Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
161. Aku tidak percaya


__ADS_3

Sore hari ajudan baru kembali dari polres, sebelum ke panti asuhan dia pulang sebentar untuk mengambil baju baju milik kakak nya, karena sudah pasti Shinta tidak akan mau tinggal di rumah milik nya


"Loh... mau kemana den?" Tanya bi Asti saat menyiapkan makanan di meja makan


"Nganterin baju bi, oh iya... makanan nya di bungkus aja, nanti saya makan malam di sana" Jawab ajudan mengingat bi Asti yang sudah masak tapi mubadzir kalau gak di makan


Sehabis maghrib, baru lah ia kembali ke panti asuhan setelah bibi dan pak Didi pulang


"Assalamualaikum" Ucap ajudan kala masuk ke panti selepas memarkirkan mobil nya di halaman


"Waalaikumsalam..." Jawab Shinta menoleh, sedangkan anak anak yang lain tengah belajar mengaji sekarang


"Baju mu kak" Ucap ajudan menyerahkan koper itu


"Ini kamu yang ngemas sendiri?" Tanya Shinta terkejut pasal nya di situ ada barang aset pribadi


"Enggak lah, itu kan baju yang di kemasi bibi waktu awal awal kakak nikah" Jawab ajudan yang mengerti kemana maksud pembicaraan kakak nya


Shinta hanya mengangguk saja, mendengar kata pernikahan itu membuat nya teringat akan masalah yang sampai sekarang belum ada ujung nya


"Ini ada makanan dari bibi juga loh kak... nanti bisa di makan bareng sama anak anak" Ucap ajudan menunjuk kotak lauk yang lumayan besar


"Alhamdulillah kalau gitu, sampai in makasih sama bibi" Ucap Shinta tersenyum


Ia kemudian berjalan menaiki tangga, yang mana panti asuhan memang ada dua lantai, lantai satu untuk ruang tamu, aula belajar, dapur, dan kamar tidur anak anak


Sedangkan lantai dua terdapat beberapa kamar dewasa untuk pengurus panti, kantor ketua panti, dan ruangan tempat penyimpanan bahan makanan atau stok dapur bulanan


"Ini di taruh sini aja kak?" Tanya ajudan meletakkan koper itu di pojok kamar


"Iya, situ aja gak papa" Jawab Shinta menganggukkan kepala nya


"Dan ini susu hamil sama vitamin nya sesuai resep dokter Elin" Ucap ajudan menyusul kakak nya untuk duduk di pinggir ranjang, dan menyerahkan satu kantong plastik


"Elin? berarti dia tau kalau aku hamil?" Tanya Shinta menerima bungkusan itu


"Tau lah, kakak gak bisa minum sembarangan obat atau vitamin tanpa resep dari dokter Elin, dan aku juga gak mau ambil risiko yang akan menyebabkan kakak kenapa napa, makanya aku ngabarin dokter Elin dulu sebelum beli, dia juga nitip selamat dan semoga bayi nya sehat sehat aja" Ucap ajudan menjelaskan panjang kali lebar


"Amin... nanti aku bakal kabarin Elin sendiri" Ucap Shinta mengaminkan doa Elin barusan


"Kak, apa kamu gak capek?" Tanya ajudan memulai nada serius nya


"Capek kenapa?" Tanya Shinta balik dengan mengerutkan alis nya


"Kakak gak bisa minum obat sembarangan, beberapa obat dari dokter Elin udah kakak minum dari dulu dan berangsur sampai berkurang, saat kakak hanya perlu minum vitamin dan sekarang saat kakak hamil semua pil warna warni itu harus nambah lagi, gak ada satu hari pun kamu tanpa benda kecil itu kak" Ucap ajudan tanpa menyebutkan obat penenang yang kakak nya gunakan, karena dia tahu bahwa Reyhan sudah membuang semua obat penenang itu kecuali vitamin


"Apa kakak gak capek?" Lanjut nya


"Ya rasa lelah itu selalu ada, tapi kakak hanya yakin kalau semua yang sekarang di jalani pasti akan ada ending bahagia nya" Jawab Shinta


Dia percaya kalau tidak ada yang nama nya kebetulan di dunia ini, semua sudah ada waktu dan giliran, dan itu adalah takdir yang sudah di atur oleh yang maha kuasa


Termasuk masalah yang sedang menerpa nya, ini memang bukan kemauan mereka, tapi takdir dan kehendak yang di atas lah yang memberi cobaan rumah tangga


"Benar juga sih kak, tapi...."


