
"Kamu jadian sama Sela?" Tanya Shinta melirik arloji yang adik nya pakai dan itu sama dengan milik Sela
"Enggak" Jawab ajudan sembari masuk mobil duluan
Shinta mengikuti dan duduk di samping adik nya yang tengah memegang kemudi dan mengeluarkan mobil dari parkiran rumah sakit
"Masa sih? kenapa jam yang kamu pakai mirip bahkan sama persis kayak punya Sela" Ucap Shinta tidak percaya
"Kan jam tangan kayak gini banyak loh kak di toko, gak mungkin aku sama Sela aja yang punya" Ucap ajudan mengelak tapi raut wajah nya menggambarkan kalau dia sedang bahagia
"Trus senyum senyum itu ngapain?" Tanya Shinta heran
"Ya... seneng aja loh kak, udah lama kita gak latihan dan sekarang kita mau latihan lagi" Jawab ajudan membuat kening sang kaka berkerut, hanya karena latihan masa dia sebahagia ini
"Aneh" Ucap Shinta menggelengkan kepala lalu melirik ke luar jendela, keduanya sama sama menyembunyikan kebahagiaan yang tengah di rasakan dalam sanubari
Beberapa menit perjalanan, mereka sampai di rumah lama Shinta yang mana ajudan memang tinggal disitu semenjak Jannah menikah, karena rumah dinas nya juga akan di berikan pada anggota polisi muda lain nya yang belum memiliki tempat tinggal
Sayang aja kalau ruamah itu di biarkan kosong dan lagian masih banyak polisi yang lebih membutuhkan rumah dinas dari pada ajudan
"Assalamualaikum pak... " Ucap Shinta pada pak Didi saat membuka kan gerbang
"Waalaikumsalam non, udah lama rasanya gak lihat non pulang" Ucap pak Didi seraya tersenyum
"Baru beberapa bulan pak, oh iya... bibi di mana pak?" Tanya Shinta saat keduanya sudah turun dari mobil
"Ada di belakang non, lagi masak buat makan malam kata nya" Jawab pak Didi
"Oh... yaudah kalau gitu saya masuk dulu pak" Ucap Shinta menundukkan kepala nya sebentar, menepuk pundak adik nya dan masuk ke dalam
"Ah... non, raut muka nya bahagia banget" Ucap pak Didi tersenyum, sikap Shinta memang agak berubah yang mana dulu saat awal pak Didi bekerja, sikap non nya lumayan dingin dan pendiam, tapi sekarang mulai membuka diri meskipun hanya dengan orang orang terdekat saja
"Iya pak, kalau gitu saya juga mau masuk sebentar karena habis ini mau keluar lagi" Ucap ajudan menyusul ke dalam
"Oh... iya den"
Begitulah Shinta, berbaur bukan lah hal yang mudah untuk nya, perlu sedikit waktu lagi untuk membiasakan diri
"Assalamualaikum... bibi" Ucap Shinta mengejutkan bi Asti dari belakang
"Ya Alloh, waalaikumsalam non" Ucap bi Asti menoleh ke belakang, meski sempat terkejut sebentar tapi ia senang kedatangan sang nona di rumah, saking senang nya ia tidak sadar kalau refleks sudah memeluk Shinta
"Eh... maaf non" Ucap bi Asti melepaskan pelukan nya, ini bahkan pertama kali ia memeluk nona nya
"Gak papa kok bi" Ucap Shinta mengelus bahu wanita yang lebih tua dari nya itu
"Tumben pulang non? ada yang penting ya?" Tanya bi Asti
"Sebenarnya mau ngambil barang yang ketinggalan di sini bi, habis ini mau keluar lagi" Jawab Shinta memang benar ada nya, dia kesitu hanya untuk mengambil pistol dan beberapa surat penting saja
