
Reyhan terbangun dari tidur nya karena suara alarm ponsel yang berdering keras, ia meraba lalu mematikan alarm dan melihat sekarang sudah jam 4 pagi
Pasti Shinta yang memasang alarm ini, terbukti ada satu catatan di ponsel nya yang belum Reyhan baca
~ Assalamualaikum, selamat pagi... buruan bangun, mandi dan sholat subuh, maaf aku harus pergi sebentar, hanya sebentar dan tolong izinin ya... jangan lupa makan, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan ibadah dan kewajiban
Wassalamualaikum
Reyhan tersentak membaca pesan itu yang sudah jelas Shinta berpamitan dengan nya, ia melirik ke samping dan baru sadar kalau dia hanya sendirian, dalam artian istri nya benar benar telah pergi meninggalkan nya
"Apa rasa cinta mu hilang setelah foto itu sayang?" Gumam Reyhan memikirkan dan meratapi nasib nya sekarang
Detik kemudian ia menggeleng dengan cepat "No Rey, ini salah lo sendiri karena gak bisa jaga diri, justri istri lo yang menjadi korban di sini" Gegas Reyhan pergi ke kamar mandi karena ingin membersihkan tubuh nya karena berniat untuk segera mencari di mana keberadaan Shinta
Dugh! belum sampai ke kamar mandi, langkah nya terhenti karena tanpa sengaja menendang satu kotak biru yang terletak di lantai
Reyhan mengambil nya, kamar yang dia pesan tidak di masuki oleh siapapun kecuali Shinta, apa mungkin kotak ini milik istri nya?
Ia membuka nya dengan perlahan, rasa ingin tahu nya cukup tinggi pada barang tersebut
Deg!
Hati nya bergetar, perasaan campur aduk, ingin rasanya bahagia namun sekarang keadaan mereka malah berbeda
Kotak biru itu bersikan alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah atau positif, surat tes kehamilan, satu dot bayi dan secarik kertas yang bertulis kan kata kata dari istri nya
"Ka-kamu hamil sayang?" Gumam Reyhan bertanya tanya, walau sudah jelas namun kalimat terkejut tetap saja keluar dari mulut nya, kotak itu seperti nya terlempar dari tas selempang Shinta saat Reyhan tiba tiba menggendong istri nya tadi malam
"Maafkan aku sayang, maafkan aku" Ucap Reyhan memeluk kotak itu sebentar, ia ingat bagaimana cara nya memaksa berhubungan tadi malam dan itu pasti sangat menyakitkan bagi istri nya, hati nya sendiri saja sangat tercubit dan beberapa kali membodohkan diri nya sendiri
"Bodoh kamu Rey, bodoh" Ucap nya meremas rambut dengan kuat, dia berharap semoga calon anak nya baik baik saja setelah semalam, kalau tidak ia pasti akan menyesal seumur hidup
Reyhan lalu dengan semangat 45 menuju kamar mandi, dia tidak boleh bersedih dan menyerah, dia harus mencari keberadaan istri dan calon bayi mereka
"Mungkin aku memang egois sayang, tapi aku berjanji tidak akan pernah melepas atau membiarkan mu pergi, aku bukan hanya kehilangan kamu namun aku juga akan kehilangan anak kita kalau aku tidak berusaha dari sekarang sayang, maafkan aku"
πΈπΈπΈ
Di situasi lain, Shinta mengerjapkan mata nya, hal terakhir yang dia ingat adalah pingsan di tepi jalan dan entah bagaimana kejadian selanjut nya
Tapi, ruangan kali ini berbeda, bukan hotel maupun jalan raya, tapi ruangan serba putih yang sudah familiar bagi nya
*Oke, aku di rumah sakit kan?* Batin nya sudah tahu akan berujung seperti apa, tapi dia bersyukur setidaknya masih ada orang baik yang mau menolong nya
Sayup sayup Shinta mendengar ada suara laki laki yang juga familiar di telinga nya tengah berbicara dengan seorang dokter di luar ruang rawat inap
Ceklek!
