Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
110.Mengumbar atau tidak


__ADS_3

Shinta melihat acara peresmian itu dengan seksama sampai berakhir dan hanya tinggal jamuan santai antar pebisnis saja


Ya... dia merasa bisa menepati janji nya meskipun tidak melihat secara langsung dan melihat nya dari layar saja, tapi itu sudah cukup untuk nya karena mengingat akses hotel yang lumayan susah


Shinta yang tengah berjalan di koridor hotel berniat untuk pulang tanpa sengaja malah bertemu Reyhan yang kebetulan keluar dari aula karena ingin ke toilet


*Aduh duh duh... kok malah keluar sih?* Batin Shinta bingung ingin meneruskan jalan nya ke depan atau balik badan


Ah... bodo amat lah, lagian dia juga memakai masker dan topi yang membuat Reyhan pasti tidak akan mengenali nya


*Bismillah... gak akan ketahuan* Batin Shinta yang nekat berpapasan dengan Reyhan meskipun dalam hati ia terus komat kamit agar Reyhan tidak dapat mengenali nya, kalau sampai Reyhan tau... harus beralasan apa dia nanti?


Reyhan yang tengah berpapasan dengan seorang gadis yang ada di depan nya pun berhenti sejenak, dia merasa tidak asing dengan bau parfum yang gadis itu kenakan


Gimana bisa gak ngenali parfum Shinta? kan mereka sering ketemu walaupun hanya di rumah sakit


Karena penasaran, Reyhan pun berbalik namun sayangnya... gadis yang berpapasan dengan nya sudah hilang begitu saja tanpa jejak


*Gak mungkin di hotel ada makhluk halus kan?* Batin Reyhan yang berpikiran macam macam, oh ternyata Reyhan yang otak nya pandai berbisnis pun percaya dengan hal tahayul


Tapi tadi kaki gadis yang berpapasan dengan nya menempel di lantai, itu berarti dia manusia kan? oke dia adalah manusia dan tanpa berpikir macam macam, Reyhan meneruskan langkah nya menuju toilet


Berbeda hal dengan Shinta yang saat ini sedang pusing karena melihat masih banyak reporter di loby hotel, dia bersembunyi di balik dinding dan berpikir bagaimana cara nya keluar dengan selamat tanpa terlihat aneh di depan para wartawan


Tiba tiba saja terlintas ide di benak nya, dan sekarang saat nya untuk mengeluarkan jurus andalan, apalagi kalau bukan meminta Bian agar mau membantu nya keluar dari hotel


Tapi belum sempat dia menulis pesan, Bian ternyata lebih dulu mengabari nya


Kang bihun🐡


πŸ“©: Bingung ya zef gimana cara nya keluar hotel? oke selamat menikmati kepusingan mu


Bukan nya mengirim bantuan tapi justru pesan menyebalkan yang dia dapatkan, salah sendiri bandel sih shin...


πŸ“©: "Bantuin kek atau apa gitu, ini malah ngeledek" Balas Shinta dengan kekesalan nya


πŸ“©: Makanya jangan bandel, tungguin aja di loby... bentar lagi asisten gue kesitu, namanya Alena Lee


Tanpa membalas pesan dari Bian, Shinta langsung memasukkan ponsel nya dan menunggu asisten Bian yang akan menjemput nya


5 menit dia menunggu, ada seorang yang menepuk pundak nya dari belakang hingga membuat diri nya terperanjat kaget


*Bukan kak rey kan?* Batin Shinta was was kemudian membalikkan badan secara perlahan


"Permisi... anda nona Shinta kan?" Tanya gadis cantik dengan pakaian Kerja layaknya asisten yang ada di depan nya


*Ealah... ternyata bukan kak Reyhan* Batin Shinta


Author : Kenapa? kamu berharap ya?


