
"Oh... kukira gak sabar liat wajah nya Alina" Ucap Shinta yang entah kenapa sekarang mudah sekali cemburu
"Wajah wajah penjahat maksudnya?" Tanya Reyhan
"Terserah, penjahat boleh dan kalau kamu anggap dia wajah cantik pun terserah" Ucap Shinta menekankan kata terserah
"Gak ada, salah paham kita udah clear ya... jangan di bahas lagi sih yang" Ucap Reyhan geleng geleng kepala
"Muak tau gak aku liat muka nya" Ucap Shinta tidak memungkiri bahwa ada kebencian bahkan kekesalan yang mendalam setelah ia melihat foto tak senonoh suami nya bersama orang lain
"Yaudah gak usah ikut, di luar aja nanti" Ucap Reyhan memberikan solusi
Shinta justru membulatkan mata nya "Enak aja, aku juga mau denger dong alasan nya dia" Ucap nya yang tak mungkin membiarkan sang suami berbicara empat mata dengan Alina
Evan tertawa puas dalam hati, akhirnya... sang bos pun merasakan menjadi serba salah jika berhadapan dengan istri nya
*Pak... semoga panjang umur biar saya bisa liat keadaan ini terus hahaha* Batin Evan tertawa
"Iya ikut aja" Ucap Reyhan pasrah, mau menjawab apapun juga ujung ujung nya pasti dia yang salah
"Wajib ikut, biar gak ada garangan lagi" Ucap Shinta menatap tajam jalan raya
Dalam keadaan apapaun Reyhan hanya bisa tersenyum, walaupun istri nya marah dia tidak boleh ikutan marah, yang ada nanti seperti dua bocah yang sedang ngambek ngambekan
"Ngapain kamu Van?" Tanya Reyhan begitu melihat asisten nya yang senyum senyum sendiri
Evan terlonjak kaget, heran kenapa sang bos itu bisa membaca semua ekspresi nya "Eh... gak ada pak, tadi cuman ada kucing lucu" Jawab nya
"Kucing?" Mata Shinta berbinar mendengar nama binatang yang dominan imut dan berbulu halus tersebut
"I- iya buk" Jawab Evan gugup karena khawatir Shinta akan menanyakan keberadaan kucing yang berasal dari kebohongan nya sendiri
"Di mana kucing nya pak?" Tanya Shinta
Duar!!! Benar apa yang di khawatirkan Evan
"Anu... di jalan yang kita lewati tadi buk"Jawab Evan semakin ngawur kemana mana
"Saya gak liat ada kucing sama sekali" Sahut Reyhan
*Dih... bapak mah hobi nya semakin mempersulit keadaan saya* Batin Evan menggerutu kesal
"Putar balik aja yuk pak, saya mau liat kucing nya" Ucap Shinta bersemangat
Evan langsung nyebut dalam hati *Allohumma ini as aluka minal khubu, eh... kok malah do'a masuk kamar mandi sih Van* Batin nya merutuki kelakuan diri sendiri, untung hanya di dalam hati, lah kalau langsung keluar dari mulut nya gimana? Malu yang ada
"Serius mau putar balik yang?" Tanya Reyhan yang di jawab sang istri dengan anggukan kepala dan senyum manis nya, meleleh...
"Tapi buk... kita hampir sampai kantor, putar balik lagi malah jauh" Ucap Evan memberi alasan yang masuk akal
"Yah... kasian kucing nya sendirian di jalan raya pak" Ucap Shinta yang membuat Evan spechless, bukan orang lagi tapi segala kucing pakai di kasihani
"Gak papa buk, tadi ada pemilik nya yang elus elus kok" Ucap Evam dengan santai nya padahal dalam hati dia sedang komat kamit
"Tuh... gak papa yang, kalau kita kesana yang ada kamu nangis karena si kucing udah di bawa sama pemilik nya" Ucap Reyhan hafal sifat istri nya
"Ya.. iya sih" Ucap Shinta mengakui kalau dia memang cengeng sekarang
Huft..
