
Shinta berjalan dengan menggandeng lengan suami nya, suka saja seperti itu dan menurut nya terlihat sangat mesra
Tapi hampir sampai di depan pintu utama, langkah wanita hamil itu terhenti lantaran terkejut ketika ada bunda, ayah dan ke empat saudara laki laki nya yang berdiri di depan pintu
"Mas... ini, aku gak ngayal kan? Apa cuman mata ku aja ya yang eror?" Ucap Shinta mengucek mata nya berkali kali untuk memastikan dia tidak salah lihat
"Selamat enam bulan pernikahan, kamu gak halu sayang... mereka ada di depan kamu" Jawab Reyhan tersenyum sambil mengelus punggung sang istri yang baru bertemu keluarga nya setelah beberapa bulan
Shinta terkesiap, orang pertama yang dia tatap jelas ibunda nya, wanita paruh baya yang sudah melahirkan nya dan belakangan ini hanya berkomunikasi lewat telfon akibat dia yang tidak bisa pulang ke kota J
"Tante... hai" Ucap Sisil melambaikan tangan nya, bocah itu sudah semakin imut saja
Tanpa banyak bicara, ia langsung menghampiri wanita paruh baya tersebut, bunda nya... orang yang cukup menyayangi nya
"Udah gede ya anak bunda" Ucap nya mengelus kepala Shinta yang berbalut hijab serta menghapus air mata mengalir tersebut
Yang di beri kejutan sampai tidak bisa berkata kata, ia hanya memeluk bunda, orang tua nya yang sudah merawat nya sedari lahir sampai menjadi dewasa
Di saat semua orang terharu, namun berbeda dengan Sisil yang justru melengos sambil memajukan bibir nya ketika Shinta tidak membalas sapaan dari nya tadi
Reyhan menggelengkan kepala, gemas sekali dengan keponakan perempuan nya tersebut, ia berjongkok lalu merentangkan kedua tangan "Hai sayang, sini peluk om!"
"Om ganteng...." Teriak Sisil kembali tersenyum ceria ketika Reyhan menyapa nya, tante tidak membalas pun masih ada om ganteng nan crazy rich bersama nya
"Wah... udah besar ya Sisil" Ucap Reyhan membalas pelukan bocah perempuan tersebut
"Besar dong om, kan Sisil makan nya banyak" Ucap Sisil tetap dengan logat yang lucu walaupun umur nya sudah bertambah
"Sama, tante kamu sekarang makan nya juga banyak loh Sil" Ucap Reyhan yang langsung mendapat lirikan maut dari istri nya
Shinta masih saling tatap muka dengan bunda nya, ia bisa melihat kalau ada rasa menyesal dari raut wanita tersebut, tapi tidak ada kata maaf karena Shinta juya yakin kalau sang bunda sudah menyesali kejadian lampau lalu
"Nduk... maaf ya" Ucap ayah Ari tertuju pada anak perempuan satu satu nya yang sekarang sedang mengandung, ia mendekat lalu menepuk pundak itu namun tidak berani memeluk karena tau apa yang akan terjadi jika dia melakukan itu
Sadar akan kesalahan lalu yang menurut nya memang cukup fatal, kesalahan yang dia perbuat berdampak pada putri semata wayang nya
Dalam hati sering ribut dengan kepala nya sendiri, ayah seperti apa dia? Ayab seperti apa yang gagal menjadi cinta pertama dan pelindung untuk putri mya
"Ga papa ayah, Shinta juga minta maaf... udah ikhas kok" Ucap Shinta tersenyum, dia benar benar ikhlas ketika harus menjalani beberapa cobaan walau membuat nya mengalami depresi
Karena dia yakin kalau semua yang terjadi, semua yang Allah SWT takdirkan ketika baik maupun buruk itu selalu terselip makna cobaan yang sesungguh nya, sebagai pembelajaran manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.