"Huaa.... tante" Han tiba tiba masuk ke kamar Shinta dengan menangis dan sesegukan


"Loh... Han kenapa? kok nangis? sini sama tante" Ucap Shinta merentangkan tangan nya agar bocah itu nyaman di dalam dekapan.


"Huaaa... hua... " Lanjut dengan beberapa anak seusia Han yang ikut masuk ke kamar, sedangkan Shinta dan ajudan masih bingung, kenapa anak anak ini menangis sekarang


"Han kenapa nangis? ayo bilang sama tante" Ucap Shinta menangkup pipi gembul itu, namun Han justru menangis semakin kencang dengan menggelengkan kepala sampai sampai membasahi hijab milik nya


"Kalian kenapa nangis sayang? sini bilang sama om" Ucap ajudan menarik anak anak yang jumlah nya tiga orang seusia Han agar mendekat pada nya


"Iya, sekarang waktu nya belajar kan? kok nangis?" Tanya Shinta selembut mungkin


"Hua... hiks, kata bu guru tadi kalau surga ada di bawah telapak kaki ibu" Ucap salah satu anak dengan isak tangis nya


"Benar sayang" Ucap Shinta membenarkan pertanyaan barusan, dia tahu kalau sehabis maghrib memang ada guru mereka yang datang untuk belajar bersama anak anak di aula


"Huaaa... hua... " Tangis mereka kini malah semakin kencang setelah mendengar jawaban


"Loh... kok kalian nangis? cerita sama tante dong kenapa kalian nangis gini?" Ucap Shinta, bahkan hijab nya sudah terkena ingus dari Han


"Iya, anak anak ganteng dan cantik ini kenapa nangis?" Tanya ajudan menggaruk kepala nya yang tidak gatal


"Huaa... kita kan gak punya ibu, kita gak punya surga dong, hiks"


"Berarti kita harus tinggal di neraka nanti, huaaaa... hiks"


Oke, Shinta dan ajudan paham sekarang, mungkin materi pembelajaran hari ini tentang berbakti pada orang tua, makanya mereka sampai nangis kejer seperti ini


*Sungguh tega memang orang tua yang membuang kalian* Batin ajudan kasihan dan benci pada orang yang tidak tanggung jawab, mau enak nya kok malah gak mau hasil nya


"Ssstt..." Shinta meletakkan telunjuk nya di bibir sampai tangis anak anak reda "Siapa yang bilang kalian gak punya ibu?" Tanya nya


"Hiks... kan kita emang gak punya ibu" Jawab salah satu bocah perempuan yang masih sesegukan


"Kalian punya ibu sayang, ada ibu panti, trus ibu pengurus lain nya itu juga ibu kalian loh... pekerjaan ibu juga masak untuk makan anak anak nya, berarti koki Rati itu juga ibu kalian sayang" Ucap Shinta memberi penjelasan sebagai penenang mereka


"Tlus kenapa tadi bu gulu bilang nya surga ada di telapak kaki ibu tan?" Tanya Han mendongak menatap wanita berbadan dua itu, mata polos itu berair dan mengerjap seolah ingin mengetahui semuanya


"Itu maksudnya, Han sama temen temen harus sopan santun sama semua orang, apalagi orang yang lebih tua" Jawab Shinta mengelus rambut semua anak anak satu persatu


"Nah... benar tuh anak anak, surga nya Alloh itu milik orang orang yang baik, baik akhlak nya atau sopan santun, baik dalam beribadah juga" Ucap ajudan menimpali


"Iya, berarti kalau mau surga kalian harus apa?" Tanya Shinta pada anak anak


"Jadi anak baik tante" Jawab mereka kompak dengan senyum masing masing, ternyata kecil kecil lumayan tanggap juga anak anak ini


"Ahlaqul kalimah gitu tante?" Tanya Han membahas akhlaqul karimah yang selalu di ajarkan ketika pembelajaran


"Iya akhlaqul karimah, kalian harus jadi anak yang baik, sopan santun sama semua orang" Jawab Shinta tersenyum


"Nanti bisa tinggal di surga tante?"

