
Shinta langsung menuju cafe seberang jalan yang buka 24 jam, dia kesana juga karena penasaran dengan apa yang akan di bicarakan Bian
Shinta celingukan kemudian ada yang memanggil nama nya
"Assalamualaikum Zef" Ucap Bian berdiri tak jauh dari Shinta
"Waalaikumsalam... Bi, lo udah pulang? gimana keadaan lo setelah terakhir kali itu?" Tanya Shinta menggebu ketika dia sudah berdiri di depan laki laki bujang itu
"Kita bicara di sana aja, ada ruangan khusus dan ada ketua WB juga" Ajak Bian dan sahabat nya itu mengangguk sebagai jawaban, ia mengikuti langkah Bian sampai mereka masuk di ruangan khusus cafe itu
"Selamat pagi nona" Sapa sopan seorang wanita berambut pendek yang memakai pakaian serba hitam sembari menunduk
"Selamat pagi" Ucap Shinta menanggapi
"Silahkan duduk, gue juga udah pesen minuman kesukaan lo" Ucap Bian menatap tiga gelas minuman di meja bentuk lingkaran
Mereka duduk dengan manis, hening beberapa saat karena mencoba menyiapkan diri dan saling pandang satu sama lain sampai Shinta yang pertama membuka suara
"Kalian ngapain diem? lo kapan pulang Bi? gimana keadaan lo setelah kecelakaan itu?" Tanya Shinta
"Bisa lo lihat kalau gue baik baik aja kan? gue gak papa karena itu cuman kecelakaan kecil aja kok... lo jangan khawatir" Jawab Bian meyakinkan
"Trus dia? kenapa manggil gue nona?" Tanya Shinta membahas perempuan berambut pendek tadi
"Dia udah tahu kalau lo orang yang berusaha mereka lindungi" Jawab Bian
"Saya Tiara nona... senang bertemu dengan anda secara langsung" Ucap Tiara mengulurkan tangan nya dan di balas oleh Shinta
"Tiara? ketua WB 1?" Tanya Shinta memastikan karena setahu nya memang ketua white blood 1 adalah seorang perempuan
"Iya nona, saya ketua white blood satu" Jawab Tiara membenarkan
"Trus lo bilang mau ngomong hal serius, ngomongin apa?" Tanya Shinta
"Gue baru tahu hal ini beberapa bulan yang lalu" Jawab Bian membuat Shinta menautkan alis nya
"Maksud nya?" Tanya Shinta meminta penjelasan lebih
"Lo marah besar karena gue meliburkan tim white blood Korea kan?" Tanya Bian memastikan
"Iya, ini bisa bikin lo celaka kalau tim itu libur, lebih baik aktifkan lagi Bi" Ucap Shinta memberi saran
"Gue gak peduli itu Zef, lo tau kan kalau tim white blood itu di buat untuk melindungi perusahaan dan identitas lo" Ucap Bian
"Tapi nyawa lo sendiri itu lebih penting dari identitas gue" Ucap Shinta
"Gue gak mau lo sampai mati di tangan mereka Zef, gue udah janji sama Zean buat ngelindungin lo meskipun lo udah menikah!" Ucap Bian menghela nafas berat
"Tapi Bi... kalau emang takdir gue beneran mati di tangan mereka trus kita bisa apa?" Tanya Shinta dengan tangan yang mengepal erat
"Dan apa lo mau kalau suami lo meninggal di tangan mereka?" Tanya Bian dengan nada bicara dedikit tinggi
"Maksud lo apa sih? apa hubungan nya tim kita sama suami gue Bi?" Tanya Shinta benar benar bingung dengan arah pembicaraan Bian
"Lo belum pernah ketemu sama tim white blood Korea kan? mending lo tanya Tiara" Ucap Bian pasrah dan memberikan kode pada Tiara
"Begini nona... ketua tim white blood Korea itu laki laki dari indonesia, dan dia baru saja menikah sekitar satu minggu yang lalu" Ucap Tiara menjelaskan namun Shinta masih belum faham juga
"Trus kalau dia menikah apa itu bisa di jadikan alasan untuk meliburkan tim sekitar satu bulan lebih? kalau memang dia mengambil cuti, bisa di gantikan dengan wakil ketua kan? saya masih belum faham masalah nya ada dimana" Ucap Shinta frustrasi
"Ck, lo dengar kan apa yang Tiara bilang? ketua white blood Korea itu laki laki dari indonesia, dia pebisnis dan baru menikah satu minggu yang lalu" Ucap Bian dengan decakan kesal nya
"Siapa? siapa orang nya? gue gak tahu siapa ketua white blood Korea karena dia memang gak pernah ada komunikasi sama gue" Ucap Shinta
