
Shinta yang duduk di dalam kabin pesawat beberapa kali teringat tentang cerita Wildan mengenai Reyhan yang ke rumah nya
Flashback
Seminggu sebelum proposal, Reyhan yang mempunyai jadwal di Surabaya pun memutuskan untuk ke kota J, tempat dimana orang tuanya Shinta tinggal
"Benar ini alamat nya?" Tanya Reyhan ketika ia sampai di depan sebuah rumah satu lantai bergaya minimalis modern
"Iya pak, dari alamat yang bapak kasih ya disini" Jawab Evan, asisten Reyhan di perusahaan
*Aku tau alamat ini aja dari ajudan* Batin Reyhan yang sempat menanyakan alamat rumah pada ajudan, kemudian ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah itu
"Kamu ngapain?" Tanya Reyhan saat asisten nya itu ikut berdiri di samping nya
"Ikutin bapak lah, kan saya asisten nya bapak" Jawab Evan
"Kamu tunggu di mobil, kalau laper sana cari makanan" Ucap Reyhan yang langsung dituruti asisten nya
*Untung gaji ku mahal* Batin Evan berusaha menahan kekesalan nya dan kembali masuk ke mobil
Tok tok tok... Reyhan mengetuk pintu rumah itu karena tidak ada bel yang tersedia
"Assalamualaikum..." Ucap Reyhan
"Waalaikumsalam..." Terdengar suara bunda yang menyahut dari dalam dan membukakan pintu
"Loh... nak Reyhan disini?" Tanya bunda terkejut saat Reyhan mencium punggung tangan nya
"Iya bunda" Jawab Reyhan dengan menyunggingkan senyum nya
Bunda pun mempersilahkan Reyhan untuk masuk dan menyajikan minuman juga beberapa makanan yang Reyhan bawakan, kemudian memanggil suami nya
"Assalamualaikum om... " Sapa Reyhan ketika melihat laki laki paruh baya
"Waalaikumsalam... kamu siapa?" Tanya ayah Ari seraya duduk di depan Reyhan, sedangkan bunda duduk di samping suami nya untuk menyimak obrolan mereka
"Saya Reyhan om" Jawab Reyhan
"Reyhan siapa? dan kenapa kamu kemari?" Tanya ayah Ari bingung pasal nya dia tidak mengenal orang yang nama nya Reyhan
"Saya teman nya Shinta om... saya kemari karena ingin meminta restu dan persetujuan dari om" Jawab Reyhan
"Restu untuk?" Tanya ayah Ari yang mana ia mulai paham dengan kedatangan Reyhan
"Saya ingin melamar Shinta, putri om satu satu nya" Jawab Reyhan dengan nada serius nya
"Kamu benar benar serius?" Tanya ayah Ari
"Saya benar benar serius om" Jawab Reyhan yakin
"Kalau begitu saya akan mengajukan beberapa pertanyaan" Ucap ayah Ari yang membuat Reyhan menelan saliva nya, pertanyaan apa? hal itu yang terngiang ngiang di otak nya
"Apa pekerjaan kamu?" Tanya ayah Ari
"Saya bekerja di perusahaan om" Jawab Reyhan yang tidak menyebutkan bahwa dia pemilik perusahaan itu
"Kamu bisa sholat dan jadi imam?" Tanya ayah Ari membuat istri nya memekik karena terkejut
"Bisa om" Jawab Reyhan
"Kamu bisa ngaji?" Tanya ayah Ari yang semakin membuat istrinya itu melotot
"Ayah... " Pekik bunda namun justru tidak digubris oleh suami nya
"Bisa om" Jawab Reyhan
"Setelah ini adzan isya' dan kamu harus menjadi imam nanti" Ucap ayah Ari karena rumah nya pun bersebelahan dengan musholla
"Baik om" ucap Reyhan menyanggupi
"Oh iya, satu lagi... besok setelah sholat subuh silahkan kamu kesini dan tadarus di musholla minimal satu juz" Ucap ayah Ari
"Baik om, besok pagi saya kesini" Ucap Reyhan menyanggupi tanpa ada nada keraguan sedikitpun
Adzan isya' pun berkumandang, sesuai permintaan Reyhan bersiap ke musholla diikuti dengan Evan yang juga ingin menjalankan kewajiban nya sebagai umat muslim
"Ayo" Ucap ayah Ari mempersalahkan Reyhan untuk menempati tempat iman
"Baik om" Jawab Reyhan menurut kemudian mulai menjadi imam untuk sholat isya'
Permintaan pertama dari ayah Ari Reyhan jalankan dengan bain, dia menjadi imam dengan sangat khusyuk dan lantunan ayat surat surat pendek yang merdu
