Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
142.Heran


__ADS_3

Shinta yang sedang terganggu pikiran nya pun berusaha memfokus kan diri pada pekerjaan yang harus ia selesai kan hari ini juga


"Shin..." Panggil Sela membuat sang empu menoleh pada nya


"Ya? kenapa Sel?" Jawab Shinta


"Fokus dulu ya, jangan mikirin lain lain" Ucap Sela karena sedari tadi dia melihat sikap Shinta yang seperti nya sedang gusar


"Oh... iya" Ucap Shinta meng iyakan kemudian kembali menatap kertas yang ada di depan nya, menarik nafas dalam dalam, dan memfokus kan perhatian nya pada daftar daftar obat itu, untung saja Jannah masih berada di ruang penyimpanan obat obatan, kalau dia di sini pasti akan bertanya macam macam hal pada Shinta


Waktu terus bergulir seperti kenangan yang selalu terlampaui "Shin..." Panggil Jannah menepuk pundak sahabat nya


"Eh... kenapa?" Jawab Shinta


"Makan siang yuk! jangan telat lagi, nanti mag lo kambuh" Ajak Jannah, bahkan Shinta tidak menyadari jika sudah masuk jam makan siang karena pikiran nya yang sedang terbelah menjadi dua


"Oke, pesen pasta aja ya... lagi pengen" Ucap Shinta mengelus perut nya


"Iya, online aja makan nya di taman atas" Ucap Jannah dan Shinta mengangguk sebagai jawaban nya


"Kita duluan ya dit... " Pamit Jannah karena hanya Adit yang tersisa di ruangan mereka


"Iya.." Jawab Adit ramah


Setelah mengambil pesanan makanan di parkiran, keduanya langsung naik ke taman rooftop yang selalu menjadi favorit bagi Shinta


"Gimana?" Tanya Jannah saat kedua nya sudah duduk berhadapan


"Apanya?" Tanya Shinta balik sembari memegang garpu dan membuka box makanan mereka


"Ya tempat tinggal baru kalian" Ucap Jannah


"Bagi gue nyaman" Jawab Shinta sejujur nya


"Nanti pulang nya nunggu pak Rey atau ke rumah lo bareng gue?" Tanya Jannah


"Nunggu mas Rey aja, kita mau lihat lihat tanah soal nya" Ucap Shinta yang sudah menggambar desain rumah impian nya juga Reyhan, rumah empat lantai dengan model modern dan banyak ruangan yang akan di gunakan untuk berbagai fasilitas


"Ooh... semoga lancar pembangunan nya dan gak ada kendala" Ucap Jannah tersenyum, dia selalu ikut bahagia jika sahabat nya juga sedang dalam keadaan bahagia


"Aminn, udah makan yuk!" Ajak Shinta yang di angguki Jannah


Seperti biasa kalau mereka akan makan dengan hikmat tanpa adanya pembicaraan, namun Jannah tahu jika ada yang aneh dengan sahabat nya, terbukti melalui ponsel Shinta yang berdering keras di atas meja, tapi sang pemilik justru menatap kosong makanan nya dan mulut yang mengunyah pasta itu secara lambat


"Akh... " Ucap Shinta meringis kala Jannah mencubit hidung nya hingga merah


"Sakit loh... " Gerutu Shinta setelah Jannah melepaskan cubitan nya


"Handphone lo dari tadi bunyi, gue udah panggil nama lo berkali kali, malah bengong terus gak sadar sadar" Ucap Jannah menggelengkan kepala


"Ya maaf, gak denger" Ucap Shinta lalu mengambil ponsel nya dan tertera nama sang suami yang menelfon nya


πŸ“ž : Assalamualaikum, kamu gak papa kan sayang? lagi ngapain kok lama banget nerima telfon nya?


Shinta terkekeh mendengar suara Reyhan yang sudah seperti orang panik di sana


πŸ“ž : "Waalaikumsalam... gak papa kok mas, cuman lagi makan siang aja" Jawab Shinta


πŸ“ž : Kirain, lagi makan apa?


πŸ“ž : "Pasta, lagi pengen soal nya, kamu udah makan kan mas?" Tanya Shinta balik


πŸ“ž : Belum, nelfon kamu dulu, masti in udah makan apa belum, telat atau enggak


πŸ“ž : "Yaudah, mas makan dulu aja nanti sambung lagi telfon nya, kasian perut kamu udah demo pasti" Ucap Shinta tergelak


πŸ“ž : Batin aku yang demo karena pengen cepet cepet pulang trus jemput bidadari


πŸ“ž : "Bidadari turun dari genteng" Ucap Shinta


πŸ“ž : Beneran bidadari sayang, yaudah aku makan siang dulu.. assalamualaikum, i love you


πŸ“ž : "Waalaikumsalam..." Ucap Shinta tidak membalas ucapan i love you itu karena malu jika terdengar Jannah


πŸ“ž : Kok cuman salam? i love you nya mana sayang?