"Tuh kan... gak mau makan dulu non? bibi teh udah masak tadi" Ucap bi Asti menawarkan
"Boleh tapi nanti malam aja kayak nya bi, sekalian makan sana adek" Jawab Shinta menyebutkan ajudan
"Oh... yaudah kalau gitu bibi tunggu sampai pulang ya non" Ucap bi Asti
"Loh... kan jam kerja bibi sampai sore, kasihan kalau anak bibi sendiri an di rumah" Ucap Shinta
"Anak bibi lagi ada acara sekolah non, pulang nya besok pagi, makanya bibi nginap disini malam ini" Ucap bi Asti menjelaskan
"Oh... sama pak Didi juga kan bi?" Tanya Shinta
"Iya non, bapak itu kalau di tinggal di rumah sendirian teh suka ngerengek" Ucap bi Asti terkekeh
"Nama nya juga suami bi" Ucap Shinta tersenyum, Reyhan pun juga sudah sering merengek manja pada nya, bukan nya risih tapi Shinta hanya merasa lucu saja ketika sang suami menjadi seorang kucing di hadapan nya
"Kak... berangkat sekarang aja ya, keburu sore" Ucap ajudan baru turun dari tangga, yang mana tadi ia menggunakan seragam coklat dan sekarang ganti memakai pakaian serba hitam
"Kamu kok pakai serba hitam gitu? kayak mau ngelayat aja" Ucap Shinta menggelengkan kepala
"Ya... kan ini emang outfit aku setiap kita mau pergi kesana, udah deh kak jangan bawel, aku udah bawa nih" Ucap ajudan menenteng kotak hitam kado pemberian nya untuk ulang tahun Shinta kemarin
Yaps... kotak hitam berisi pistol, di rumah tidak ada yang tahu jika ada barang berbahaya seperti itu kecuali ajudan, karena dia juga yang ikut mengurus segala surat izin kepemilikan senjata api bersama Laila
__ADS_1
"Iya... yaudah ayo berangkat" Ajak Shinta, mereka langsung berangkat setelah berpamitan dengan bi Asti dan juga pak Didi
"Udah ada Lala di sana?" Tanya Shinta di sela sela perjalanan mereka
"Ada, barusan dia kabarin aku kak" Jawab ajudan sembari fokus menatap jalanan yang ia lewati
"Yaudah aku ngantuk, mau tidur dulu nanti bangunin aja kalau udah sampai" Ucap Shinta menyandarkan badan nya dan mencari posisi wenak untuk tidur di dalam mobil
"iya" Ucap ajudan mengambil jaket hitam di belakang dengan satu tangan, lalu menyelimuti tubuh bagian depan kakak nya agar tidak kedinginan
🌸🌸🌸
Lumayan lama setelah berkendara, mereka akhirnya sampai di tempat yang lebih mirip di sebut sebagai hutan
Bukan hutan sih, tapi lebih tepat nya tempat untuk latihan tembak menembak yang lokasi nya memang jauh dari rumah
"Kak... bangun, kak Laila udah nunggu di dalam" Ucap Ajudan setelah menghentikan mobil di tempat nya dan menepuk pelan pipi kakak nya agar segera bangun
"Em... iya iya, aku bangun nih" Ucap Shinta yang cukup mudah di bangunkan, dalam sekejap saja ia sudah menyadarkan diri dan membuka mata lebar lebar
Cetek cetek! , ajudan membuka kotak hitam itu dan memberikan pistol yang berinisial kan nama khusus pada sang kakak
"Aaa... kangen banget aku sama kamu" Ucap Shinta memandangi senjata api itu
"Jangan lupa pakai masker sama jaket hitam nya" Ucap ajudan mengingatkan, Shinta hanya mengangguk saja
