Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
125.Otw halal


__ADS_3

"Lu mau ngapain sih dit?" Tanya Bagas tak kalah terkejut melihat Adit yang berlutut di depan Shinta


"Kamu mau ngapain?" Tanya Shinta lagi karena dia juga terkejut apalagi Reyhan yang masih diam menyaksikan dan berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang tak enak tentu nya


"Aku suka sama kamu, dari awal kamu datang disini" Ucap Adit yang akhirnya membuka suara juga dan membuat Shinta melebarkan mata nya seketika, begitupun rekan kerja mereka yang terkejut


Apalagi Reyhan, dia ingin sekali menyumpal mulut yang terang terangan bilang menyukai calon istri nya


"Maaf tapi aku gak ada perasaan apa apa sama kamu" Ucap Shinta pelan karena takut menyinggung, ia kemudian mengambil tas selempang nya berniat untuk keluar ruangan


"Aku tau kalau kamu gak ada perasaan apa apa sama aku, tapi apa gak ada satu kesempatan buat aku?" Tanya Adit tetap dengan posisi yang sama


"Alloh yang menghadirkan perasaan untuk hamba nya, dan kamu tau kalau cinta gak akan bisa di paksa kan bukan?" Ucap Shinta yang baru kali ini berbicara panjang lebar tentang di luar pekerjaan dengan rekan nya


"Aku minta maaf, karena aku hanya menganggap kita sebagai teman saja, tidak lebih" Sambung Shinta mungkin jawaban yang benar benar menusuk bagi Adit


"Aku tau, aku hanya ingin mengungkap perasaan ku saja sebelum kamu benar benar menikah dengan orang lain" Ucap Adit kemudian berdiri dan kembali menyerahkan buket bunga itu


"Terima ini, anggap saja hadiah pertemanan" Ucap Adit dengan menyodorkan buket itu


Shinta bingung, di terima pasti Reyhan akan marah, tapi kalau tidak terima dia juga tidak enak hati dengan Adit yang memberikan bunga itu sebagai hadiah pertemanan saja


"Oke, aku terima" Ucap Shinta mengambil buket bunga itu tanpa bersentuhan tangan dengan Adit, dan... sudah pasti tindakan yang Shinta lakukan membuat macan nya semakin melotot seperti bola yang akan jatuh


*Kak Rey gak pernah nunjukin kalau dia cemburu kan?* Batin Shinta yang sebenarnya menerima buket itu bukan hanya sekedar untuk menghargai Adit saja, tapi juga ingin mengerjai Reyhan, sekali sekali jahil dikit gak papa kan?


"Semoga kamu bertemu dengan perempuan yang baik" Hanya itu yang Shinta ucapkan dan dibalas senyuman oleh Adit


Reyhan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu masih enggan pergi, dia hanya ingin pergi kalau Shinta sudah selesai dengan urusan nya


Dan Shinta juga tau hal itu, ia kemudian meneruskan langkah nya keluar dari ruang farmasi dan berjalan beriringan dengan Reyhan menuju kantin rumah sakit


Sesampai nya disana, ternyata ada Evan yang memang datang bersama Reyhan tadi, dan dia memang di perintahkan untuk menunggu di kantin saja


Reyhan duduk di samping Evan, dan Shinta duduk di depan nya dengan membawa buket bunga mawar itu


"Kamu kenapa sih?" Tanya Shinta pura pura tidak tau padahal dia sudah ingin tertawa karena melihat macan nya yang sedang badmood


"Gak papa" Jawab Reyhan singkat dengan mengalihkan pandangan nya ke arah lain


"Wah... calon bu bos bawa buket bunga, darimana bu bos? perasaan tadi pak bos gak bawa buket bunga" Ucap Evan yang justru semakin menambah kekesalan Reyhan


Reyhan kemudian menodongkan tangan nya di depan Shinta seakan meminta sesuatu


"Mau apa? tanganku? gak boleh ya... kita belum halal" Ucap Shinta


"Siapa yang minta tangan kamu?" Tanya Reyhan balik, Reyhan tau kalau dia memang beberapa kali pernah memegang tangan gadis yang saat ini menjadi calon istri nya, namun hal itu semua ia lakukan saat Shinta dalam keadaan oleng, atau tidak sadar dengan Reyhan yang menggenggam tangan nya, dan sekarang ia tidak mau mengulangi hal itu lagi, nanti kalau sudah sah saja dia bebas mau ngapa ngapain


"Ya trus mau apa?" Tanya Shinta lagi


Tanpa aba aba, Reyhan langsung merebut buket bunga itu dan...