πŸ“ž : "Iya iya, i love you too" Ucap Shinta cepat dan Jannah yang mendengar hal itu langsung tersedak makanan nya


πŸ“ž : Kecepetan, yang santai dong


πŸ“ž : "I love you too, suamiku..." Ucap Shinta dengan nada manis nya kemudian mematikan panggilan telfon secara sepihak dan meninggalkan Reyhan yang sedang tersenyum sendiri di sana


"Hahaha, Shinta yang garang jadi bucin sama suami nya" Ucap Jannah disertai tawa nya


"Lo juga nanti bakal ngalamin kok, nikmat nya hubungan halal itu gimana" Ucap Shinta


"Emang rasanya gimana?" Tanya Jannah penasaran

__ADS_1


"Rasa nya hangat, nyaman, lega karena gak ada dosa lagi kalau kita berdekatan, jangankan berdekatan, bersentuhan aja halal dan pahala balasan nya" Jawab Shinta tersenyum


"Tapi gue rasa rumah tangga bukan cuman bahagia nya aja, kita nanti akan di uji dengan masalah dan bagaimana cara kita bekerja sama untuk menyikapi nya" Ucap Jannah


"Iya itu juga termasuk, harus menekan ego, menahan emosi kalau ada selisih di antara pasangan" Ucap Shinta membenarkan


"Lo jago beladiri, apa itu akan lo gunakan juga dalam rumah tangga kalau ada misk?" Tanya Jannah


"Meskipun gue masih belum bisa sepenuh nya, tapi gue akan usaha untuk meredam emosi gue, apalagi kekerasan itu hal yang paling gue benci dan hindari dalam rumah tangga" Jawab Shinta


"Termasuk lisan juga?" Tanya Jannah lagi


"Iya, itu wajib banget malah, kalau kekerasan fisik mungkin hanya badan yang terluka, tapi kalau lisan? kata kata yang kasar itu benar benar bisa mematahkan hati seseorang yang rasa nya jauh lebih sakit di bandingkan pukulan, apalagi kalau ucapan jelek dalam keadaan emosi itu di ijabah, pasti ending nya akan di selimuti dengan rasa penyesalan yang mendalam" Jawab Shinta


"Ya bener sih, menyembuhkan luka hati itu jauh lebih susah dari pada menyembuhkan luka kekerasan fisik" Ucap Jannah membenarkan


"Trus lo udah siap di halalin belum?" Kini gantian Shinta yang bertanya


"Di bilang siap sih siap karena gue gak mau jadi wanita yang di gantung tanpa kepastian, semakin lama kita menuju halal maka semakin besar juga peluang dosa yang kita dapat" Jawab Jannah


"Good, gue do'a in semoga niat baik kalian segera terlaksana" Ucap Shinta


"Aminn"


Jam setengah lima sore Shinta baru saja keluar dari rumah sakit dan melihat mobil hitam milik suami nya yang sudah terparkir rapi di parkiran


"Gue duluan jan, assalamualaikum" Pamit Shinta pada sahabat yang berjalan di samping nya


"Waalaikumsalam..." Jawab Jannah menuju mobil nya sendiri


tuk tuk tuk... ia mengetuk jendela kaca mobil agar Reyhan membuka kunci nya dari dalam kemudian membuka pintu dan duduk di kursi depan


"Assalamualaikum, udah lama mas?" Tanya Shinta sambil mengecup punggung tangan suami nya yang selalu mendapat balasan berupa kecupan di dahi


"Waalaikumsalam, baru aja sampai sayang" Jawab Reyhan berbohong karena sebenarnya dia sudah sampai setengah jam yang lalu


"Aku juga baru keluar, tadi sholat ashar sekalian di musholla rumah sakit" Ucap Shinta memberi penjelasan


"Oh... ini langsung ke lokasi tanah atau mau beli sesuatu?" Tanya Reyhan


"Ke lokasi aja, lagi gak butuh apa apa kan kemarin udah beli keperluan juga" Jawab Shinta yang di angguki Reyhan


