Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
97.Gundah


__ADS_3

"bukan laki laki kak" ucap shinta yang sudah bisa menebak hal apa yang reyhan pikirkan


"ohh" sang empu hanya bisa ber'oh'ria yang membuat shinta menggelengkan kepala nya


"jan, ini semua hukuman dari kalian berdua ya?" tanya rendra


"iya" jawab jannah menganggukkan kepala nya,rendra kemudian mendekatkan mulut nya ke telinga reyhan


"nyerah gue, besok besok jangan ada rahasia lagi deh, meskipun itu cuman rencana demi kebaikan, tapi lebih baik kita kasih tau mereka dari pada salah paham trus berujung hukuman kayak gini" bisik rendra


reyhan yang dibisiki hanya menganggukkan kepala tanda membenarkan ucapan rendra barusan, dia juga tidak ingin kedepannya akan ada salah paham, apalagi shinta yang akan menjadi serigala jika gadis itu sedang dalam keadaan marah


*lebih tepat nya biar gak dikerjain lagi* batin reyhan


"kalian bisik bisik apa?" tanya shinta heran


"gak ada" jawab keduanya cepat dengan menggelengkan kepala


"kak.. tadi dapat salam dari mas rafiq" ucap ajudan menatap wajah shinta


"waalaikumsalam" ucap shinta menjawab salam dari rafiq


"rafiq yang suka sama shinta itu ya?" tanya jannah mengingat


"iya" jawab ajudan dengan tegas agar reyhan mendengar jawaban nya dengan jelas


"wah.. saingan nya reyhan tuh" celetuk rendra sengaja ingin memanas manas i reyhan


*rafiq? pasti aku lebih tampan daripada dia kan?* batin reyhan bertanya tanya dengan muka masam nya


"tambah tampan loh dia kak.. " ucap ajudan yang membuat reyhan kehilangan mood seketika


"lebih tampan nabiku.. " jawab shinta enteng, sedangkan reyhan? dia langsung menyunggingkan senyum cool nya karena mendengar jawaban shinta


"yaelah shin.. gagal deh mau bikin pak rey cemburu" ucap jannah terkekeh


"lo gak tau aja kalau kak rey cemburu tatapan nya setajam laser" gerutu shinta yang justru menimbulkan gelak tawa bagi mereka


"dan, gak makan?" tanya reyhan yang ikut ikutan memanggil adib dengan sebutan ajudan, dia sedang berusaha untuk mengakrabkan diri dengan laki laki berusia 21 tahun itu


"udah makan" jawab ajudan menganggukkan kepala


"makan dimana?" tanya shinta


"tadi kak, bareng sama anggota polisi lainnya, makanya tadi rafiq bisa nitip salam" jawab ajudan menjelaskan, shinta hanya menganggukkan kepala dengan bibur membentuk O


"tante.. sisil udah ngantuk" ucap bocah lima tahun itu mengeluh dengan perlahan berjalan menghampiri shinta, dan menyandarkan badan nya di dada tante nya itu

__ADS_1


"mau pulang?" tanya shinta dengan mengelus lembut kepala bocah itu yang posisi nya persis cicak nemplok dengan memegang erat hijab yang shinta gunakan


"emm.." jawab sisil menganggukkan kepala


"oke, kita pulang ya.. tapi salim dulu sama om nya" ucap shinta yang sekarang terlihat jelas aura keibuan nya


"jangan, dia udah mau tidur" cegah reyhan merasa kasihan dengan bocah itu


"iya shin, jangan.. mata nya udah mau merem gitu" timpal rendra menunjuk sisil


"yaudah, kita pamit duluan" ucap shinta


"barengan aja, mobil kita juga masih di parkiran" ucap reyhan yang diangguki semua nya


setelah membayar semua makanan, mereka keluar dari warung tenda dan berjalan menuju parkiran tempat mobil masing masing di parkirkan


"duluan ya, assalamualaikum" pamit shinta kemudian masuk ke mobil nya


"pamit ren, pak, assalamualaikum" ucap jannah sebelum duduk di kursi kemudi karena dia yang menyetir malam ini


"waalaikumsalam" jawab reyhan juga rendra barengan


"duluan.. semoga mata kakak ku segera dibuka" ucap ajudan terkekeh sebelum menaiki moge nya dan mengikuti mobil kakak nya yang sudah melaju terlebih dahulu


"apa maksudnya tadi?" gumam reyhan bertanya tanya tentang perkataan ajudan tadi


"gue duluan ndra" ucap reyhan melengos begitu saja dan langsung masuk mobil nya sendiri


"lo gak nanya in gue mau nebeng atau nggak gitu?" tanya rendra


"itu mobil lo kan? udah gue pulang duluan" ucap reyhan menunjuk mobil rendra yang berada tak jauh dari mobil nya, kemudian menyalakan mesin benda roba empat itu dan meninggalkan rendra


"ck ck ck, susah amat basa basi sama lo rey" gerutu rendra kemudian masuk mobil nya dan meninggalkan area pasar malam


beberapa menit perjalanan, shinta dan lainnya sudah sampai di rumah, jannah bertugas memasukkan mobil ke garasi, dan shinta yang langsung masuk untuk menidurkan sisil di kamar nya


tok tok tok!


