mereka dan berada satu lift dengan nya
"Lantai 8 nomor 361 sayang..." Jawab Reyhan selalu saja tak pernah lupa menyelipkan panggilan sayang, istri nya itu mengangguk faham dan menunggu lift naik membawa mereka ke tujuan
Ting!
Lift terbuka di lantai delapan, mereka langsung menuju ke unit yang akan disinggahi
"Password nya tanggal lahir kita berdua" Jawab Reyhan ketika mereka berdiri di depan pintu
"Sebelum nya kamu pakai password apa?" Tanya Shinta memulai jiwa kepo nya
"Tanggal beli apartemen ini" Jawab Reyhan melangkahkan kaki nya untuk memasuki apartemen yang sudah lumayan lama tidak ia tinggali
Apartemen milik nya memiliki ukuran yang lumayan luas, ada ruang tamu, dapur, dua kamar tidur yang sudah lengkap kamar mandi di dalam nya, satu kamar mandi luar di sebelah dapur, ruang cuci pakaian, dan yang paling Shinta sukai adalah balkon, tempat yang paling nyaman untuk menikmati waktu luang
"Lihatin apa?" Tanya Reyhan yang sudah meletakkan koper mereka di kamar dan melihat istri nya yang berdiam diri di balkon
"Hmm? gak lihatin apa apa mas, bagus aja" Jawab Shinta kembali masuk dan menutup pintu balkon
"Kok semua barang barang di sini udah siap, kapan kamu nyiapin nya?" Tanya Shinta melihat keadaan apartemen yang sangat bersih dengan perabotan lengkap
"Kemarin sayang, cuman kalau bahan makanan belum ada" Ucap Reyhan duduk di sofa dan menepuk sebelah nya agar Shinta duduk di situ
"Kok aku laper ya" Ucap Shinta menyandarkan kepala nya di bahu Reyhan
"Sekarang hampir maghrib, mau makan di rumah aja atau di luar?" Tanya Reyhan memberi tawaran
"Di rumah belum ada bahan makanan, mau belanja dulu emangnya?" Tanya Shinta balik dan suami nya itu menggeleng sebagai jawaban
"Kalau di rumah bisa pesan online, atau makan di luar aja? nunggu belanja dulu nanti malah kelaparan" Jawab Reyhan yang ada benarnya juga jika di pikirkan
"Di luar aja yuk, sekalian belanja keperluan dapur" Ajak Shinta mendongakkan kepala nya menatap Reyhan
"Boleh, sekalian candlelight dinner sayang" Jawab Reyhan terkekeh
"Kayak anak pacaran ya" Ucap Shinta nyengir
"Kan kita emang pacaran setelah nikah, lebih enak dong bisa ngapa ngapain" Ucap Reyhan
"Ngapa ngapain itu ngapain?" Tanya Shinta sengaja berlagak tidak tahu
"Jangan nanya, mending langsung praktek" Ucap Reyhan memegang dagu istri nya, menatap bola mata itu dalam dalam, mata yang mulai sayu dan memejamkan mata serta memiringkan kepala saat bibir itu akan menempel
Begitu pula Shinta yang ikut memejamkan mata ketika sentuhan yang menimbulkan aliran listrik tegangan tinggi mulai menjalar ke tubuh nya dan perlahan Reyhan mendorong nya hingga berbaring sempurna di sofa, dan saat ia ingin melanjutkan aksi nya, ponsel Shinta berdering memecahkan keheningan di apartemen
"Hah, mas... handphone ku bunyi" Ucap nya saat baru terbebas dari belitan mulut suami nya
"Gak bisa di biarin aja?" Tanya Reyhan yang nafsu nya sudah muncul
"Gak bisa, takut penting, nanti malam aja deh di lanjutin" Ucap Shinta menawarkan meskipun dengan pipi merah karena menahan malu
"Ooh... jadi kamu juga pengen ya?" Goda Reyhan menaik turunkan alis nya pada wanita yang ada di bawah kungkungan nya
Daripada menjawab pertanyaan nyeleneh dari suami nya, Shinta lebih memilih untuk mendorong pelan dada bidang itu, memakai hijab nya yang tadi di lepas Reyhan, dan mengambil ponsel yang ternyata panggilan video dari Elin
"Siapa?" Tanya Reyhan penasaran
"Elin, psikiater itu loh" Jawab Shinta, sebelum mengangkat panggilan itu, ia juga membenahi kaos suami nya yang mana sedikit terbuka dan memperlihatkan perut tupperware
"Halo.... Shinta yang cantik, manis dan baik hati, ternyata beneran tanpa aba aba pacaran, eh... tiba tiba sebar undangan pernikahan" Ucap Elin tergelak kala Shinta menerima panggilan video nya