Bugh... Buket bunga pun mendarat di perut Evan dengan sedikit pukulan kecil


"Aw...." Ringis Evan yang berpura pura saja karena pukulan kecil Reyhan sama sekali tidak sakit bagi nya


"Bos cinta sama saya kah? sampai ngasih bunga mawar segala" Ucap Evan


"Tapi maaf bos, saya masih normal dan bukan homophobia, eh... homo maksud nya" Sambung Evan dengan tingkat ke pd an nya


*Bos sama asisten sama aja, sama sama pd nya* Batin Shinta menggelengkan kepala


"Pd sekali kamu ya" Ucap Reyhan yang selalu memberikan tatapan es gunung


"Kan bos juga pd, sebagai asisten yang baik hati... saya juga menuruni sifat bos yang galak, suka memberikan tatapan tajam seperti pisau ibu ibu, dan dingin kayak es batu, mungkin es campur pun menolak kehadiran anda bos" Ucap Evan nyeleneh


"Gaji bulan ini juga menolak mendatangimu" Ucap Reyhan yang lagi lagi membuat Evan kalah telak dan panik sendiri karena ancaman gaji


"Udah udah" Lerai Shinta merasa kedua nya malah ribut debat sendiri


"Kamu kenapa kak? cemburu?" Tanya Shinta berusaha meluluhkan macan yang ada di hadapan nya


"Gak" Jawab Reyhan dalam artian kamus laki laki adalah 'iya, aku cemburu' , masa cewek doang yang boleh punya kamus bahasa? laki laki juga bisa dong


"Yaudah kalau gak cemburu aku balik ke ruangan ya..." Ucap Shinta ingin beranjak dari duduk nya


"Ck, jangan dong" Cegah Reyhan dengan decakan kesal nya dan Shinta pun kembali duduk manis


"jangan marah, aku beneran gak ada perasaan apapun sama dia, dan kalau aku menerima lamaran kamu itu berarti aku memang sudah yakin dengan pilihan hatiku sendiri" Ucap Shinta lembut dan itu berhasil membuat emosi Reyhan yang sedang cemburu pun mereda

__ADS_1


"Trus ngapain mau balik? kan jam kerja udah selesai" Tanya Reyhan


"Jannah ketinggalan, tadi aku gak sengaja ninggalin dia di ruangan" Jawab Shinta


"Aku gak marah sama kamu, tadi cuman kesel aja sama dia, udah tau kalau kamu calon istri orang, ngapain pakai ungkapin perasaan segala?" Tanya Reyhan yang mana tentu saja dia percaya jika Shinta tidak akan ada perasaan dengan laki laki lain mengingat perempuan blasteran serigala itu selalu menghindari orang lain


"Karena kadang seseorang merasa perasaan nya akan lebih baik jika sudah mengungkapkan apa yang dia pendam selama ini" Ucap Shinta karena dia juga seperti itu


"Nah... bener kata bu bos, makanya saya juga selalu ngungkapin perasan saya ketika kerja sama pak bos" Sahut Evan


"Emang gimana perasaan kamu waktu kerja sama kak Rey?" Tanya Shinta penasaran


"Batin tertekan, tapi raga... alhamdulillah senang" Jawab Evan sumringah, meskipun Reyhan galak namun itu bukan menjadi pantangan untuk nya agar tidak bekerja dengan Reyhan, gaji juga besar, untuk apa mengeluh? masih ada orang yang lebih kesusahan dari pada dia sekarang


"Ya asal pekerjaan nya bukan menyambung ekor beruang masih aman lah saya... " Sambung Evan terkekeh


"Saya bisa buang kamu ke kutub utara" Ucap Reyhan


"Ngapain jauh jauh ke kutub utara sih bos? kan kutub nya udah ada disini" Ucap Evan menyindir atasan nya


"Diam atau gaji mu benar benar melayang!" Ancam Reyhan yang berhasil membuat Evan bungkam, tangan nya justru bermain dengan buket bunga dan memotret nya beberapa kali


"Oh iya, daftar nama nya udah aku kirim lewat email" Ucap Shinta setelah mengotak atik ponsel nya