Dalam perjalanan, ia menoleh ke sang suami yang sedang fokus menyetir, pikikiran nya kembali mengingat pembicaraan dengan Bian tadi pagi, kenyataan bahwa Reyhan adalah ketua tim white blood yang selama ini berada di bawah naungan nya


*Gimana bisa kamu yang begitu lembut sama aku, tapi jadi ketua tim white blood yang semua orang nya galak galak?* Batin Shinta bertanya tanya, ia seakan lupa kalau suami nya itu benar benar garang dengan semua orang kecuali pada istri dan keluarga nya


Ia tak henti henti nya menatap dalam dalam wajah tampan itu dan sesekali mengelus lengan sang suami dengan jari lentik nya


"Kenapa sayang? aku ganteng ya?" Ucap Reyhan pede, dia sadar kalau istri nya sedari tadi selalu menatap nya tanpa henti


"Iya, kamu kok ganteng sih?" Ucap Shinta membenarkan


"Emang kenapa kalau aku tampan?" Tanya Reyhan tetap pandangan fokus ke jalan raya


"Ya... gak papa, satu yang perlu kamu tahu kalau aku cinta banget sama kamu" Jawab Shinta menunjukkan senyum manis yang menentramkan hati bagi suami nya


"Aku juga cinta banget sama kamu, istri ku Azefa Calisya" Ucap Reyhan pertama kali menyebut cinta dengan menyematkan nama kecil istri nya


Shinta memeluk lengan itu dan menenggelamkan wajah nya di sana


🌸🌸🌸


Waktu selalu bergulir seperti lari, mengubah kejadian sehari hari, tanpa meninggalkan perasaan yang kian menjadi jadi, hingga tetap bertahan dengan cinta mu sampai kini


1 month


"Mas... bangun ya, udah subuh" Ucap Shinta selalu memberikan kecupan di dahi Reyhan selama satu bulan menikah, ya... satu bulan sudah mereka menjalani kehidupan bahtera rumah tangga


"Emmm.. iya" Ucap Reyhan menggeliatkan badan nya, tubuh nya lumayan lelah setelah memberi nafkah batin kemarin malam, eh... dini hari sih, bukan malam


Selepas mandi dan sholat subuh, Shinta keluar kamar untuk membuat sarapan, meskipun sekarang hari minggu juga dia tidak mau bermalas malasan


"Harum" Ucap Shinta tersenyum saat mencium makanan yang sudah tertata rapi di meja makan


Reyhan keluar dengan menenteng jas juga dasi nya yang membuat Shinta menampakkan raut wajah bingung


"Sekarang hari minggu loh... kamu masih kerja mas?" Tanya Shinta heran


"Maaf ya... tapi hari ini ada klien yang datang, kamu boleh kok keluar hangout sama temen kamu" Jawab Reyhan duduk di meja makan dan siap mengisi lambung nya


"Beneran?" Tanya Shinta memastikan sembari mengambilkan makanan untuk suami nya


"Iya" Jawab Reyhan mengijinkan


"Pulang jam berapa?" Tanya Shinta lagi, dia malas saja kalau di rumah sendirian


"Bisa malam hari, tapi belum tentu juga" Jawab Reyhan membuat Shinta menganggukkan kepala nya dan memulai sarapan mereka

__ADS_1


Setelah mengantar Reyhan sampai pintu apartemen, Shinta kembali masuk ke rumah dan duduk santai di sofa, ia merasa heran dengan sifat Reyhan yang agak berubah, bahkan hari ini dia tidak mendengar kata sayang dari mulut itu, memang hal sepele sih... tapi kan hal itu selalu Reyhan ucapkan setiap hari tanpa terlewatkan


*Ah... udahlah Shinta, mungkin memang mas Rey lagi pusing masalah kerjaan* Batin Shinta enggan membesarkan hal yang sepele dan membuka ponsel karena ada pesan masuk dari Laila


Lala Bawel❀


πŸ“© : Assalamualaikum calon bumil cantik... hari ini lo ada waktu gak? Jannah ngajak kita bertiga kumpul di rumah lama lo


πŸ“© : "Waalaikumsalam... ada, tumben gak chat di grup aja?" Balas Shinta, by the way Laila memang memanggil nya calon bumil dari minggu lalu


πŸ“© : Gak tau, katanya dadakan, ini gue bentar lagi nyampek rumah lo


πŸ“© : "Yaudah gue otw sekarang" Balas Shinta kemudian meletakkan ponsel nya dan mengganti pakaian


Lagian suami nya juga mengizinkan dia pergi kan? yang penting udah pamit, setelah siap ia langsung turun ke bawah menggunakan lift dan mengambil mobil milik nya yang terparkir di parkiran apartemen


30 menit menyetir, Shinta akhirnya sampai di rumah yang sudah ia tinggalkan satu bulan yang lalu, dia juga melihat kalau gerbang sudah terbuka yang artinya ada tamu di rumah


"Ini mobil nya si Lala" Ucap Shinta kala memarkirkan mobil di halaman dan berdampingan dengam milik Laila


"Assalamualaikum..." Ucap Shinta ketika ia melangkahkan kaki nya dan memasuki rumah


"Waalaikumsalam..."


