
“Gak bisa nanti aja?” Tanya Shinta melirik jam dindidng yang menunjukkan pukul dua dini hari
“Lebih cepat lebih baik” Ucap Reyhan menarik perlahan tangan itu agar bangun dan duduk menghadap nya
Di sofa panjang, mereka duduk berdua secara berhadapan lalu menatapap mata pasangan masing masing, Reyhan melihat dengan tatapan teduh, sedangkan Shinta mempunyai pandangan dengan rasa bersalah yang besar dari hati nya
"Apa jawaban mu?" Tanya Reyhan
Mereka saling memberikan secarik kertas masing masing, menukar dan membaca nya bersama tanpa mengeluarkan suara
Di kertas itu yang tertulis panjang adalah perlakuan baik dari pasangan masing masing, sedangkan kesalahan? hanya sama sama satu baris yang mereka tulis
"Keputusan kamu apa yang?" Tanya Reyhan selepas membaca tulisan istri nya
"Mempertahankan" Jawab Shinta yakin, "Kamu mas? apa keputusan mu?"
"Mengakhiri" Jawab Reyhan enteng
Berbeda dengan Shinta yang terkejut akan ucapan suami nya, mengakhiri? sebuah hubungan bukan lah permainan yang bisa di akhiri begitu saja
"Kamu bercanda ya?" Tanya Shinta berusaha positif thingking, mungkin dia salah dengar tadi
"Untuk apa aku bercanda yang? ini sangat serius" Ucap Reyhan meyakinkan kalau dia tidak main main dengan keputusan nya
"Kamu gak mungkin mengakhiri gitu aja kan?" Ucap Shinta menjauhkan tangan nya yang hendak di sentuh sang suami
"Mengakhiri menjadi solusi terbaik itu kita yang, tanpa melukai orang lain lagi maupun perasaan kita sendiri" Ucap Reyhan
"Aku gak mau" Tolak Shinta mengalihkan pandangan nya ke samping
"Kok gak mau? ini keputusan terbaik loh yang... kenapa kamu gak mau?" Tanya Reyhan
"Lagian ya... aku tahu aku salah, tapi kenapa kamu kekeh banget ingin mengakhiri? masih ada jalan lain kan?" Tanya Shinta menahan tangis nya
"Yang, aku memikirkan hal ini secara matang dan juga ngeliat dari sisi perasaan kamu" Ucap Reyhan
"Aku bilang aku gak mau. Aku gak mau pernikahan kita di bawa ke pengadilan agama karena masalah ini, aku gak mau huaaa..." Ucap Shinta jebol juga tangis nya
"Kamu tega ya? aku di biarin sendiri an, lagi hamil pula hiks" Ucap nya lagi dengan hidung memerah
Reyhan di buat kaget di sini, siapa yang ingin bercerai? perasaan dia tidak bilang begitu tadi
Dia hanya bilang mengakhiri saja, apa istri nya salah pengertian pada satu kata itu
"Awh..... " Ringis Shinta kala Reyhan menggigit dagu nya
Gemas sekali dia dengan wanita yang berstatus sebagai istri nya itu, hanya satu kata saja membuat salah paham seperti ini, sampai meleleh pula air mata nya
Reyhan melepaskan gigitan nya, sebenarnya hanya pelan saja namun tetap meninggalkan bekas di sana
"Gigit sepuasmu tapi jangan ada kata mengakhiri" Ucap Shinta menyodorkan wajah nya dengan pasrah
Cup!
Bukan gigitan lagi melainkan kecupan singkat yang mendarat
"Apa? siapa yang mau pisah? kamu salah paham, hahaha" Ucap Reyhan tergelak sambil mengusap wajah penuh air itu
Hah!?
"Trus maksud kamu mengakhiri tadi apa?" Tanya Shinta bingung
"Mengakhiri masalah ini, membuat solusi nya bersama, segera menuntaskan semuanya sampai kita bisa hidup damai sayang" Jawab Reyhan menjelaskan maksud perkataan nya
Aduh jadi malu kan kalau salah paham begini "Ya maaf kan aku lagi hamil, jadi sensitif" Ucap Shinta menggunakan kandungan nya sebagai alasan
"Di maafin tapi ini dulu" Ucap Reyhan menunjuk bibir nya sendiri, minta kisseu sama pasangan halal nya guys
"Iya" Ucap Shinta menurut saja, dia juga suka dan dapat bonus pahala juga, nikmat bukan?