Shinta : eh... enggak thor, nanti aku bingung dong mau jawab apaan


"Permisi..." Ucap Alena yang menyadarkan Shinta dari lamunan nya


"Eh iya, saya Shinta" Jawab Shinta menganggukkan kepala


"Baiklah... saya Alena Lee, mari ikut saya tapi tolong topi dan masker anda dilepas dulu" Ucap Alena sopan karena Alena pikir bahwa Shinta itu wanita dari atasan nya


Tanpa bertanya babibubebo, Shinta menurut sesuai perintah Alena, hanya tinggal hijab yang tersisa di kepala nya


"Dengan begini mereka mengira kalau anda hanya pengunjung hotel tanpa mencurigai sedikitpun" Ucap Alena menjelaskan kemudian menggiring Shinta untuk keluar dari hotel dan masuk di mobil Bian meskipun tadi ada berapa wartawan yang penasaran karena Shinta keluar dari arah aula peresmian

__ADS_1


Mereka cukup penasaran dengan siapa gadis muda berhijab yang baru saja keluar dari arah aula, apa dia memang salah satu kolega WY group yang di undang di acara ini?


"Makasih" Ucap Shinta


"Sama sama" Jawab Alena dengan ikut duduk di kursi penumpang sebelah Shinta membuat sang empu bingung


"Sebentar lagi pak Bian keluar, kita disuruh nunggi disini" Ucap Alena yang mengerti arti pandangan Shinta


*Bian ini ngejebak gue ya? dia mau tau dimana alamat gue tinggal* Batin Shinta setelah mendengar penjelasan Alena


Benar saja, tak lama kemudian muncul lah Bian yang baru keluar dari hotel dan tentu nya tak luput dari jepretan foto para wartawan karena dia memang salah satu pebisnis yang cukup terkenal


"Sok sok an senyum senyum di depan kamera" Cibir Shinta yang sebenarnya hanya bercanda


"Dih... kan gue ganteng, sayang banget dong kalau gak senyum dan memanfaatkan ketampanan gue" Ucap Bian yang saat ini sudah siap dengan memegang kemudi


Perbincangan antar sahabat itu pun rupanya di salah artikan oleh Alena yang mengira bahwa Shinta sedang cemburu karena Bian tersenyum di depan kamera


"Lo pindah ke depan, gue bukan supir lo ya!" Ucap Bian


"Males" Jawab Shinta enggan duduk di depan


"Ck, kayak abg aja gaya lo!" Ucap Bian kemudian mengemudikan mobil nya dengan kecepatan normal


"Emang gue masih abg" Ucap Shinta enteng dengan bersedekap dada


*Oh my god, kenapa gaya bos dan wanita nya ini malah lo - gue?* Batin Alena tidak habis pikir


"Alen... makasih karena udah nemenin si bandel itu" Ucap Bian pada Alena yang ada di belakang nya


"Sama sama pak, itu juga sudah menjadi tugas saya untuk membantu bapak" Ucap Alena sopan


"Ck, lo bisa masuk hotel lewat mana?" Tanya Bian


"Pintu belakang" Jawab Shinta jujur karena saat dia datang sudah ada wartawan yang berdesakan


"Caranya? kan ada dinding tinggi di belakang" Tanya Bian lagi


"Lompat lah" Jawab Shinta enteng


"Lompat apa nya? tadi gue lihat ada tangga yang nempel di dinding tuh" Ucap Bian dengan senyum mengejek


"Ya kan naik nya harus pakai tangga, trus habis manjat gue ngapain lagi kalau gak lompat? melayang gitu kayak perasaan?" Ucap Shinta


"Kali aja lo beneran melayang kan?" Ucap Bian dengan cengiran khas nya, ah... udahlah gak ada guna nya juga ngobrol dengan Bian yang ujung ujungnya selalu unfaedah


"Terserah...Jalan nusa indah nomer 85" Ucap Shinta malas dengan memandang keluar kaca jendela mobil


"Alamat apaan tuh?" Tanya Bian fokus dengan jalanan


"Tukang ketoprak, ya rumah gue lah bi... " Ucap Shinta yang heran sekali dengan otak sahabat nya yang berukuran sebiji kacang


*Duh... romantis banget panggilan nya by... byby* Batin alena dengan hati meleleh


"Kirain aja tuh alamat rumah nya si siapa tuh tadi... rey atau roy ya?" Ucap bian yang sengaja menggoda sahabat nya yang tidak ditanggapi oleh Shinta karena ujung nya juga pasti unfaedah


Sesampai nya di rumah Shinta, mobil Bian hanya berhenti di depan pagar karena itu memang permintaan nya