"Halo juga Elina yang udah di kasih undangan, tapi gak bisa dateng pakai alasan banyak pesanan" Ucap Shinta, ia memang tidak mengucap salam jika dengan Elin karena kepercayaan mereka yang berbeda
"Iya maaf... pasien di sini tuh membeludak Shin, efek banyak yang kena gangguan kejiwaan" Ucap Elin di sana
"Iya..." Ucap Shinta dapat memaklumi kesibukan dokter muda itu
"Oh iya, mana suami nya?" Tanya Elin
"Nih... " Ucap Shinta mengarahkan kamera ponsel nya ke Reyhan
"Halo mas... saya Elina, panggil aja Elin" Ucap Elin mengenalkan diri nya
"Eh... jangan panggil mas, panggil bapak aja" Sahut Shinta tidak terima jika panggilan Elin sama dengan nya
"Cie... kenapa gak boleh manggil mas? cemburu ya?" Goda Elin menahan tawa
"Pokok nya jangan manggil mas!" Ucap Shinta memberi peringatan dengan memicingkan mata nya
Reyhan hanya menyimak pembicaraan dua gadis itu dan sesekali menggulum senyum saat istri nya cemburu hanya karena sebuah panggilan
"Iya iya, galak banget sih kalau cemburu" Ucap Elin tergelak
"Mau kenalan gak? kalau gak yaudah matiin aja, udah mau masuk waktu sholat nih" Ucap Shinta
"Eh... bentar dong, kenalin pak saya Elin" Ucap Elin sembari melihat wujud Reyhan dati layar ponsel nya
"Saya Reyhan" Ucap Reyhan mengenalkan diri dengan nada datar seperti biasa dengan orang lain, tapi ia tidak akan bisa bersikap seperti itu jika berhadapan dengan Shinta
*Eh buset... sama sama kutub, satunya utara dan satunya lagi selatan, saling melengkapi* Batin Elin terkekeh
__ADS_1
"Sama kayak lo ya Shin" Ucap Elin tersenyum
"Apanya yang sama?" Tanya Shinta bingung dengan mengerutkan alis nya
"Kutub nya, haha bye... " Ucap Elin tertawa kemudian memutuskan panggilan video call begitu saja sebelum serigala mengamuk nanti
"Heh..." Shinta berdecak kesal kemudian meletakkan ponsel nya di atas meja
"Udah, sholat aja yuk... habis itu kita jalan jalan" Ajak Reyhan yang sudah jelas di angguki oleh istri nya
Sehabis sholat maghrib, mereka berdua menyiapkan diri dan turun ke parkiran apartemen untuk mengambil mobil
"Mau kemana kita mas?" Tanya Shinta memandangi jalan raya di malam yang penuh lampu lampu menyala dari jendela mobil
"Ke mall aja gimana? sekalian belanja keperluan dapur" Jawab Reyhan memberi saran
"Boleh, asal makan dulu karena ini udah laper" Ucap Shinta mengelus perut nya sendiri, Reyhan kemudian menjulurkan tangan nya dan ikut mengelus perut rata itu
"Hei cacing... sabar sebentar ya, bentar lagi mama kamu makan" Ucap Reyhan tergelak
"Ih... kok cacing sih? emang kamu mau punya istri mama nya cacing?" Tanya Shinta heran
"Ya enggak, maunya punya istri mama dari anak anak ku" Jawab Reyhan mengedipkan sebelah mata nya
"Emang beneran siap jadi papa? siap di recokin anak anak nya? siap jadi bahan kejahilan nya?" Tanya Shinta menaik turunkan alis nya
"Siap, anak itu bukan beban tapi anugerah" Jawab Reyhan tanpa ada keraguan sedikitpun
"Berarti beneran mau punya anak dong? siap nih kalau perhatian aku bakal terbagi?" Tanya Shinta lagi, dia hanya memastikan saja agar tidak ada permasalahan di kemudian hari
"Di siang hari kamu milik anak anak dan aku, tapi kalau di malam hari kamu hanya milik ku" Jawab Reyhan seenak jidat yang membuat Shinta melongo
"Tapi kalau aku gak bisa ngasih kamu a-"
"Hust...kita aja baru ngelakuin berapa kali? usia pernikahan juga masih satu minggu, jangan mikir yang aneh aneh dan jangan ngomong yang gak gak, ucapan itu do'a sayang" Potong Reyhan sembari menggenggam tangan istri nya
"Iya maaf, kan cuman nanya aja" Ucap Shinta
"Sekarang zaman nya canggih sayang, punya momongan itu hal yang memungkinkan" Ucap Reyhan lagi
"Iya, udah sana fokus ke jalan raya, jangan malah lihatin aku terus" Ucap Shinta takut apabila terjadi kecelakaan