Setelah salam dan menoleh pada pundak kanan dan kiri, Reyhan juga dapat memimpin do'a dan dzikir dengan baik, walaupun dia agak sedikit canggung karena banyak orang di musholla yang mayoritas kerabat nya Shinta
"Bagus, dengan begini saya tidak akan ragu kalau kamu bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kamu nanti" Ucap ayah Ari seraya menepuk pundak Reyhan
Reyhan pun memutuskan untuk pamit karena rasa nya tidak sopan jika ia pulang terlalu malam
"Kenapa buru buru?" Tanya bunda
"Rey ada urusan mendadak bunda, rasa nya juga kurang sopan kalau Reyhan pulang malam malam" Jawab Reyhan sopan
"Kamu tidur dimana?" Tanya bunda
"Di hotel dekat sini bunda, Rey sudah booking disana" Jawab Reyhan
"Padahal kamu bisa loh tidur disini, banyak kamar kosong karena anak bunda cuman satu yang ada di rumah" Ucap bunda
"Jangan bunda, nanti Rey ngerepotin, kalau gitu Rey pamit dulu om... bun" Ucap Reyhan dengan menyalami satu persatu tangan orang tua Shinta
__ADS_1
"Saya juga pamit om...tante" Ucap Evan ramah
Setelah Reyhan dan Evan pergi, bunda pun melayangkan tatapan tajam nya pada sang suami
"Ayah berlebihan, Shinta pasti gak akan suka kalau tau kejadian hari ini" Ucap bunda tidak terima
"Makanya jangan kasih tau Shinta" Ucap ayah Ari enteng dan melenggang masuk rumah
"Bunda, kenapa sikap ayah kayak gitu sih? kasian loh sama orang nya tadi" Tanya Wildan ketika keluar dari kamar nya dan dia mendengar semua percakapan Reyhan dengan ayah Ari termaauk waktu dia ikut berjamaah di musholla tadi
"Yang baik ditiru, yang buruk jangan" Selalu hal itu yang bunda jawab jika anak anak nya bertanya demikian
Sedangkan di situasi lain, Evan tengah mencari hotel di kota J untuk mereka menginap karena jika besok pagi Reyhan berangkat dari Surabaya menuju rumah Shinta, itu akan cukup memakan waktu
"Nah... udah ketemu pak, meskipun hotel kecil sih" Ucap Evan ketika berhasil membooking salah satu hotel di kota J, Reyhan pun tidak mempersalahkan yang penting mereka ada tempat untuk tidur
Keesokan hari nya setelah sholat subuh, Reyhan bergegas kembali ke rumah Shinta dengan menyetir sendiri tanpa mengajak Evan karena pun sudah hafal jalan dari hotel ke rumah Shinta
Cukup 15 menit ia sudah sampai di pelataran rumah itu, dan sekarang masih jam 6 pagi
Reyhan pun mengetuk pintu dan kali ini lagi lagi bunda yang membuka kan pintu ruang tamu
"Mau tadarus ya?" Tanya bunda yang sebenar nya juga tidak tega jika melihat Reyhan yang di tantang ini itu oleh suami nya
"Iya bunda" Jawab Reyhan tersenyum
"Yaudah, bunda anterin ya... " Ucap bunda mengingat suami nya yang masih berdiam diri di kamar belakang jika jam seperti ini
"Ini mikrofon nya, trus al qur'an ada disitu" Ucap bunda saat sudah masuk ke dalam musholla dan menunjuk lemari kayu yang berisi al qur'an juga peralatan sholat untuk umum
Reyhan pun mengangguk, setelah mengambil wudhu, barulah ia memulai tadarus dan mengawali nya dengan bismillah
Ayah Ari yang baru keluar dari kamar belakang pun bertanya pada istrinya
"Udah datang dia?" Tanya ayah Ari dan dijawab anggukan oleh bunda
"Bagus ngaji nya" Komentar Wildan yang tengah mendengarkan suara Reyhan mengaji di musholla
Setengah jam berlalu, Reyhan yang masih melantutkan ayat ayat suci pun terkejut ketika mendengar suara teriakan dari luar
"SIAPA ITU YANG NGAJI?" Teriak seseorang dan mau tak mau Reyhan harus menghentikan sebentar dan keluar untuk melihat siapa oranh yang berteriak
"Maaf nek, ada apa ya?" Tanya Reyhan sopan