"Makasih bi udah nganterin" Ucap Shinta dengan membuka pintu mobil


"Gak ditawarin masuk nih?" Goda Bian

__ADS_1


"Masuk aja gih, masuk tinggal masuk aja kok" Ucap Shinta enteng


"Gak deh, masih ada bunda lo... " Ucap Bian


"Takut ya?" Goda Shinta dengan menaik turunkan alis nya


"Ya gak lah, takut aja nanti tante ngira kalau lo guna guna cowok seganteng gue sampai mau sama lo" Jawab Bian yang benar benar meyebalkan


Shinta kemudian menatap Alena dan berkata


"Awas ya, hati hati sama dia yang suka jajan sembarangan" Ucap Shinta yang membuat Bian melotot, bisa bisa nya Shinta membeberkan informasi yang tidak sesuai fakta


"Gila apa? gue gak suka jajan sembarangan ya enak aja lo!" Ucap Bian tidak terima


"Awas aja kalau sampai lo jajan cewek sembarangan, gue do'a in lo gak akan nemu jodoh!" Ancam Shinta yang tidak ingin sahabat nya ini menjadi laki laki brengsek


"Heh.. Cabut doa lo!" Ucap Bian


"Gak, assalamualaikum" Ucap Shinta kemudian membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah nya


"Waalaikumsalam" Jawab Bian dengan menggelengkan kepala nya, heran dengan sahabat yang tingkah nya benar benar absurd kali ini


"Bu Shinta cantik ya pak" Ucap Alena tersenyum


"Dia gak suka di panggil ibu, mungkin dia akan berubah jadi macan hanya karena di panggil ibu" Ucap Bian terkekeh kemudian melanjutkan perjalanan nya untuk kembali ke kantor


Shinta yang baru masuk rumah langsung disuguhi dengan pemandangan bi Asti yang sedang memegang kemoceng


"Assalamualaikum" Ucap Shinta


"Eh waalaikumsalam, non kok udah pulang? ini masih jam dua kan?" Ucap bi Asti kaget


"Iya bi, saya pulang duluan tadi... kalau gitu saya ke atas dulu ya bi" Pamit Shinta yang diangguki bi Asti, kemana bunda dan Sisil? mereka sedang jalan jalan di temani pak Didi karena tadi bunda memang mengabari nya


Dia masuk ke kamar dan merebahkan tubuh nya di kasur empuk milik nya, tapi ntah kenapa tiba tiba dia berpikir tentang trauma yang selama ini masih membelenggu diri nya


Hal yang belum Reyhan ketahui sama sekali, bahkan Reyhan sudah tidak pernah menanyakan tentang trauma itu pada nya


Dan mungkin ini harus dibicarakan dengan Elin, yang menjadi dokter pribadi nya selama ini


πŸ“ž : Ya shin, akhirnya lo telfon gue juga setelah sekian purnama terlewati


πŸ“ž : "Lebay, gue baik baik aja kok... gue cuman mau bilang sesuatu aja" Ucap Shinta yang saat ini sedang telfonan dengan Elin


πŸ“ž : Mau ngomong apa sih cantik?


πŸ“ž : "Lo inget gue pernah ngomong kalau gue gak bisa nerima laki laki yang belum tau tentang trauma gue?" Tanya Shinta


πŸ“ž : Ya, gue inget hal itu.. kenapa emang nya?


πŸ“ž : "Kalau gue cerita sama kak rey, apa itu gak sama aja kalau gue ngumbar aib keluarga gue?" Tanya Shinta


πŸ“ž : Maksud lo?


πŸ“ž : "Aduh lin... lo tau lah kalau penyebab trauma gue itu ada hubungannya sama kelakuan keluarga gue, dan kalau gue cerita apa gue sama aja dengan mengumbar aib keluarga gue sendiri?" Tanya Shinta yang membuat Elin terdiam sejenak disana


Bersambung


Kalau kekelakuan yang membuat dia trauma itu berarti kelakuan tidak pantas dari keluarga yang dia lihat 10 tahun lalu ya readers


Gimana nih menurut kalian? dengan Shinta cerita tentang trauma nya, itu di anggap mengumbar aib keluarga nya sendiri atau tidak?

__ADS_1


__ADS_2