*Akhirnya raga ku selamat dari amukan singa* Batin Evan lega seperti habis buang hajat
๐ธ๐ธ๐ธ
Seperti yang Evan katakan, mereka sampai di gedung pencakar langit yang menjulang tinggi tersebut
Hanya ada satpam yang tetap berjaga dan beberapa tim yang Reyhan gunakan untuk menangkap Alina pun ada di halaman kantor
"Tunggu di sini sebentar yang, biar Evan ke atas dulu" Ucap Reyhan mengajak istri nya duduk di ruang tunggu yang berada di lobby
"Kamu gak mau memimpin perusahaan sendiri?" Tanya Reyhan di sela sela mereka menunggu
__ADS_1
"Gak mau, perusahaan itu bukan hak ku sih mas... gimanapun juga punya orang lain" Ucap Shinta merasa bahwa Zeze grup bukan hak nya melainkan masih tetap milik Zean
Reyhan membuka ponsel nya karena ada notifikasi pesan dari sang asisten
๐ฉ : Pak... semuanya aman, silahkan ke atas
Mereka langsung masuk lift yang biasa Reyhan gunakan, sedangkan Evan tadi sudah ke atas terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan di atas
"Aku ngerti yang, tapi kalau Zean udah kasih amanah buat jaga Zeze grup masa' kamu lari dari amanah itu?" Tanya Reyhan
"Bukan lari mas, aku selalu cek semua laporan dari Bian kok... kalaupun ada perusahaan yang mau menjalin kerja sama juga Bian wajib minta persetujuan sama aku" Jawab Shinta
"Sampai kapan?" Tanya Reyhan
"Aku harap Bian mau selamanya, karena sebagai wanita juga aku sendiri gak mau bekerja terlalu keras, kalau anak ku lahir dan aku memimpin secara langsung, trus bakal sibuk sama kerjaan gimana? Aku gak suka hal itu mas" Jawab Shinta
"Kamu menepati janji ingin jadi wanita biasa dan ibu yang baik dengan mengurangi pekerjaan?" Tanya Reyhan terhura, eh... terharu karena istri nya lebih mementingkan perkembangan bayi mereka nanti dari pada bekerja
"Kalau enggak juga ngapain aku keluar dari rumah sakit? Padahal baru kerja beberapa bulan doang" Ucap Shinta melirik suami nya
Dia keluar dari rumah sakit pun semata mata hanya untuk menetapi janji nya pada sang suami dan fokus menjaga kandungan nya
"Pelukan di lift enak mungkin ya" Ucap Reyhan merapatkan badan mereka, tidak ada yang bisa dia ucapkan tentang pekerjaan sekarang
"Modus. Gini ya mas... bukan nya aku gak mau bantu kamu cari rezeki, aku mau kok bantu asal di bidang yang berbeda" Ucap Shinta
"Kenapa?" Tanya Reyhan
"Kalau kamu memimpin ini dan aku memimpin itu, jelas kalau kita berdua akan sibuk sama urusan pekerjaan masing masing kan?" Ucap Shinta yang di jawab anggukan kepala oleh suami nya
"Apalagi kerjaan kantor jarang bisa di lakukan di rumah, misal kunjungan kantor cabang ataupun proyek di luar kota, maka dari itu aku memilih untuk memulai bisnis yang mana jadi pemilik tapi bisa di kerjakan di rumah sewaktu waktu" Ucap Shinta menjelaskan bahwa meskipun cafe nya ingin membuka cabang, dia tidak harus kesana langsung ataupun jika ada laporan apapun dia juga bisa membahas nya secara virtual dan mengontrol dari rumah
"Itu alasan nya? Biar kalau udah jadi ibu kamu bisa bekerja di rumah seluang waktu tanpa harus meninggalkan rumah?" Tanya Reyhan
"Iya dong, walau hasil keuntungan gak sebesar perusahaan bahkan bisa di katakan jauh... tapi aku bersyukur masih bisa sedekah dengan keuntungan itu" Ucap Shinta
Ting! Lift terbuka menunjukkan lantai di mana ruangan Reyhan berada
Pemandangan yang mereka lihat ada banyak orang berpakaian hitam yang berada di depan pojok ruangan, ruangan itu tempat yang digunakan beberapa divisi untuk meeting
"Pak... orang nya sudah di dalam, saya yakin anda bisa bersikap semesti nya" Ucap Evan berharap sang atasan tidak akan melakukan hal yang melampaui batas
Reyhan hanya mendengar kan saja karena dia sendiri tidak bisa janji untuk menahan emosi jika berhadapan dengan wanita yang sudah hampir merusak rumah tangga nya, serta membuat perusahaan mengalami kerugian
"Mas, aku ikut ya" Ucap Shinta
Reyhan mengangguk, ia menggandeng tangan sang istri lalu mengajak nya masuk saat beberapa orang tim menunduk pada nya seraya mempersilahkan
*Bismillah ya Alloh... tolong jaga lisan hamba mu ini* Batin Shinta agar ia tidak mengatakan sumpah serapah atau apapun
Ceklek!