"Kak... udah bangun? ada yang sakit?" Tanya ajudan panik saat masuk dan melihat kakak nya sudah membuka mata
Shinta menggelengkan kepala, sedangkan ajudan yang melihat itu merasa sangat sedih, bahkan hati nya selalu teriris kala melihat kakak nya sakit dan memakai masker oksigen yang menutupi hidung serta mulut nya
"Mas Rafiq yang bawa kamu kesini kak, dia kebetulan lagi pulang patroli dan ketemu kakak tergeletak di pinggir jalan raya" Ucap ajudan menahan sakit, bagaimana bisa kakak nya pingsan di pinggir jalan? setahu nya Shinta tidak akan pernah se ceroboh itu
"Mana dia?" Tanya Shinta pelan
"Udah aku suruh pulang kak, kasihan pagi pagi dan ini waktu nya dia istirahat" Jawab ajudan
*Terimakasih pak Rafiq, kamu orang yang baik, semoga kebahagiaan, perlindungan, dan rezeki selalu Alloh limpahkan untuk mu* Batin Shinta berdo'a
"Kak Rey gak tahu kalau kamu di sini kak?" Tanya ajudan
"Enggak, jangan kasih tahu" Jawab Shinta
"Kenapa?" Tanya ajudan datar
"Hanya takut mengganggu kesibukan nya"
Ajudan mendekat duduk di kursi samping ranjang pasien, dan menatap kakak nya
"Kak... aku tahu aku bukan adik yang baik, tapi aku mohon jika kakak punya masalah, tolong cerita sama aku kak" Ucap nya menggenggam tangan yang dingin itu dan menempelkan pada pipi nya
"Aku gak papa, aku baik baik aja" Ucap Shinta lirih namun adik nya masih bisa mendengar suara itu
"Jawaban itu selalu keluar saat kau ada masalah kak" Ucap ajudan yang memang ada benar nya, sang kakak hanya tersenyum samar karena ajudan tahu bagaimana kebisaan nya
"Kak, aku mau nanya dan tolong jawab jujur ya" Ucap nya sembari mengeratkan genggaman tangan
__ADS_1
"Apa?" Ucap Shinta
"Apa ucapan bunda dua tahun yang lalu, ucapan yang sudah seperti sumpah itu telah menjadi kenyataan sekarang?" Tanya ajudan lembut, dia tidak ingin menyinggung kakak nya
Shinta memejamkan mata dan menggelengkan kepala, pertanyaan ini adalah hal yang paling ia hindari, perkataan bunda nya dua tahun lalu menjadi rasa takut yang selalu ada dalam hati nya
"Apa kak Rey mengulang kesalahan ayah di masa lalu? aku mohon jawab aku kak!" Ucap ajudan dengan air mata yang menganak, dia seperti memiliki firasat hal buruk apa yang terjadi sekarang
"Gak ada apa apa, aku baik baik aja dek" Ucap Shinta tersenyum samar
"Aku tahu kamu bohong kak, tapi aku... aku sangat khawatir tentang mu, khawatir tentang keadaan mu, jadi jawab aku dengan jujur kak!" Ucap ajudan memandangi wajah kakak nya yang sangat pucat kali ini
Shinta diam seribu bahasa, sekeras apapun ia menyangkal namun adik nya itu tetap saja tahu kalau dia sedang mengucapkan kebohongan belaka, percuma jika memberi alasan palsu pada ajudan yang selalu berujung ketahuan lagi dan lagi
"Hiks... aku sudah tahu jawaban nya, kamu gak akan mungkin mengakui semuanya di hadapan ku kak" Ucap ajudan yang mana tangisan nya tidak bisa di bandung lagi, dia kecewa, kenapa kakak nya yang harus mengalami hal ini? terutama pada Reyhan, kenapa kakak ipar nya itu justru menyakiti saudara perempuan kesayangan nya
