
Setelah pulang dan berganti baju di apartemen, keduanya memilih untuk melanjutkan pekerjaan, yang mana Reyhan akan mengantar istri nya terlebih dahulu ke rumah sakit, baru lah dia akan berangkat ke kantor
"Semangat kerja, ingat kalau ada istri yang selalu menunggu mu!" Ucap Shinta mengepalkan kedua tangan nya saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah sakit
"Kamu juga harus ingat kalau ada seorang suami yang membutuhkan mu!" Ucap Reyhan ganti lalu mengecup dahi dan bibir tipis itu sebentar
"Selalu cari kesempatan dalam kesempitan" Ucap Shinta menyipitkan mata nya
"Pahala sayang, udah ah sana... telat absen satu menit, potong gaji lima puluh persen" Ucap Reyhan menggunakan ancaman yang pernah ia gunakan dulu pada istri nya saat mereka masih sekedar atasan dan bawahan
"Aih... tetap gak berubah, galak banget sama bawahan nya" Ucap Shinta menggelengkan kepala, lalu meraih tangan kekar itu, mengecup nya dan masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan mobil Reyhan yang sudah melaju
"Selamat pagi" Ucap Shinta seperti biasa saat ia masuk ruangan, hanya saja sekarang tanpa Jannah karena sahabat nya itu masih mendapat jatah libur
"Pagi Shin..." Sapa Monik melambaikan tangan nya
"Pagi juga Shin..." Sahut Bagas ramah
"Sela mana? tumben belum datang" Tanya Shinta seraya duduk di kursi nya
"Katanya sih telat dikit" Jawab Bagas
"Dari mana lo tau?" Tanya Monik memicingkan mata nya
"Kenapa? cemburu ya?" Goda Bagas menaik turunkan alis nya
"Siapa yang cemburu? gue khawatir aja ntar lo buntutin si Sela kayak sasaeng" Ucap Monik
"Ogah... udah gede juga ngapain di ikutin? kayak induk ayam aja" Ucap Bagas
Di tempat lain, Reyhan yang baru saja sampai langsung duduk di kursi kebesaran nya dan mendengarkan agenda nya hari ini yang sedang di bicarakan Evan
"Saya rasa jadwal bapak hari ini hanya itu saja" Ucap Evan lalu menutup tab nya setelah selesai membaca apa saja yang perlu di baca
"Oke, kamu sudah makan?" Tanya Reyhan yang membuat kening sang asisten berkerut, tumben sang bos perhatian padanya, dia ini kesambet atau apa sih? mau di coba lempar pakai sepatu fantofel juga nanti dia yang akan kena potongan gaji
"Emm... bapak perhatian banget ya sama saya?" Ucap Evan berusaha pede di depan sang atasan
Cih
"Saya kan cuman memastikan kalau kamu tidak akan pingsan dan menyusahkan orang lain nanti" Ucap Reyhan berdecih sebelum menjawab
"Kapan aku pernah nyusahin? heran aja punya bos kok sensi an, beda banget sama bapak nya" Gumam Evan membandingkan bos nya dengan papa Raka
"Kamu bilang apa barusan?" Suara Reyhan tiba tiba menggelegar di ruangan nya sendiri karena dia masih mendengar gerutu an sang asisten barusan
*Eh buset... perasan udah pelan banget ini suara nya, kok masih bisa ketahuan ya?* Batin Evan
"Eh... tidak ada pak, saya cuman ngeliat foto kemarin aja loh bagus" Jawab Evan gelagapan dengan menunjukkan ponsel nya yang tertera akun instagram milik Rendra, dia melihat ada foto pernikahan yang baru di unggah
Reyhan hanya mangut mangut saja, yang penting dia tidak ketularan lawak seperti asisten nya
"Tapi pak... kenapa muka bu bos di tutup disini?" Tanya Evan bingung, pasal nya ada satu postingan dari akun Rendra yang menunjukkan foto diri nya dan sang istri di pelaminan bersama para sahabat yaitu Andrew juga Laila, serta Reyhan juga istri nya yang mana bagian gambar wajah Shinta sengaja di tutupi dengan sebuah stiker senyum disitu
"Kok nanya saya? harus nya kamu nanya ke yang bersangkutan" Jawab Reyhan