"Kamu itu tadi ngaji nya salah, harus nya idghom bighunnah... kamu tau idghom bighunnah kan? berdengung... kenapa kamu gak berdengung tadi?" Ucap seorang wanita tua dengan suara yang meninggi
"Kalau gak bisa ngaji gak perlu ngaji, musholla ini hanya untuk orang orang yang pandai ilmu beragama" Sambung nya teyap dengan nada tinggi
Namun belum sempat Reyhan menjawab, tiba tiba Wildan datang dan menjawab semua perkataan wanita tua itu
"Maaf ya nek, ini kan musholla umum dan nenek tidak berhak untuk melarang seseorang beribadah disini, lagian tadi Wildan dengar dia itu dengung kok ngaji nya, cuman nenek aja yang gak denger dan lebih baik nenek obati dulu telinga nenek sebelum menjustice orang lain" Ucap Wildan yang mana membuat nenek itu bungkam dan pergi dari musholla
"Kamu gak papa kan? dia nenek ku... lebih tepat nya nenek kakak juga" Ucap Wildan dengan memandang Reyhan
"Aku gak papa" Jawab Reyhan menggelengkan kepala meskipun hati nya sedikit ngilu mendengar teriakan dari nenek Shinta tadi, apalagi membayangkan Shinta yang tinggal di lingkungan ini
*Bagaimana kehidupan mu jika kerabat mu sendiri bersikap toxic?* Batin Reyhan bertanya tanya tentang kehidupan Shinta
"Perkenalkan aku Wildan, adik bungsu kak Shinta" Ucap Wildan memperkenalkan diri
"Aku Reyhan" Ucap Reyhan dengan membalas jabat tangan Wildan
"Oh iya, aku tau kalau kamu banyak uang kan?" Tanya Wildan yang membuat kening Reyhan berkerut
"Darimana kamu tau?" Tanya Reyhan balik
"Aku pernah melihat mu di salah satu berita stasiun tv" Jawab Wildan yang diangguki Reyhan karena hal itu memang pernah terjadi sebelum nya di siaran bisnis
"Kenapa kamu susah susah ngelakuin hal ini?" Tanya Wildan yang lagi lagi membuat Reyhan bingung
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Reyhan balik
"Kuberi tau satu hal, kerabat ku akan menghargai orang yang kaya raya meskipun orang itu hanya bisa sholat saja, gitu gitu kerabat ku juga mata duitan... makanya kakak dulu kabur dari rumah" Ucap Wildan
"Aku tidak ingin mengambil hati seseorang dengan menggunakan harta" Ucap Reyhan yang membuat Wildan tersenyum
"Beruntung sekali kakak ku mendapatkan orang yang mau memperjuangkan nya" Ucap Wildan yang giliran membuat Reyhan tersenyum
"Aku akan melanjutkan ngaji ku dulu" Ucap Reyhan yang dipersilahkan oleh Wildan, kemudian ia kembali masuk rumah karena ini hari Jum'at dan sekolah nya pun libur
Selesai mengaji, Reyhan menutup al qur'an nya dan mencium kitab suci itu kemudian berjalan menuju rumah orang tua Shinta
"Sudah selesai?" Tanya ayah Ari yang sedang duduk di teras rumah dan mempersilahkan Reyhan untuk duduk di sebelah nya
"Sudah om" Jawab Reyhan
"Bagus, semua hal yang saya perintahkan sudah terlaksanakan dengan baik" Ucap ayah Ari membuat Reyhan lega
"Berarti om setuju?" Tanya Reyhan
"Heh...masih ada satu hal lagi, kamu bisa membaca ini?" Ucap ayah Ari dengan membuka kitab yang kertas nya berwarna orange
Reyhan melihat kitab itu dengan seksama, kitab yang bertuliskan huruf hijaiyah dan dibawah nya terdapat tulisan huruf hijaiyah miring tanpa harokat atau yang biasa disebut sebagai huruf pego, ya... buku itu adalah kitab kuning, yang mana di dalam nya terdapat terjemahan bahasa jawa namun penulisan nya menggunakan huruf pego
"Kamu tidak bisa? huh... bagaimana bisa kamu membaca perasaan anak saya jika membaca ini saja kamu tidak bisa?" Ucap ayah Ari dengan menutup kitab itu
"Saya memang tidak bisa om, tapi saya akan berusaha agar bisa membaca kitab itu" Ucap Reyhan meminta kesempatan
"Maksimal satu minggu" Ucap ayah Ari memberi jangka waktu
__ADS_1
"Ayah bercanda atau gimana? Wildan seminggu aja gak bisa baca kitab kuning" Sahut Wildan yang keluar dari ruang tamu ketika mendengar ayah nya yang berbicara omong kosong menurut nya