Berganti dengan Harun yang juga menghampiri nya, sudah mengalami hubungan renggang dengan waktu yang cukup lama, walaupun belum sadar sepenuh nya namun jika di pikirkan memang berdamai adalah cara terbaik
"Maaf ya... maafin kakak" Ucap Harun membawa Shinta ke dalam pelukan nya, ada rasa menyesal ketika dia termakan emosi dan menyalahkan adik nya atas kejadian tiga bulan lalu tanpa memikirkan kondisi yang sedang terjadi
"Gak papa kak, aku juga minta maaf" Ucap Shinta menepuk pundak kakak nya ketika Harun menangis di depan semua orang
Harun melepas pelukan tersebut karena sadar masih ada saudara nya yang lain yang belum kebagian pelukan
"Kakak....." Ucap Ajudan lebay sambil berlari namun tidak ada tanggapan dari Shinta yang justru menghampiri Egi
"Abang" Ucap Shinta menyalami tangan laki laki yang lebih tua lima tahun dari nya
"Sehat sehat terus... jangan kebanyakan makan pedes" Ucap Egi mengelus kepala sang adik yang akan menjadi seorang ibu
Shinta hanya tersenyum saja, untuk sekarang dia masih belum bisa mengucapkan banyak kata kata karena rasa terkejut yang masih ada
"Gini nih... di cuekin, nasib ku banget" Ucap Adib alias ajudan mengelus dada nya sendiri
"Lahh lo kan tiap hari ketemu" Ucap Harun menyenggol lengan adik nya yang membuat ajudan manyun
Karena saudara nya banyak, Shinta juga tidak melupakan Wildan si bungsu yang sedari tadi masih menatap nya
"Apa?" Tanya Shinta menggoda anak ragil tersebut
Mata Wildan berkaca kaca, dia tahu kesalah pahaman yang di sebabkan Harun tiga bulan lalu membuat kakak dan keluarga nya menjadi jarang berkomunikasi, walaupun Shinta sempat menghubungi berkali kali tapi Harun masih termakan emosi saat itu
"Hua... mbak" Ucap Wildan menyalami tangan perempuan yang lebih tua dari nya
"Sehat sehat, kamu lagi liburan apa gimana?" Tanya Shinta mengingat adik bungsu nya yang masih menjalani pendidikan
"Ish... tanya keadaan ku gitu kek, malah nanya yang gak penting" Gerutu Wildan yang mendapat usapan kepala dari kakak nya
Lanjut Shinta menyalami dan memeluk satu per satu kakak ipar nya Seli dan Lexa yang sudah menjadi istri dari kakak laki laki nya
"Ehem... kayak nya semua udah dapet pelukan" Ucap Adib merasa dia sendiri yang belum mendapat pelukan dari sang kakak
"Enak aja, Sil juga belom om!" Sahut Sisil tidak terima karena dia juga belum mendapat pelukan dari tante kesayangan nya
Shinta terkekeh geli, dia lupa kalau ada gadis kecil yang sedang menginginkan pelukan nya "Mau peluk?" Ucap nya sambil merentangkan tangan
Sebelum Adib berjalan ke arah Shinta, Sisil lebih dulu melepas pelukan Reyhan dan ganti berada di pelukan tante cantik nya
"Kangen banget sama tante" Ucap bocah tersebut memeluk dengan tangan nya yang tidak terlalu panjang
"Tante juga kangen banget sama kamu" Ucap Shinta berjongkok untuk menyetarakan tinggi nya, namun lama lama di posisi seperti itu sakit juga pinggang nya
"Sil, udah gantian sama om Sil... kasihan nanti dedek nya kegencet badan kamu sayang" Ucap Adib pada gadis kecil tersebut
Sisil memajukan bibir nya, belum juga puas pelukan eh... ada aja pengganggu di sekitar nya
"Nanti peluk lagi, sekarang sama om dulu ya" Ucap Reyhan membawa Sisil ke dalam gendongan nya, bocah itu menyukai Reyhan apalagi dari paras yang menurut bocah saja ganteng