Di antara meja panjang dan beberapa kursi, wanita itu duduk di sana dengan kondisi tangan terikat dan badan yang terlihat lemas serta mata tertutup dengan kain dengan rambut tak tertata
"ALINA LEE" Suara Reyhan menggelegar di ruangan tersebut walaupun sebenarnya dia muak menyebut nama wanita barusan
"Ka- kau!" Terlihat wanita itu sangat terkejut mendengar suara Reyhan, meskipun mata nya tidak melihat namun dia tahu bagaimana suara Reyhan
"Kenapa? Kau terkejut mendengar suara musuh mu?" Tanya Reyhan dengan senyum jahat nya
"Hai Alina, bagaimana kabarmu setelah membuat kekacauan di rumah tangga kami?" Ucap Shinta merasakan hati nya kembali sesak kala melihat wanita tersebut
"Aku rasa itu balasan yang pas untuk mu"
Prang!!! Reyhan melempat vas bunga yang mengenai dinding dan langsung menjadi serpihan kala Alina menjawab dengan lancang
"Mas, ja-"
"Diam" Potong Reyhan tidak mau jika sang istri menghalangi kemarahan nya
"Kenapa? Kau marah dengan kenyataan itu? Tanyakan pada istri mu tentang apa saja yang ia perbuat sampai dia juga pantas mendapat balasan nya" Ucap Alina tetap berani walau di ambang keselamatan
__ADS_1
Shinta memejamkan mata, bagian ini sangat sulit dia pahami, apa yang dulu dia perbuat? Sampai Alina berbicara seperti itu pada nya
"Kau hanya berani menyerang dari belakang saja kan" Ucap Reyhan meremehkan karena serangan yang alami pun selalu sepihak
"Aku mencontoh istri mu" Ucap Alina
"DIAM!!! aku tidak butuh alasan itu, aku hanya ingij tahu saja siapa orang yang memelihara pengecut sepertimu?" Ucap Reyhan dengan suara lantang
"Cih... memelihara kata mu? Bukan nya istri mu ya yang jadi peliharaan seseorang?" Ucap Alina
"Jawab saja pertanyaan barusan tanpa mengalihkan pembicaraan, itu membuktikan kalau kau benar benar pengecut" Ucap Reyhan menggelengkan kepala nya
"Kau atau aku yang pengecut? Kau tidak berani mengakui perbuatan istri mu kan? Maka artinya kau yang lebih pengecut" Ucap Alina
Reyhan semakin geram dengan wanita tersebut, ia menggandeng tangan istri nya erat erat, dia yakin bahkan sangat yakin kalau Shinta tidak akan melakukan hal seperti itu
"Terserah kau mau mengatakan nya atau tidak, yang pasti adik mu sudah ada di tangan ku, keselamatan nya juga tergantung jawaban mu" Ucap Reyhan
Alina tersentak, dia sama sekali belum tahu kalau sang adik sudah menjadi tahanan mereka
"Kenapa? Kau khawatir? Ternyata kalian sama sama khawatir" Ucap Reyhan
"Hahaha... selain pengecut tapi pandai berbohong juga ya, ck ck ck" Ucap Alina berusaha tidak percaya
Reyhan tidak berbicara, melainkan langsung membuka ponsel nya dan memutar rekaman suara Alena yang di kirimkan istri nya
๐ : "Kakak... tolong aku, hiks nyawaku pasti terancam kak... bebaskan aku dari sini
"APA YANG KAU LAKUKAN?!!!" Teriak Alina begitu mendengar suara adik nya
"Apa yang aku lakukan? Kau memfitnah ku dengan tubuh mu yang jelek itu kan? Kau sengaja masuk ke office tell ku dan membuat foto yang menjijikkan itu layak nya kotoran, kau pikir aku harus diam?" Ucap Reyhan
"Aku bilang istri mu pantas menerima itu!!!" Bentak Alina
"DIAM ATAU KU TEMBAK KEPALA MU!" Ucap Reyhan mengancam seraya mengeluarkan senjata api yang terdapat tansa tersendiri
"Mas, kamu?" Ucap Shinta ingin bertanya karena dia sama sekali tidak tahu kapan suami nya membawa senjata tersebut
"Aku bukan orang yang mudah berbaik hati, jadi jangan pernah bermain main dengan ku"
"Satu hal lagi, aku tidak peduli dengan jawaban mu karena nyawa mu dan adik mu pun juga tidak penting bagi ku" Ucap Reyhan lalu mengajak istri nya keluar
Shinta hanya bisa menurut, dia tidak tahu harus bagaimana karena hati nya masih sangat sangat sakit!!!
"Alina, kau cantik. Saat kau tidak melakukan kejahatan" Ucap Shinta sebelum benar benar keluar dari ruangan
"Cih... kau juga cantik kalau tidak merebut Zean" Gumam Alina dengan senyum getir nya, sekarang dia harus melakukan apa unruk menyelamatkan sang adik?
๐ธ๐ธ๐ธ
"Gimana pak?" Tanya Evan setelah melihat atasan nya keluar
"Pindahkan dia ke markas sekarang, saya tidak mau dia menginjakkan kaki nya lama lama di sini" Ucap Reyhan
"Baik" Jawab serentak beberapa anggota tim
"Bu bos, anda baik baik saja?" Tanya Evan yang langsung mendapat pelototan tajam dari atasan nya
Reyhan merangkul pundak istri nya, lalu mengajak nya berjalan menuju ruang kerja yang selama ini dia gunakan
Ia mendudukkan sang istri di kursi kebesaran nya, memberikan air minum untuk Shinta yang sedang diam dengan tatapan kosong
"Yang, minum dulu ya" Ucap Reyhan memberikan botol air mineral itu
Lagi lagi Shinta hanya menurut tanpa bicara sepatah kata pun, isi kepala nya bertanya tanya tentang kejadian barusan dan tiba tiba... air mata itu runtuh begitu saja
"Sayang... jangan sedih, aku percaya dan tahu kalau kamu gak akan mungkin berbuat jahat, tolong... jangan menangis karena penjahat kayak dia" Ucap Reyhan sambil menepuk pelan pundak istri nya
"Bukan gitu
Bersambung
__ADS_1
haiii, gimana kabar nya? hari ini baru bisa up karena ganti hp dan butuh waktu buat mengembalikan akun menulis nya:)