Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
135. Tanggal spesial


__ADS_3

Sebelum adzan subuh berkumandang, Shinta lebih dulu terbangun dan menggeliatkan tubuh nya, bahkan matahari pun belum muncul seakan malu malu menyapa dua manusia yang sedang merasakan manis nya suatu hubungan halal


Ia melirik Reyhan yang masih tertidur pulas dengan dengkuran halus dan mendekap nya, hanya sebentar saja wajah nya sudah memerah karena mengingat kejadian kemarin malam, ah... lumayan lah menghemat blush on Shin, haha


Tubuh nya merasa lelah dan remuk redam seperti habis di amuk masa satu kampung, tapi meski begitu ia harus segera mandi dan melaksanakan kewajiban nya


Perlahan Shinta melepas tangan Reyhan yang masih merengkuh nya, kemudian mengenakan pakaian nya tadi malam, dan berjalan dengan langkah sedikit susah menuju kamar mandi


Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi


Habis mandi ku segar lagi, gak kayak readers yang belum mandi๐ŸŽต


Hayoloh.. ngaku, pada belum mandi kan?๐Ÿ˜‚


Saat membuka pakaian nya di depan cermin, ia bergidik ngeri melihat merah merah yang berada di tubuh nya


"Dia pantas disebut sebagai macan ganas, liat aja badan ku udah kayak habis di aniaya" Gumam Shinta menggelengkan kepala nya, kemudian memulai ritual mandi besar


Setelah mandi, Shinta keluar menggunakan bathrobe dan mengeringkan rambut sebentar, lalu beralih membangunkan suami nya yang masih tertidur bertelanjang dada dengan selimut sampai batas pinggang


"Kak, eh mas... bangun dulu yuk! bentar lagi masuk jam subuh" Ucap Shinta memainkan jari jari lentik nya di pundak Reyhan


"Emhhh... bentar lagi sayang" Ucap Reyhan dengan suara serak dan berusaha mencari kesadaran nya, Shinta memberanikan diri untuk menunduk dan mengecup pelan dahi suami nya, dia pernah membaca bahwa mencium dahi adalah cara yang baik untuk membangunkan suami


"Udah berani kiss duluan ya?" Goda Reyhan tersenyum dan memandangi leher Shinta yang penuh tanda kepemilikan dari nya


"Sebelum kamu yang minta" Jawab Shinta, jika suami nya yang minta duluan takut nanti menjalar kemana mana, bukan menolak sih... tapi kan dia udah mandi


"Second round?" Goda Reyhan yang selalu saja punya cara jitu untuk menimbulkan semburat merah di wajah istri nya


"Not now honey, I've taken a shower" Jawab Shinta yang benar adanya jika dia sudah mandi


"Gak masalah, kita masih punya waktu nanti siang, sore, malam dan besok" Ucap Reyhan mengedipkan sebelah mata nya


"Kamu lupa ya? kita kan hari ini masuk kerja" Ucap Shinta terkekeh dengan menggelengkan kepala nya


"Gak bisa bolos aja hari ini?" Tanya Reyhan memajukan bibir nya


"Gak boleh, pasti berkas obat obatan terbengkalai karena hari kemarin rekan ku hadir di pernikahan kita" Ucap Shinta dan Reyhan pun pasrah karena dia pun harus kembali menghadapi pekerjaan hari ini


Sembari menunggu suami nya mandi, Shinta membuka handphone yang sudah ia abaikan sejak resepsi, dan hal yang menarik adalah pesan dari duo sahabat nya di grup chat


...TRIO CANTIK...


