
"kak.. tungguin" ucap shinta terkekeh kemudian menggandeng tangan jannah dan mengajak nya masuk ke pasar malam
"imut gak sih mereka kalau pakai bando gitu?" tanya jannah saat keduanya sudah berjalan di belakang reyhan juga rendra
"imut banget malah" jawab shinta menganggukkan kepala
"uwahh.. " bocah kecil yang berada di gendongan reyhan itu berdecak kagum ketika dia melihat isi pasar malam, malam hari, warna warni, ramai, sudah lama sisil tidak bermain di tempat seperti itu
"bagus ya?" tanya reyhan
"bagus banget om" jawab sisil menganggukkan kepala nya
sedangkan rendra? dia sedari tadi masih memajukan bibir nya 5 centi
"kamu kenapa?" tanya jannah
"rey, gantian gue yang gendong sisil" ucap rendra yang bukan nya menjawab pertanyaan jannah, tapi dia justru ingin merebut bocah itu dari reyhan
"gak" jawab reyhan ketus dengan menjauhkan sisil dari jangkauan rendra
"ayolah rey.. " pinta rendra
"gak ya gak" ketus nya lagi sambil berjalan menjauh dari rendra
reyhan berjalan tanpa mempedulikan tatapan orang lain, tapi justru orang lain yang memandang kagum terhadap nya, reyhan yang tampan, pakaian casual, perawakan tinggi, berkulit putih dan memakai bando micky mouse di kepala nya dengan menggendong bocah cantik berusia lima tahun, semua orang di pasar malam mengira bahwa reyhan adalah hot daddy yang baik karena mau menuruti keinginan putri nya
"ck.. " decak rendra kesal
sebenarnya rendra tidak masalah jika sisil ada di gendongan reyhan, namun dia sedari tadi melihat beberapa orang yang memandang nya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, ya kalian bayangkan saja.. rendra tampan yang memakai bando micky mouse, berjalan sendirian di belakang reyhan, kerjaan nya hanya menengok kanan dan kiri, sungguh kasihan sekali dirinya malam ini, hehe..
"ini juga rencana kamu kan?" tanya rendra melirik jannah yang ada di sebelah nya
"eh.. ini ide sisil sendiri ya, aku mah gak ikut ikutan" jawab jannah kemudian menarik tangan shinta dan berjalan mengikuti reyhan
huft..
"sabar ndra.. " gumam rendra mengelus dada nya sendiri, kemudian mengikuti langkah kaki dua gadis itu dari belakang
ingin rasanya rendra melepas bando itu dari kepala nya, namun apalah daya? akan ada bocah cantik yang menangis jika dia melakukan hal itu
__ADS_1
"wah.. ayo naik om!" ajak sisil bersemangat dengan mengepalkan kedua tangan nya saat dia melihat wahana berbentuk lingkaran, penuh dengan kerlap kerlip warna warni lampu, juga gondola yang dapat dinaiki
"bentar ya.." reyhan kemudian menyerahkan kartu pada petugas bianglala agar dia juga sisil dapat menaiki nya
"maaf pak, tidak bisa membayar pakai ini" ucap petugas itu sambil mengembalikan kartu reyhan
shinta juga jannah yang mendengar percakapan reyhan dengan petugas itu pun lantas tertawa terbahak-bahak, menurut shinta reyhan tadi sangat lucu karena ekspresi nya yang terlihat bingung
"ngapain kamu ketawa?" tanya reyhan heran,
begitu juga dengan rendra, dia tidak mengerti kenapa dua gadis itu tertawa terbahak-bahak, bukankah sudah benar jika reyhan memberikan kartunya untuk membayar?
"kak.. di pasar malam mana bisa bayar pakai kartu kredit? yang ada itu harus pakai uang cash" ucap shinta setelah berhenti dari tertawa nya
blsuh..
pipi reyhan merah seketika setelah mendengar penjelasan dari shinta
"tapi gak papa, kamu pasti belum pernah ke tempat seperti ini kan?" tanya shinta yang diangguki reyhan, dia paham karena kehidupan reyhan dengan diri nya memang barbeda, bahkan bisa dikatakan jauh berbeda
rendra mengernyitkan dahi nya ketika mendapati jannah yang sedang melamun
"eh.. gak papa, kamu juga belum pernah kesini?" tanya jannah mengalihkan pembicaraan
"iya, baru pertama kali datang kesini" jawab rendra
"makanya kita ngajak kalian kesini" ucap jannah
shinta kemudian memesan satu tiket pada petugas untuk menaiki bianglala itu
"ini kak" ucap shinta memberika satu tiket
"kok cuman satu?" tanya reyhan heran
"kamu, rendra, sama sisil aja yang naik, aku sama jannah mau nunggu di sini" jawab shinta
"beneran gak mau?" tanya reyhan sekali lagi yang dibalas gelengan kepala oleh shinta
"yaudah, sisil mau kan naik sama om aja?" tanya reyhan pada gadis mungil itu
__ADS_1
"mau" jawab sisil
"oke, ayo ren" ajak reyhan ketika giliran mereka untuk masuk ke gondola bianglala
"tunggu aku di sini, jangan kangen" ucap rendra mengedipkan satu mata nya ke arah jannah
"gak akan kangen, wleee" ucap jannah menjulurkan lidah nya
"awas ya.. " ucap rendra kemudian mengikuti reyhan untuk naik ke gondola itu, bianglala pun mulai berputar secara perlahan
"kita lihat ekspresi mereka gimana nanti" ucap shinta dengan seringai nya
"semoga aja gak sampai pingsan" ucap jannah terkekeh
bianglala itu terus bergerak perlahan, dan saat mereka ingin sampai di titik paling tinggi, sisil yang berada di pangkuan reyhan pun tak henti henti nya berdecak kagum sambil melihat pemandangan malam yang ada di bawah nya
"wahh.. wah.. " decak nya yang kagum dengan semua hal yang dia lihat dari atas sana, ini adalah pengalaman kedua nya naik bianglala, berbeda dengan reyhan juga rendra
"jangan gerak gerak ya sayang" ucap reyhan saat sisil mendekatkan wajah nya ke arah jendela gondola bianglala itu
"enak juga naik gini an" ucap rendra terkekeh kemudian mengeluarkan ponsel nya dan mengambil beberapa foto pemandangan kota bandung yang ada di bawah nya
*indah nya ciptaan mu ya alloh... * batin reyhan yang juga melihat pemandangan malam ini, dia memang disibukkan dengan mengejar ilmu juga kerjaan sampai tidak sempat melakukan hal seperti sekarang
"bagus ya om?" tanya sisil meminta pendapat dari dua om om itu
"bagus" jawab keduanya seraya menatap sisil dengan tersenyum
"lo gak ngeluarin ponsel buat ambil foto gitu rey?" tanya rendra
"ingatan gue udah cukup" jawab reyhan songong
"dih.. ntar pikun tau rasa lo" cibir rendra yang sama sekali tidak dipedulikan oleh reyhan, tapi kemudian...
grek..
bianglala itu berhenti berputar tepat gondola yang mereka tumpangi berada di puncak paling atas sendiri
bersambung
__ADS_1