"Jangan nangis, aku baik baik aja dan coba lihat ini" Ucap Shinta menenangkan adik nya dan berusaha tersenyum selebar mungkin, meskipun raut wajah nya tidak meyakinkan, namun ia tidak ingin bersedih di hadapan sang adik
"Aku keluar sebentar" Ucap ajudan keluar dari ruang rawat untuk menenangkan diri nya
"Maafkan aku" Gumam Shinta menghirup oksigen dari tabung di sebelah nya itu dengan dalam dalam
"Adib... kamu adik macam apa yang tidak bisa ngelindungi kakak mu sama sekali?" Ucap ajudan yang duduk di kursi koridor rumah sakit
Tanpa sadar ia meremas ponsel nya sendiri lalu mencair nomor bunda di sana, dia harus menyadarkan orang tua nya yang sedari dulu selalu tidak percaya dengan apapun yang Shinta katakan
π : "Assalamualaikum" Ucap ajudan kala panggilan terhubung
π : Waalaikumsalam... kenapa Dib? tumben telfon pagi pagi nak
π : "Adib hanya ingin bicara sesuatu dan menyadarkan kalian" Ucap ajudan
π : Maksud kamu apa sih nak? coba ngomong yang jelas biar bunda paham
π : "Kak Shinta itu anak bunda atau bukan? jawab Adib bunda!" Ucap ajudan
π : Kamu ngomong apa sih? jelas dia anak bunda, anak kandung bunda sama seperti kamu
π : "Lantas kenapa bunda tidak pernah menyayangi nya? mengerti keinginan nya? berusaha mempercayai apa yang kakak katakan bunda? apa hal sederhana itu sulit untuk bunda?"
π : Nak... bunda gak tahu apa yang kamu bicarakan, tapi bunda gak pernah pilih kasih ataupun membandingkan kelima anak bunda, semuanya sama
π : "Kalau memang semuanya sama, kenapa bunda menyumpahi kakak? kenapa bunda tidak mempercayai nya? kenapa bunda tidak memberi nya dukungan? kenapa kakak harus berjuang sendiri bunda... kenapa? hiks.. kasihan kak Shinta bunda" Ucap ajudan yang mana akan mengeluarkan semua unek unek nya hari ini
π : "Kejadian dua tahun lalu, aku masih ingat dengan jelas bagaimana di hari itu bunda memberi tamparan hanya karena kakak mengungkap keadaan mental nya" Ucap ajudan, jujur dia sangat sakit hati mengingat hal yang dia lihat dua tahun lalu
Flashback dua tahun lalu
Shinta menyempatkan pulang dari Korea Selatan hanya untuk mengunjungi dan bertemu orang tua nya, hal pertama yang ia cari pasti bunda, orang yang melahirkan nya
"Assalamualaikum..." Ucap Shinta masuk rumah melalui pintu belakang lalu mencium punggung tangan wanita yang menjadi tempat surga bagi nya
"Waalaikumsalam... ya Alloh, kamu pulang kak?" Jawab bunda sekaligus bertanya pada anak gadis satu satu nya
"Alhamdulillah ada waktu untuk pulang, bunda lagi masak? Shinta bantuin nya" Ucap Shinta melirik wajan yang tengah memanaskan minyak
Selesai membantu bunda memasak, mereka bercengkerama sebentar karena sembari menunggu jam makan siang dan ayah pulang dari sekolah tempat mengajar
"Bunda, Shinta ingin ngasih tahu sesuatu, entah bunda percaya atau tidak tapi Shinta selalu memghormati keputusan bunda apapun itu" Ucap Shinta menyerahkan surat hasil pemeriksaan kejiwaan milik nya
Bunda menerima itu dan membaca nya dengan sekilas "Ini terjadi karena masa lalu yang di lalukan oleh ayah kamu?" Tanya bunda datar