Reyhan menyalami keluarga istri nya sambil mengajak mereka untuk langsung ke dalam saja, tidak baik lama lama berdiri di luar
"Kak" Panggil Adib yang belum berbicara sama sekali
"Apa?" Ucap Shinta menoleh
"Ku do'a in supaya anak mu nanti plek ketiplek mirip kak Rey" Ucap Adib tergelak sambil berlari karena kakak nya yang melotot akan melempar bantal sofa
Untung saja Shinta sedang hamil, jika tidak pasti wanita tersebut akan mengejar sang adik sampai ke ujung kota pun dia cari
__ADS_1
"Sampai kesini jam berapa?" Tanya Shinta pada Harun, sedangkan orang tua nya tadi sedang berisirahat di kamar tamu
Perjalanan dari jawa timur ke jawa barat memang cukup dekat, tapi berbeda dengan apa yang di rasakan para orang tua, Wildan? Dia juga istirahat karena baru pulang cuti langsung memulai perjalanan
"Baru sih... waktu kamu periksa kandungan kita udah sampek di sini" Jawab Harun
"Usia berapa dek?" Tanya Lexa tertuju pada perut adik ipar nya
"Masuk empat bulan kak" Jawab Shinta enggan bertanya balik karena takut menyakiti hati kakak ipar nya
"Alhamdulillah... kakak aja masih nunggu dek" Ucap Lexa sendu ketika dia belum di karunia i buah hati sampai sekarang ketika jarak pernikahan nya dengan Harun pun hanya berbeda satu tahun
"Bissmillah dek, Allah pasti kasih di waktu yang tepat" Ucap Seli menyemangati
"Iya kak, insyaalloh secepat nya kak Lexa nyusul jadi ibu" Ucap Shinta yang awal nya tidak ingin membahas namun justru Lexa sendiri yang membicarakan nya
"Tenang, aku orang nya setia kok" Ucap Egi merangkul istri nya, mereka memang belum di karunia i seorang anak tapi rasa cinta itu tetap utuh tidak berkurang sedikit pun
"Awas aja lo kalau sampai lo macam macam!" Ancam Harun tidak ingin adik nya ikut bejat dan melakukan kesalahan lalu
"Tenang bro, aku setia orang nya" Jawab Egi santuyyy
"Kalian gak mau istirahat dulu kak, bang?" Ucap Reyhan menawari karena sudah cukup lama mereka ngobrol dan minum di ruang keluarga
"Ya mau sih, capek" Jawab Egi merenggangkan leher nya
"Istirahat aja bang, kamar nya di lantai tiga" Ucap Reyhan menunjuk lift yang ada di rumah nya dan bersebelahan dengan tangga, hanya untuk berjaga jaga karena tidak mungkin istri nya terus naik turun tangga di usia kehamilan yang semakin bertambah
"Oke, makasih ya" Ucap Egi mengajak istri nya Lexa dan di ikuti oleh Seli yang menggendong Sisil karena seperti nya akan ada kata kata yang di sampaikan sang adik ipar pada suami nya
"Kamu juga gak mau istirahat yang?" Tanya Reyhan pada sang istri
"Mau lah... laper lagi perut ku, tapi aku inget kalau ada keripik kentang di kamar" Jawab Shinta melebar kemana mana
"Yaudah kamu ke kamar duluan, bentar lagi aku nyusul kok" Ucap Reyhan
Shinta mengangguk lalu berdiri dan menuju tangga, lagian kamar mereka kan di lantai dua yang jarak nya tidak jauh jauh amat dari ruang keluarga
"Kak Rey, aku nyusul ke atas ya" Pamit Adib yang mendapat persetujuan dari Reyhan, adik ipar nya tersebut memang sangat tahu sikon yang terjadi
Saat hanya tinggal mereka berdua saja, Reyhan menatap Harun sang kakak ipar yang jelas jauh lebih tua dari nya
"Kamu mau ngomong sesuatu ya?" Tebak Harun mengerti
"Kak maaf, bukan untuk mengungkit masalah kemarin tapi dampak dari perlakuan kakak juga di alami istri ku, adik kakak sendiri"
"Aku tau"