"kak.." panggil sang ajudan dengan suara sedikit pelan, shinta yang mendengar panggilan adik nya bergegas membuka pintu kamar agar bocah kecil itu tidak terbangun


"kenapa?" tanya shinta pelan


"dia belum tau tentang kakak yang sebenarnya?" tanya ajudan yang dijawab gelengan kepala oleh shinta


"sampai kapan kakak mau menyembunyikan nya?" tanya ajudan lagi


"gak mudah buat kakak untuk mengungkap semuanya, tapi kakak akan berusaha untuk terbuka, jadi kamu jangan khawatir" jawab shinta

__ADS_1


"lebih cepat lebih baik kak, supaya aku bisa tau, dia itu laki laki yang baik buat kakak atau enggak" ucap ajudan


"iya, udah sana tidur" ucap shinta


"iya kak, jangan lupa do'a sebelum tidur" ucap ajudan kemudian turun ke kamar nya yang memang ada di bawah


shinta mendesah pelan, kemudian kembali masuk ke kamar nya untuk mengganti pakaian dengan piyama tidur lengan panjang dan celana panjang, tak lupa ia juga menyisir rambut nya sebelum tidur


*kapan aku mengungkap semuanya?* batin shinta yang sudah tiduran di samping sisil, ia kemudian mengambil gelas yang ada di meja nakas berniat untuk minum, tapi sayang karena gelas itu sudah kosong dan mau tak mau dia harus turun ke dapur untuk mengambil air putih


shinta mengernyitkan dahi nya saat melihat jannah masih duduk dan berdiam diri di meja dapur


"ngapain jan? kalau mau i'tikaf ya di masjid sana.. jangan di dapur, ntar kesambet" ucap shinta seraya mengambil air putih dari dispenser


"ck, gue bukan i'tikaf, gue cuman lagi mikir" jawab jannah kesal


"mikirin apa? gue lihat tadi lo banyak diem nya di pasar malam" ucap shinta seraya duduk di samping jannah


"itu yang gue pikirin" ucap jannah menghela nafas dalam dalam


"sini sini.. cerita sama gue" ucap shinta meletakkan gelas yang dia pegang di atas meja


"apa mungkin keluarga rendra akan nerima gue?" tanya jannah yang mulai mengeluarkan pikiran nya


"maksud lo?" tanya shinta balik dengan menautkan alis nya


"lo tau lah.. kalau kehidupan gue sama rendra itu beda, bahkan jauh berbeda" ucap jannah yang membuat shinta paham sekarang


"kehidupan gue sama kak rey juga beda jan, beda jauh" ucap shinta yang berusaha meyakinkan sahabat nya bahwa dia juga tidak sendirian


"tapi tante riana kan setuju sama lo shin, bahkan akbrab banget sama lo" ucap jannah yang membuat shinta tersenyum


*gue tau, tapi apa mungkin papa nya kak rey akan nerima gue? secara gue juga belum pernah ketemu papa nya kak rey* batin shinta bertanya tanya


"tapi mama nya rendra pas ketemu sama lo gimana? kan lo pernah di ajak ketemu mama nya" tanya shinta


"mama nya baik banget, dia penyayang, sifat nya sama persis dengan tante riana" jawab jannah


"trus apalagi yang bikin lo gundah gini?" tanya shinta


"gue belum tau reaksi papa nya, apa papa nya rendra akan setuju? atau justru menolak karena kehidupan kita jauh berbeda, rendra orang yang berada shin, bahkan bisa dikatakan konglomerat" jawab jannah


shinta yang melihat hal itu langsung memeluk jannah, dia tau apa yang jannah rasakan sekarang karena dia juga sedang merasakan nya


"apa beliau akan nerima gue shin? apa beliau akan nerima gue setelah tau semuanya tentang gue?" tanya jannah meletakkan dagu nya di pundak shinta, tapi yang ditanya justru tidak menjawab karena jujur saja dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya


*itu juga yang gue rasain jan, dan satu hal lagi, apa lo masih mau jadi sahabat gue setelah tau tentang status gue yang sebenarnya?* baitin shinta dengan tangan mengelus pelan punggung jannah

__ADS_1


bersambung


__ADS_2