"Iya bunda" Jawab Shinta menganggukkan kepala nya
Plakk! bukan pembelaan atau kepercayaan, tapi tamparan dari tangan lembut itu melayang di pipi nya, rasa nya panas, tapi lebih panas lagi hati dan perasaan nya
"Sudah berapa kali bunda katakan? lupakan semua itu, manusia tidak selalu sempurna dan kamu tidak berhak menghakimi seseorang, apalagi dia ayah kamu" Ucap bunda dengan pandangan amarah yang ia keluarkan
"Shinta tahu bunda, menghakimi seseorang memang di larang, tapi ini semua di luar kemampuan ku sendiri, selama ini Shinta berusaha melupakan nya namun justru ingatan itu, trauma itu semakin kuat bunda, tolong percaya, kali ini... aja tolong percaya bunda!" Ucap Shinta memohon dan menahan agar tidak menangis, dia tidak boleh terlihat cengeng sekarang
"Penyakit mental kamu tidak sebanding dengan apa yang di perbuat ayah mu untuk menyakiti bunda, dan satu hal yang perlu kamu tahu kalau hal yang bunda alami, itu juga akan terjadi di masa depan" Ucap bunda lalu pergi begitu saja meninggalkan anak gadis nya yang masih duduk di meja makan
"Seperti nya memang benar, di sini aku terlalu mementingkan diri sendiri sampai tidak sadar bahwa perasaan bunda jauh lebih tersakiti dari pada aku" Ucap Shinta berusaha tersenyum walau tamparan itu masih terlihat dan membekas di pipi nya
Ajudan yang baru pulang dan ingin lewat pintu belakang pun mendengar semua obrolan mereka, hati nya merasa pedih dan sakit, ternyata kakak nya hidup dengan tekanan yang entah kapan terselesaikan
"Kak.. ada aku, jangan nangis dan tetap semangat menjalani semua ini" Ucap ajudan memeluk Shinta dari belakang, akhir nya mereka berdua sama sama menangis, ajudan menangis karena kasihan, sedangkan Shinta menangis untuk meluapkan segala rasa yang ia pendam selama ini
Semenjak kejadian itu lah ajudan menjadi sangat protektif dan melindungi kakak nya dari segala masalah apapun Itu, dia berjanji akan menjadi tameng dan garda terdepan untuk Shinta
__ADS_1
Flashback off
π : Nak... hari itu bunda cuma-
π : "Cuman apa bunda? bunda tahu kalau kata kata adalah do'a, dan do'a ibu akan di ijabah oleh malaikat" Ucap ajudan
π : Bunda mengatakan itu secara spontan, dan tidak pernah bermaksud mendoakan hal buruk pada anak bunda, hiks...
π : "Bunda hanya memikirkan perasaan bunda sendiri, selama ini kakak bekerja hanya untuk mebembanggakan kalian, namun apa balasan yang ia dapat? justru tamparan dan kerja keras nya sama sekali tidak ada artinya di mata kalian" Ucap ajudan menggelengkan kepala
π : Bunda juga sakit hati tentang kejadian masa lalu, bukan hanya kakak kamu aja nak...
π : "Aku tahu, bunda sakit hati namun kakak bisa mengerti perasaan bunda dan apapun keputusan yang bunda ambil tanpa persetujuan kami, itu artinya bunda juga tidak memperdulikan bagaimana perasaan anak bunda" Ucap ajudan mengingat bunda yang tiba tiba rujuk dengan ayah nya tanpa sepengetahuan siapapun
π : Bunda hanya berpikir yang terbaik untuk kalian nak, tidak ada yang lain hiks...
