
Jedugg!!!
Dahi Reyhan sampai kepentok kursi depan karena mobil yang berhenti mendadak
"Bisa nyetir gak sih Van?" Kesal Reyhan sambil memegang dahi nya
"Maaf pak, saya gak sengaja" Ucap Evan nyengir
"Maaf... aku yang tiba tiba minta berhenti kok, jangan marah sama pak Evan" Ucap Shinta meredakan emosi suami nya
"Tuh.... pak, ibuk sendiri yang minta berhenti, saya kan nurut aja" Ucap Evan membela diri
"Lagian kalau mau nuruti perintah itu kira kira, mana yang bahaya dan mana yang enggak" Ucap Reyhan tetap ngomel dan tausiyah tanpa henti
"Kamu gak liat ini di jalan raya? kalau kecelakaan gimana? untung lagi sepi jalanan nya"
"Saya-" Ucap Evan terhenti karena Reyhan yang masih meneruskan ucapan nya
"Trus kalau istri saya nyuruh kamu lompat ke sungai bakal kamu turuti gitu?"
"Kan gak mungkin ibuk yang baik hati nyuruh saya lompat ke sungai" Ucap Evan
"VAN!!!"
"Baik pak, saya minta maaf" Ucap Evan, mengalah saja lah dari pada kena omel lagi
"Udah... kenapa jadi gini sih?" Ucap Shinta kesal sendiri mendengar perdebatan barusan
"Kamu juga! kenapa minta berhenti di tengah jalan?" Tanya Reyhan sedikit terpancing emosi karena menyangkut keselamatan mereka semua
"Kan aku minta berhenti bukan berarti di tengah jalan, bisa minggir atau kalau tempat nya kelewat kan bisa putar balik" Ucap Shinta membela diri nya
Glek!
Dapat di pastikan kini Evan yang menelan ludah dan ketar ketir akibat tatapan dari atasan nya
"Tempat apa?!" Tanya Reyhan
"Kalau ngomong jangan pakai intonssi tinggi" Ucap Shinta sambil menunduk, jujur dia takut jika suami nya mengeluarkan amarah atau bahkan meninggikan nada bicara nya
Huft...
Reyhan menarik nafas panjang, menghilangkan rasa emosi sesaat agar istri nya tidak ketakutan "Tempat apa yang?" Ucap nya dengan nada kembali lembut
"Makan" Jawab Shinta singkat padat jelas
"Kamu laper?" Tanya Reyhan yang mendapat jawaban anggukan kepala
"Mana tempat nya? aku gak liat ada tempat makan dari tadi" Ucap Reyhan melihat ke arah kaca mobil
"Itu" Jawab Shinta menunjuk tulisan yang sempat dia baca
Spontan Reyhan melotot setelah membaca tulisan tersebut
"Van, jalan" Ucap nya langsung tanpa basa basi
"Baik pak"
"Loh loh... kok jalan? kan aku belum makan" Ucap Shinta terkejut
"Makan yang lain aja, atau di rumah sekalian" Ucap Reyhan
"Gak mau" Ucap Shinta menolak, dia sangat menginginkan bakso kuah merah seperti tulisan di jalan
"Harus mau" Paksa Reyhan
"Enggak mau. Tolong putar balik pak" Ucap Shinta yang kekeh ingin makan bakso kuah merah
"Ba-"
"Jalan lurus Van, gak ada putar balik" Cegah Reyhan
"Baik"
"Putar balik pak... saya mau makan!!!" Ucap Shinta menekan kata kata nya
"Gak ada makan makan di pinggir jalan, lurus Van jangan sampai putar balik" Ucap Reyhan lagi lagi mencegah
"Saya bilang putar balik pak!!!" Ucap Shinga tetap memaksa
Evan menggaruk kepala nya yang terasa pening, dia harus bagaimana sekarang? menuruti perintah bos nya atau istri bos nya? akh....
