Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
75.Tuduhan


__ADS_3

"maaf pak, ada keperluan apa bapak memanggil saya?" tanya shinta tetap dengan nada sopan nya dan berdiri di depan meja reyhan


"kamu tau kalau ada obat yang dilarang masuk rumah sakit ini, tapi sekarang obat itu ada disini" ucap reyhan


"maksudnya pak?" tanya shinta mengernyit alisnya


"benar kamu yang membuat laporan ini?" ucap reyhan menunjukkan laporan yang shinta buat beberapa waktu yang lalu


"benar pak" jawab shinta menganggukkan kepala


"di laporan itu tertera obat yang dilarang di rumah sakit ini" ucap reyhan yang membuat shinta mulai faham sekarang


*ini maksudnya aku tersangka dari kasus obat ini?* batin shinta yang membelalakkan mata nya seketika


"kasus ini sudah beberapa waktu lalu di tangani, namun baru mendapat petunjuk tentang siapa yang memasukan daftar obat itu di laporan" ucap reyhan


"dan.. yang membuat laporan itu adalah kamu" sambung reyhan menghela nafas berat


"maaf pak, tapi saya benar benar tidak tau apapun tentang obat itu" ucap shinta


"bagaimana bisa kamu tidak tau tapi laporan itu kamu yang membuat?" ucap salah satu orang yang merupakan dewan pengawas rumah sakit


"kamu tidak tidur waktu membuat laporan itu kan?" timpal orang yang bertugas sebagai satuan pengawasan internal


"apa mata kamu sudah buta waktu membuat laporan itu? jangan bilang kalau kamu tidak tau, itu alasan yang sudah sering digunakan orang orang" ucap orang yang merupakan direktur keuangan rumah sakit


mendengar orang mengatakan hal buruk seperti itu tentu saja sangat menyakitkan bagi shinta yang telinga nya masih normal,namun dia juga tidak bisa diam saja dalam hal ini


"maaf pak, bukankah anda direktur keuangan disini?" tanya shinta


"iya, saya direktur keuangan di rumah sakit ini" jawab orang itu


"jika anda yang memegang uang rumah sakit, harusnya anda juga tau uang itu digunakan untuk apa saja, termasuk membeli obat yang dilarang itu" ucap shinta yang sedang meredam emosi nya


direktur keuangan yang mendengar ucapan shinta langsung gugup seketika


"kamu pandai bicara ya" elak nya sinis mengalihkan pembicaraan


"saya bicara apa adanya pak, ini sesuai logika" ucap shinta


"tapi tidak bisa dipungkiri kalau kamu yang membuat laporan itu kan?" ucap dewan pengawas


"saya mengaku kalau saya yang membuat laporan itu, tapi saya tidak tau apa apa tentang obat itu pak" ucap shinta


"jika kamu tidak tau apa apa, bagaimana bisa kamu membuatnya?" tanya satuan pengawasan internal


"tapi-" ucap shinta belum selesai karena reyhan yang memotong nya


"hentikan! sekarang saya minta kamu bicara sejujurnya" ucap reyhan


"pak, saya sudah bicara sejujurnya" ucap shinta


"saya bilang bicara sesungguhnya" ucap reyhan tegas


"sudah saya bilang kalau saya bicara sejujurnya pak... " ucap shinta bersungguh-sungguh

__ADS_1


"rey.. " tegur rendra yang saat itu masih setia menjadi pendengar


"sangat sulit untuk bicara jujur?" tanya reyhan


"pak-" ucap shinta yang lagi lagi terhenti


"saya hanya meminta kamu bicara jujur, ini kasus yang sangat fatal, dan saya juga kecewa dengan kamu" ucapan reyhan tegas yang membuat shinta menggelengkan kepala nya seketika


hufttt


"saya akan membuktikan kalau saya memang tidak tau apa apa tentang obat itu" ucap shinta bersungguh-sungguh karena tidak ada pilihan lain selain mencari tau sendiri tentang hal ini


"kamu yakin bisa membuktikan nya?" tanya dewan pengawas


"saya akan berusaha" jawab shinta yang memang dia tidak bisa menjamin akan mendapatkan bukti atau tidak


"saya dengar kemarin kamu pergi ke bali, apa ini termasuk rencana kamu untuk kabur dari kasus ini?" sindir dewan pengawas


"jika saya kabur, saya tidak akan pernah kembali kesini lagi pak" ucap shinta yang memang ada benarnya juga jika dipikirkan


"dan bapak tenang saja, saya akan tetap berusaha mencari bukti tentang tuduhan yang ditujukan pada saya" ucap shinta menekan kata kata nya


"apa kamu bisa menjamin kalau kamu tidak akan kabur?" tanya dewan pengawas


"saya jamin saya tidak akan kabur" jawab shinta


"apa jaminan agar kamu tidak bisa kabur?" bukan orang lain yang bertanya, melainkan reyhan