Di salah satu pusat perbelanjaan, pasangan suami istri itu memilih salah satu restoran sebagai pemuas lapar sekaligus dahaga mereka dan Reyhan memilih salah satu ruangan VVIP
"Kenapa harus di VVIP?" Tanya Shinta, dia saja kalau makan yang penting bisa duduk dan bersih
"Emang kamu mau di lihatin para laki laki itu? aku gak mau ya kamu jadi pandangan mereka" Jawab Reyhan sembari mengerucutkan bibir nya
"Iya lah, kamu istri ku jadi wajar dong kalau cemburu" Ucap Reyhan membela diri
"Bukan aku yang jadi pandangan, tapi kamu yang jadi pusat perhatian para wanita genit itu" Gumam Shinta kesal dan menusuk kuat steak dengan garpu nya hingga menimbulkan dentingan piring yang keras
"Apa? kamu bilang apa barusan?" Ucap Reyhan yang sebenar nya sudah mendengar jelas gumaman kesal dari istri nya
"Hmm? gak ada sayang... ini loh steak nya enak banget" Jawab Shinta berbohong dan itu sangat mengemaskan bagi Reyhan
Setelah makan dan kenyang hingga hati ikut senang, baru lah mereka berbelanja untuk keperluan dapur di apartemen
"Biar aku yang bawa troly nya" Ucap Reyhan mengambil alih troly belanjaan mereka dan mengikuti istri nya dari belakang
Cukup lama mereka memutari area belanja itu karena dapur memang benar benar kosong, tapi tetap saja Shinta ingin kegiatan belanja ini segera selesai, dia merasa kesal sedari tadi wanita di sekeliling nya selalu menatap Reyhan
"Sayang, jangan cepat cepat jalan nya, kita belum beli ikan loh" Ucap Reyhan mengingatkan
"Ini kan daging ikan" Ucap Shinta menunjuk daging ikan fillet yang berada di troly belanjaan mereka
"Ikan utuh sayang" Ucap Reyhan
"Aku gak bisa masak ikan utuh, ada darah nya" Ucap Shinta menunduk dan menggelengkan kepala, ia takut bahwa suami nya akan kecewa karena dia yang tidak bisa memasak ikan utuh
"Gak papa, nanti biar aku yang bersihin, kamu yang masak, gimana? mau kan?" Tawar Reyhan tidak masalah sama sekali jika istri nya sangat anti dengan apapun yang berbau darah
"Oke" Jawab Shinta setuju
"Tapi pilih nya yang cepat ya... aku gak suka mereka dari tadi ngelihatin kamu terus" Ucap Reyhan tidak sadar jika yang jadi pusat perhatian para wanita itu dia, bukan istri nya
*Hiks, yang jadi perhatian itu kamu sayang... kamu di mata orang orang adalah serbuk berlian, dan aku serbuk rengginang* Batin Shinta kesal
Selesai belanja dan memenuhi satu troly penuh, keduanya dengan cepat menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka tadi
"Kamu duduk di sana aja, biar aku yang ngantri" Ucap Reyhan memberi perintah dan Shinta pun menurut karena dia sendiri sedang malas berdiri di antrian yang cukup panjang
Shinta memutuskan duduk dan menunggu suami nya, tapi baru saja lima menit dia istirahat, terdengar ucapan para orang orang yang mengantri di telinga nya
"Eh... ada mas ganteng, boleh nih di pepet"
"Ya Alloh... engkau memang menciptakan makhluk paling sempurna"
"Ya ampun... udah punya istri belum ya? kalau udah jiwa pelakor ku meronta ronta"
Shinta mengikuti arah pandang wanita wanita tadi yang ternyata tertuju pada suami nya
*Gak boleh di biarin* Batin Shinta kemudian berdiri gerak cepat menyusul Reyhan sebelum tangan nya khilaf mencekik wanita wanita tadi
__ADS_1
"Maaf, permisi" Ucap Shinta menerobos antrian dan berdiri di samping Reyhan yang sebentar lagi akan membayar, hanya tinggal satu orang saja di depan nya
"Loh sayang, kan aku udah nyuruh kamu nunggu di sana aja" Ucap Reyhan heran
"Kamu sengaja ya?" Tanya Shinta kesal dan memicingkan mata nya
"Sengaja apa nya?" Tanya Reyhan balik, tentu saja dia bingung apa yang di maksud istri nya
"Kamu mau ngantri sendiri biar di lihatin para wanita itu kan? ngaku!" Kesal Shinta mengerucutkan bibir nya
"Ya Alloh... enggak sayang, aku gak mau kamu capek berdiri" Jawab Reyhan menggelengkan kepala nya
