
Reyhan memeluk badan Shinta yang lebih kecil dari tubuh nya, dia memandangi wajah putih sembab yang sedang terlelap damai seperti bayi dengan mata tertutup, hidung pesek yang memerah dan bibir pink yang sudah menjadi candu untuk nya
*Kamu sudah melalui banyak hal, sekarang izin kan aku untuk membahagiakan mu dan menghapus kenangan buruk yang membuat mu tersiksa sayang* Gumam Reyhan dalam hati karena jika dia berbicara langsung malah takut akan membangunkan istri nya
Dilirik nya jam dinding yang tertempel rapi dan waktu sudah menunjukkan malam hari, ia mengecup pelan kening istri nya, mengucap selamat malam dan berdo'a lalu menyusul Shinta yang sudah terbang ke alam mimpi.
Keesokan hari nya ketika matahari masih belum menunjukkan diri, Shinta lebih dulu bangun karena panggilan sebagai umat muslim yang wajib dia jalankan, tapi....
Bruukkk!..... "Aakh... "
Reyhan pun otomatis membuka mata lebar ketika Shinta mendorong dada nya dan justru sang istri yang terjengkang ke belakang hingga berakhir jatuh dari ranjang, sungguh tidak aesthetic sekali adegan jatuh nya
"Aduh... " Ucap Shinta meringis mengelus pinggang nya yang terhantam lantai
"Sayang kamu gak papa?" Reyhan buru buru turun dari ranjang dan menghampiri istri nya
"Kak, kamu ngapain disini?" Tanya Shinta terkejut dengan memundurkan tubuh nya
"Kamu lupa?" Tanya Reyhan balik mengerutkan alis nya
"Lupa apa sih?" Tanya Shinta
"Coba kamu ingat ingat kemarin kita ngapain aja" Ucap Reyhan ketika sadar jika istri nya sedang mengalami pikun dadakan, beberapa saat kemudian Shinta mulai ingat bahwa dia dan Reyhan sudah resmi menjadi pasutri satu hari yang lalu
"Gimana? udah ingat?" Tanya Reyhan kala melihat istri nya hanya diam saja
"Maaf, kan aku kebiasaan tidur sendiri jadi lupa kalau udah punya suami, hehe... " Jawab Shinta dengan cengiran khas nya dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal
Reyhan hanya menggelengkan karena dibuat gemas sendiri oleh sikap istri nya, ingin sekali ia menggigit bibir yang sedang cengengesan itu
"Aku terima maaf tapi ada syarat nya" Ucap Reyhan menaikkan satu alis nya
"Ish... ngambekan ternyata" Ucap Shinta mengerucutkan bibir nya
"Terserah aku, sekarang kiss ini" Ucap Reyhan menunjuk pipi kanan nya dan membuat Shinta refleks melotot
"Gak ada yang lain apa?" Tanya Shinta memelas karena jujur dia masih malu jika mencium duluan
"Gak ada tawar menawar karena ini bukan pasar saham, udah cepet" Ucap Reyhan menari tangan Shinta hingga tubuh itu mendekat ke arah nya
"Pasar saham kan emang gak bisa di tawar" Ujar Shinta dengan tangan yang masih berada di genggaman suami nya
"Maka dari itu anggap aku pasar saham, dan kamu yang nanam saham nya" Ucap Reyhan tersenyim jahil
Oke, tidak ada pilihan lagi selain menuruti titah sang suami, Shinta mulai mendekatkan wajah nya dengan bibir yang sedikit manyun
Cup... satu kecupan singkat mendarat di pipi suami nya, bahkan bagi Reyhan itu lebih cepat dari pada kilat
"Udah ah" Ucap Shinta kemudian berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi, dedangkan Reyhan hanya terkekeh melihat bagaimana istri nya yang masih malu malu tapi mau, haha
*Lucu banget serigala jinak ku* Batin Reyhan yang mempunyai julukan untuk istri nya, begitupun sebaliknya Shinta yang mempunyai jukukan untuk suami nya
Setelah kegiatan mandi dan wudhu selesai, Shinta langsung keluar dari kamar mandi karena harus mengejar waktu sholat