"rey.. " tegur rendra yang merasa kalau reyhan sudah keterlaluan


"jadi bapak meminta jaminan agar saya tidak kabur?" tanya shinta memastikan


"iya" jawab reyhan membenarkan


"rey, udah rey.. " tegur rendra yang tidak dihiraukan sama sekali oleh reyhan


*ternyata ini yang kamu bilang tentang percaya* batin shinta tidak habis pikir


"baik, saya akan memberikan jaminan" ucap shinta membuka tas selempang yang tersampir di pundaknya, kemudian mengeluarkan KTP, SIM, paspor dan visa yang memang belum sempat dia keluarkan dari dompet nya, ia kemudian mendekati meja reyhan, dan


brak!


ia menaruh semuanya di meja reyhan dengan tangan yang menggebrak sedikit


"ini jaminan saya, bapak tenang saja.. saya tidak akan kabur karena untuk sekedar menyetir saja sekarang sudah tidak bisa saya lakukan" ucap shinta menekan kata kata nya sambil menatap reyhan


"maaf" ucap reyhan lirih bahkan hampir tidak terdengar


"tapi terimakasih karena sudah memberi waktu dan kesempatan pada saya untuk mencari bukti tentang kasus ini, kalau begitu saya permisi" ucap shinta kemudian membungkukkan badan, dan segera keluar dari ruangan reyhan dengan meninggalkan beberapa kartu identitas nya


"silahkan kalian semua keluar dari ruangan ini, nanti apabila ada perkembangan, saya akan panggil kalian semua" ucap rendra mewakili reyhan


"baik pak, kalau begitu kami permisi" ucap salah satu orang mewakili mereka bertiga dan segera keluar dari ruangan reyhan


sedangkan shinta kini sedang berjalan di koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa, sampai tidak sengaja menabrak beberapa perawat rumah sakit

__ADS_1


*wah...aku tersangka kasus obat terlarang yang dimaksud sela kemarin* batin shinta dengan kaki yang terus melangkah


sedangkan di ruangan reyhan


"rey lo tuh udah keterlaluan tau gak!" ucap rendra yang ikut kesal karena kejadian tadi


"trus sekarang gue harus gimana?" ucap reyhan sembari mengambil beberapa kartu Identitas yang shinta tinggalkan tadi


"ya lo kejar lah rey" ucap rendra gemas sendiri dengan sahabat nya itu


"kejar kemana?" tanya reyhan yang sedang dalam mode o'on untuk saat ini


"lo kejar keluar lah bego! buruan... cepetan!" ucap rendra kesal sambil memaksa reyhan untuk berdiri


"lo mau dia gak maafin lo untuk selamanya?" tanya rendra yang seketika dijawab gelengan kepala oleh reyhan


"makanya-" ucap rendra belum selesai karena reyhan yang tersadar dan tiba tiba berlari keluar dari ruangannya


"heran gue, punya temen kok otak nya kayak beli di flash sale 12.12" ucap rendra menggelengkan kepala


shinta yang baru saja sampai di parkiran langung di bombardir pertanyaan oleh jannah


"shin, lo gak papa? disana ngapain aja? kok lama? trus kok muka lo kusut gitu?" tanya jannah bertubi-tubi


"jangan ditanya dulu shinta nya" ucap sela yang juga ikut menunggu shinta di parkiran


"sel, kamu ikut kerumah ku dulu ya" ajak shinta yang diangguki sela


"jan, lo yang nyetir" ucap shinta mengingat dia telah memberikan SIM nya sebagai jaminan tadi


"kok gue? kan tadi katanya pas pulang giliran lo yang nyetir" ucap jannah


belum sempat shinta menjawab, ada suara yang tiba tiba menghentikan nya seketika


"tunggu!" ucap reyhan yang ntah kapan sudah berada di area parkiran


"tuh kan.. jan buruan naik" ucap shinta saat menoleh ke belakang dan mendapati reyhan disana


"sel ayo cepetan masuk" ucap shinta menarik tangan sela agar segera masuk ke mobil, sedangkan jannah? dia masih di luar mobil karena bingung dengan situasi saat ini


"jannah, buruan masuk... ntar gue jelasin di rumah" ucap shinta yang sudah duduk di dalam mobil dan melihat jannah hanya diam saja


"ayo jan.. cepetan" ucap sela yang membuat jannah sadar seketika, kemudian masuk dan mengambil posisi kemudi


"tunggu!" teriak reyhan dari belakang mobil mereka


"jan, buruan gass!!!" teriak shinta memberi perintah


"ngebut jan!" sambung shinta yang membuat jannah langsung keluar dari area parkir dengan kecepatan yang cukup tinggi karena area parkiran staff tidak seramai parkiran pengunjung rumah sakit


"akhhh.. maaf" ucap reyhan lirih saat dia terlambat karena mobil itu sudah menjauh dari area rumah sakit


ia kemudian mengacak rambut nya dengan kasar dan nafas yang memburu karena habis lari lari tadi


*rey.. lo udah ngelakuin kesalahan* batin reyhan kesal saat mengingat ucapan nya di ruangan tadi

__ADS_1


bersambung


__ADS_2