"Saya bisa kok om" Ucap Reyhan menyanggupi dalam waktu satu minggu
"Benar?" Tanya ayah Ari memastikan
"Benar om" Jawab Reyhan yakin, ayah Ari kemudian memberikan kitab itu agar Reyhan dapat mempelajari nya
"Kamu harus kembali kesini dalam satu minggu" Ucap ayah Ari kemudian masuk ke dalam untuk memanggil istri nya yang sedang memasak
"Ayah keterlaluan" Ucap Wildan yang ingin menangis saja rasa nya ketika melihat Reyhan yang seperti dipersulit oleh ayah nya
"Aku gak papa, dan boleh aku bicara denganmu sebentar?" Tanya Reyhan
"Mau bicara apa?" Tanya Wildan setelah emosi nya mereda
"Aku minta tolong rahasia kan hal ini dari Shinta, aku tidak ingin nanti dia akan marah atau bertengkar dengan ayah nya" Ucap Reyhan
*Kenapa hatimu sangat baik sampai memikirkan kakak ku yang akan bertengkar dengan ayah?* Batin Wildan
"Aku tidak akan memberi tau nya selagi dia tidak bertanya, dan aku juga minta maaf karena tidak bisa membantu mu" Ucap Wildan tulus
"Tidak apa, tapi apa kau setuju jika aku bersama kakak mu?" Tanya Reyhan
"Aku tidak pernah memandang seseorang dari apapun itu, selagi kakak ku bahagia, kenapa aku harus tidak setuju? justru aku akan ikut bahagia" Ucap Wildan
"Nak Rey... sarapan dulu ya" Ucap bunda yang tiba tiba keluar
"Eh bunda... Rey sarapan sama Evan aja bun, kasian kalau dia sarapan sendirian" Ucap Reyhan menolak dengan halus
"Tapi nak Rey... maafin ayah nya Shinta yang mempersulit kamu ya" Ucap bunda juga ikut merasa bersalah karena mendengar cerita dari ayah Ari waktu di dalam
"Rey tidak papa kok bunda, Rey mau berusaha untuk mendapatkan anak gadis nya" Ucap Reyhan tersenyum
"Tapi sarapan dulu ya... bunda mohon" Ucap bunda yang tentu saja membuat Reyhan tidak enak untuk menolak nya
Akhirnya setelah sarapan, barulah Reyhan pamit dan kembali ke hotel berniat untuk langsung mempelajari kitab yang ia bawa
"Bos baru balik?" Tanya Evan yang berdiri di depan pintu kamar Reyhan karena berniat untuk menemui atasan nya, dia memang memanggil Reyhan dengan sebutan bapak atau kadang juga dengan sebutan bos
"Hari ini ada meeting?" Ucap Reyhan yang justru bertanya balik
"Ada pak, jam 11 siang" Jawab Evan mengingat jadwal Reyhan
"Atur meeting itu agar berjalan tidak sampai 3 jam" Ucap Reyhan kemudian masuk ke dalam kamar nya begitu saja
"Tapi pak- huft... gimana bisa meeting yang biasanya bisa memakan waktu hingga 5 jam malah jangan sampai berjalan 3 jam" Gerutu Evan karena akhirnya dia juga yang di pusing kan
Reyhan yang berada di dalam kamar kemudian membuka kitab kuning tadi dan langsung mempelajari nya, untung nya ada internet yang terdapat seputar ilmu tentang huruf pego
Dia terus mempelajari hal itu sampai tidak sadar bahwa diluar Evan sedang mengetuk pintu sedari tadi, karena tidak ada yang membuka, Evan pun perlahan memegang knop pintu yang ternyata kamar Reyhan tidak dikunci karena hotel mereka menggunakan kunci manual
Perlahan Evan menghampiri Reyhan yang sedang duduk di sofa dan sibuk dengan buku yang ia pegang
"Bos" Ucap Evan membuat Reyhan kaget namun dia masih bisa menyembunyikan ekspresi nya
"Kenapa masuk tidak ketuk pintu?" Tanya Reyhan
"Saya udah ngetuk berkali kali pak, tapi bapak tidak dengar, yaudah saya langsung masuk karena kita ada meeting di Surabaya satu jam lagi" Jawab Evan mengingat kan
"Kamu yang nyetir" Ucap Reyhan seraya melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian casual nya dengan setelan jas formal
"Lah... kan kalau pergi bareng juga selalu saya yang nyetir" Gerutu Evan dengan menggelengkan kepala nya.
