
"mau ngomongin apa?" tanya shinta saat mereka sudah selesai makan
"aku mau bicara soal trauma kakak" ucap adib sambil menatap kakaknya
"emang kenapa?" tanya shinta
"tapi jawab dengan jujur" ucap adib
"iya, mau nanya apa sih?" tanya shinta
"apa trauma kakak pernah kambuh?" tanya adib
"gak pernah kok" jawab shinta
"beneran?" tanya adib
"iya dek, beneran" ucap shinta
"trus kenapa kemarin kakak bisa pingsan gitu? gak ngabarin aku lagi" ucap adib
"semenjak pulang dari korea, imun kakak menurun, salah satu efek kalau imun kakak menurun ya pingsan dek, kakak gak ngabarin kamu karena takut kamu marah" ucap shinta
"kok bisa imun kakak menurun?" tanya adib lagi
"kemungkinan karena suasana lingkungan yang beda, kakak udah biasa tinggal di sana, jadi pas balik kesini harus adaptasi lagi" ucap shinta menjelaskan
"tapi kenapa kakak kemarin sampek harus pakai masker oksigen?" tanya adib
*eh buset, ternyata dia tau soal itu juga, tau darimana sih? heran gue* batin shinta
"itu karena pas kakak lagi nunggu ambulans datang, kakak udah sesak napas, jadinya ga sadar duluan deh sebelum ambulans nya datang" jawab shinta menjelaskan
"trus kata elin, penyembuhan kakak itu belum selesai, iya?" tanya adib
"iya emang belum selesai" jawab shinta
"kenapa gak di selesaiin dulu? baru pulang kesini" ucap adib heran dengan kakaknya yang satu ini
"kakak terpaksa pulang kesini, kasian bunda kalau kakak di sana terus, lagian kontrak kerja kakak juga udah habis" ucap shinta
"apa kakak gak ada niatan buat nerusin penyembuhan kakak di sana?" tanya adib
"enggak, kamu tenang aja, kakak pasti bisa sembuh, elin juga ngasih beberapa vitamin buat kakak" ucap shinta seraya tersenyum
"aku khawatir kak, apa aku bawa kakak ke luar pulau aja gimana? kan lumayan cari suasana baru" ucap adib
"sembarangan kamu kalau ngomong" ucap shinta sambil menoyor lengan ajudannya itu
"aduh sakit kak" ucap adib mengusap lengannya sambil mengerucutkan bibirnya
"ya kamu sih, kalau ngomong apa apa itu dipikir dulu" ucap shinta
"iya iya, emang kakak udah dapat kerjaan di sini?" tanya adib
"udah kok" jawab shinta
"di mana kak?" tanya adib
"di RS xxx bandung" jawab shinta
"lohh itu kan rumah sakit tempat kakak dirawat tadi" ucap adib
"hhehe iya" jawab shinta terkekeh
"kapan kakak masuk kerja?" tanya adib lagi
"besok" jawab shinta
"hah, kok besok?" tanya adib
__ADS_1
"ya emang besok dek, kakak besok juga mau masuk kerja kok" ucap shinta
"no no no, kakak habis sakit loh" ucap adib melarang
"kamu lebay deh, kakak tuh gak papa, kakak tuh sehat wal afiat, nih coba liat" ucap shinta sambil berdiri dan lompat lompat di atas gazebo
"kak berhenti, nanti jatuh kak" ucap adib yang tak dihiraukan shinta
"izinin kakak kerja dulu, baru kakak mau berhenti" ucap shinta yang masih lompat lompat
"jangan keras kepala kak" ucap adib
"bodo" jawab shinta
"yaudah iya aku izinin" ucap aadib mengalah
"beneran?" tanya shinta yang langsung berhenti dari lompat lompat dan duduk tenang di depan adib
"tapi dengan satu syarat" ucap adib
"apa?" tanya shinta