"Aku juga tau kalau kak Harun pasti marah besar sama Shinta, tapi untuk kedepan nya... aku harap kakak juga bisa mengerti kondisi dan jangan mengedepankan ego dan emosi yang membuat semuanya terluka" Ucap Reyhan
"Aku gak bermaksud untuk menggurui kak, maaf... ini cuma alangkah baik nya kalau memang merasa ada masalah, bicara kan dengan kepala dingin gak ada kesalah pahaman, biar gak ada yang tersaikiti lagi" Ucap Reyhan menepuk pundak kakak ipar nya
"Aku tau, maaf" Ucap Harun tidak membantah sedikitpun karena memang benar apa yang di ucapkan barusan
Merasa semuanya sudah selesai, Reyhan meminta tolong pada bibi untuk membereskan minuman serta camilan tadi lalu segera ke atas menyusul istri tercinta
Ceklek
"Sayang..." Ucap Reyhan membuka pintu kamar mereka, ruangan yang luas dengan perpaduan warna biru putih yang di sukai istri nya
"Kenapa mas?" Ucap Shinta menoleh, wanita itu sedang duduk manis selonjoran di ranjang sambil memakan keripik kentang milik nya
"Gak papa, aku cinta sama kamu" Ucap Reyhan menghampiri istri nya lalu duduk di depan sang istri sambil mengelus rambut panjang tersebut, mahkota indah yang hanya di tunjukkan pada nya
"Aku juga cinta sama kamu" Balas Shinta tersenyum walaupun bibir nya penuh dengan bumbu keripik kentang
"Comot yang" Ucap Reyhan membersihkan bibir istri nya menggunakan tisu
"Tumben pakai tisu" Ucap Shinta membuat alis suami nya menekuk
"Oh... jadi kamu mau" Goda Reyhan tersenyum karena kebiasaan yang dia lakukan
"Enggak sih" Ucap Shinta membersihkan sendiri bibir nya menggunakan tisu dari suami tadi sampai benar benar bersih
"Bohong" Ucap Reyhan mengambil keripik kentang tersebut, mengikat nya agar isi yang masih tersisa tidak tumpah dan meletakkan nya di atas meja nakas
"Enggak bohong, dan... makasih untuk kejutan nya, aku suka banget banget banget" Ucap Shinta membahas tentang keluarga besar nya yang tiba tiba datang
"Sama sama, sayang" Ucap Reyhan menatap wanita yang menjabat sebagai ratu di hati nya, agak merasa bersalah karena setelah dari Bali dulu istri nya tidak di ijinkan pulang ke kota J oleh dokter karena kondisi tubuh nya yang sempat menurun
"Apasih? Jangan liatin aku kayak gitu ah" Ucap Shinta memalingkan wajah nya kala sang suami cukup lama menatap dengan intens
"Aku jatuh cinta sama semua yang ada di diri kamu" Ucap Reyhan mengarahkan kembali wajah sang istri agar menatap nya
"Termasuk bawel nya aku? Cerewet nya aku?" Tanya Shinta
"Iya, semuanya tanpa terkecuali" Jawab Reyhan yang, aduh... manis kayak es teh
"Hehe, liat papa kamu dek... lagi jujur banget hari ini" Ucap Shinta mengelus perut buncit nya sendiri
"Papa kamu ini selalu jujur sayang, kamu harus tahu hal itu" Ucap Reyhan ikut mengelus perut tersebut lali balik lagi menatap sang istri
"Semoga semuanya baik baik selalu" Ucap Reyhan serius yang ikut di aamiin kan oleh istri nya
"Yaudah sekarang ayo tidur" Ajak Shinta merasa kantuk mulai menyerang benteng pertahanan nya
"Kamu gak mau sesuatu yang?" Tanya Reyhan
"Apa ya... emmm, kiss aku dulu sebelum tidur" Jawab Shinta menunjuk bibir nya sendiri
Dengan senang hati Reyhan menuruti permintaan istri nya, melakukan dengan lembut tanpa grusak grusuk, menikmati kehidupan pernikahan yang Allah berikan untuk kedua nya
"Sekarang tidur" Ucap Reyhan karena dia tidak ikut tidur, melainkan hanya menemani sang istri di ranjang sambil mengerjakan pekerjaan yang ia tinggalkan hari ini
__ADS_1
Cup!