"Pak... putar balik pak pliss, saya pengen makan itu pak" Ucap Shinta memohon
"Gak ada, saya yang gaji kamu dan perintah saya yang harus kamu turuti Van" Ucap Reyhan
Evan pusing tujuh keliling, ingin rasanya membanting setir lalu bernafas sepuas puas nya, tapi pasangan di belakang itu tidak berhenti berdebat dengan yang satu ingin turun dan satu nya lagi mencegah agar istri nya tidak turun
"Pak bos, kasian ibuk pak... mungkin lagi ngidam" Ucap Evan berusaha membujuk atasan nya
"Diam dan menurut atau gaji kamu bulan ini lenyap?" Ucap Reyhan yang langsung membuat asisten nya kicep
*Ya Alloh... maafin saya buk, gak bisa bantu lagi* Batin Evan harap harap cemas
__ADS_1
Shinta ganti menatap suami nya "Kok gak boleh? padahal kan aku mau makan itu" Ucap nya
"Gak sehat yang, jangan makan makanan yang pedas atau apapun itu" Ucap Reyhan
"Tapi pengen" Ucap Shinta dengan ekspresi mupeng nya
"Gak ada, kalau mau nanti biar di buatin bibi sendiri yang pasti lebih sehat" Ucap Reyhan
Shinta terdiam dengan murung, hati nya sakit walau Reyhan hanya melarang nya makan makanan pedas, tapi mau bagaimana lagi? sekarang dia benar benar ingin makan itu dan hanya itu
Beberapa menit kemudian
"Hiks...." Reyhan yang awal nya ingin memejamkan mata langsung kembali sadar saat mendengar isak tangis dari wanita nya
"Sayang, kamu kenapa? ada yang sakit?" Tanya Reyhan ingin menyentuh lengan itu namun di tepis oleh istri nya
"Hiks... kamu tau gak apa yang sakit?" Ucap Shinta, mata nya memerah karena menahan tangis terlalu lama
"Gak tau yang, sumpah ya aku gak ada niatan sama sekali buat nyakitin kamu" Ucap Reyhan, tangan nya ingin mendekap tubuh itu namun masih di tepis
*Ya Alloh... drama apalagi ini?* Batin Evan sambil menggelengkan kepala nya
"Ini... hiks" Ucap Shinta sambil memegang dada nya "Ini yang sakit, hiks...aku cuman mau makan bakso tapi gak di bolehin"
"Allohu akbar... bukan gak boleh yang, tapi nanti aja di rumah ya... biar di masakin sama bibi" Ucap Reyhan menenangkan
"Gak mau... hiks, aku mau nya makan bakso disitu" Ucap Shinta kekeh
"Kita gak tau dia higienis atau enggak yang, makan di rumah aja ya... lebih aman" Ucap Reyhan
Gondok sudah, rasanya Shinta ingin turun dari mobil lalu berjalan kaki menuju warung bakso tadi
"Habis ini kita pulang, nanti bibi yang masak bakso nya" Ucap Reyhan
"Huaaa.... " Bukan nya tenang, yang ada malah tangis istri nya semakin kencang sampai memekik telinga Evan
"Kok jadi cengeng? bukan gak boleh sayang, tapi nanti aja di rumah" Ucap Reyhan menggeser duduk nya untuk mendekat, tapi yang ada Shinta makin menjauh sampai berdempetan dengan pintu mobil
Ia menatap perut nya yang masih datar, mengadu pada janin nya adalah jalan terbaik untuk sekarang "Sayang... hiks, yang pengen bakso tadi itu kamu kan? bukan mama kan?" Ucap Shinta seolah olah berbicara dengan calon bayi nya
"Tapi gak di bolehin sama papa nak... hiks, maafin mama ya kalau kalau kamu ileran nanti itu juga salah nya papa kamu kok, bukan mama ya nak hiks" Ucap nya sambil menitikkan air mata
"Sayang... " Ucap Reyhan memanggil istrinya