@Lailaxi


[ Bebeb gue sekarang lagi apa ya? @Shinta.Re ] 23.30


@Jannah


[ Kepo amat lo, jelas lagi buat keturunan sholeh sholiha lah... iya kan @Shinta.Re ? ] 23.45


@Lailaxi


[ Ya maap kan gue pengen tau, @Shinta.Re gimana rasa nya MP? ] 00.12


@Jannah


[ Udah bisa ketebak jawab nya pasti besok pagi ] 00.24


@Lailaxi


[ Bentar lagi kan pagi bambank, kebiasaan dia kan bangun sebelum subuh ] 00.28


@Jannah


[ Oke, markitung... mari kita tunggu ] 00.33


Shinta hanya menggelengkan kepala akibat percakapan unfaedah dari kedua sahabat nya


^^^Shinta.Re^^^


^^^[ Ash shalatu khairun minan naum, @Jannah @Lailaxi, sholat subuh woi, sucikan hati terutama pikiran kalian] 04.30^^^


Dan tak lama kemudian muncullah balasan dari duo sableng


@Lailaxi


[ Shadaqta wa bararta, cie... yang habis melaksanakan sunnah rasul ] 04.31


@Jannah


[ Shadaqta wa bararta, habis keramas pagi pagi ya nyonya Reyhan? ] 04.32


^^^@Shinta.Re^^^


^^^[Cie... pada kepo ya? ] 04.34^^^


@Lailaxi


[ Gak kepo sih, cuman pengen tau banget ] 04.35


@Jannah


[ Gak kepo, kan gue udah tau kalau itu kegiatan yang dapat pahala balasan nya ] 04.36


^^^@Shinta.Re^^^


^^^[ Yaudah sholat trus berdo'a, minta jodoh yang baik, bertanggung jawab, ntar juga tau sendiri rasa nya] 04.37^^^


@Lailaxi


[ Kalau jodoh gue gak dateng dateng? ] 04.37

__ADS_1


@Jannah


[ @Lailaxi Masih ada anak kolega bokap lu ] 04.38


^^^@Shinta.Re^^^


^^^[ Pasti dateng, kalau gak dateng yaudah gue comblangin ] 04.38^^^


@Lailaxi


[ @Jannah @Shinta.Re Sekarang jaman modern, gue bukan siti nurbaya yang mau di jodohin, tapi... kalau laki laki nya kayak tuan muda Zhong Chenle gak papa deh gue mau] 04.39


@Jannah


[ Halu! ] 04.40


^^^@Shinta.Re^^^


^^^[ Halu! ] 04.40^^^


@Lailaxi


[ Jahat!๐Ÿ˜ต ] 04.41


Shinta kemudian menyudahi pembahasan unfaedah dan meletakkan ponsel nya di meja nakas karena waktu sudah memasuki sholat subuh


"Eh..." Ucap Shinta terkejut melihat Reyhan yang sudah berdiri di depan nya


"Kenapa senyum senyum gitu mas? ada yang lucu?" Tanya Shinta kala melihat suami nya mesam mesem sendiri


"Hmm? gak ada" Jawab Reyhan menggelengkan kepala, sebenar nya dia hanya teringat saja bagaimana kejadian tadi malam yang menyebabkan punggung nya merah merah karena tangan istri nya


"Bangga aja udah membobol ring basket" Sambung Reyhan terkekeh


"Ssstt... jangan di bahas ah, aku mau wudhu dulu" Ucap Shinta melangkahkan kaki nya, Reyhan hanya terkekeh, istri nya itu masih aja malu malu


Selepas Sholat dan mencium punggung tangan suami nya, Shinta langsung membereskan peralatan sholat mereka dan berniat mengganti seprai yang terdapat noda darah itu


"Mau ngapain?" Tanya Reyhan yang duduk di sofa kamar nya


"Ganti seprai mas" Jawab Shinta membuka satu per satu sisi pojok ranjang


"Biar bibi aja" Ucap Reyhan mencegah


"Kalau aku bisa, kenapa harus bibi?" Ucap Shinta tersenyum, lagian ini hal yang mudah dan dia juga malu kalau harus bibi yang menggantikan nya


Selepas mengganti dan mencuci seprai yang terdapat noda itu, Shinta berganti dengan pakaian yang ia pakai saat bekerja, hanya saja biasanya dia akan memakai celana kulot yang longgar, tapi sekarang dia harus mengenakan rok karena daerah inti nya masih terasa nyeri