__ADS_1
"Dia laki laki, berumur 26 tahun, asal indonesia dan memegang jabatan sebagai presiden direktur WY group untuk menggantikan sang papa" Ucap Bian menjelaskan dengan detail, dia sudah kesal dengan Shinta yang tak kunjung paham
"Tunggu... " Ucap Shinta menghela nafas dan memejamkan mata, kemdian melanjutkan ucapan nya dengan nada terkejut
"Lo ngehalu ya? mana mungkin mas Rey itu ketua white blood dua?" Tanya Shinta
"Gak mungkin nya ada di mana? sangat mungkin karena dia juga udah tinggal di Korea selama beberapa tahun kan? dan lo juga tahu kalau tim white blood itu di bentuk sekitar dua tahun yang lalu" Ucap Bian menjelaskan
"Gimana bisa mas Rey jadi ketua white blood? setahu gue dia gak pernah kenal atau bahas yang nama nya kak Zean" Ucap Shinta berusaha tidak percaya
"Mana gue tahu? gue aja baru tahu beberapa bulan yang lalu kalau ketua white blood itu Reyhan, rekan bisnis gue sendiri" Ucap Bian
"Itu artinya suami gue adalah anak buah gue sendiri?" Tanya Shinta memastikan
"Lebih tepat nya suami lo ternyata bawahan lo sendiri" Ucap Bian menghempaskan kasar tubuh nya di sandaran kursi yang membuat nya mengaduh kesakitan
"Tuan, anda tidak apa apa?" Tanya Tiara ketika melihat Bian meringis
"Udah tua, jangan kebanyakan tingkah!" Ucap Shinta memperingatkan
"Ya maaf, gue tuh kesel aja kenapa baru tahu sekarang? gue sibuk ngurus kantor sampai gak ada waktu untuk memantau tim kita" Ucap Bian
"Mereka melakukan penyerangan sepihak di Korea, itu artinya mereka mengincar keberadaan tim white blood Korea? padahal ketua tim itu ada disini, dan mereka melakukan penyerangan terhadap lo karena gak ada yang melindungi lo sama sekali di Korea akibat tim yang di liburkan?" Tanya Shinta panjang lebar
"Yes... lo juga tahu kalau mereka selalu mengincar tim white blood Korea hanya untuk menemukan keberadaan Zefa Calisya dan bertujuan untuk membunuh nya sejak satu tahun yang lalu" Ucap Bian
"Ini alasan lo meliburkan tim itu? karena lo gak mau kalau mas Rey menjadi incaran dan menjadi santapan mereka?" Tanya Shinta
"Iya, satu bulan yang lalu lo tuh lamaran, gue gak mau kalau sampai calon suami lo menghadapi bahaya, apalagi kalau lo udah nikah dan jadi janda, gue gak mau hal itu terjadi, naudzubillah..." Ucap Bian
"Lebih parah nya lagi situasi bahaya itu di sebabkan karena gue, bahkan gue gak tahu kenapa mereka sangat ingin membunuh gue, padahal gue merasa kalau gak pernah ada urusan sama mereka" Ucap Shinta menunduk lesu
"Ini bukan salah lo... takdir memang udah di garis kan Zef" Ucap Bian menenangkan sahabat nya yang sedang dalam perasan bersalah
"Kemungkinan tidak nona, tuan Zean hanya membuka identitas nona pada saya dan tuan Bian saja, bahkan anggota saya tidak ada yang tahu karena mereka di tugaskan untuk melindungi tuan Bian dan di balik tubuh tuan Bian yang sebenarnya adalah anda" Jawab Tiara dan Shinta mengangguk faham sebagai jawaban nya
"Lo kemarin ke Korea sama siapa? dan siapa yang megang jadwal pribadi lo?" Tanya Shinta merasa ada yang janggal dengan kecelakaan kemarin
"Gue ke Korea sama Tiara karena dia akan menemui tim white blood di sana yang bertahan tanpa ketua, dan yang tau jadwal gue juga Tiara sama Alena" Jawab Bian sejujur jujur nya
"Jika... tim white blood satu udah ngasih perlindungan, itu berarti ada info yang bocor di telinga mereka tentang kedatangan lo disana" Ucap Shinta mencoba mengusut kecelakaan kemarin
"Masa' iya? tapi siapa?" Ucap Bian bertanya tanya kemudian melirik Tiara yang nampak diam tanpa gugup sedikit pun
"Kecelakaan itu terjadi dengan kejadian tabrakan dari belakang, dan kebetulan wilayah di sekitar bandara itu licin, jadi kalau mereka menggunakan alibi jalan licin juga cukup masuk akal terjadi nya kecelakaan" Ucap Shinta
"Ya emang bener sih" Ucap Bian membenarkan
"Aneh nya jalan licin kenapa mereka cuman nabrak mobil lo doang? kenapa mobil di sekitar mereka gak terserempet sama sekali?" Ucap Shinta