"Kenapa gak di kertas?" Tanya Reyhan


"Takut hilang" Jawab Shinta yang memang benar ada nya


"Dia juga di undang kan?" Tanya Reyhan


"Iya, semua rekan aku udah kok" Jawab Shinta yang paham jika dia yang di maksud Reyhan itu Adit


Jannah yang baru keluar dari ruangan pun segera menyusul Shinta ke kantin rumah sakit


"Shin, udah selesai kan?" Tanya Jannah dengan memghampiri aahabat nya


"Udah" Jawab Shinta


"Yaudah pulang yuk!" Ajak Jannah yang diangguki Shinta


"Aku pulang ya, sampai ketemu minggu depan dan semoga semua dilancarkan" Pamit Shinta berdiri dari duduk nya


"Kok minggu depan?" Tanya Reyhan bingung


"Gak papa, setidaknya masih bisa komunikasi lewat handphone kan?" Ucap Reyhan tidak mempersalahkan


"Big no! handphone Shinta nanti di pegang sama ajudan nya selama satu minggu" Ucap Jannah yang mengejutkan bagi Reyhan, bahkan ia hampir tidak terima


"Kok gitu?" Tanya Reyhan


"Antisipasi kak, kata orang tua biar aman" Ucap Shinta menjelaskan dan Reyhan pun mau tidak mau harus menyetujui satu minggu tanpa ber komunikasi dengan Shinta


"Duluan ya.. oh iya pak Evan, jangan sampai bunga nya lecet" Ucap Shinta sengaja menggoda Reyhan


"Hancurin aja bunga nya sekalian" Sahut Reyhan cepat yang membuat Shinta tergelak


"Assalamualaikum..." Pamit Shinta juga Jannah


"Waalaikumsalam..."


"Bos... bos, bucin banget ye" Cibir Evan pelan namun masih terdengar jelas di telinga Reyhan


"Jomblo memang gak tau rasa nya" Cibir Reyhan balik


"Gimana mau cari pacar? tugas yang bos kasih aja bertumpuk tumpuk" Kesal Evan


"Kurangi kerjaan, kurangi gaji" Ucap Reyhan yang lagi lagi membuat Evan harus kalah telak dan mengalah


🌸🌸🌸


Lima hari sudah terlewati, dan itu Reyhan gunakan untuk kerja dan kerja agar bisa menutupi kekesalan nya akibat tidak bisa bertemu ataupun sekedar bertukar kabar dengan Shinta


Beberapa kali juga dia menghubungi, namun yang membalas juga tetap selalu ajudan


"Bos, makan siang" Ucap Evan masuk ruangan Reyhan dengan membawa kotak makan


"Gak lapar" Jawab Reyhan dengan pandangan masih lurus pada berkas berkas dan duduk di kursi kebesaran nya


"Emang bos mau nanti kalau akad tiba tiba pingsan karena kekurangan nutrisi?" Ucap Evan yang tentu saja membuat Reyhan berpikir

__ADS_1


"Buruan makan lah bos, gemes pengen tak batalin itu nikah nya" Ucap Evan kesal


"Punya koneksi apa kamu bisa ngebatalin?" Tanya Reyhan dengan mulai mengambil makanan nya


"Ya gak ada sih bos, lagian bos juga aneh... mau nikah kok ya gak ambil cuti dari sekarang" Ucap Evan heran


"Besok saya cuti, dan pasti nya semua urusan saya akan dilimpahkan sama kamu" Ucap Reyhan yang lagi lagi Evan harus menaggung semua urusan perusahaan


"Asal gaji naik mah hayuk..." Ucap Evan tidak masalah


Jika Reyhan masih sibuk dengan pekerjaan nya, berbeda hal dengan Shinta yang sudah mulai mengambil cuti hari ini dan bersiap untuk penerbangan ke kota J nanti sore


"Gak nyangka sahabat gue yang cewek ntah tulen atau gak ini mau nikah" Ucap Laila yang saat ini ada di rumah Shinta


"Gue juga cewek tulen la" Ucap Shinta


"Kalian bukan cewek tulen, kalian berdua gak suka warna pink... suka nya beladiri, suka film action, dari mana bisa disebut cewek tulen?" Tanya Jannah heran dengan menyebutkan karakter sahabat nya