Dia tahu kalau Shinta memang sangat anti dengan yang namanya media sosial, ia juga yakin kalau sang istri yang meminta pada Rendra agar foto bagian wajah nya di tutup, tapi apakah perlu sampai menutup seperti itu? ya... apapun itu dia akan menghargai kemauan istri nya, dia yakin kalau Shinta pasti punya alasan di balik enggan nya menunjukkan wajah di media sosial
"Oh.. halo bu bos" Ucap Evan sengaja berpura pura menelfon Shinta dan membuat lamunan Reyhan buyar ketika mendengar panggilan istri nya sebut sebut
"Kamu berani nelfon istri saya?" Tanya Reyhan menatap tajam asisten nya
"Hehe... bercanda pak astaga" Ucap Evan cengengesan yang tidak di pedulikan oleh bos nya
"Oh iya paak... satu persatu muncul pertanyaan, siapa wanita yang wajah nya di tutup itu" Ucap Evan
"Trus?" Ucap Reyhan meminta penjelasan lebih
"Kan di foto ini ada enam orang pak, pasti pare netijen bertanya tanya siapa wanita yang sebenar nya istri anda itu" Jawab Evan, Reyhan masih diam pertanda meminta penjelasan lagi
Huft... Evan menghela nafas panjang sebelum menjelaskan
"Di sini istri bapak gandengan tangan sama pak bos, nah... pasti ada netijen yang bertanya siapa wanita di samping bapak dan menggandeng tangan bapak"
"Emang istri saya harus gandeng tangan orang lain gitu?" Ketus Reyhan
"Ya bukan pak... tapi banyak komentar di sini tentang siapa wanita yang wajah nya di tutup stiker itu, dan tangan nya menggandeng lengan bapak" Ucap Evan
__ADS_1
"Pak bos tau lah kalau bapak itu terkenal dingin dan galak, apalagi sama wanita, nah kalau wanita itu bisa menggandeng lengan bapak, itu artinya wanita tadi sangat istimewa bagi pak bos" Ucap Evan menekankan kata dingin dan galak yang langsung membuat sang bos mendelik ke arah nya
"Inti nya sekarang mereka lagi menebak tentang siapa wanita yang bisa menggandeng lengan saya gitu?" Ucap Reyhan menyimpulkan semua nya
"Good... pak bos pandai sekali" Ucap Evan memuji, padahal dalam hati ia sedang merutuki kenapa bos nya itu baru paham sekarang
"Saya baru paham karena baru liat foto nya di handphone kamu dengan jelas hari ini" Ucap Reyhan seakan tahu batin asisten nya
"Oh... nanti kalau ada desas desus lagi saya harus gimana pak? di konfirmasi atau tetap diam seperti kemarin?" Tanya Evan yang sudah memprediksi hal apa yang akan terjadi ke depan nya
"Saya harus diskusi dulu dengan istri saya, nanti kalau memang muncul desas desus itu, baru saya kasih tau keputusan nya" Jawab Reyhan karena bagaimanapun ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa mendiskusikan hal tersebut pada istri nya
"Baik pak" Ucap Evan mengangguk patuh
*Beruntung sekali wanita yang mendapatkan anda pak bos, tapi... saya gak bisa membayangkan gimana keseharian wanita kalau hidup dengan laki laki galak seperti anda* Batin Evan yang mana salut dengan sang bos yang pengertian pada sang istri, dia tidak tahu saja jika Reyhan sudah bucin bahkan tidak mau bersikap galak sedikit pun pada Shinta dari awal mereka sebelum menikah
"Van... kamu gak ada kerjaan?" Tanya Reyhan kala melihat asisten nya hanya diam saja di depan nya
"Ada pak, banyak" Jawab Evan
"Saya minta sekarang kamu ke supermarket, beli camilan yang banyak" Ucap Reyhan memberi perintah dan uang beberapa lembar
"Tapi pak... bukan nya bapak gak suka sama camilan ya?" Tanya Evan bingung
"Saya bilang beli sekarang! kembalian nya kamu ambil" Ucap Reyhan kekeh dan meletakkan uang itu di atas meja
"Ck, iya pak iya" Gumam Evan menurut sambil mengambil uang itu, dari pada ia kena lebih banyak semprotan lagi
"Kalau gitu saya ke supermarket dekat kantor ya pak" Pamit Evan kemudian keluar dari ruangan bos nya di sertai mulut yang komat kamit membaca mantra
Ting!