"Huaa... calon bumil gue kangen sama lo" Ucap Laila menghambur memeluk sahabat nya


"Nah nah kan, kalian ini kayak gak ketemu satu tahun aja" Ucap Jannah geleng geleng kepala


"Iya gue juga kangen, tapi tumben kalian ngajakin ketemu di rumah? biasanya kan di tempat makan atau cafe" Ucap Shinta heran sembari melepaskan pelukan Laila


"Gak tau noh katanya mau ngomong sesuatu" Sahut Laila


"Hmm? ngomong apa?" Tanya Shinta


"Kalian duduk aja atau guling guling dulu, gue mau ngambil sesuatu" Ucap Jannah lalu berjalan menuju kamar nya


"Ada apa sih?" Tanya Laila kepo


"Mana gue tahu" Jawab Shinta mengedikkan bahu dan duduk di ruang keluarga bersama Laila yang menempel di sebelah nya


"Perut lo udah ada dedek nya belum ya?" Tanya Laila dengan menyentuh perut rata itu


"Neng bawel... baru satu bulan neng, emang bisa satu bulan langsung jadi?" Jawab Shinta dengan tangan yang menjulur dan mengambil camilan di atas meja


"Gue gak sabar pengen punya calon suami" Ucap Laila


"Emang anak gue mau sama lo?" Tanya Shinta terkekeh


"Ya semoga aja mau, kan lumayan gue dapet berondong" Ucap Laila nyeleneh


"Guys... yuhu..... gue ada satu pengumuman buat kalian" Ucap Jannah yang baru keluar dari kamar dan meletakkan tangan nya di belakang tubuh mungil itu


"Pengumuman apaan?" Tanya Laila, sedangkan Shinta hanya menunggu apa yang akan di sampaikan sahabat nya


"Tara.... " Ucap Jannah menunjukkan tangan kiri yang terdapat cincin melingkar cantik di jari manis itu


"Lo mau nikah?" Tanya Shinta dan Laila kompak dengan ekspresi yang sama sama terkejut


"He'em" Jawab Jannah tersenyum dan menganggukkan kepala


"Kapan lamaran nya? kok gue gak tau sih?" Tanya Laila


"Iya, gue juga gak tau, kok gak ngabari kita sih?" Tanya Shinta


"Maaf, dadakan guys..." Jawab Jannah dengan cengiran khas nya


"Jelaskan secara detail kapan lamaran nya!" Ucap Laila mendesak


"Iya, kapan dan gimana proses nya?" Tanya Shinta


"Singkat nya sih... minggu lalu kan gue pulang ke kota J karena nenek gue lagi sakit, eh... tiba tiba Rendra sama orang tua nya nyusul ke kota J sampai dia nyari di rumah sakit mana nenek gue di rawat, dan akhirnya ini... gue di lamar di depan nenek gue" Ucap Jannah tersenyum ketika mengingat kejadian minggu lalu


"Lamaran di rumah sakit?" Tanya Laila dan Jannah mengangguk sebagai jawaban nya


"Selamat ya... akhirnya dapat kepastian juga" Ucap Shinta ikut bahagia dengan apa yang Jannah alami


"Iya, selamat dan semoga lancar sampai hari H" Ucap Laila ikut memberi selamat


"Makasih... kita nongki nongki di samping kolam aja yuk!" Ajak Jannah dan akhirnya mereka bertiga mengobrolkan hal unfaedah dari timur ke barat, selatan ke utara untuk melepas rindu setelah lumayan lama tidak bertemu


Jam 1 siang Shinta baru pulang ke apartemen, berbeda dengan Laila yang akan menginap di rumah lama nya


Saat baru masuk, ia melewati dapur dan mata nya melirik ada satu kotak putih di meja makan, rasa penasaran seketika menghampiri dan memutuskan balik badan karena berniat membuka kotak itu


"Apa ini...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2