Mereka memang akan latihan dan mengasah ilmu tembak menembak yang sudah lumayan lama tidak Shinta gunakan, tentu nya latihan kali ini sudah mendapat izin dari Reyhan walau agak belibet karena janji harus ini dan itu
Selama latihan Shinta memang tidak pernah mengungkap wajah nya, atau dia selalu memggunakan masker dan jaket hitam untuk menutup identitas nya
"Kakak yakin mau latihan hari ini? kok kak Rey ngijinin ya?" Tanya ajudan mengingat betapa posesif nya sang kakak ipar
"Awal nya gak ngijinin dan kalau mau latihan harus sama suami aja, tapi aku bilang kalau latihan nya sama ajudan, kamu tahu lah kalau mas Rey percaya kamu bisa jaga in kakak nya" Jawab Shinta menceritakan hal yang sebenar nya
"Lah... aku di pakai sebagai alibi" Ucap ajudan geleng geleng kepala
"Emang kenyataan nya latihan sama kamu, udah ah ayok kasihan Lala pasti nunggu lama" Ucap Shinta turun dari mobil setelah mengenakan apa saja ucapan adik nya tadi
Baru masuk dan menyapa beberapa penjaga saja, sudah ada beberapa suara tembakan yang sudah familiar di telinga Shinta
"Pasti kak Laila nih yang latihan" Ucap ajudan menebak, dan benar saja... saat mereka masuk area latihan yang mirip seperti lapangan di tengah kebun yang mana di pinggir ada beberapa bangku meja, dan ada Laila berdiri di sana dengan pandangan fokus pada bidikan nya
"Wih... anak cantik, manis udah latihan aja" Ucap Shinta bertepuk tangan, ia tahu kala sahabat nya itu sedang kesal karena dia yang datang terlambat
"Bodo ah, lo lama banget" Ucap Laila dengan padangan tetap pada bidikan nya dan memegang yakin senjata api milik nya
"Ya maaf loh kak, emang lokasi ini kan jauh dari rumah" Ucap ajudan, dia tidak akan menembak disini karena pistol milik nya itu dari pihak kepolisian, tidak bisa di gunakan sembarangan ataupun latihan secara pribadi
"Makanya belajar tepat waktu" Ucap Laila mengusap keingat di kening nya, lalu duduk di bangku sebelah Shinta
"Lain kali gak telat deh" Ucap ajudan, ia menatap sekeliling tempat itu yang ternyata sudah banyak benda yang di pasangkan atau yang akan menjadi target bidikan
"Gue kayak nya udah capek latihan, sekarang giliran lo Shin" Ucap Laila meletakkan pistol milik nya
Keduanya memiliki hobi yang sama, yaitu suka action, tertarik dengan bela diri dan sama sama mempunyai senjata api
Shinta berdiri, merenggangkan leher ke kanan dan kiri, lalu mejulurkan tangan nya sebagai tanda bahwa ia meminta peluru yang selalu di bawa ajudan
"Nih... coba tembak besi yang nempel di pohon itu, tanpa meleset sedikit pun" Ucap ajudan setelah memberikan peluru nya, ia memang hanya membimbing saja dan kakak nya yang akan melakukan atraksi
"Oke, saat nya latihan Shinta" Gumam nya memegang erat pistol itu, mengarahkan ke tujuan dengan padangan yang tentu saja harus fokus
"Meleset satu kali denda seratus ribu" Ancaman ajudan yang selalu keluar ketika kakak nya sedang latihan
"Ayo Shin, kalau meleset malu malu in banget" Ucap Laila menyaksikan kegiatan sahabat nya
Dor! dor! dor!