Baru saja ia keluar dari lift dan sampai di lobby kantor, tiba tiba ada pesan masuk yang berasal dari Reyhan
Pak Bos Galak
π© : Van, beli camilan nya wajib di supermarket jalan xxx
Mata Evan terbelalak membaca pesan tersebut, bisa bisa nya Reyhan menyuruh pergi ke supermarket yang lumayan jauh dari kantor hanya untuk sebuah camilan
π© : Awas kalau kamu gak beli di sana!
π© : "Siap pak... apapun untuk bapak" Balas Evan lalu menutup ponsel nya dengan satu hentakan jari
"Pak Evan kenapa?" Tanya bingung salah satu pegawai wanita yang bertugas sebagai resepsionis kantor
"Ada gajah terbang!" Jawab Evan kesal sembari meneruskan langkah nya keluar menuju parkiran kantor, otak nya yang frustrasi ternyata berpengaruh juga pada mulut nya
"Pak Evan kenapa sih? apa ketularan galak kayak pak bos ya?" Gumam pegawai tadi sambil menggelengkan kepala nya sendiri
Waktu terus berputar, jika Evan masih heran dengan tingkah bos nya hari ini, maka berbeda pula pada Shinta yang sedang menikmati makan siang nya
"Gak ada Jannah sepi juga ya" Gumam Shinta, seperti biasa bahwa ia akan makan di taman rooftop rumah sakit
*Aku masih mikir gimana caranya supaya mas Rey gak akan menghadapi bahaya di kemudian hari* Batin Shinta menatap langit yang nampak cerah siang ini, entahlah... kenapa tiba tiba hati nya menjadi tidak tenang seperti ini, padahal sudah satu bulan yang lalu ia mengetahui kalau Reyhan adalah ketua white blood, tapi kenapa baru sekarang ia kepikiran dan mengkhawatirkan nya?
"Apa aku tanya Bian aja ya?" Gumam Shinta meletakkan sendok nya, kemudian mengambil ponsel dan mencari nomor Bian di sana, karena ini masih jam makan siang, jadi hanya sebentar saja waktu yang di perlukan untuk menyambungkan telepon nya lalu segera mengucapkan salam
π : Waalaikumsalam... kenapa Zef
π : "Bi... bisa gak ya kalau ketua white blood itu di ganti?" Ucap Shinta langsung tanpa basa basi
π : Off course bisa Zef
π : "Serius?" Tanya Shinta kegirangan ketika mendapat jawaban dari Bian
π : Kenapa? lo mau copot jabatan suami lo sebagai ketua white blood ya?
π : "Ya... gimana ya, gue gak mau mas Rey berurusan sama pembunuh itu" Jawab Shinta dengan memainkan kuku nya sendiri .
π : Gue paham sama perasaan lo sebagai istri nya, tapi gue gak bisa copot posisi dia walaupun suami lo itu berbuat kesalahan
π : "Ha? maksudnya gimana sih? tadi katanya bisa... lo bohong sama gue ya?" Ucap Shinta bingung
π : Ya emang bisa Zef, tapi gue gak ada wewenang sama sekali
π : "Trus kenapa tadi ngomong gak bisa?" Tanya Shinta
__ADS_1
π : Sekarang gue tanya deh, perusahaan atas nama siapa?
π : "Gue" Jawab Shinta
π : White blood di dirikan menggunakan nama siapa?
π : "Gue"
π : Pemimpin pusat nomor satu white blood siapa?
π : "Gue"
π : Itu berarti siapa yang berhak atas aset termasuk pemecatan anggota white blood? siapa yang punya wewenang itu?