__ADS_1


"Tinggal di surga nya Alloh yang kata nya bagus banget itu?"


"Iya, surga milik Alloh itu paling indah sayang..." Jawab Shinta membenarkan


"Asyik... bisa tinggal di surga" Ucap salah satu anak dengan girang nya dan melompat lompat


Shinta tersenyum, kebahagiaan anak anak sangat lah sederhana, berbeda dengan manusia biasa yang banyak mau nya, sama seperti dia


"Udah ya... ayo turun sholat isya' trus makan malam" Ajak ajudan karena ibu panti sudah berdiri dan mmendengarkan percakapan mereka


"Oke om" Jawab salah satu anak lalu mengajak yang lain keluar dari kamar


"Han gak mau turun?" Tanya Shinta karrena bocah itu masih berada di pelukan nya


Han menggeleng sebagai jawaban nya, dia hanya ingin bersama Shinta sekarang


"Makasih ya neng, udah ngasih pengertian buat anak anak, tadi saya kaget tiba tiba mereka keluar dari aula" Ucap bu panti


"Sama sama bu, lagian mereka masih kecil dan hal seperti ini juga wajar" Jawab Shinta mengingat Sisil yang juga banyak tanya tentang apapun hal baru yang dia dengar atau lihat


"Han gak mau turun?" Tanya bu panti berusaha menggapai bocah itu, namun tetap saja Han malah semakin menempelkan kaki nya persis cicak nomplok


"Gak mau... Han mau nya tulun sama tante" Tolak nya dengan suara keras


"Eits... tadi katanya mau punya sifat akhlaqul karimah? kok teriak teriak?" Ucap Shinta mengingatkan dan menarik pelan hidung bocah itu


"Maaf buk, Han mau tulun sama tante aja" Ucap Han mengatupkan kedua tangan mungil nya


"Iya di maafin, tapi harus jadi anak yang baik ya" Ucap bu panti tersenyum


🌸🌸🌸


Selepas sholat isya' berjamaah, baru lah anak anak makan malam di ikuti pengurus panti yang lain tentu nya


Membiasakan berdo'a sebelum makan adalah wajib, dan diam saat makan juga selalu di terapkan karena itu merupakan etika di meja makan


"Tante halus makan buanyak, bial gak sakit" Ucap Han sembari memegang sendok nya


"Han juga harus makan banyak, supaya cepat besar" Ucap Shinta yang duduk di samping bocah itu


"Kalau udah besal nanti Han bisa ketemu mama sama papa kan tante?" Tanya Han, bocah itu bersemangat seolah impian nya akan menjadi kenyataan


"Insyaalloh... semoga Han bisa ketemu mama sama papa ya" Ucap Shinta, dia tidak mau memberi harapan dan hanya mampu berdo'a saja, apalagi orang tua anak anak panti sudah tidak menginginkan mereka lagi, dalam artian membuang anak nya dengan beberapa alasan


"Nanti Han juga mau kelja kelas bial sukses tlus ketemu sama mama papa" Ucap bocah itu tersenyum senang membayangkan hal yang terjadi di kemudian hari


"Amin... kalau udah sukses jangan lupa sama orang yang lebih membutuhkan ya" Ucap Shinta mengingatkan


"Siapp tante" Ucap Han dengan gerakan tangan hormat


"Han... ayo makan, jangan bicara dulu nanti kesedak nak" Tegur ibu panti yang membuat Shinta dan Han berekspresi nyengir


*Ya... tunjukkan kalau kamu bisa sayang, buat orang yang membuang kamu menyesal karena telah menyia nyiakan malaikat kecil berhati baik dari tuhan* Batin Shinta


Dia masih ingat bagaimana Han yang masih berumur saat tahun di temukan di depan gerbang, apalagi saat itu malam dan hujan deras, jika ibu panti tidak segera keluar maka sudah pasti bocah mungil itu akan mati kedinginan


"Senyum mu kak, awas nanti anak anak kejer lagi karena takut sama kakak" Ucap ajudan ngeri, dia saja masih agak takut kalau melihat ekspresi kakak nya ketika sedang marah