Shinta memberi kecupan di pipi serta leher sebelum dia benar benar terlelap dalam buaian mimpi
"Sayang" Ucap Reyhan menepuk jidat nya sendiri ketika sang istri sengaja mencium area sensitif nya
Hmmm untuk menghilangkan rasa tersebut lebih baik dia mengerjakan pekerjaan kantor yang sudah menjadi tujuan awal
🌸🌸🌸
Shinta terbangun di siang hari yang mana memang waktu untuk makan siang, perlahan ia melirik misua yang masih fokus dengan benda layar kotak tersebut
"Mas, kamu belum selesai?" Tanya Shinta lirih sambil membekap mulut ketika menguap
"Hmm? Kamu udah bangun yang?" Ucap Reyhan yang justru bertanya balik
"Udah, kamu belum selesai ya?" Tanya Shinta
"Udah selesai sayang, tinggal dikit lagi" Jawab Reyhan yang di angguki sang istri
Shinta menunggu kurang lebih 10 menit sampai suami nya selesai, baru lah mereka mengambil wudhu lalu turun berniat untuk mengajak keluarga sholat dzuhur berjamaah di musholla rumah
Baru saja mereka turun di lantai satu, terdengar suara Wildan yang sedang melantunkan komat di musholla
Ternyata semua anggota keluarga istri nga sudah bangun dan akan melakukan sholat berjamaah, begitu juga dengan Sisil yang menggunakan mukena walaupun dengan mata sayu
Membiasakan anak untuk sholat sedari kecil adalah hal yang penting, sebagai latihan yang akan membuat mereka terbiasa saat dewasa hingga enggan meninggalkan sholat wajib tersebut
Shinta tersenyum, biasa nya yang berjamaah hanya tiga orang yaitu dia, pak misua dan bibi, tapi sekarang rumah nya sudah ramai dengan senyum masing masing dari keluarga nya
"Udah bangun yah?" Ucap Reyhan
"Udah nak, kamu yang jadi imam ya" Ucap Ayah Ari
Reyhan menolak dengan alasan menghormati mertua nya yang jauh lebih pantas menjadi imam saat ini
"Bunda kok gak bangunin aku?" Tanya Shinta
"Takut kamu masih tidur sayang, karena ibu hamil kadang suka ngantuk di jam jam siang begini dan bangun satu jam lebih lambat" Jawab nya yang di angguki kepala oleh Shinta walau hal tersebut memang benar tapi dia selalu bangun di waktu sholat yang tepat
Selesai sholat dan berdzikir, para wanita langsung beraksi di dapur dan membantu bibi untuk membuat menu makan siang
"Eitss.. mau kemana kamu?" Ucap Reyhan menahan pundak sang istri yang tertutup hijab ketika wanita tersebut mau menuju dapur
"Mau ke dapur mas" Jawab Shinta
"Di sini aja" Ucap Reyhan memaksa istri nya agar duduk saja di ruang keluarga tanpa menyentuh dapur sedikit pun
"Loh kan aku mau bantuin masak, banyak loh mas" Ucap Shinta ingin berdiri namun suami nya kembali menahan
"Gak ada sayang, kamu gak boleh nyentuh pisau sedikit pun" Ucap Reyhan mewanti wanti
"Ya tapi kan-"
"Gak papa dek, bener kata suami kalau kamu diem aja... jangan ikut masak nanti kenapa kenapa" Sahut Seli dari dapur yang mendengar rengekan adik ipar nya