"Aku wudhu bentar, tungguin ya" Ucap Reyhan ganti masuk ke kamar mandi, dan selagi menunggu sang suami Shinta memilih untuk menyiapkan peralatan sholat mereka
Dimulai dari takbir, Reyhan pertama kali menjadi imam sholat bagi istri nya, begitu juga dengan Shinta yang menjadi makmum untuk suami nya
Reyhan memimpin sholat dengan khusyuk, sama hal nya Shinta yang mengikuti imam nya dengan khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci, tidak dapat di pungkiri bahwa hati mereka berdua sama sama bahagia karena dapat merasakan indah nya sholat berjamaah antara suami istri
Dua rokaat dan mengakhiri dengan salam menoleh pada pundak kanan dan kiri, Shinta meraih tangan dan mencium punggung tangan imam nya yang dibalas Reyhan dengan mencium kening istri nya
Reyhan mengadahkan tangan nya dan berdo'a yang terbaik untuk rumah tangga mereka nanti beserta keluarga yang baik baik saja, Shinta tentu saja mengaminkan apalagi itu adalah do'a baik
"Mau kemana?" Tanya Reyhan melihat istri nya yang memakai hijab instan dengan baju rumahan tertutup saat keluar dari kamar mandi
"Nyiapin sarapan" Jawab Shinta kemudian keluar dari kamar nya, Reyhan membiarkan dan kembali duduk di ranjang karena ingin memeriksa keadaan kantor yang dia titipkan pada Evan, padahal hari ini semua karyawan akan libur akibat dia yang akan menjadi mempelai pria di resepsi nanti
Selesai memastikan kantor baik baik saja, Reyhan keluar kamar berniat menyusul Shinta yang sedang ada di dapur
"Bikin apa?" Tanya Reyhan duduk di depan Shinta yang sedang sibuk dengan pisau bedah, eh... pisau dapur maksud nya
"Apa aja yang penting makan dan kenyang" Jawab Shinta tergelak ketika menyadari keberadaan suami nya
"Pagi" Ucap Lexa yang juga nenuju dapur sehabis keluar dari kamar Egi
"Pagi kak" Balas Shinta menaganggukkan kepala dan kembali fokus pada masakan nya
Jam 7 pagi menu sarapan sudah siap di meja makan, tanpa memanggil pun semua anggota keluarga langsung keluar dari tempat persembunyian karena mencium aroma wangi makanan
"Enak gak nih masakan nya?" Goda Egi saat semua nya sudah duduk manis di meja makan
"Enak lah, kan kakak yang masak" Sahut ajudan
"Kalau masakan mu gak enak trus nanti suami nya mau di kasih makan apa kak?" Tanya Wildan seraya mengambil lauk pauk
"Makan rumput, sekarang banyak bumbu bumbu instan... trus gak bisa masak dari mana?" Jawab Shinta karena sekarang jaman nya bumbu bumbu instan, tinggal menambahkan bumbu pelengkap dikit udah enak, apalagi masak nasi kuning yang sekarang gak perlu khawatir tangan jadi kuning karena sudah ada kunyit bubuk
"Ya kalau beneran gak bisa masak walaupun pakai bumbu instan gimana?" Tanya Rendra
"Belajar, kalau gak mau ribet yaudah pesan online aja" Jawab Shinta sengena nya
"Itu ngabisin duit nama nya" Ucap Wildan menggelengkan kepala nya
"Kalau suami nya gak masalah ya gak papa dong" Sahut Egi terkekeh
Selesai sarapan mereka semua bersiap untuk berangkat ke Surabaya, begitu juga dengan Harun beserta istri dan anak nya yang sudah ada di rumah
Shinta dan Reyhan naik ke mobik Harun karena bocah kecil nya yang merengek, sedangkan kedua adik nya dan Rendra akan ikut dengan mobil Egi
"Kalau udah menikah jangan berantem sama tante ya om" Ucap Sisil di tengah perjalanan mereka
"Siap tuan putri" Jawab Reyhan mengiyakan saja karena dia tidak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari
"Sisil juga harus jadi anak yang baik" Ucap Shinta menimpali dengan mengelus kepala bocah itu
"Iya tante"
๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Disini lah Shinta berada, di dalam kamar hotel yang di atur untuk dia dan Reyhan nanti malam
Ia memandangi tubuh nya sendiri di depan kaca besar yang mana dia sedang memakai gaun putih impian nya yang dibuat oleh Laila, hijab yang senada, begitupun riasan natural dan cantik yang melekat di wajah nya
"Cantik banget mbak" Ucap seseorang yang berprofesi sebagai MUA
Saat sampai di hotel tadi dia dan Reyhan istirahat sebentar, lalu mulai bersiap diri dengan berbeda ruangan untuk acara nanti malam
"Makasih, make up nya juga bagus" Ucap Shinta tersenyum
Ceklek...tiba tiba pintu terbuka memperlihatkan dua sahabat nya yang baru saja sampai
"Ya ampun.... cantik banget sih beb" Ucap Laila heboh dengan memandangi penampilan Shinta dari atas sampai bawah
"Iya, cantik bener sahabat gue" Timpal Jannah mengeluarkan ponsel nya dan ya... apalagi kalau bukan selfie bertiga
"Gue gugup" Ucap Shinta merasa debaran jantung nya semakin tak terkendali, padahal ini hanya resepsi saja karena ijab qabul kan sudah terlewati kemarin
"Udah malam pertama juga masih aja gugup" Ucap Laila yang mendapat hadiah toyoran dari Jannah
"Gimana? sakit gak?" Tanya Jannah yang justru ikut ikutan
"Ck, kalian ini bahas nya yang dua satu ples ples terus" Kesal Shinta menggelengkan kepala nya
"Kan gue penasaran" Ucap Laila mengerucutkan bibir nya
"Kalau penasaran itu nikah!" Ucap Shinta karena dia juga belum pernah melakukan kegiatan yang sering disebut orang orang dengan surga dunia
"Dih...sewot amat neng, tenang aja nanti gue bakal jadi menantu lo" Ucap Laila tergelak
"And then.... anak nya Shinta gak bakal mau sama lo wleee' " Ucap Jannah menjulurkan lidah nya
Pintu kamar kembali terbuka dan kali ini menunjukkan Reyhan yang berdiri gagah memakai tuxedo hitam
"Eh...ngapain kesini?" Tanya Laila karena mereka memang tidak di izinkan bertemu kecuali di pelaminan nanti
"Ini" Ucap Reyhan memberikan buket bunga dengan jenis yang sama saat proposal namun ini bunga palsu karena dia ingin Shinta menyimpan barang barang pernikahan mereka
"Oh iya, makasih" Jawab Shinta menerima buket bunga itu, Reyhan diam dengan mata yang memandangi wajah cantik di depan nya, walaupun menurut nya Shinta lebih cantik kalau tanpa make up
"Ekhem..." Deheman keras Jannah membuat Reyhan seketika sadar dan buyar lamunan nya
"Pak Rey... silahkan keluar, tenang aja... kami gak akan bawa Shinta kabur kok" Ucap Jannah terkekeh
Reyhan kemudian membalikkan badan berniat keluar dari kamar rias, namun sebelum keluar dia sempat mengedipkan satu mata nya ke arah Shinta
*Lah... apaan coba?* Batin Shinta geli dengan kelakuan Reyhan barusan
"Eh beb, kok cara jalan lo masih kayak biasaya ya?" Tanya Laila yang memulai lagi ilmu ples ples nya
"Sucikanlah hati terutama pikiran kalian" Ucap Shinta menghela nafas disertai gelengan kepala
"Nanggung, tunggu bulan puasa aja" Ucap Jannah
"Nah... bener tuh haha" Timpal Laila dengan gelak tawa nya
๐ธ๐ธ๐ธ
Berawal dari sambutan sambutan hangat, hingga sekarang waktu nya kedua mempelai masuk ke aula resepsi, aula yang sama dengan proposal mereka dan sekarang penuh dengan dekorasi putih yang mereka berdua pilih dan tertera Inisial R&S di bagian undangan juga pelaminan