"Masih cantik an cewek ku" Ucap ajudan bangga


"Lah... ingat stay halal bro" Ucap Shinta menendang pelan kaki adik nya dari bawah meja


Setelah makan malam, anak anak di beri waktu untuk main sebentar lalu cuci muka, tangan, dan kaki sebelum tidur


Han? bocah itu sedari tadi tidak mau lepas dari badan Shinta, entah ada magnet apa dalam tubuh nya yang membuat bocah itu menempel terus bak perangko


"Tidur ya, sekarang udah malam dan gak baik anak kecil tidur malam malam" Ucap Shinta saat mereka di kamar dan menepuk nepuk punggung bocah yang sedang memeluk nya di atas ranjang


"Kalau udah gede boleh tidul malam dong?" Tanya Han yang ada saja pertanyaan nya


"Tetep gak boleh dong, nanti sakit trus punya mata kayak panda, emang kamu mau?" Jawab Shunta sekaligus bertanya


"Mau, panda kan lucu"


Doeng! Shinta malah jadi pusing dan ingin putar otak saja untuk memberi penjelasan


"Udah ya... tidur dulu, besok kita main" Ucap Shinta mengalihkan pembicaraan sebelum Han benar benar menginginkan mata panda


Satu jam berlalu, Shinta tidak bisa memejamkan mata karena baru kali ini dia menginap di panti, berbeda pula dengan Han yang sudah tertidur pulas


Mata polos itu terpejam seperti tidak ada beban di hidup nya, tapi kalau sudah besar nanti entah apa yang akan di hadapi nya, dia bertemu orang tua kandung nya atau tidak pun Shinta juga tidak tahu, dia selalu berdo'a yang terbaik untuk semua anak anak


Dia menyelimuti tubuh mungil yang sedang memeluk guling, lalu perlahan keluar dari kamar untuk menuju dapur bawah


"Loh... bikin apa neng? biar saya aja ya" Ucap bu Rati menawarkan, dia baru saja selesai mengecek semua kamar anak anak


"Gak perlu bi, saya bisa sendiri kok" Ucap Shinta menolak secara halus


"Tapi kan neng juga pasti capek" Ucap bu Rati


"Bu Rati lebih capek karena masak buat anak anak, saya hanya bikin susu aja kok bu.. enggak capek" Ucap Shinta


Selesai dengan urusan nya di dapur, Shinta keluar dari panti menuju taman, karena di sini tidak ada rooftop, jadi bagi nya taman lebih baik dari pada kamar


Shinta duduk di bangku putih lalu berkata "Bismillah... ya Alloh" Gumam nya memejamkan mata, menghirup dalam dalam udara malam yang sudah jarang ia lakukan


Perlahan mulut itu terbuka, dan meneguk susu hamil yang barusan ia buat


"Sehat terus ya... kamu yang jadi penyemangat sayang" Ucap Shinta mengelus perut nya sendiri, walaupun masih datar tapi ia bisa merasakan janin kecil di dalam rahim nya


Tangan itu terulur merogoh saku baju tidur, memandang ponsel yang baru ia nyalakan lagi, banyak notifikasi di sana karena setelah membalas pesan mama Riana pun Shinta kembali mematikan total ponsel nya


Rentetan pesan dari Reyhan pun ia baca satu persatu, banyak kata maaf dan ingin bertemu untuk menjelaskan sesuatu


Sebenar nya hati kecil itu pun juga rindu, ingin sekali bertemu berdua, menikmati kehidupan mereka yang akan di karunia i anggota baru, bukan malah terpisah seperti ini, memang tidak jauh tapi hati itu merasa sekarang sudah sangat jauh


"Aku rindu" Gumaman itu selalu keluar dengan air mata yang kembali mengalir, tidak cukup kah penderitaan yang dia alami sejak dulu? kenapa rasa nya menggapai kebahagiaan itu sangat susah? kapan semua ini selesai?