"Tuh... kamu denger kan tadi? gak boleh makan bakso, boleh tapi di rumah dan rasa nya bakal beda sama yang kamu mau nak, hiks... gak papa ya? kita makan di rumah aja" Ucap Shinta yang bahkan ingus nya sudah keluar
"Yang..." Reyhan mendekati istri nya, ingin menggenggam tangan itu tapi Shinta tidak membalas sama sekali
Tidak ada pilihan lain "Putar balik Van, kita ke warung bakso tadi" Ucap Reyhan pasrah
"Siap laksanakan pak" Ucap Evan tersenyum tapi juga kaget, ternyata bos nya masih bisa percaya dengan kebohongan
"Beneran?" Tanya Shinta antusias dengan senyum manis nya yang kembali merekah
"Iya, tapi jangan suka ngambek dan gak boleh makan pedas" Jawab Reyhan memberi syarat
"Iya, baik deh sayang" Ucap Shinta memeluk lengan kiri suami nya
"Meluk kalau ada mau nya" Cibir Reyhan
"Hehe... kalau mau yang lebih ya nanti" Bisik Shinta tepat di telinga suami nya
*Hahaha... ternyata mas Rey gak tau ya? kalau janin baru bisa mendengar ucapan ibu nya waktu usia tiga bulan* Batin Shinta terkikik geli, ingin tertawa namun ia tahan agar suami nya tidak bertanya
๐ธ๐ธ๐ธ
Saat sampai di apartemen, mereka di suguhkan dengan bibi yang tersenyum sambil membuka pintu dan ruangan yang masih tertata rapi seperti semula
"Waalaikumussalam, udah pulang buk? gimana kabar nya?" Tanya bibi dengan senyum tulus nya
"Alhamdulillah saya baik kok, bibi sendiri?" Ucap Shinta memeluk wanita yang lebih tua dari
"Saya juga baik kok, sekarang mending ibuk istirahat dulu, nanti kan mau pergi lagi" Ucap bibi
Shinta mengernyitkan alis nya, ingin bertanya pergi kemana namun Reyhan sudah menggandeng nya untuk masuk ke kamar yang selama ini mereka gunakan
"Akhirnya... panas banget di luar tadi mas" Ucap Shinta mengibaskan tangan nya di area kepala setelah melepas hijab
"Makanya sekarang istirahat dulu" Ucap Reyhan meletakkan remot selepas mengatur AC ruangan
Shinta berbaring di atas kasur dengan posisi telentang dan kaki yang menjuntai ke bawah, ia menatap langit langit kamar mereka yang sudah memuat banyak cerita
Ketika pikiran sedang kosong atau tanpa sengaja ia menatap sesuatu dalam diam, pasti di pikiran nya selalu terlintas masalah yang belum selesai, bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan masalah kali ini? hal itu yang terus berputar di otak nya
Begitupun dengan Reyhan, ia sering memikirkan bagaimana cara nya menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi, dan dia juga tahu bahwa sang istri sedang memikirkan hal yang sama
"Kalau tidur yang bener, salah posisi nanti encok" Ucap Reyhan terkekeh lalu membenarkan kaki istri nya yang masih menjuntai baru lah dia ikut berbaring di samping sang istri
Perlahan tapi pasti, Reyhan memiringkan badan nya ke kanan dengan lengan kiri sebagai tumpuan tubuh nya, lalu melingkarkan tangan yang kokoh di pinggang istri nya
"Sayang" Panggil Reyhan
"Hmm... kenapa?" Jawab Shinta menoleh ke kiri untuk melihat wajah suami nya
__ADS_1
"Jangan mikir itu dulu, bismillah... ada Alloh, percaya kalau kita pasti bisa menyelesaikan semuanya" Ucap Reyhan
Huft...