"Kamu siap?" Tanya Reyhan melirik ke samping, dimana Shinta meletakkan tangan kanan nya di lengan Reyhan
"Bismillah" Jawab Shinta tersenyum hingga kedua nya berjalan di karpet panjang yang biasa di sebut dengan red carpet dan sudah penuh dengan taburan bunga mawar berwarna pink
Banyak tepuk tangan yang menyoraki mereka berdua, apalagi para kolega yang sangat penasaran tentang identitas Shinta
Tapi berbeda hal dengan rekan kerja Shinta yang duduk di salah satu kursi tamu undangan, mereka bahagia menyaksikan salah satu rekan kerja sudah menemukan pasangan hidup nya, begitu pula dengan Jannah dan Laila yang ikut bergabung duduk di dekat sela
"Sabar Dit, lo harus ikhlas karena cinta gak bisa di paksa in" Ucap Bagas menepuk pundak Adit yang duduk di sebelah nya
"Gue akan bahagia ketika ngeliat dia juga bahagia, itu definisi mencintai" Ucap Adit ikut bahagia dan bertepuk tangan melihat Shinta dengan Reyhan
Ketika Reyhan dan Shinta sudah duduk manis di pelaminan, banyak orang yang memuji mereka karena cocok menjadi pasangan harmonis karena yang laki laki gagah tampan, dan yang perempuan pun cantik, tinggi mereka pun hanya berbeda sedikit saja karena Reyhan mencapai 185 cm, sedangkan tinggi Shinta mencapai 170 cm yang mana dia setara dengan telinga Reyhan
"Kamu cantik banget sih" Ucap Reyhan lirih
"Dari dulu kan aku udah cantik" Ucap Shinta mencoba sombong sedikit dengan suami nya
"Iya cantik, apalagi kalau lagi tidur trus ngiler" Ucap Reyhan terkekeh, bisa bisa nya dia bercanda saat acara penting
*Hoel... kapan aku ngiler? enak aja, gak pernah!* Batin Shinta karena dia memang tidak pernah keluar air liur saat tidur
"Bercanda sayang" Ucap Reyhan kala melihat sorot mata istri nya yang tidak terima jika di katai
Acara bahagia kali ini pun berjalan lancar, apalagi para orang tua yang lega menyaksikan putra putri mereka bersatu dalam ikatan pernikahan
Kali ini berganti dengan memberi selamat yang dilakukan oleh semua tamu undangan, Shinta lebih memilih mengatupkan kedua tangan nya ketika tamu laki laki ingin menjabat tangan nya, bukan karena sok suci tapi sekarang dia ingin menjaga diri dari yang bukan makhrom
Meskipun dia berhijab tapi dulu ia masih mau jika hanya sekedar jabat tangan, namun sekarang dia sudah menemukan makhrom nya dan ingin membatasi interaksi nya dengan laki laki lain, mengingat jabat tangan pun dosa jika bukan makhrom dan itu juga penting untuk menjaga kerukukan rumah tangga karena sekecil apapun masalah nya itu nanti bisa menjadi kerikil di perjalanan bahtera rumah tangga
Begitu pula dengan Reyhan yang dari awal enggan berjabat tangan dengan seorang wanita kecuali saat berkenalan dengan Shinta dulu, ada ada aja memang hati nya
"Selamat ya" Ucap Adit di ikuti rekan kerja nya yang lain
"Terimakasih" Ucap Shinta tersenyum, walau bagaimanapun juga Adit adalah teman nya meskipun tidak terlalu dekat
"Samawa bebeb gue, samawa juga buat calon papa mertua" Ucap Laila tetap dengan kehebohan nya
Reyhan mengerutkan dahi nya ketika mendengar Laila yang menyebut diri nya sebagai calon papa mertua
"Udah biarin aja, jangan di pikirin" Ucap Shinta terkekeh kala melihat ekspres bingung dari Reyhan
"Selamat buat sahabat gue dan pak Rey, semoga samawa dan diberi keturunan sholeh sholiha" Ucap Jannah tersenyum lebar
"Amin... "
"Selamat ya Rey... gue punya kado buat lo nanti malam" Ucap Rendra tersenyum penuh arti