__ADS_1


Bertanya berkali kali dalam hati, tapi balik lagi... dia tahu ini adalah takdir, cobaan dan kematian juga tidak akan bisa di hindari, kata pasrah pun selalu mengelilingi, hingga berakhir menerima dan menjalani


Sejatinya dalam hidup, kita tidak mungkin bisa sepenuhnya lepas dari masalah. Satu masalah selesai, maka bersiaplah dengan masalah lainnya yang bisa lebih ringan dan bisa lebih berat


Tentang masalah hidup sebagai sebuah ujian ini, ingatlah bahwa Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya


Alloh berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:


لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ


Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, rabbanaa laa tu`aakhidznaa in nasiinaa au akhtha`naa, rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa israng kamaa hamaltahuu 'alalladziina ming qablinaa, rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qaumil-kaafiriin


Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 286)


Dari ayat ini kita bisa pahami bahwa batas kemampuan setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi ujian dari Alloh. Misalnya ujiannya para Nabi dan Rasul pasti lebih berat dari kita manusia biasa


Sebut saja Nabi Muhammad saw harus menghadapi kaum jahiliyah yang setiap saat meneror dan mengancam keselamatan nyawanya. Begitu pula Nabi Nuh as yang berdakwah hampir seribu tahun tetapi hanya mendapat segelintir umat yang bersedia mengikutinya


Ayat di atas juga menjadi pengingat bagi kita saat sedang terpuruk dan banyak beban hidup. Kita sebagai orang beriman harus senantiasa berserah diri kepada Alloh di samping selalu berusaha sekuat kita


Kemudian, kita sebagai manusia yang diciptakan Alloh sebagai tempatnya salah dan lupa juga harus selalu mohon ampun kepada-Nya, karena Alloh Maha Pengampun dan Maha Pemberi Pertolongan


Janji Alloh atas ujian bagi manusia itu juga ditegaskan dalam ayat lainnya


فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا, إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا


Alloh berfirman, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6)


Maka dari itu, ujian demi ujian yang silih berganti harus selalu kita lalui dengan tetap melibatkan Alloh


Wallahu a'lam.


Ponsel Shinta kembali menunjukkan ada notifikasi, bukan dari aplikasi hijau lagi, melainkan pesan email suami nya


📧 : Sayang, aku tidak pernah melakukan perbuatan yang di sebut zina, nagaimanapun bentuk nya aku juga tidak tahu kenapa bisa ada foto itu, demi Alloh aku tidak pernah menghianati pernikahan yang di nilai suci di mata tuhan, maafkan aku yang sudah lalai kali ini, jika kamu memang mencitaiku... maka tolong kembali, katakan di mana kamu sekarang, aku yang akan menjemput mu, temani aku, kita hadapi cobaan ini berdua sayang


Shinta tahu kalau Reyhan tidak pernah bermain main dengan ucapan nya sendiri, apalagi sampai bersumpah membawa nama tuhan seperti itu


Bukan nya dia tidak percaya dengan suami, tapi kondisi nya dengan orang normal memang berbeda, bahkan sangat berbeda, dia yang mempunyai trauma akan terus di gemai bisikan logika nya sampai hati nya sendiri pun sedikit tergeser dengan pemikiran logika itu


📧 :"Aku mencintai mu, bahkan sangat mencintai mu sampai mata dan logika ku buta dengan foto ini, mata dan otak ku kecewa dengan mu" Balas Shinta pada pesan email suami nya di sertai foto menjijikkan itu


Tidak dapat dia pungkiri kalau hati nya sendiri pun masih tidak percaya dengan foto itu, tapi logika dan mata nya pun justru berbanding balik dan menutupi rasa di hati


Tak lama muncul kembali email dari Reyhan


📧 : Kamu percaya sama aku tapi kenapa kamu pergi? aku sangat khawatir sayang, tolong jangan nekat lagi, aku tahu aku juga salah karena memaksa mu kemarin malam, rasa menyesal itu masih ada, dan tolong jaga anak kita dengan baik


Shinta tersentak membaca pesan itu, dia baru tahu kalau kotak kejutan itu masih tertinggal di kamar hotel, maka sudah dapat di pastikan Reyhan membuka kotak itu


📧 : "Aku hanya pergi sebentar, maaf tidak bisa menemani mu sekarang, dia juga anak ku, sudah pasti aku akan menjaga nya dengan baik"


Lagi lagi Shinta mematikan ponsel nya kembali setelah bertukar pesan sebentar, untuk sekarang memang pikiran normal nya belum kembali, maka dari itu lebih baik menghindar sebentar dari pada mengeluarkan emosi yang tidak berguna