Shinta berhasil menembak tiga besi yang berada di tiga pohon berbeda dalam waktu cepat, ia kemudian melirik ke kanan dan melihat sang adik tengah menatap nya heran
"Yeay... " Sorak Laila
"Ada tantangan lagi?" Tanya Shinta, meskipun cukup lama ia tidak menggunakan bahkan memegang pistol itu, tapi kemampuan nya tidak akan hilang begitu saja
__ADS_1
"Coba tembak karung itu" Ucap ajudan menunjuk karung yang bergelantungan di atas pohon
Shinta menurut dan Dor!, tembakan nya benar benar tepat di karung, bahkan tidak meleset sedikit pun
"Sekarang ganti aku yang nentu in target" Ucap Shinta mengambil satu buah apel palsu atau buah hiasan yang berada di dekat bangku Laila, dan meletakkan itu di atas telapak tangan adik nya
"Maksudnya apa sih kak?" Tanya ajudan bingung
"Berdiri di sana, diam dan jangan bergerak" Jawab Shinta menunjuk jarak yang lumayan jauh dengan nya
"Hah?! aku jadi target gitu?" Tanya ajudan terkejut
"Yes" Jawab Shinta menganggukkan kepala
"Hahaha... kasihan jadi target tembakan nya Shinta" Ucap Laila tertawa sembari menikmati minuman nya
"Ah... jangan bercanda loh kak, gak mau aku" Ucap ajudan
"Siapa yang bercanda? enak aja! ini kan lumayan buat hukuman karena gak mau jujur soal Sela" Ucap Shinta
"Yaudah deh, aku bakal jawab ju-"
"No no no, sekarang udah terlambat dan silahkan berdiri di sana pak polisi" Potong Shinta menolak
"Tapi kak... "
"Gak ada tapi tapi an, atau kamu mau apel ini ganti posisi di atas kepala kamu?" Ucap Shinta
"Oh... enggak lah kakak yang baik, iya iya aku kesana" Ucap ajudan terpaksa dan menjauh dari kakak nya
"Terus... mundur terus" Ucap Shinta menuntun adik nya
"Udah sampai sini aja, nanti jauh jauh tembakan mu melesat kena kepala ku nanti" Ucap ajudan
"Oh... yaudah mundur teros!" Ucap Shinta malah semakin menjauhkan posisi adik nya dan bersiap untuk melepas peluru nya
"Udah kak... awas jangan meleset, nanti arwah ku gentayangan lah minta nikah" Ucap ajudan ketir ketir, meskipun ia tahu kalau seperti nya sang kakak tidak akan meleset, tapi yang nama nya takdir siapa tang tahu kan?
"Iya ih bawel" Ucap Shinta mulai mengarahkan pistol itu pada tangan kanan adik nya
"Kak, awas loh" Peringat ajudan sembari memejamkan mata, meskipun sudah pernah tertembak juga dia tidak ingin mengulangi hal yang sama
"Diam!" Ucap Shinta berusaha menfokuskan pandangan nya pada apel palsu itu
3...2...1 Dor!
Apel palsu itu pecah dan menjadi beberapa kepingan
"Huft... nyawa ku masih utuh" Ucap ajudan lega, aneh emang... orang apel nya ada di tangan, mana bisa peluru meleset jauh ke jantung nya? tidak mungkin
Prok prok prok
"Keren Shin, lain kali coba di taruh atas kepala ya" Ucap Laila memberi saran
"Enak aja, kalau di kepala yang jadi target jangan aku lah" Ucap ajudan berjalan duduk di samping Laila
"Kenapa emang nya?" Tanya Laila
"Ya kalau kena kepala, sekali dor! bangun bangun udah masuk isekai aku nanti" Jawab ajudan
"Lah... kebanyakan baca komik fantasi nih pasti, sampai ngehalu masuk isekai" Ucap Laila heran
"Dari dulu dia emang suka baca komik fantasi" Ucap Shinta membersihkan pistol nya dengan tisu setelah di gunakan
"Kak... sekalian latihan bela diri ayo!" Ajak ajudan yang mana jika latihan menembak, maka mereka juga sekalian latihan bela diri dan mengasah ilmu mereka
"Tuh Shin, kan kalian kebiasaan gitu" Ucap Laila menimpali
*Ya Alloh, mana bisa aku bela diri? gak mungkin aku banyak tingkah saat hamil gini* Batin Shinta bingung harus menjawab apa
Kalau menembak sih hanya tangan, otak dan pengelihatan nya saja yang bergerak, lah tapi kalau bela diri? mampus!!! harus petakilan banyak tingkah yang jelas tidak mungkin dia lakukan sekarang.
Bersambung
__ADS_1