π : "Jika bunda peduli, maka seharus nya bunda percaya dengan kakak, pahami perasaan nya, beri dia dukungan untuk melanjutkan impian nya, tapi apa yang bunda berikan? bunda menghancurkan impian nya, bunda dan ayah menghancurkan kakak ku, hiks... perbuatan kalian justru membuat kakak tertekan dan memutuskan kabur dari rumah waktu itu bunda" Ucap ajudan mengungkap semua nya, biar cepat kelar dan orang tuanya segera sadar
π : Menghancurkan impian? bunda selalu mendukung apapaun impian anak selagi itu baik, orang tua tidak pernah berusaha untuk menghancurkan impian anak nya
π : "Kalian memang tidak berniat menghancurkan, tapi perbuatan ayah menghancurkan nya, ayah melalukan KDRT yang menjadi penyebab kakak takut dengan darah, ia harus mengubur dalam dalam impian nya untuk menjadi seorang dokter di usia enam belas tahun, masih sangat muda bunda" Ucap ajudan, nylekit sekali hati nya berbicara dan mengungkap semua hal buruk yang terjadi di masa lalu
π : Bunda tidak tahu kalau dampak nya akan seperti ini pada anak anak, bunda benar benar tidak tahu sayang... hiks
π : "Andai bunda tahu bagaimana kakak menjalani kehidupan nya selama ini, tanpa dukungan siapapun, belum lagi berbagai macam pengobatan yang dia lakukan untuk menyembuhkan trauma mental yang sangat tidak penting bagi bunda itu, apa bunda tahu apa saja yang di alami kakak? bunda gak tahu kan? kemana aja bunda selama ini? hiks.." Ucap ajudan mengingat berbagai terapi yang Shinta lakukan supaya trauma nya sembuh dan kembali seperti sedia kala
π : Bunda mengaku salah, tapi itu juga bunda lakukan agar ia bisa mandiri nanti nak.. hiks, bunda tahu kesalahan ini sangat besar
π : "Cara bunda itu salah, hiks... bunda selalu mendukung anak bunda yang lain nya, anak laki laki yang ada di sisi bunda, namun kakak? dia seperti anak pungut yang tidak di pedulikan orang tuanya" Ucap ajudan
π : Bunda tahu kamu marah, tapi tolong... dia juga anak bunda, dia anak kandung bunda sayang
π : "Kalau dia memang anak kandung bunda, harus nya kalian memberi dukungan, bukan sikap acuh yang selalu kalian tunjukkan, bayangkan saja bunda... kakak adalah anak perempuan satu satu nya dari lima bersaudara, mengalami kejadian traumatic saat usia nya sembilan tahun, impian nya hancur karena takut dengan darah di usia enam belas tahun, kakak kabur karena ayah yang akan melakukan perjodohan, hidup di Korea sendiri tanpa dukungan, kembali ke rumah untuk mengungkap kesehatan mental nya, tapi apa yang kakak dapat? bunda justru mengucapkan kalau semua yang bunda alami akan terjadi kembali di masa depan, bagaimana kalau ucapan bunda benar benar terwujud sekarang? bunda akan acuh atau menyesal dan mengakui semua kesalahan bunda termasuk ayah? hiks..." Ajudan mengucapkan sederet bagian buruk yang di hadapi kakak nya
π : Jangan, jangan bicara seperti itu, bunda hanya asal bicara dan tidak ingin hal itu terjadi nak... tolong, tolong maafkan bunda
*Asal bicara atau tidak tapi itu terlambat, semua sudah terjadi dan ucapan sumpah bunda pun menjadi kenyataan* Batin ajudan tidak menyangka bagaimana perasaan kakak nya sekarang yang pasti hancur remuk bagaikan di tumbuk dengan berbagai masalah baru
π : "Adib hanya kecewa karena bunda memilih jalan yang salah dan mengakibatkan kakak yang menjadi korban, menyesal tidak ada guna nya, lebih baik bunda renungkan semuanya, ubah sikap acuh itu sebelum kalian membuat kakak ku menjadi semakin gila, wassalamualaikum" Ucap ajudan memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari sana
Ia mengusap wajah nya dengan kasar, menghapus jejak jejak air mata yang sedari tadi lewat tanpa permisi di permukaan wajah ny
Setelah cukup tenang, baru lah ia kembali ke dalam dan menemukan Shinta terbaring di lantai karena jatuh dari ranjang pasien, dia sempat mendengar pembicaraan sang adik barusan, karena tubuh nya masih sangat lemah, dia yang ingin bangun dan mencegah adik nya pun justru terjatuh dari atas ranjang