"Berarti incaran mereka memang tepat sasaran Zef, mereka berusaha menakuti gue tapi gak mau kalau gue mati, itu karena hanya gue yang tau tentang identitas dan keberadaan lo, gue jadi kunci disini" Ucap Bian
"Berarti mobil yang nabrak lo itu udah ada di bandara sebelum pesawat yang lo tumpangi landing, itu artinya dia tahu bocoran jadwal penerbangan lo, padahal itu hal pribadi dan hanya orang terdekat lo aja yang tahu" Ucap Shinta berusaha memancing Bian, dan yang di pancing pun nampak diam seperti berpikir keras
"Lo tahu kan kalau gue gak suka ada penghianat di sekitar gue?" Ucap Shinta dengan tatapan tajam yang membuat suasana ruangan itu mencekam, bahkan Tiara pun sampai bergidik ngeri melihat bagaimana raut wajah nona nya ketika marah
"Apa mungkin Alena?" Ucap Shinta menaik kan alis nya berusaha menggali dan membaca raut wajah Bian
"Gak mungkin Zef, dia perempuan baik yang bahkan gak punya orang tua, daftar KK aja dia sendiri" Ucap Bian tidak percaya dan berusaha membela Alena
"Gue selalu berpikiran logis, gue juga tahu kalau lo cinta kan sama Alena? makanya lo gak mau kalau dia jadi tersangka yang membocorkan jadwal penerbangan lo" Ucap Shinta, dia bisa menebak bagaimana perasaan Bian yang sesungguhnya
"Hentikan! Zef gue tahu kalau gue itu sekedar tangan kanan lo, dan gue melindungi lo juga karena janji sama Zean yang gak akan pernah gue ingkar i, tapi gue mohon jangan curiga sama Alena karena dia pasti gak tahu apa apa soal ini" Ucap Bian kekeh dan
__ADS_1
Brak!... Shinta memukul meja dengan keras sampai tangan nya sakit sendiri karena ucapan Bian barusan, begitupun Tiara yang terlonjak kaget
*Astagfirullah... tau gitu gak akan ku pukul kalau tau meja nya terbuat dari marmer* Batin Shinta kesakitan namun dia masih bisa menahan ekspresi nya di depan Bian juga Tiara
"Nona, tangan anda-" Ucap Tiara terhenti karena Shinta memberi nya kode dan menyuruh untuk diam
"Bi... lo tau gak sih? gue gak pernah menganggap lo sebagai tangan kanan gue, bahkan udah berapa kali gue nyuruh supaya lo berhenti? serahin aja gue sama mereka dan semua masalah beres kan? ini pertama kali lo bikin gue sakit hati karena ucapan lo Bi... meskipun gue tahu kalau lo itu perhatian dan sayang sebagai sahabat sama gue, tapi apa lo tau? gue juga peduli sama lo... gue gak mau lo bertaruh nyawa demi ngelindungi gue lagi, dan sekarang? dengan mudah nya lo bilang kalau gue cuman menganggap lo sebagai tangan kanan, padahal kita juga udah kenal berapa lama? jauh lebih lama di bandingkan lo kenal sama Alena" Ucap Shinta tenang tapi sinis dan menusuk hati Bian
"Zef, maaf gue gak bermaksud nyakitin hati lo... gue minta maaf, gue gak mau lo berburuk sangka pada Alena, apalagi Tiara juga tahu jadwal penerbangan gue" Ucap Bian
Shinta menarik tangan Tiara agar mendekat pada nya, kemudian mengambil pistol yang terletak di tempat tersembunyi pada badan gadis itu
"Kamu tau kan konsekuensi berkhianat? saya tidak akan memberi kelonggaran apapun pada anggota yang berkhianat" Ucap Shinta memberi tatapan tajam sembari mengarahkan pistol itu tepat di kepala Tiara
"Saya tidak pernah berkhianat nona, dan saya juga tahu kalau anda orang yang sangat logis bahkan tidak akan mencurigai seseorang tanpa beberapa alasan kuat" Ucap Tiara tetap menunjukkan ekspresi tenang tanpa rasa takut sedikit pun karena dia cukup tersinggung dengan perkataan Bian yang secara tidak langsung menuduh nya berkhianat
"Saya pegang ucapan kamu" Ucap Shinta menurunkan pistol itu dan mengembalikan pada pemilik nya
"Kenapa lo bisa curiga sama Alena?" Tanya Bian