"Aku ke bawah dulu ya, baju kerja kamu udah aku siapin di sana" Ucap Shinta memakai hijab instan nya


"Makasih sayang, tapi mau ngapain ke bawah?" Tanya Reyhan mengerutkan dahi nya


"Bantuin bikin sarapan mas" Jawab Shinta membuka pintu dan keluar dari kamar suami nya


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Selamat pagi" Sapa Shinta saat langkah nya berhenti di depan mama mertua nya


"Pagi nona" Jawab ramah beberapa pelayan yang sedang bersih bersih


*Kok nona?* Batin Shinta


"Pagi sayang... oh iya, mama ada ini buat kamu" Ucap mama Riana mengeluarkan barang yang sedari tadi ia genggam


"Krim apa ini ma?" Tanya Shinta bingung dengan menerima barang itu


"Ini pereda nyeri sayang, di pakai aja nanti hilang sendiri kok" Jawab mama Riana dengan senyum penuh arti


"Ma-makasih ma, nanti di pakai" Ucap Shinta yang langsung mengeluarkan pipi merah, dia tau maksud perkataan dari mama Riana dan tentu saja rasa malu menghampiri nya, untung saja para pelayan yang sedang bersih bersih tidak mendengar pembicaraan mereka


"Jangan malu sayang, itu hal wajar dan mama kan udah seperti ibu kamu sendiri" Ucap mama Riana


"Iya ma, oh itu mas Rey suka makan apa ma?" Tanya Shinta mengalihkan pembicaraan dan meletakkan krim itu di saku rok nya


"Re itu suka sama makanan yang kamu suka" Jawab mama Riana


"Pasta?" Tanya Shinta karena makanan favorit nya adalah segala jenis pasta


"Iya, tapi kalau sarapan lebih suka sandwich atau toast pakai mentega, dan dia gak tahan sama rasa pedas" Jawab mama Riana


*Gak tahan sama pedas tapi mulut nya pedas banget kalau sama pegawai nya* Batin Shinta terkekeh


"Re gak suka pedes tapi judes nya juga minta ampun" Ucap mama Riana menggelengkan kelala


"Mungkin itu memang sifat nya ma... tegas biar jadi pemimpin yang baik dan gak bisa di jatuhkan lawan dengan mudah" Ucap Shinta, dia sudah paham dengan seluk beluk dunia pebisnis an


"Tapi kadang mama ngerasa bersalah karena Re harus memikul tanggung jawab yang besar, bahkan merelakan masa muda nya demi mengurus perusahaan papa yang sudah pasti menguras pikiran dan tenaga" Ucap mama Riana dengan mata sendu


"Insyaalloh mas Rey ikhlas ma, setiap anak selalu ingin berbakti pada orang tua nya, tugas kita mendoakan agar langkah nya selalu di limpahi berkah karena mendapat ridho dari orang tua" Ucap Shinta tersenyum dengan menggenggam tangan mama Riana


"Amin... yaudah sekarang kita bikin sandwich aja yuk" Ajak mama Riana karena sebanyak apapun pelayan di rumah nya, tetap dia yang memegang dapur


30 menit kemudian Shinta dan mama Riana masih bercanda satu sama lain sampai tidak menyadari bahwa suami masing masing sudah berdiri di dekat mereka


"Ekhem... " Deheman dari Reyhan membuat dua wanita yang berbeda umur itu langsung menoleh


"Kenapa sih Re? ham ham ham hem tenggorokan kamu sakit?" Tanya mama Riana


"Kemasukan lalat kali ma" Sahut papa Raka dan duduk di kursi meja makan, Shinta kemudian mendekati suami nya yang masih berdiri