"Ayo tiduran di sana, kita bicara di sana" Ajak Reyhan menujuk ranjang pasien
"Gak mau ah, nanti sempit yang ada lengan kamu sakit mas" Ucap Shinta menolak, khawatir saja kasur itu tidak muat untuk mereka berdua
"Nurut!! itu ranjang seluas lapangan bola" Ucap Reyhan menggunakan nada tanpa mau di bantah
"Iya" Ucap Shinta menurut
Mereka tidur di ranjang yang sama, bantal yang sama namun bukan kasur yang biasa mereka gunakan, Shinta berada di sisi kiri Reyhan untuk menghindari lengan kanan suami nya
Sama bahkan sangat nyaman, selalu tentram jika ia tidur beraada di samping suaminya, begitupun Reyhan yang selalu adem ayem saat sang istri ada di samping nya
Pelipur lelah, pelipur sakit yang merupakan fungsi dari pasangan sebenarnya, apapun cobaan nya tapi jika masih bersama pasti akan lebih kuat untuk kedepan nya
“Maaf" Kata yang Reyhan dengar dari bibir mungil itu setelah dia tunggu tunggu,dari awal dia sudah menebak bahwa Shinta pasti akan meminta maaf dulu pada nya
“Untuk apa?” Tanya Reyhan merasa bukan hanya istri nya yang salah, melainkan dia juga
“Menyembunyikan sesuatua dari mu tanpa memikirkan perasaan mu seagai seorang suami, apalagi aku sudah menjadi tanggung jawab mu sepenuhnya" Jawab Shinta menatap mata suami nya dalam artian dia benar benar meminta maaf atas kesalahan nya yang tidak bisa jujur
"Kamu melakukan nya dengan alasan yang jelas?" Tanya Reyhan pura pura tidak paham saja untuk sesaat, padahal dia juga sudah tahu alasan itu ketika ajudan berceramah panjang lebar
Shinta mengangguk, tentu saja dia menyembunyikan suatu fakta dengan alasan yang kuat "Aku gak mau kamu terluka hanya karena terlibat dengan masa lalu ku, aku gak mau kamu menjadi Zean kedua" Ucap nya sendu
Tiada hari tanpa waspada, mereka masih mengincar nya dengan melukai orang orang terdekat yang berhubungan dengan nya, bukan tidak percaya dengan takdir tuhan, tapi tuhan sendiri pun juga akan menakdirkan suatu berdasarkan usaha dari hamba nya
Berusaha untuk menyembunyikan sesuatu selama apapun justru tidak berguna, malah sekarang suami nya yang harus menahan sakit hanya untuk melindungi nya
"Aku juga salah karena baru mengetahui hal ini setelah sekian lama" Ucap Reyhan menghela nafas
"Aku minfa maaf" Ucap Shinta sekali lagi, ia melirik mata sang suami yang tiduran di samping nya
"Bagi ku kebohongan termasuk kesalahan fatal, tapi aku juga berusaha untuk menempatkan diri yang, memandang dan mengambil keputusan berdasarkan posisi kamu" Ucap Reyhan
"Aku juga tahu kamu berbohong karena satu alasan, tapi lain kali jangan seperti ini, kamu tanggung jawab ku dan pikirkan diriku sebagai seorang suami, jika terjadi apa apa maka aku yang bersalah karena gak bisa melindungi istri ku sendiri" Ucap nya lagi, mereka hanya sama mengkhawatirkan pasangan masing masing
Shinta mengangguk, yang di katakan Reyhan memang benar ada nya, dia seorang wanita yang sudah menikah, patut nya tidak menyembunyikan sesuatu apapun itu baik atau buruk
"Oh iya gimana bisa kamu kenal sama kak Zean mas?" Tanya Shinta sadar jika suami nya ketua white blood maka sudah jelas dia pun kenal dengan Zean
Reyhan juga menanti pertanyaan itu, istri nya pasti sudah tahu kalau dia memimpin adalah satu tim white blood "Sebelum Zean membuat tim itu, aku mengenal nya karena pertemuan bisnis yang waktu itu aku hanya menemani papa aja, dari situ kita mengenal dan jadi teman yang cukup akrab" Jawab nya
Shinta mengangguk faham, memang Zeze grup sudah menjadi kolega papa Raka sejak Zean masih hidup "Maaf juga karena aku yang setuju untuk menonaktif kan tim yang kamu pegang" Ucap nya