"Gue gak pernah memandang siapa orang itu, mau dia keluarga gue atau bukan, gue akan mencurigai dia dengan beberapa alasan fakta yang gue punya, lo tau kalau anggota white blood tidak di ijinkan memiliki handphone lebih dari satu kan? lo juga bisa cek apa aja kegiatan dan kelakuan tim kita, dan mobil tanpa plat itu datang ke bandara lima belas menit sebelum pesawat lo landing, itu artinya dia mendapat kabar juga baru beberapa waktu yang pasti nya lo dan Tiara masih di dalam pesawat, jika kalian berdua mematikan handphone, maka siapa yang memberi tahu mereka tentang kedatangan lo?" Ucap Shinta yang sudah melihat rekaman CCTV bandara beberapa waktu lalu
"Tapi kalau mereka dapat kabar sehari yang lalu saat pernikahan lo?" Tanya Bian masih berusaha mencari pembenaran untuk Alena
"Jika memang kabar di beri waktu pernikahan gue, maka seharus nya mereka datang ke bandara setidak nya satu jam sebelum lo landing, dan bodoh nya mereka juga lupa pasang plat nomor yang justru akan mencurigakan di mata kita, itu berarti mereka buru buru karena kemungkinan baru tahu kedatangan lo di Seoul Bi, puas???!" Ucap Shinta capek sendiri menjelaskan panjang kali lebar pada laki laki yang tengah di landa jatuh cinta saat ini
"Tapi Zef... apa mungkin dia pelaku nya? meskipun gue tahu kalau Alena punya marga Korea" Ucap Bian tertunduk lesu
"Ck, gini aja deh... sekarang kirim salah satu anggota white blood ke Korea selama satu minggu karena mereka juga mengincar anggota white blood, rencana ini hanya kita bertiga yang tahu dan jika ada sesuatu yang terjadi padanya maka tersangka utama bukan Alena, tapi kalau tidak ada yang terjadi, otomatis tersangka nya Alena karena dia asisten pribadi lo yang gak tahu tentang rencana ini" Ucap Shinta
"Kalau dia terluka trus di bunuh gimana?" Tanya Bian khawatir
"Gak mungkin, mereka gak akan menyakiti anggota white blood karena mereka ingin mengorek informasi tentang gue dari tim kita" Jawab Shinta
"Apa ide lo ini akan berhasil?" Tanya Bian ragu
"Bentar" Ucap Shinta mengangkat gelas dan meneguk minuman nya secara perlahan, bicara panjang lebar dengan orang yang di buta kan cinta itu butuh tenaga extra, ibarat ngasih saran sama temen yang udah di hianatin sama pacar nya berkali kali, bicara di kasih saran sampai mulut berbusa juga gak akan ada guna nya ketika temen mu masih aja mau balikan sama mantan nya, hingga akhir nya 'terserah lu aja deh' jawaban itu yang akan kita berikan ketika dia minta saran lagi tanpa berniat menjalani
"Eh... ini chocolatos matcha ya? enak sih" Ucap Shinta setelah meneguk minuman itu
"Yaelah... malah ngiklan, gue udah serius juga" Ucap Bian menggelengkan kepala nya
"Haus, lama lama gue comblangin juga lo sama si Lala" Ucap Shinta kesal
"Enak aja, dia masih bocah juga sembarangan lo" Ucap Bian tidak mau jika dia di jodoh jodoh kan
"Kamu setuju atau keberatan dengan ide ini?" Tanya Shinta pada Tiara
"Tidak nona, saya tidak keberatan sama sekali apabila itu memang bisa membuktikan kalau saya yang sudah bersama tuan Bian dua tahun ini tidak bersalah, di banding Alena Lee yang baru masuk perusahaan beberapa bulan yang lalu" Ucap Tiara sinis dan sengaja menyindir atasan nya
Bian menunduk, dia sadar kalau sudah berburuk sangka pada Tiara, tanpa melihat ada nya beberapa fakta
"Mungkin pembicaraan sampai di sini saja,saya harus bekerja sekarang" Ucap Shinta melihat jam tangan nya mendekati angka delapan
"Hati hati nona... " Ucap Tiara tersenyum
"Assalamualaikum..." Pamit Shinta berdiri karena berniat keluar dari ruangan
"Waalaikumsalam... hati hati Zef, maafin gue ya" Ucap Bian
"Iya, mungkin beberapa waktu ke depan kita akan ketemu mereka Bi, berusaha menyelesaikan masalah, tanpa menyebabkan orang lain terluka lagi, tapi entah kapan yang jelas gue nunggu keputusan dari lo juga, kalau itu memang yang terbaik maka gue pasti nurut apapun saran yang lo kasih" Ucap Shinta tersenyum kemudian benar benar keluar dari cafe dan masuk ke rumah sakit
Bersambung
__ADS_1
ada yang udah bisa nebak jalan cerita ini akan di bawa kemana? pasti ada karena ini cerita nya gampang di tebak ya kan?:)