"Kenapa mas? butuh bantuan?" Tanya Shinta


"Enggak, tapi kayak nya kamu sayang banget sama mama" Jawab Reyhan

__ADS_1


"Cemburu nih... " Goda Shinta tersenyum sembari menyenggol lengan suami nya


"Iya dong, aku juga mau di sayang" Ucap Reyhan


"Kan udah" Ucap Shinta


"Bukti nya?" Tanya Reyhan


"Bukti nya ya kemarin malam, kalau gak sayang aku gak bakal 'mau' " Jawab Shinta


"Kalian ngobrolin apa sih?" Tanya mama Riana melihat anak mantu nya belum juga duduk


"Nggak ada ma" Jawab Reyhan menggelengkan kepala dan senyum penuh arti karena jawaban Shinta tadi


Kembali hening dan memulai suara dentingan garpu dan pisau yang bertabrakan dengan piring


Selesai makan, kedua pasutri itu kembali naik ke atas untuk bersiap berangkat kerja


"Kamu gak suka pakai make up ya?" Tanya Reyhan melihat Shinta duduk di depan kaca dan mengganti hijab nya


"Enggak, aku lebih suka keluar pakai skincare aja biar seger" Jawab Shinta yang jarang memakai make up, ia kemudian memandang suami nya yang sedang menenteng jas dan dasi berwarna senada dengan setelan baju kerja nya


"Sini biar aku yang pasangin" Ucap Shinta mengambil dasi itu dan melilitkan, eh... memasangkan nya di kera kemeja suami nya


Reyhan tak menyia nyiakan kesempatan, selagi istri nya memasangkan dasi, ia memilih memandang lekat wajah yang berada di depan nya karena tinggi Shinta tidak jauh dengan nya


Kata "Cantik" selalu saja keluar dari mulut nya dengan senyum yang mengembang dan hati berbunga bunga layak nya sakura di jepang


"Kenapa? aku jelek ya kalau gak pakai make up?" Tanya Shinta menatap mata suami nya, Reyhan menggeleng


"Cantik, aku lebih suka kamu tanpa make up, kan enak kalau ciuman tuh yang dicium muka, bukan bedak nya" Jawab Reyhan memberikan kecupan lembut di dahi istri nya


Shinta hanya terkekeh kemudian meraih jas milik Reyhan, dan memakaikan nya


"Udah keliatan ganteng" Ucap Shinta menepuk pelan dada suami nya


"Meskipun gak pakai baju juga tetep ganteng kok" Ucap Reyhan terkekeh


"Ish...mesum" Ucap Shinta mengerucutkan biir nya


"Yang penting gak mesum sama istri tetangga, lagian kamu juga suka kan? semalam aja sampai keras banget suara nya" Goda Reyhan menaik turunkan alis nya yang membuat wajah Shinta semakin merah hingga enggan menanggapi ucapan Reyhan


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Karena mobil milik Shinta masih berada di rumah nya, jadi lah ia hari ini berangkat bersama sang suami setelah berpamitan dengan orang tua nya


Dalam perjalanan, Reyhan menyetir dengan satu tangan, sedangkan satu nya lagi menggenggam tangan istri nya


"Kamu yakin mau kerja? emang gak sakit?" Tanya Reyhan dengan pandangan fokus ke depan


"Ya masih nyeri, tapi tadi di kasih mama pereda kok" Jawab Shinta melirik suami nya yang hanya ber'oh'ria


"Mas, aku mau nanya deh" Ucap Shinta meminta izin terlebih dahulu


"Nanya apa sayang?" Tanya Reyhan melirik Shinta sebentar, kemudian kembali menatap jalan raya


"Kenapa kamu ngasih mahar 2 miliar won? itu banyak banget loh" Tanya Shinta yang mana dia saja baru tau jumlah mahar saat mendengar kalimat ijab qabul di rumah nya kemarin, yaitu seperangkat alat sholat, cincin dan uang, tentu saja dia terkejut karena terlalu banyak bahkan sangat kebanyakan menurut nya


Won : mata uang korea


"Kamu tau kenapa aku ngasih 2 miliar won dan gak 10 miliar won aja?" Tanya Reyhan balik, istri nya itu mengedikkan bahu karena dia memang tidak tau maksud dari 2 miliar won