"Iya loh... udah duduk yang anteng, masakan kita pasti enak" Sahut Lexa ganti
Reyhan tersenyum penuh kemenangan, apalagi saat bunda yang ikut ikutan membenarkan tindakan nya barusan
"Bandel bandel nanti anak mu tak do'a in plek ketiplek mirip kak Rey loh kak" Ucap Wildan yang membuat Shinta langsung menatap nya, dia yang mengandung jadi dia juga mau kebagian dong, masa' wajah Reyhan aja yang jadi duplikat nanti? Walau sebenarnya tidak masalah namun yaa siapa juga seorang ibu yang tidak mau wajah anak ada kemiripan dengan nya
"Tau, bandel banget ngalah ngalahin Sisil" Ucap Adib tetap sama hobi nya yaitu meledek sang kakak terus menerus
"Lahh timbang kamu, ada yang udah pasti di depan mata malah ngejar yang belum pasti" Cibir Shinta balik mengingat sedang ada ada kisah segitiga yang terjadi antara Adib atau ajudan, Tiara serta Sela
"Hahaha.. kena mental gak tuh" Ucap Wildan tertawa ngakak karena dia juga sudah tau kisah cinta Adib
"Lo sendiri juga sama aja" Ucap Adib meledek adik bungsu nya
"Sama apa? Gue mah udah lupa in dia kak... gapai mimpi aja dulu" Ucap Wildan membela diri
Ayah Ari yang mendengar pembicaraan tersebut langsung menggelengkan kepala, dia tidak suka jika anak anak nya melakukan pacaran ataupun hubungan yang menjerumuskan ke dalam dosa
"Adek, kakak... ingat tujuh belas tiga dua, jangan bikin ayah marah ya sama kalian" Ucap ayab Ari berkali kali mengingatkan
"Tenang yah.. kita stay halal kok" Ucap Adib sambil melirik Wildan karena adik bungsu nya tersebut pernah berpacaran
"Iya yah, janji gak akan di ulangi lagi" Ucap Wildan sadar jika pacaran juga tidak ada guna nya, toh jodoh sudah ada yang ngatur
"Hahaha kasian" Ledek Shinta semakin menjadi jadi karena di antara 5 bersaudara hanya adik bungsu nya saja yang pernah berpacaran dengan seorang perempuan
Berbeda dengan kedua kakak nya yaitu Harun dan Egi yang langsung memantapkan hati untuk menikah ketika sudah menemukan pujaan hati nya atas takdir Allah
Reyhan ikut senang ketika sang istri bisa bercanda dan tertawa ria dengan keluarga nya, tidak seperti bulan bulan kemarin yang mana istri nya hanya dengan bibi di rumah saat ia pergi ke kantor
Ting tong!
Bel rumah berbunyi menandakan ada tamu yang datang
"Siapa mas? Biasanya kalau ada tamu pasti pak Agus lapor dulu ke kamu baru buka in gerbang" Ucap Shinta
"Aku liat dulu yang" Ucap Reyhan berdiri di ikuti istri nya dari belakang
"Ikut sayaaaang" Ucap Shinta tergelak sendiri ketika dia bisa mengucapkan hal manja seperti itu
Reyhan tertawa lalu merangkul pundak istri nya dan berjalan beriringan, ia sudah tahu siapa yang akan datang tapi tidak dengan Shinta
Ceklek!
Pintu utama di buka, terlihat ada dua pasangan suami istri yang sudah paruh baya namun masih sehat bugar
"Mama...
__ADS_1
Bersambung