"Selamat ya, langgeng sampai maut memisahkan" Ucap Andrew yang sudah berjanji bahwa ia akan hadir malam ini
__ADS_1
"Thanks juga buat kalian, cepet nyusul dan jangan sampai jadi perjaka tua" Ucap Reyhan menepuk kedua pundak sahabat nya
"Tenang aja, gue gak akan jadi bujang lapuk, paling dia" Ucap Rendra menunjuk Andrew
"Enak aja lo!" Ucap Andrew tidak terima
Kali ini giliran para kolega yang mengucap selamat dan tentu nya ada Bian juga di sana
*Samawa Zef... Zean pasti bahagia ngeliat lo hari ini* Batin Bian saat sedang mengucap selamat pada kedua mempelai
*Semoga cepet nyusul Bi... kak Zean mungkin udah bahagia liat gue hari ini* Batin Shinta mengatupkan kedua tangan nya pada Bian
"Selamat ya..." Ucap Alena yang memang mendampingi Bian dalam acara ini meskipun dia dedikit terkejut karena ternyata Shinta bukan kekasih dari bos nya
"Terimakasih" Jawab Shinta tersenyum
Setelah perjamuan makan dan rentetan acara yang memakan waktu berjam jam ini pun akhirnya selesai juga, semua tamu sudah istirahat di dalam kamar mereka dan sekarang tinggal obrolan ringan dengan sahabat juga keluarga yang masih betah begadang di aula
Tapi tidak dengan Shinta, ia bahkan sudah merasa kaki nya kram dari tadi karena berdiri terlalu lama
"Kamu capek ya sayang?" Tanya mama Riana membuat semua mata tertuju pada Shinta
"I-ya dikit ma" Jawab Shinta merasa tidak enak jika mengaku diri nya yang sudah lelah
"Istirahat duluan aja nanti aku nyusul, atau mau aku anterin?" Tanya Reyhan yang duduk di samping istri nya dengan memberikam kunci kamar mereka
"Jangan, aku ke kamar sama mereka aja" Ucap Shinta menolak dan lebih memilih ke kamar bersama dua sahabat nya
"Beneran?" Tanya Reyhan memastikan
"Iya, yuk duo couple ikut gue" Ajak Shinta pada dua sahabat nya yang mengenakan baju kembar
Jannah dan Laila yang duduk di sebelah Andrew pun mengangguk dan segera berdiri dari duduk nya karena mereka tau kalau Shinta sangat tidak suka dengan make up yang menempel terlalu lama
"Hati hati" Ucap Reyhan kala melihat istri nya yang dibawa pergi oleh duo kembar
"Bucin banget anak papa ini" Ucap mama Riana terkekeh
"Ya Rey kan emang anak papa, jadi nurun dong kayak papa nya" Timpal papa Raka
"Nama nya juga cinta" Timpal bunda terkekeh
Reyhan lebih memilih diam karena jika dua menjawab, maka semakin parah pula godaan yang terlontar dari orang tua nya
"Rey... lo gak nyusul?" Tanya Rendra tanpa mengecilkan suara nya karena mereka berbeda meja dengan para orang tua
"Nanti" Jawab Reyhan enteng meskipun dia berniat mengambil hak nya malam ini
"Awas Rey, jangan terlalu kasar" Goda Andrew
"Kalian aja yang belum nikah pikirannya pada travelling" Ucap Reyhan heran
"Itung itung ilmu buat nanti pas udah nikah" Ucap Rendra
"Umur empat puluh tahun ya?" Timpal Andrew yang mendapat hadiah geplakan tangan dari Rendra di lengan nya
"Enak aja, gak setua itu juga kali" Ucap Rendra tidak terima
Disisi lain, Shinta baru saja selesai menghapus make up di kamar sahabat nya pun merasa lega seketika
"Makasih ya udah minjemin kamar" Ucap Shinta karena Reyhan melarang siapapun untuk masuk ke kamar mereka malam ini kecuali orang tua mereka
"Emang kamar lo ada apanya sih?" Tanya Jannah
"Ada bantal guling nya lah, emang ada apa lagi kalau bukan itu?" Jawab Shinta dengan menggunakan hijab instan dan gaun putih yang masih melekat