"Cewek tulen mungkin kalah, tapi kalau perawan tulen mah bisa lah di adu" Ucap Laila menaik turunkan alis nya dan mendapat persetujuan dari Shinta


"Tulan tulen apaan sih?" Tanya ajudan yang baru masuk rumah dan mendengar pembicaraan para gadis gadis


"Kepo" Jawab ketiga gadis itu kompak


"Udah selesai non?" Tanya bi Asti saat melihat koper koper yang berjejer rapi di ruang keluarga


"Alhamdulillah udah bi" Jawab Shinta


Sore hari, mereka berlima langsung berangkat ke bandara dan memulai perjalanan menuju kota J, tentu nya dengan bi Asti dan pak Didi juga anak perempuan mereka yang ikut ke kota J


"Kak aku rasanya pengen ngebanting handphone mu deh" Ucap ajudan yang saat ini tengah duduk anteng di dalam pesawat


"Kenapa mau di banting?" Tanya Shinta mengerutkan alis nya


"Dari kemarin kemarin selalu bunyi terus panggilan dari kak Rey" Kesal ajudan


"Yaudah matiin aja beres" Ucap Shinta enteng dengan menahan tawa nya karena dia sudah tau betul kelakuan Reyhan


Saat sampai di bandara juanda Surabaya, mereka semua langsung melanjutkan perjalanan ke kota J karena mengingat bunda nya yang mengirim pesan agar nanti langsung pulang saja dan istirahat di rumah


Mereka sampai di kota J setelah memakan waktu perjalanan yang lumayan menguras waktu, dan disinilah Shinta berada... tempat dimana ia dulu harus tinggal bersama orang tua nya


"assalamualaikum..." Ucap Shinta memgetuk pintu, walaupun itu rumah nya namun dia juga harus mempunyai tata krama


"Waalaikumsalam... alhamdulillah anak bunda udah dateng" Jawab bunda ketika membuka pintu lebar lebar


Bunda langsung mempersilahkan semua nya untuk masuk dan makan malam, setelah itu barulah istirahat mengingat mereka yang baru sampai dari perjalanan


Hanya tinggal Shinta, Adib, juga kedua sahabat nya di ruang tengah, sedangkan bi Asti dan pak Didi beserta anak nya sedang beristirahat di kamar tamu


"Tadi udah sholat kan?" Tanya bunda karena sekarang pun sudah melewati waktu sholat isya'


"Udah tante, tadi mampir ke masjid" Jawab Laila


"Ayah lagi keluar, kamu istirahat aja" Ucap bunda kala melihat Shinta yang celingukan


Namun tiba tiba saja ada orang yang datang mengucap salam dan mengetuk pintu


"Kalian istirahat aja ya, ini orang yang mau dekor ruang tamu udah dateng" Ucap bunda yang dituruti anak anak nya beserta sahabat mereka


Ajudan pergi ke kamar Wildan yang tengah fokus dengan macbook yang dibelikan kakak nya kemarin, sedangkan Shinta langsung masuk ke kamar nya diikuti dengan duo perusuh


"Gue mau ganti baju duluan" Ucap Shinta dengan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar nya


Setelah tiga gadis itu siap dengan baju piyama masing masing, mereka bertiga berbaring di kasur seperti ikan pindang yang siap di pilah pilih


Kamar Shinta memang lebih kecil daripada kamar nya yang ada di rumah nya sendiri, namun itu juga cukup untuk tidur mereka bertiga


"Kalian kenapa gak mau tidur di hotel aja sih?" Tanya Shinta merasa kasihan karena sahabat nya harus berdempetan dengan nya


"Dih... ogah, ada yang gratis kenapa harus tidur di hotel?" Ucap Laila


"Tau, gini kan enak... bentar lagi juga kita gak bisa kayak gini terus" Ucap Jannah


"Sayang... jangan tidur malem malem ya, jaga kesehatan kamu" Ucap bunda yang berdiri di balik pintu kamar


"Iya bunda" Jawab Shinta seraya memejamkan mata nya, namun aneh nya sekeras apapun dia berusaja juga tetap tidak bisa tidur malam ini


"Ni calon pengantin otw halal jadi gak bisa tidur" Goda Laila dengan mengedip ngedipkan mata nya

__ADS_1


Bersambung


Panjang banget bab ini, maaf ya


__ADS_2