"Aku tahu, Adib udah cerita semuanya" Ucap Reyhan
__ADS_1
"Kamu gak marah kan?" Tanya Shinta harap harap cemas
Reyhan mendekatkan wajah nya, menatap mata itu hingga hanya berjarak beberapa centi saja
"Harus nya sih marah ya... tapi emang aku bisa marah sama istri ku yang cantik?" Ucap nya
Duhh kan jadi salting kalau di gombalin begini "Masa?" Ucap Shinta ragu dengan pipi merah nya
"Gak percaya yang?" Tanya Reyhan
"Percaya sih, kalau aku jelek berarti Alina lebih jelek dari pada aku" Ucap Shinta pede, jarang sekali ia mengumpat namun jika sudah kelawat batas pasti kata itu akan keluar
Reyhan menarik gemas hidung pesek itu
"Iya iya kamu dan mama yang paling cantik" Ucap nya
"Tapi tadi kamu kemana yang? sampai memar dahi kamu" Ucap Reyhan mengusap dahi itu dengan tangan kiri nya
"Ketemu Alena, hanya luka kecil aja" Jawab Shinta tersenyum, tidak sakit sih tapi kepala nya hanya sedikit pusing
"Alena? orang yang membocorkan identitas kamu?" Tanya Reyhan
"Iya, dia ada di gudang tapi masih belum mau ngaku, entah kapan sadar nya mas" Ucap Shinta heran
"Kita bisa pakai cara lain kalau dia tetap gak mau ngaku" Ucap Reyhan tersenyum, dia sudah punya rencana dengan matang
"Rencana apa?" Tanya Shinta
"Kamu lupa ya? Alina Lee ada di tangan ku, ternyata dia kakak nya Alena dan sudah pasti kedua saudara itu berniat melindungi satu sama lain yang" Jawab Reyhan
"Trus pelaksanaan nya?" Tanya Shinta
"Terpaksa nunggu mereka bawa Alina ke Indonesia dulu, baru rencana itu bisa berjalan" Jawab Reyhan
"Iya juga sih, mempertemukan kedua saudara dengan tekanan yang sama itu lebih baik" Ucap Shinta menyetujui
"Sayang, aku mau nanya tapi jawab jujur ya!" Ucap Reyhan mewanti wanti
"Nanya apa?"
"Di mana makam Zean? tim yang ku pegang sama sekali tidak tahu tentang kematian itu, hanya tim Osaka yang sampai sekarang menjaga rahasia, termasuk kamu yang" Ucap Reyhan
Shinta menghela nafas, memang hanya dia, Bian, Tiara dan ibu panti yang mengetahui letak makam Zean
"Bilang padaku yang, aku juga ingin mengunjungi nya karena dia rekan ku yang sudah memberikan kepercayaan tim pada ku" Ucap Reyhan
"Makam nya ada di kota J, dekat dengan panti asuhan tempat kak Zean di besarkan, memang dia sendiri yang menginginkan hal itu sebelum menutup mata selamanya" Jawab Shinta
Reyhan memeluk istri nya dari samping, melingkarkan lengan kiri nya dan mengelus tangan sang istri, dia merasa kalau Shinta masih merasa bersalah tentang kejadian dulu
"Nanti kita kesana, jangan sedih dan jangan menyalahkan diri kamu lagi sayang" Ucap Reyhan
"Aku merasa kalau harus melawan mereka, mana mungkin aku membiarkan pembunuh itu berkeliaran? kasihan kak Zean kalau keadilan tidak berlaku" Ucap Shinta berlindung di dada suaminya, hangatt!!! sangat hangat dan nyaman
"Aku berpikiran hal yang sama, tapi jangan sekarang karena aku lapar yang" Rengek Reyhan memajukan bibir nya
Shinta tergelak, di saat melow melow gini juga ternyata lapar masih mengganggu
"Sholat tahajud dulu mau?" Tanya Shinta menawarkan karena sekarang pun waktu yang tepat untuk melaksanakan sholat sunnah itu
Karena yang terluka lengan kanan bagian atas, sedangkan wudhu pun syarat nya hanya membasuh sampai kedua siku siku
Reyhan menjadi imam dengan posisi duduk karena lengan nya masih belum kuat jika di gunakan untuk menampu badan nya sendiri
Shinta pun seperti biasa akan menjadi makmum yang patuh dengan imam nya, suami nya yang memimpin sholat mereka
صَلِّى سُنَّةً التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى
Ushollii sunnatat-tahajjudi rok’ ataini lillaahi ta ’aalaa.
