Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
79.Cilok


__ADS_3

*semoga aja kang bihun bisa memperbaiki cctv di ruangan itu* batin shinta berharap dengan memejamkan mata nya


kemudian wajah reyhan yang sejenak ia lupakan pun kembali menghampiri pikiran nya, perkataan kemarin siang juga kembali terngiang di telinga nya


jujur saja hati nya juga sakit mengingat hari itu, hari dimana ia dituduh di depan banyak orang, hingga tanpa sadar setitik air mata nya mulai keluar dari kelopak yang indah, ia menangis sejenak untuk meluapkan segala rasa yang ia alami


*kak ze.. aku ingin bertemu denganmu* batin shinta menutup kedua mata nya dengan tangan


*kau tau kak? masalahku begitu banyak, biasanya kau lah yang selalu membantuku, apa boleh aku menyerah saja?* batin nya lagi


*aku memang terlihat kuat diluar sana, namun aku juga manusia.. aku mempunyai sisi rapuh ku kak*


namun tiba tiba suara jannah yang datang dan mengejutkan diri nya


"shin" panggil jannah sambil mengetok pintu kamar shinta


merasa dipanggil, shinta pun buru buru menghapus air mata nya, kemudian berjalan untuk membuka pintu


"kenapa jan?" tanya nya saat sudah membuka pintu


"lo habis nangis?" tanya jannah balik


"enggak kok" elak shinta


"hidung lo merah" ucap jannah menunjuk hidung shinta


"lagi flu" ucap shinta mengelak namun jannah masih tetap menatap curiga pada nya


"kenapa lo manggil gue?" tanya shinta untuk mengalihkan perhatian jannah


"ke taman komplek yuk" ajak jannah


"ngapain?" tanya shinta heran


"jalan jalan sekalian beli camilan di minimarket komplek, sisil juga belum tidur kok" jawab jannah


"oke, gue pake hijab sama jaket dulu" ucap shinta yang kembali masuk kamar dan sekalian mengambil sweeter milik sisil


"udah?" tanya jannah saat melihat shinta sudah siap dengan pakaian nya


"udah" jawab shinta


keduanya turun ke lantai bawah untuk keluar dan mengajak sisil sekalian


"udah habis makannya?" tanya shinta


"udah" jawab sisil menganggukan kepala


"mau ke taman?" tanya shinta sambil membawa baju di lengan nya


"mau tante" jawab sisil girang sambil menganggukan kepala, dia tidak akan menolak karena sisil juga sangat bosan bila di rumah terus menerus


"oke.. kalau mau harus ganti baju dulu" ucap shinta yang diangguki bocah kecil itu


selesai menggantikan baju sisil, mereka bertiga kemudian keluar rumah dan tak lupa mengunci rumah juga gerbang depan

__ADS_1



mereka kemudian berjalan kaki menuju taman komplek karena mereka memang berniat jalan jalan


"dingin gak?" tanya jannah yang berjalan dengan menggandeng tangan sisil


"enggak tante" jawab sisil menggelengkan kepala karena sweeter yang dia pakai cukup menghangatkan tubuh nya


"lo kenapa?" tanya jannah saat melihat shinta yang diam saja sambil berjalan


"gak papa" jawab shinta menggelengkan kepala


mereka tidak menyadari kalau ada yang mengikuti mereka sedari tadi mereka keluar dari rumah dan berjalan sampai taman


mereka duduk di bangku taman yang memang menurut shinta pemandangan taman lebih bagus jika malam hari


"gue tau kalau lo gak akan ngelupain masalah gitu aja, apalagi masalah nya belum selesai" ucap jannah yang hanya di balas helaan nafas oleh shinta


"tapi lo juga harus istirahat, biar pikiran lo lebih fresh, biar masalah ini bisa terselesaikan dengan baik" sambung jannah


"lo dengerin gue gak sih?" tanya jannah kesal saat shinta tidak menyahuti nya sama sekali


"katanya lo nyuruh gue istirahat? lah ini gue lagi istirahat ngomong" jawab shinta enteng