"Kak, kau belum tidur?" Tanya ajudan membuat Shinta menoleh ke arah nya


"Hmm? belum, gak ngantuk"


Ajudan duduk di samping kakak nya, perlahan ia membawa kepala tertutup hijan itu agar menyender ke pundak nya


"Mau nangis kak?" Tanya ajudan menawarkan


"Gak mau, air mata ku mahal" Jawab Shinta, sudah cukup ia menangis tadi, lagian hal itu pun tidak berguna dan tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula


"Dasar sombong" Cibir ajudan


"Biarin wlee' " Ucap Shinta menjulurkan lidah nya


"Oh iya kak, apa Harun si songong itu kirim pesan?" Tanya ajudan membahas kakak pertama mereka


"Gak kok" Jawab Shinta berbohong, sebenarnya menang ada pesan yang Harun kirim dan isi nya? tidak perlu di tanyakan lagi, sudah pasti isi nya adalah deretan kata kata yang menyalahkan Shinta atas tangisan bunda nya, lebih baik ia menyembunyikan hal ini dari pada ajudan bertengkar dengan Harun lagi nanti


"Eleh... masa' kakak kita yang gendeng itu gak kirim pesan lagi? sujud syukur aku kak kalau itu beneran terjadi" Ucap ajudan memajukan bibir nya, heran sekali dia dengan kakak nya yang suka menutupi sesuatu ini


"Haha, trus kenapa kamu belum pulang? dan ngapain kesini pakai mobil sabhara?" Tanya Shinta heran ketika melewati halaman panti tadi


"Gak papa, sekalian isi bensin mobil kantor tadi" Jawab ajudan


"Oh... " Ucap Shinta membentuk bibir O


*Ya... biar suami mu gak curiga kak, gak mungkin juga aku cerita sekarang, yang ada pingsan kamu nanti* Batin ajudan karena Reyhan menunggu nya keluar dari polres tadi, mungkin niat mengikuti tapi tidak berhasil karena ajudan membawa mobil kantor


"Mikirin apa?" Tanya Shinta yang di balas gelengan kepala oleh adik nya


*Aku kayak pernah lihat wanita laknat itu tapi di mana ya? aku yakin kalau mata kepala ku pernah melihat secara langsung* Batin ajudan memikirkan wanita yang ada di foto bersama Reyhan


🌸🌸🌸


Disisi lain, Reyhan yang duduk di ruang kantor pun sedang pusing karena rekaman office tell di malam terkahir ia menginap pun sudah hilang, entah kemana pergi nya dan jika seperti ini maka sudah jelas ada yang mencoba bermain main dengan nya


Note : office tell adalah penginapan yang terdiri dari kamar dan ruang kerja, sistem nya hampir sama seperti apartemen, yaitu sewa tahunan atau beli.


Pesan email yang dia kirim pada istri nya mendapat balasan, dan itu menjadi rasa semangat sendiri untuk nya, dia tidak boleh menyerah dan membiarkan seorang penjahat menang, dia harus berusaha untuk menyelesaikan semua nya


Karena orang jahat itu lah dia tidak bisa menemani sang istri di kehamilan trimester, orang itu harus mengganti semuanya, termasuk rasa sakit hati istri nya yang paling penting


Bruakk!


Pintu ruang kerja nya tiba tiba terbuka, terlihat Evan baru masuk dengan nafas tersenggal


"Ngapain kamu kesini Van?" Tanya Reyhan, perasaan dia tidak menyuruh asisten lawak itu ke kantor di malam hari ini


"Hah... hah.. gawat pak!" Ucap Evan mendekat ke arah bos nya


Bersambung


Untuk konflik rumah tangga dalam novel ini tidak ada hubungan nya sama sekali dengan orang ketiga! oke? memang awal rencana ada, tapi di urungkan karena saya juga gak suka orang ketiga

__ADS_1


Kemarin tidak up ngapain aja? saya punya waktu luang malam hari dan nulis di waktu itu, biasa saya setor bab di atas jam 12 malam, karena kebanyakan begadang, akhir nya saya tumbang juga waktu tubuh ini di bawa sekolah


Mungkin kedepan nya juga akan ada perubahan jam update, tapi hanya mungkin dan hal ini belum pasti, maaf ya🙏


__ADS_2