"Aku hanya takut mas" Ucap Shinta dengan tatapan sendu nya
"Takut apa?" Tanya Reyhan
"Takut kamu bernasib sama seperti kak Zean, takut kalau kejadian itu benar terulang lagi" Jawab Shinta
"Hust... gak ada yang perlu di takuti, kan aku udah bilang kalau ada Alloh sama kita, insyalloh gak akan terjadi apa apa kalau kamu juga selalu positif thingking" Ucap Reyhan
"Semoga" Jawab Shinta tersenyum walau sebenarnya agak susah untuk mengeluarkan senyuman itu jika membahas hal demikian
Iseng iseng Reyhan menggelitiki leher dan tengkuk itu dengan hidung mancung milik nya, sebenarnya sengaja untuk memancing sang istri
"Mas, geli... aku belum mandi ya, jangan macem macem" Ucap Shinta menjauhkan kepala Reyhan dari leher nya
"Yaudah sana mandi" Ucap Reyhan
"Males, masih capek" Ucap Shinta yang sedang mager mode on
"Yaudah mandi nya nanti aja sekalian" Ucap Reyhan mengedipkan mata nya
"Sekalian mandi sore gitu?" Ucap Shinta pura pura tidak paham dengan maksud barusan
"Iya" Jawab Reyhan tersenyum lalu mencium sang istri
Bukan sekedar kecupan namun cium yang di lakukan pasangan halal pada umum nya, di sertai sedikit ******an, bukan kasar tapi secara lembut dan halus agar masing masing dapat merasakan, menikmati dan membalas satu sama lain
Tittttt------- Ingat!!! adegan barusan hanya untuk yang sudah halal:) kalau yang belum maka semoga segera menemukan jodoh nya
"Mas" Pekik Shinta saat leher nya muncul beberapa tanda di sana
"Apa yang? mandi nya nanti aja kubilang" Ucap Reyhan ingin melanjutkan aktivitas nya namun Shinta masih menghalangi
"Ada yang ketuk pintu, kamu buka dulu" Ucap Shinta
"Bodo amat, nanti aja yang... palingan juga gak penting" Ucap Reyhan sambil mengecup pipi tersebut
"Ish... gak boleh, buka dulu pintu nya baru nanti lanjut lagi, oke? suamiku yang tampan.... " Ucap Shinta sambil memberikan pujian karena terlihat raut wajah kesal di sana
"Sial, kenapa ganggu di waktu yang gak tepat sih?" Gerutu Reyhan sambil berjalan ke arah pintu
Ceklek
"Ngapain kamu di sini Van? penerbangan masih nanti sore" Ucap Reyhan ketika melihat ada sang asisten di depan pintu kamar pribadi nya
"Pak... saya mendapat laporan kalau Alina dan tim sedang dalam perjalanan menuju kantor anda" Ucap Evan
"Apa? kantor? kenapa harus kantor? masih banyak tempat lain yang gak ada karyawan kan" Ucap Reyhan
"Sekarang hari minggu pak, maka dari itu saya langsung menyuruh mereka untuk ke kantor karena sebaiknya anda menemui wanita itu sebelum pergi" Ucap Evan
"Van, istri saya juga baru pulang, mana mungkin saya pergi ninggalin dia sendirian di sini?" Ucap Reyhan
Yaelah... di tinggal di apartemen sendiri juga sebenarnya gak masalah, dia saja yang tidak mau
"Mau tidak mau anda bisa mengajak ibuk sekalian pak" Ucap Evan
"Hah? gila kamu, mana mungkin? biar saya bicara sama istri saya dulu" Ucap Reyhan ingin menutup pintu, tapi...
"Kita kesana" Ucap Shinta yang tiba tiba sudah berdiri di belakang sang suami setelah memakai hijab nya kembali
"Yang... kamu serius? kita baru pulang loh, masa' mau keluar lagi?" Ucap Reyhan tidak setuju
"Keluar cuman sebentar kan ke kantor kamu doang, nanti kita bisa pulang lagi mas" Ucap Shinta meyakinkan
"Yang tadi masih nanggung" Ucap Reyhan keceplosan
Blush...
Memerahlah muka Evan yang sudsh dewasa dan pikiran nya ikut travelling setelah mendengar ucapan bos nya barusan
Shinta berjinjit sedikit lalu berbisik di telinga suami nya "Di ruangan kamu kan ada kamar, manfaatkan itu dengan baik mas" Ucap nya sambil menepuk bahu Reyhan
"Bagaimana pak? kita jadi berangkat sekarang kan? dari pada nanti telat penerbangan" Ucap Evan
"Iya, tunggu sebentar saya mau ganti baju" Ucap Reyhan lalu mentup pintu karena Shinta pun perlu mengganti pakaian nya yang sudah berkeringat
๐ธ๐ธ๐ธ
Dalam perjalanan
"Oh iya pak, kenapa harus di bawa ke kantor ya?" Tanya Shinta, dia saja menyembunyikan Alena di gudang
"Kebetulan hari minggu buk, dan mungkin cuman hari ini pak bos ketemu sama wanita iblis itu" Jawab Evan
"Hmm... emang habis ini kamu mau kemana mas? kok kata pak Evan cuman hari ini kamu bisa ketemu dia?" Tanya Shinta bingung
"Ya ketemu nya sekalian hari ini yang, cukup satu kali aja karena ogah aku ketemu dia berkali kali" Jawab Reyhan sambil melirik sang asisten
Bersambung
__ADS_1