π "Gue Bi" Jawab Shinta lesu karena jika ingin melepaskan Reyhan dari white blood, maka dia lah yang harus mencopot secara langsung dan otomatis dia wajib bertemu suami nya
π : Itu lo paham, dan lagian Zef... dia udah dua tahun selalu setia mimpin white blood loh, lo gak bisa main copot copot gitu aja, tim itu akan gue liburkan selama mungkin sampai kasus pembunuhan ini selesai
π : "Ya gue juga tahu, cuman entah kenapa perasaan gue gak enak aja" Ucap Shinta
π : Jauhkan prasangka buruk lo, mending berdo'a dan bersiap karena omongan lo mungkin ada benar nya juga, suatu saat kita harus menghadapi mereka secara langsung dan menyelesaikan kasus pembunuhan ini, entah salah satu dari kita kembali dengan selamat atau tidak, tapi setidak nya kita berusaha melawan sekuat tenaga
π : "Ya, gue harap kita berhasil" Ucap Shinta kemudian menutup telepon setelah mengakhiri nya dengan salam
*Gue berharap kita semua berhasil Bi, tanpa ada korban nyawa dari semua tim kita* Batin Shinta lalu meneruskan makan nya cepat cepat dan kembali bekerja
Jam pulang kerja, Shinta akan pergi ke kantor suami nya dengan jemputan Evan, bukan dia yang meminta tapi suami nya yang menyuruh lewat telepon tadi agar dia dapat menemani lembur sebentar
"Sore buk bos" Sapa Evan ramah saat Shinta baru sampai di parkiran
"Sore juga pak Evan, langsung saja ya pak... takut mas Rey nunggu kelamaan" Ucap Shinta duduk di kursi belakang karena sang suami yang menyuruh nya
"Bismillah... baca do'a bu" Ucap Evan bergurau saat akan melajukan mobil nya
"Sudah pak" Jawab Shinta
"Emang agenda nya hari ini padat ya pak? kenapa sampai ada lembur?" Tanya Shinta di sela sela perjalanan mereka
"Tidak terlalu padat buk, tapi entahlah suami ibuk itu aneh banget orang nya" Jawab Evan sedikit mengadu dengan pandangan fokus ke jalan raya
*Aneh? ya emang dari awal udah aneh bagaikan stok limited edition* Batin Shinta terkikik geli
Saat sampai di gedung pencakar langit itu, Evan langsung mengarahkan istri bos nya untuk naik lift khusus yang biasa Reyhan gunakan sehari hari
"Tidak pengap ya buk kalau pakai masker?" Tanya Evan saat mereka berada di lift
"Tidak pak, saya gak mau orang orang mengenali saya sebagai istri nya mas Rey" Jawab Shinta sembari membenahkan masker nya
*Kenapa bu Shinta ini seperti biasa aja ya kalau masuk kantor? biasanya orang pasti akan terkagum kagum* Batin Evan cukup penasaran lalu mempersilahkan Shinta agar keluar terlebih dahulu saat lift itu berhenti di lantai ruangan Reyhan berasa
Saat jalan dari lift menuju ruangan Reyhan pun banyak mata pegawai yang menatap Shinta dari atas sampai bawah, mereka penasaran bahkan sangat penasaran siapa wanita yang bisa memasuki ruangan bos nya?
"Siapa tuh?"
"Dari badan nya mirip banget sama orang misteri yang di pernikahan pak Rendra kemarin"
"Entahlah... mungkin emang kekasih nya pak Rey kali"
Seperti itu lah bisikan yang sempat Shinta dengar kala mereka berjalan
"Hust... kerja, jangan gosipin orang!" Tegur Evan dengan suara lantang nya, meskipun tukang lawak tapi ia juga memiliki tanggung jawab pada semua karyawan
"Ba-baik pak" Jawab Serentak para pegawai
Pasal nya selama Reyhan menduduki jabatan presdir, bos mereka itu melarang siapapun wanita untuk masuk ke ruangan nya, entah itu pegawai ataupun kolega, jika pegawai ingin memberikan berkas maka semuanya akan di serahkan lewat Evan, dan jika ada kolega wanita maka Reyhan akan memilih untuk berbicara masalah bisnis di luar ruangan nya saja
"Assalamualaikum..." Ucap Shinta saat membuka pintu ruangan suami nya, di depan ruangan itu ada sebuah meja dan kursi kerja yang sudah pasti milik Evan
"Waalaikumsalam... masuk aja sayang" Jawab Reyhan dari dalam
Merasa mendapatkan izin, Shinta meneruskan langkah nya hingga mata nya pun melebar ketika melihat pemandangan apa yang sedang ia temukan sekarang
"Mas Rey... jorok" Ucap nya spontan dengan ekspresi terkejut dan tidak menyaka
Bersambung
β’ kenapa kemarin tidak up?
__ADS_1
jadi kemarin malam tiba tiba ada pemberitahuan dari guru kalau pagi besok harus masuk sekolah dan mengumpulkan semua tugas, gubrakk!!! otomatis author harus jadi anak ambis untuk begadang ngerjain tugas dari mapel yang belum selesai sampai gak sempat update. Maaf dan semoga kalian sehat selalu~ tata