Artinya:
“Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Alloh"
Mengucap salam dengan menoleh kan kepala ke kanan lalu kiri, di lanjut dengan do'a juga yang mereka lafalkan bersama
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Robbanaa aatina fid-dun-yaa hasanataw wa fil aakhiroti hasanataw wa qinaa adzaa ban-naar.
Artinya:
“Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.”
Dalam hadis Bukhari dinyatakan, bahwa Rasulullah SAW jika bangun dari tidurnya di tengah malam lalu bertahajud membaca doa:
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ
Artinya:
“Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya.
Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari- Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar.
Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum.
Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.
Selepas micium punggung tangan suami nya, baru lah Shinta melepas mukena yang dia gunakan, memang sengaja membawa peralatan sholat sendiri agar tidak perlu ke musholla rumah sakit dan meninggalkan suami nya
"Aku tadi pulang tapi belum sempat masak, cuman beli makanan aja, maaf ya" Ucap Shinta benar ada nya, dia pulang sebentar untuk mandi, sholat dan mengambil mukena lalu ke gudang dan balik lagi ke rumah sakit dengan Tiara yang selalu mengantar nya
"Gak papa sayang, yang penting hygienist" Ucap Reyhan tersenyum
Shinta hanya nyengir saja karena sifat suami nya tidak pernah berubah, ia duduk di kursi samping ranjang lalu membuka kotak makanan yang dia bawa
"Dua kotak? berarti kamu belum makan yang?" Tanya Reyhan melihat ada dua kotak. di nakas meja pasien
"Belum sih, tapi tadi makan roti kok hehe" Ucap Shinta
"Kenapa? walaupun lagi ada masalah kamu juga wajib makan loh yang, jaga kesehatan kamu dan kandungan kamu juga, aku udah bilang jangan gegabah kan" Ucap Reyhan mulai menceramahi istri nya panjang lebar
Jika orang lain melihat pasti kata 'cerewet' akan keluar, laki laki yang dingin bak iblis itu akan kehilangan gengsi nya jika di depan sang istri
"Iya... sekarang aku makan" Ucap Shinta membuka kotak satu nya lagi dan menyuapkan nasi ke dalam mulut nya sendiri
__ADS_1
"Gitu dong, itu baru namanya calon ibu yang baik, iya kan nak? calon anak papa yang masih kecil di sana" Ucap Reyhan meminta pendapat pada janin yang masih belum mengerti perkataan nya
"Udah makan dulu, nanti ngomong lagi" Ucap Shinta menyuapi suami nya dengan sendok yang sama, hal itu sudah biasa mereka lakukan saat di rumah
Selesai makan di jam dini hari, mereka kembali mengobrol sembari menunggu jam sholat subuh yang sebentar lagi pasti akan berkumandang
"Sayang, kamu udah periksa kan?" Tanya Reyhan
"Udah, tadi sebelum pulang aku periksa kandungan dulu" Jawab Shinta dengan memegang gelas berisikan air minum yanh hendak ia minum
"Trus hasil nya?" Tanya Reyhan
"Alhamdulillah baik baik aja, meskipun dokter nya menegur karena aku sempat jatuh sore tadi" Jawab Shinta
"Maaf ya, untuk kedua kali nya aku sama sekali gak bisa nemenin kamu periksa kehamilan yang" Ucap Reyhan
"Gak papa, ini juga bukan mau kita dan masih ada waktu bulan depan dan delapan kali untuk periksa" Ucap Shinta tersenyum lalu meneguk minuman nya
"Dan kamu juga udah tanya soal HB kan?"