"Alah... mbel, dari tadi mereka lihatin kamu loh, jangan pura pura gak tau ya!" Ucap Shinta
"Aku gak tau kalau mereka lihatin aku, tapi.... " Ucap Reyhan menggantung
"Tapi apa?" Tanya Shinta
"Tapi aku seneng kalau kamu cemburu, sini..." Ucap Reyhan menarik istri nya lalu mendekap pundak berlapis baju dan kerudung itu
"Sayang ku... cantik ku... istri ku..." Ucap Reyhan
"Gombal" Cibir Shinta, namun dalam hati ia tersenyum dan menikmati dekapan lengan suami nya
Giliran Reyhan maju, mbak mbak kasir pun mulai menghitung total belanja an mereka
"Total nya bla bla bla... "
"Sayang, tolong ambil dompet di saku celana ku" Ucap Reyhan
"Ha? saku yang mana mas?" Tanya Shinta, pasal nya saku ada dua, depan dan belakang
"Yang depan" Jawab Reyhan, Shinta menurut dan tangan nya perlahan menjulur mengambil dompet di saku depan, ia juga tahu kalau Reyhan sempat memejamkan mata karena sentuhan tangan nya di paha sang suami
"Ini" Ucap Shinta memberikan dompet itu
"Makasih sayang" Ucap Reyhan tersenyum sembari menerima dan mengambil salah satu kartu nya
Shinta melirik ke belakang, dapat ia lihat ada beberapa orang yang melongo dan ada juga yang melirik sinis pada nya
"Heh... udah punya istri toh, ku kira masih single"
"Jiwa pelakor ku teriak teriak"
*Dimana mana memang istri sah selalu menang ya* Batin Shinta terkekeh
Terbebas dari keramaian benar benar melegakan bagi Shinta, ia memang lebih suka tempat yang tenang dan tidak terlalu banyak orang
"Kamu mau mampir atau enggak sayang?" Tanya Reyhan yang fokus menyetir di perjalanan pulang ke apartemen
"Gak deh mas, udah kenyang, pulang aja... sholat, nata belanjaan terus tidur" Jawab Shinta
"Sebelum tidur bikin adonan dulu" Ucap Reyhan mengingatkan
"Adonan adonan, emang kue?" Tanya Shinta menggelengkan kepala nya
"Itu istilah sayang, yaudah blak blak an aja deh... bukan adonan tapi ber...cinta" Ucap Reyhan enteng
"Mesum ya kamu... " Ucap Shinta malu sendiri dengan ucapan Reyhan barusan
"Pahala sayang, lumayan nanti bisa di hitung pas yaumul hisab" Ucap Reyhan memberi pembelaan.
🌸🌸🌸
Keesokan hari nya, Shinta keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan rambut yang basah alias mandi besar karena guncangan skala ritcher tadi malam
"Mas... bangun, mandi trus sholat, baju kerja kamu udah aku siapin" Ucap Shinta memberikan kecupan singkat di dahi suami nya
"Emmh... iya, ini bangun sayang" Ucap Reyhan mencari kesadaran dan duduk bersandar di ranjang
"Yaudah aku bikin sarapan dulu ya" Ucap Shinta yang di angguki suami nya, kemudian keluar kamar dan memulai aksi di dapur
Beberapa menit berlalu, Reyhan keluar dengan jas dan dasi yang bergelantungan di lengan nya, sudah jelas bahwa Shinta yang akan memakaikan itu
"Ayo sarapan mas" Ajak Shinta tanpa basa basi karena waktu yang sudah mepet masuk pada jam kerja
"Kamu aku anterin aja sayang, lagian satu arah juga kan" Ucap Reyhan melarang istri nya untuk berangkat menyetir mobil sendiri
"Iya mas" Ucap Shinta menurut saja, yang penting dia bisa kerja
Jam 7 pagi mereka berangkat, yang mana Reyhan mengantarkan istri nya dulu ke rumah sakit, baru setelah itu lanjut ke kantor
"Aku duluan mas, hati hati di jalan, assalamualaikum" Pamit Shinta mencium punggung tangan kekar itu saat mereka berhenti di depan rumah sakit
"Waalaikumsalam... hati hati juga, jangan lupa bersyukur" Ucap Reyhan tersenyum serta membalas dengan memberikan kecupan di dahi serta bibir
Setelah turun dari mobil, Shinta melambaikan tangan pada kendaraaan sang suami yang semakin menjauh, kemudian mengambil ponsel nya karena ada beberapa pesan masuk dan salah satu nya dari Bian
Kang Bihun🐒
📩 : Zef... gue ada di cafe dekat rumah sakit tempat lo kerja, sekarang lo kesini karena gue mau ngasih tau hal penting
Bersambung
__ADS_1