"Kak... tolong jangan banyak bergerak, setidaknya tolong pikirkan calon anak mu kak" Ucap ajudan mengangkat tubuh kakak nya dan kembali memasang masker oksigen
"Hua... kamu-kamu kenapa bicara kayak gitu sama bunda?" Ucap Shinta melepas paksa masker oksigen nya dan menangis meraung raung di depan sang adik
"Kakak dengar?" Tanya ajudan terkejut
"Ya, kakak dengar semuanya, tolong... kakak gak mau bunda sakit hati dek, apalagi penyebab nya adalah kakak, aku mohon tarik ucapan mu tadi dan minta maaf pada bunda sekarang" Ucap Shinta memohon
"Gak, aku muak dengan semua drama ini kak, lambat laun orang tua kita harus sadar dimana letak kesalahan nya, aku mohon kau juga harus mengerti posisi ku kak" Ucap ajudan menolak
"Aku tahu itu, tapi sekarang aku gagal menjadi kakak karena membiarkan adik nya mendebat orang tua kandung nya sendiri, hiks" Ucap Shinta di sertai tangis yang makin menjadi
"Jangan menggunakan keahlian bicara mu untuk mendebat orang tua yang mengajarimu bicara, cukup do'a kan agar yang di atas segera memberi hidayah" Ucap Shinta dulu saat menenangkan emosi adik nya
"Aku tahu kak, aku tahu kau hanya tidak ingin aku durhakan pada orang tua, tapi apa kamu tau kak? aku gak bisa ngebiarin hal ini terlalu lama, aku gak mau kamu menderita semakin lama, mungkin Alloh memang menyadarkan orang tua kita lewat aku kak, lewat ucapan ku" Ucap ajudan sungguh sungguh
"Kakak takut, aku takut kalau malaikat melaknat kamu karena mendebat orang tua kamu" Ucap Shinta beberapa kali menggelengkan kepala nya
"Insyaalloh gak akan kak, tujuan ku baik, hanya untuk memgembalikan mereka pada jalan yang benar, kakak jangan khawatir" Ucap ajudan berusaha meyakinkan
Ting! Ponsel ajudan berbunyi dan ada satu pesan suara dari Harun di sana, kakak pertama mereka
π©π : Hei pak polisi yang baik hati, tolong sopan dan jaga ucapan mu pada orang tua, dan untuk kamu Shinta... kamu memang adik perempuan ku, tapi kamu berhasil membuat bunda menangis, semua masalah seperti nya muncul dari mu, aku tahu kamu udah kaya dan bisa beli apa aja sekarang, kamu bisa ngasih bunda jatah bulanan, tapi ridho bunda? kamu tidak akan bisa membeli nya dengan uang mu sebanyak apapun itu, surga mu menangis dan itu karena mu, jangan hubungi bunda lagi sebelum kau minta maaf pada nya, ingat itu!
Shinta semakin lemas mendengar pesan suara itu, mungkin benar apa yang kak Harun bilang, semua ini terjadi karena dia, karena ulah nya yang terlalu mementingkan perasan pribadi hingga mengakibatkan bunda nya sakit hati
"Enggak, jangan dengerin kak, aku mohon jangan di dengerin" Ucap ajudan menutup kedua telinga kakak nya
"Hah... mungkin semua ini memang kesalahan kakak, aku terlalu mementingkan perasaan ku sendiri selama ini, iya kan? aku egois juga ternyata" Ucap Shinta memejamkan mata, masalah rumah tangga nya belum selesai dan sekarang muncul lagi Harun yang menyalahkan nya
"Bukan, ini bukan salahmu kak... mereka yang egois karena tidak memikirkan adik perempuan nya, aku mohon jangan dengerin ucapan tadi kak, aku mohon... hiks" Ucap ajudan berusaha meyakinkan berkali kali
"Bantu kakak, pesan kan tiket penerbangan ke Jepang secepat mungkin" Ucap Shinta lirih, bahkan pandangan nya lagi lagi mulai kabur dan ia kembali tidak sadar kan diri karena melepas masker oksigen cukup lama saat ia masih dalam keadaan lemas dan belum pulih
"Kak...
__ADS_1
Bersambung
Sekali lagi saya tegas kan kalau konflik kali ini untuk menyadarkan kesalahan salah satu karakter dan juga untuk membuka kasus pembunuhan yang terjadi satu tahun yang lalu, pemikiran saya dan kalian memang berbeda, tapi selain romansa, di novel ini juga tercantum ada genre misteri, oke kawan? bye bye... sampai ketemu di episode selanjut nya.