"Uhuk... " Refleks Shinta terdesak dengan pertanyaan suami nya barusan, heran sekali dia masih ingat saja dengan hal itu
"Minum nya pelan pelan yang" Ucap Reyhan memberikan tisu dari atas meja
"Udah pelan tapi kamu yang bikin aku kesedak mas" Ucap Shinta mengelap mulut nya yang basah
"Sayang, kita udah menikah dan sah sah aja kan kalau membahas hal yang tabu menurut orang lain, tapi itu gak berlaku untuk kita" Ucap Reyhan santai
Shinta juga paham dengan itu sih, tapi jangan sekarang juga napa... masih sakit juga daya ingat nya kuat kalau tentang barusan
"Ya tau sih tapi liat kondisi dong, kita lagi di rumah sakit malah" Ucap Shinta mengingatkan
"Aku tau sayang, makanya jawab sekarang biar cepat selesai" Ucap Reyhan
"Iya iya... kata dokter boleh, tapi.... di larang sering sering, misal dua sampai tiga kali seminggu" Jawab Shinta masih saja malu malu, berbeda dengan Reyhan yang los doll tentang apapun jika di depan istri nya
"Oh... aku udah puasa satu hari, itu artinya...." Ucap Reyhan menggantung perkataan nya dengan tatapan penuh arti
"Hah!? jangan macam macam nya, enak aja ini di rumah sakit" Ucap Shinta menyilangkan tangan nya di atas dada
"Siapa yang mau macam macam yang? hanya satu macam aja" Ucap Reyhan semakin suka menggoda istri nya
"Apa? aku gak mau ya berbuat di sembarang tempat, dan lagian kaki ku capek loh" Ucap Shinta sengaja mengeluh untuk mendapat keringanan
Gila saja kalau sampai hal itu terjadi di tempat yang bukan seharus nya
"Siapa yang nyuruh pakai kaki? tangan dan mulut kamu berfungsi dengan baik sayang, jadi gunakan itu" Ucap Reyhan tersenyum
Berbeda pula dengan Shinta yang berekspresi nyengir dan bergidik dengan tatapan suami nya
🌸🌸🌸
"Nahh... gitu yang, terus..." Ucap Reyhan memejamkan mata menikmati hal yang dia rasakan
Shinta menurut saja, dengan cukup lihai dia menggerakkan tangan nya ke atas dan ke bawah sesuai dengan perintah suami nya
"Kencengin yang... " Pinta Reyhan
Sekali lagi Shinta menurut dan dengan sedikit kesal mengencangkan gerakan tangan nya
"Akh...sakit yang, jangan kenceng kenceng" Ucap Reyhan mengaduh
"Tadi katanya mau kenceng?" Ucap Shinta dengan nada seolah dia tidak bersalah
"Pelan pelan tapi kerasa gitu loh" Ucap Reyhan sengaja
Shinta memajukan bibir nya dengan tangan yang tidak berhenti bergerak naik turun ke atas bawah
Kretek!
"Enak banget yang, beneran kamu cocok jadi tukang pinjit" Ucap Reyhan tergelak
Shinta hanya memutar malas bola mata nya, dari tadi ia tidak berhenti memijat kaki suami nya, menekan dari atas ke bawah dan begitu seterusnya, tangan nya sendiri saja sudah capek
"Tau ah" Ucap Shinta mengangkat tangan nya dari kaki sang suami
"Pahala sayang" Ucap Reyhan menahan tawa, sengaja sesekali ingin menggoda istri nya
Di sela sela kegiatan itu, ponsel Shinta berdering menunjukkan panggilan dari mama Riana
"Aduh aku sampai lupa ngabarin mama mas" Ucap Shinta tepok jidat sendiri
"Kabarin aja sekarang yang" Ucap Reyhan memaklumi tentang istri nya yang panik sampai lupa jika bumi masih berputar pada poros nya
📞 : Assalamualaikum sayang, kalian kemana kok gak ada di apartemen seharian?
📞 : "Waalaikumsalam, kita lagi di rumah sakit ma..." Jawab Shinta
📞 : Astagfirullah rumah sakit mana?
📞 : "Rumah sakit WY, bukan Shinta yang-
Tut tut tut... telefon di matikan secara sepihak, Shinta menautkan alis nya bingung, sedangkan Reyhan hanya menahan tawa saja
"Mama kenapa?" Tanya Shinta
"Menurut kamu yang? lihat aja nanti kalau mama kesini" Jawab Reyhan dengan senyum geli nya
Mama nya itu memang, bukan nya menghubungi anak kandung nya sendiri malah menelfon istri nya meskipun untuk menanyakan keadaan anak kandung nya
"Kamu tahu yang? ponsel ku gak ada bahkan jarang dapat telefon dari mama semenjak menikah" Ucap Reyhan tergelak
"Ya kamu kalau di tanya jawab nya ham hem terus sih" Ucap Shinta mengerti sifat suami nya
🌸🌸🌸
Selepas sholat subuh, Shinta di kejutan dengan mama Riana yang tiba tiba sudah berdiri di depan mata dengan memegang kedua pipi nya
"Kamu gak papa kan sayang?" Tanya mama Riana khawatir
Reyhan hanya mampu geleng geleng kepala di sini, siapa yang sakit? siapa yang memakai baju pasien? dan siapa yang di khawatir kan mama nya? hmm...
"Re, kamu gak ngapa ngapain menantu mama kan?" Tanya nya pada Reyhan sang anak semata wayang
Tuhkan!!!
__ADS_1
Bersambung