Seminggu sudah waktu berlalu, dan Reyhan yang selama satu minggu ini tinggal di Surabaya pun tidak pernah lupa untuk mempelajari kitab kuning
Dengan mengandalkan otak juga tekad, akhirnya dia bisa membaca kitab itu yang ternyata tidak terlalu susah karena pelafalan huruf pego sama seperti abjad, contoh alif dibaca A dan ba' dibaca B, namun ada juga beberapa pelafalan yang huruf nya khusus seperti E
"Bos mau balik ke kota J?" Tanya Evan ketika mereka sudah berada di dalam mobil
"Hmm" Jawab Reyhan
"Hmm apa pak? hmm iya atau hmm tidak?" tanya Evan karena papa Raka dengan Reyhan sifat nya sangat berbeda, namun dalam ketegasan mereka selalu sama
"Iya" Jawab Reyhan dan Evan yang mendengar hal itu langsung tancap gas menuju kota J
Beberapa waktu setelah perjalanan, barulah Reyhan sampai dan kali ini Wildan yang membuka kan pintu untuk nya
"Eh kak Rey, waalaikumsalam" Ucap Wildan menjawab Reyhan yang tadi sempat mengucapkan salam, mana Evan? dia asisten yang setia menunggu di dalam mobil
Ayah Ari yang melihat kedatangan Reyhan pun tanpa basa basi dia langsung meminta Reyhan untuk membaca kitab itu di depan nya, dan yang disuruh pun menurut karena tujuan nya datang kemari memang untuk membuktikan kalau dia bisa
"Bagus, saya setuju kamu melamar anak saya" Ucap ayah Ari setelah mengakhiri bacaan Reyhan
"Om serius?" Tanya Reyhan
"Mau saya tarik lagi omongan saya?" Tanya ayah Ari yang langsung membuat Reyhan menggelengkan kepala nya
"Kak Rey hebat" Ucap Wildan dengan memberikan dua acungan jempol
Dan dari situ lah Reyhan mulai merencanakan proposal surprise untuk Shinta yang dia lakukan di hotel Surabaya kemarin
Flashback end
Shinta yang memandang awan dari dalam pesawat pun tanpa sadar meneteskan air mata, dalam hati ia berterima kasih pada Reyhan yang membuktikan ucapan nya dengan memperjuangkan diri nya
Namun hal yang membuatnya sakit hati adalah ketika tau bahwa sifat ayah nya belum berubah, ayah juga kerabat nya selalu saja menjustice dan meremehkan orang dari kadar ilmu agama nya, tapi menghargai orang yang memiliki banyak harta meskipun ilmu agama nya kurang, hal itu yang sangat tidak Shinta sukai karena kemampuan orang itu berbeda beda, jangan menjustice orang karena hal yang mereka lakukan selama ini saja belum tentu benar
*Ya Alloh, hanya engkau yang maha membolak balikkan hati manusia, buka kan pintu hati mereka agar tersadar dan berhenti untuk menjustice orang lain yang justru akan memupuk dosa mereka* Batin Shinta berdo'a dalam hati nya
__ADS_1
Bersambung