"Kita pertama kita ketemu di bandara Seoul empat tahun lalu itu tanggal 2, pertama kali aku ngasih kamu sapu tangan di taman apartemen juga tanggal 2, kita bertemu di melbourne itu juga tanggal 2, dan entah kebetulan atau bagaimana... hari pertama kamu bekerja di rumah sakit juga tanggal 2, aku melamar kamu di tanggal 2, dan kita menikah juga tanggal 2" Jawab Reyhan menjelaskan panjang lebar


"Bagiku tanggal 2 itu penuh dengan momen kita, aku pikir ini juga takdir dan kamu saat di tanya mahar pasti jawab nya cuman senyum aja" Sambung Reyhan


"Sosweet banget sih... tapi tetep aja kebanyakan bagiku mas" Ucap Shinta benar benar merasa tidak enak, dia kemudian memeluk lengan suami nya


"Tapi bagi ku enggak, itu pantas buat kamu sayang... udah ya pakai aja, uang itu hak kamu" Ucap Reyhan lembut dan mengecup sekali kepala istri nya yang terbalut hijab


20 menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit dan Reyhan menurunkan istri nya disana


"Aku duluan ya, assalamualaikum" Pamit Shinta setelah mencium punggung tangan suami nya


"Waalaikumsalam, jangan lupa sama perjanjian kita" Ucap Reyhan yang mempunyai kesepakatan bahwa istri nya akan resign saat hamil nanti


"Iya mas" Jawab Shinta, Reyhan mengecup bibir nya sekilas


"Udah ah, aku turun dulu" Ucap Shinta keluar dari mobil suami nya, kemudian melambaikan tangan saat mobil itu perlahan menjauh dari pandangan nya


Shinta melangkahkan kaki nya untuk masuk ke rumah sakit, namun... baru beberapa langkah ada sebuah pesan dari ponsel milik nya, tumben... siapa yang kirim dia pesan pagi pagi? apa Reyhan?, Shinta membuka ponsel dan tertera ketua white blood yang mengirim nya pesan


Ketua WB1


๐Ÿ“ฉ : Nona... kami mau mengabarkan kalau tuan Bian mengalami kecelakaan saat baru datang di Korea kemarin malam


Shinta membelalakkan mata nya ketika membaca pesan tersebut


๐Ÿ“ฉ : "Bagaimana keadaan nya? dan kenapa kalian semua bisa lengah?" Balas Shinta dengan perasaan menggebu


๐Ÿ“ฉ : Keadaan nya tidak terlalu parah, tapi sebaik nya nona jangan menyusul kesini karena situasi masih belum aman, maafkan kelengahan saya dan tim lainnya nona


๐Ÿ“ฉ : "Kemana tim white blood Korea? kenapa mereka tidak mengabariku sama sekali?" Balas Shinta


๐Ÿ“ฉ : Tuan Bian meliburkan tim white blood Korea sejak satu bulan yang lalu nona, mereka hanya menuruti perintah tuan saja


๐Ÿ“ฉ : "Aktifkan tim itu lagi, bilang kalau ini perintah langsung" Balas Shinta


๐Ÿ“ฉ : Baik nona


*Kenapa lo ceroboh dengan memgambil keputusan tanpa izin gue Bi? seharusnya lo biarin aja mereka bunuh gue dan lupakan janji lo sama kak Zean* Batin Shinta, ia benar benar khawatir dengan kondisi teman nya itu, khawatir, marah dan sedih bercampur menjadi satu karena tidak bisa melihat kondisi Bian secara langsung


Shinta kemudian mengusap wajah nya dengan bibir yang tak henti henti nya mengucap istighfar sebagai peredam emosi nya

__ADS_1


*Gimana bisa aku bilang semua nya sama mas Rey? jika aku jujur maka orang yang akan menjadi sasaran mereka selanjutnya adalah suamiku* Batin nya lagi dengan perasaan yang begitu sesak


Bersambung


__ADS_2