"Ya taburan bunga atau handuk yang dibentuk bebek lagi kiss itu" Ucap Laila yang tengah rebahan cantik di atas ranjang
"Woi... hafal bener lo ya" Ucap Jannah heran
"Kan biasanya kamar pengantin kayak gitu, gue juga cuman tebak tebak berhadiah" Ucap Laila membela diri
"Mana gue tau, kan tadi pas gue tinggalin kamar juga masih sama tuh... normal bantal guling selimut aja" Ucap Shinta seraya berdiri dari duduk nya
"Udah ya gue mau mandi, lengket banget badan gue" Pamit Shinta ingin kembali ke kamar nya mengingat baju milik nya ada di sana
"Babay... jangan lupa besok" Ucap Laila melambaikan tangan nya
"Besok ngapain?" Tanya Shinta bingung
"Ya apalagi kalau bukan cerita sama kita" Jawab Jannah mengedipkan satu mata nya
"Ya Alloh, sadarkan lah pikiran mereka yang sedang travelling ini" Ucap Shinta mengadahkan tangan nya, kemudian keluar dari kamar duo kembar dan masuk ke kamar nya sendiri
Ketika Shinta sudah membuka pintu kamar dengan kunci milik nya dan masuk ke kamar, Shinta ternganga dengan pemandangan yang dia lihat
Ternyata benar apa yang dikatakan Laila bahwa kini kamar nya sudah penuh dengan taburan bunga mawar, lilin aroma di samping tempat tidur yang menampilkan kesan romantis
*Au ah, yang penting aku mandi* Batin Shinta tidak ingin ambil pusing dan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk memulai ritual membersihkan diri sebelum tidur
Tiga puluh menit waktu yang dia butuhkan karena harus melepas gaun yang bagian bawah nya lebar ini, tapi setelah mandi Shinta terkejut ketika melihat tidak ada satu pun bathrobe di dalam kamar mandi, hanya ada handuk kecil yang tentu saja tidak bisa menutupi seluruh tubuh nya
Terpaksa, dengan terpaksa dia memakai handuk itu kemudian keluar dari kamar mandi dan menggantung gaun milik nya
Shinta kemudian membuka lemari karena ingin mengambil baju tidur milik nya, namun... dia lebih terkejut lagi ketika melihat lemari itu kosong dan hanya ada satu baju yang menggantung
"Kemana semua baju ku, dan baju apaan ini?" Gumam Shinta dengan wajah merah padam ketika mengambil satu satu nya baju tidur berwarna merah terang, dengan model terbuka dan kain tipis yang lebih mirip saringan santan
"Lingerie" Gumam Shinta meghela nafas karena dia tau jenis baju apa itu, ia melihat ada secarik kertas di lemari dan membaca kertas itu
'sayang... pakai ini ya, jangan malu, ini bisa jadi ladang pahala dan penghapus dosa bagi wanita yang sudah bersuami' - bunda
"Bunda... masa iya Shinta harus pakai ini? kan malu hiks" Gumam Shinta frustrasi, mana mungkin dia tidur memakai handuk yang menutupi dada nya saja tidak bisa
Lelah berpikir dan tidak ada pilihan lain lagi, Shinta segera melepas handuk nya dan memakai baju haram itu kemudian berkaca di depan cermin
"Kenapa juga orang orang pada buat baju ini? di pakai juga sama aja kayak gak pakai baju" Ucap Shinta yang merasa geli sendiri ketika melihat pantulan tubuh nya di cermin, baju laknat itu benar benar memperlihatkan dada juga punggung yang terekspos lebar seperti lapangan bola, jika laki laki yang melihat pasti beranggapan seksi, tapi jika Shinta yang melihat ia malah jadi geli sendiri
*Dahlah capek* Batin Shinta kemudian melangkahkan kaki nya keluar dari ruang ganti menuju ranjang untuk tidur, dan hal itu bertepatan pula dengan Reyhan yang baru saja membuka pintu berniat masuk ke kamar mereka
__ADS_1
"AAAA.... "
Bersambung