"di sini kan gak ada tenaga kerja laki laki" ucap adib
"trus?" tanya shinta
"nanti aku bakalan nyari pekerja laki laki buat dirumah ini" ucap adib
"hah?, apa hubungannya sama kerjaan kakak? , buat apaan?, trus orangnya mau dikasih kerja apa?" tanya shinta bertubi-tubi
"ya ada lah kak, biar kakak gak perlu capek capek bersihin kolam, kan tugasnya bibi cuman di dalam rumah, jadi nanti tugas orang itu nyuci mobil, trus bersihin kolam renang , sama motong rumput di halaman kalau rumputnya udah panjang" ucap adib
"tapi siapa orangnya?" tanya shinta
"suaminya bi asti kan bisa" jawab adib
"hmm terserah deh, yang penting aku besok bisa masuk kerja" ucap shinta senang
"baik, ajudan kesayanganku" ucap shinta berdiri dari duduknya sambil menggandeng tangan adiknya
Skip ruang keluarga
saat ini shinta, jannah, juga adib sedang duduk di sofa sambil menonton siaran televisi
"eh jan" panggil shinta
"kenapa shin?" tanya jannah
"udah makan?" tanya shinta
"udah kok tadi" jawab jannah
"ohh yaudah" ucap shinta
"kak" panggil ajudan
"hmm?" jawab shinta
"besok kerja kalian mau naik apa?" tanya ajudan
"mobil , kan mobilnya udah datang" jawab shinta
"emang udah ada bensinnya?" tanya ajudan
"gak tau aku, ada gak jan?" tanya shinta pada jannah
"ada kok, tadi udah di isi jadi besok udah bisa dipake" ucap jannah
"oh yaudah" ucap shinta
__ADS_1
"yaudah, kak aku balik ke kamar dahulu ya, ngantuk soalnya" ucap ajudan dan berjalan menuju kamar tamu
"hmm" jawab shinta
setelah ajudan pergi
"shin" panggil jannah
"kenapa?" tanya shinta
"lo dimarahin gak tadi?" tanya jannah
"enggak jan, tenang aja, eh iya kok ajudan bisa tau kalau penyembuhan gue belum selesai?" ucap shinta
"ya kan ajudan lo punya nomor nya elin" jawab jannah
"ohh gitu ya" ucap shinta
"iya, emm apa lo gak ada niatan buat buka hati gitu?" tanya jannah hati hati
"ya ada lah" ucap shinta
"hah? beneran? kapan?" tanya jannah antusias
"kapan kapan" ucap shinta enteng
"ahh shinta emang bikin kesel deh" ucap jannah
"hhaha, kapal lo aja belum berlayar gitu gimana gue mau buka hati" ucap shinta
"apaan sih malah ngebahas gue" ucap jannah dengan muka yang mulai bersemu merah
"cie mukanya udah mulai merah" goda shinta
"apa sih, ini merah karena gue pakai blush on tadi" sangkal jannah
"halah alasan" ucap shinta
"terserah lo deh" ucap jannah ngambek
"cie ngambek" goda shinta
"bodo" ucap jannah cuek
"hahaha" tawa shinta
"emang shinta tuh sama kayak rey, sama sama ngeselin" ucap jannah kesal
"biarin, whekk" ucap shinta sambil menjulurkan lidahnya
"shintaaa" teriak jannah kesal
"udah jangan marah marah, ponsel lo bunyi tuh" ucap shinta sambil menunjuk ponsel jannah dengan dagunya
jannah pun mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon
"waalaikumsalam, ada apa ndra?" ucap jannah dengan seseorang di telepon, ya sudah dapat di pastikan kalau yang nelfon jannah itu rendra
"panjang umur, baru juga di omongin, ehh udah nelfon" ucap shinta terkekeh
BERSAMBUNG
__________________________________
AYO LIKE, KOMEN, VOTE DONG!🙈
KAKAK KAKAK SEMUANYA💭💞
(biar aku gak nangis😭😂)
__ADS_1
TERIMA KASIH🙏✨