"ck, ya gak gitu juga shin.. au ah gelap" ucap jannah mengerucut bibir nya


"iya jan, gue paham, gue juga istirahat kok, cuman perasaan gue gak tenang kalau masalah ini belum selesai" ucap shinta


"semua butuh waktu shin" ucap jannah yang diangguki shinta


"tante.. ada cilok" ucap sisil sambil menunjuk tukang cilok keliling yang berada di taman


"mau... " jawab sisil


"beli aja gih sama sisil jan, gue nunggu disini" ucap shinta yang diangguki jannah


"yuk, beli cilok" ajak jannah yang diangguki bocah kecil itu


"lo mau?" tanya jannah


"ya mau lah..yang pedes ya" jawab shinta yang di balas anggukan oleh jannah


jannah yang menggendong sisil langsung berjalan ke arah tukang cilok dan membeli nya


*indah* batin shinta saat menatap bulan yang terlihat jelas


"nih shin" ucap jannah yang datang dan menyerahkan cilok bungkusan plastik di tangan nya


"makasih.. " ucap shinta menerima cilok itu


"sisil udah beli?" tanya shinta


"udah tante, nihh" jawab sisil sambil menunjukkan cilok putih tanpa bumbu yang juga berada di dalam plastik beserta tusuk nya


"dihabisin ya..." ucap shinta sambil membantu sisil untuk duduk

__ADS_1


mereka memang tidak fanatik tempat untuk membeli makanan, juga tidak perlu mewah, yang penting penjual nya menggunakan prinsip kebersihan itu cukup bagi mereka


"enak gak?" tanya jannah yang duduk di samping sisil


"belum juga dimakan jan, ini lo kasih sambal berapa?" tanya shinta


"banyak, lo suka makan pedes kalau ada masalah kan?" tanya jannah


"i- iya sih, tumben lo ngijinin gue makan pedes?" tanya shinta


"kali ini pengecualian" jawab jannah yang hanya di balas celengan kepala dari shinta


shinta kemudian menusuk salah satu cilok itu dengan tusukan nya dan mengarahkan ke mulut nya, namun belum juta cilok itu masuk..


"shin"


"aaaa.. " ucap shinta spontan kaget saat mendengar seseorang memanggilnya dari belakang


"aaa.. cilok ku.. " ucap shinta saat melihat cilok yang seharusnya mendarat di lambungnya, tapi sekarang jatuh berserakan di tanah


"maaf" ucap orang itu


"pak rey" ucap jannah saat melihat siapa orang yang memanggil shinta tadi


"om ganteng" sapa sisil saat melihat reyhan juga


"hai sil..." sapa reyhan balik


"hiks, cilok.." ucap shinta karena sebenarnya dia juga sudah ngiler karena melihat cilok tadi


"maaf" ucap reyhan pada shinta


"ngapain kamu kesini?" tanya shinta


"sil.. boleh pinjam tante kamu sebentar?" tanya reyhan pada bocah berusia lima tahun itu


"boleh.."


"enggak"


jawab sisil juga shinta kompak, sedangkan jannah masih menjadi penonton disini


"kenapa enggak tante? karena cilok tante jatuh? tante boleh kok minta punya sisil nih.. " tanya sisil sekaligus memberikan cilok nya


"eh.. enggak kok, maksudnya tante tuh gak mau bicara disini" ucap shinta berbohong


"yaudah ayo kesana" ucap reyhan menunjuk bangku yang tidak jauh dari tempat duduk shinta sekarang


shinta yang mendengar hal itu langsung melayangkan tatapan tajam nya pada reyhan, pertanda 'aku tidak mau'


"ayo..kita bicara sebentar" ajak reyhan yang kekeh dengan ucapan nya


shinta kemudian melirik ke arah jannah yang di balas anggukan oleh sahabat nya itu, karena jannah juga merasa ada hal yang harus mereka berdua bicarakan


huft..

__ADS_1


"iya.. " ucap shinta malas kemudian mengikuti langkah kaki reyhan dari belakang


bersambung


__ADS_2