
"Kak Rey" Panggil ajudan pada Reyhan yang masih fokus menulis dengan secarik kertas dan pena nya
"Apa?"
"Aku tahu kau kecewa dengan kakak ku karena telah menyembunyikan hal yang besar" Ucap ajudan
"Lalu?" Tanya Reyhan datar
"Dia melakukan itu bukan karena apa apa ataupun uang, tapi dia ingin melindungi keluarga nya termasuk suami nya kak, yaitu kamu" Ucap ajudan
Reyhan berulang kali mengingat saat Shinta menangis ketika menceritakan bagaimana detail kejadian yang merenggut nyawa Zean satu tahun lalu
"Ya... aku, kak Shinta, kak Laila, Bian, Zean dan Tiara berlibur ke Osaka satu tahun lalu, sebenarnya bukan berniat liburan tapi saat itu kakak ada proyek ke Osaka untuk mengembangkan cafe nya jadi kita semua sekalian kesana" Ucap ajudan yang memulai cerita melalui pandangan dan apa yang dia lihat
"Setelah di rasa urusan cafe selesai, kita ke suatu tempat di pusat kota yang nama nya cukup terkenal dan kak Zean menutup alias menyewa kawasan itu hanya karena kita berkunjung ke sana" Ucap ajudan
Saat itu Zean sudah menjadi pebisnis setelah bekerja beberapa tahun dan akhirnya memilih usaha sendiri di jasa arsitek lalu merambah ke bidang properti
berjalan cukup lama dan ada juga permasalahan gedung saat belum memiliki kantor sendiri, tahun demi tahun perusahaan dan nama nya pun di kenal banyak orang sampai manca negara
Kebutuhan terpenuhi dan Zean membangun panti asuhan sesuai yang dia ingin kan, juga setiap bulan dia pasti akan membeli buku mental ilness untuk Shinta, apapun untuk menyenangkan gadis nya termasuk menyewa area bersalju di Osaka, hal itu dia lakukan walau menurut orang lain pasti terlalu berlebihan
"Trus?" Tanya Reyhan
"Lalu... karena area itu hanya ada kita dan beberapa petugas, peristiwa penembakan itu terjadi"
"Aku saat itu berada di kejauhan berdua bersama kak Bian, kau tahu sendiri kan kak kalau area bersalju selalu ada gunung es di sana" Ucap ajudan dan Reyhan mengangguk karena dia sendiri sudah tahu hal itu
"Aku melihat dari kejauhan ada dua wanita yang membawa senjata dan salah satu nya adalah Alina Lee, orang yang menjebak mu kak" Ucap ajudan
"Salah satu dari wanita itu memang mengarahkan senjata nya pada kak Shinta, dapat di pastikan kalau incaran nya memang kakak ku, tapi... kak Zean lebih dulu memeluk kakak dan melindungi nya sampai ada dua peluru yang menembus jantung nya dari belakang" Ucap ajudan memejamkan mata, kisah itu benar benar membuatnya bingung sampai sekarang
"Shinta juga menyalahkan diri nya sendiri atas kematian Zean" Ucap Reyhan menanggapi
"Waktu itu kak Shinta sangat panik, benar benar panik karena dia sendiri takut dengan darah yang mengucur sangat deras dari tubuh Zean, aku masih berlari menghampiri mereka karena posisi ku dari awal memang jauh"
"Untung Tiara membawa senapan dan dapat mencegah serangan lanjutan, begitu pula dengan tim white blood Jepang yang baru saja datang karena mereka juga baru bisa memprediksi adanya serangan itu"
"Saat tim ingin mengejar kedua wanita itu, kak Zean yang tergeletak di pangkuan kakak justru mengangkat tangan nya, pertanda agar kita tidak boleh mengejar mereka, hingga akhirnya saat perjalanan menuju rumah sakit, Zean meninggal akibat jantung nya tidak bisa menahan sakit lagi" Ucap ajudan mengingat di rumah sakit Zean hanya bertahan selama beberapa menit saja
Dia masih ingat bagaimana Shinta menangis histeris dan meraung raung saat Zean meninggalkan nya, orang yang mendukung nya termasuk membantu saat Shinta kesusahan kabur dari rumah
"Di mana makam nya?" Tanya Reyhan selepas mendengar kisah tragis itu
"Hanya kakak, Bian dan ibu panti yang merawat Zean dari kecil lah yang tahu, aku tidak bisa mengatakan nya" Jawab ajudan
Memang kematian Zean bagaikan misteri di dunia bisnis yang sampai sekarang publik belum mengetahui sama sekali penyebab nya, pemakaman juga di adakan tertutup untuk mencegah adanya berita yang tidak tidak
"Selesai pemakaman kakak kembali walau selalu ada raut sedih dalam muka nya, dan sebelum meninggal kak Zean mengatakan ada satu hal yang harus kak Shinta ketahui, yaitu ruangan rahasia milik Zean, kakak kesana dan melihat ada beberapa barang ataupun foto kenangan mereka, yang mengejutkan adalah ada surat pengalihan pemilik perusahaan, untuk lebih jelasnya kamu bisa tanya kak Shinta" Ucap ajudan
"Kenapa Zean mengalihkan nama perusahaan sebagai milik istri ku?" Tanya Reyhan
"Aku tidak tahu, hanya kakak yang tahu dan semua alasan itu tersimpan dalam ruang rahasia yang aku sendiri tidak pernah masuk" Jawab ajudan
"Aku tahu kakak ku salah telah menyembunyikan kenyataan lama ini dari mu kak, tapi coba kau bayangkan"
"Menjadi kakak tidak mudah, meninggal nya kak Zean dan trauma itu menjadi satu, belum lagi kenyataan yang menunjukkan kalau pembunuh itu tetap mengincar kakak ku meski mereka telah merenggut nyawa Zean"
"Dan kau membiarkan kakak mu berbohong pada ku? kau pun tahu semuanya tapi tidak berbicara pada ku tentang hal itu, aku mencintai kakak mu dan tidak ingin dia menyembunyikan satu hal pun dari ku" Ucap Reyhan datar bak es balok
"Aku tahu, aku tahu kau sangat mencintai kak Shinta, aku juga menyalahkan nya karena dia menyembunyikan satu fakta dari mu"
"Tapi tolong tempat kan diri mu sendiri pada posisi kakak ku, rasa khawatir tetap ada karena identitas kakak ku menjadi pencarian sehari hari bagi mereka, kau juga tahu kenapa Sisil sangat takut dengan orang baru bukan?" Ucap ajudan, dia yakin kalau Shinta sudah menceritakan semuanya
Reyhan mengangguk
Dulu setelah Zean meninggal, Shinta sempat kembali ke Osaka untuk menemui Egi serta membawa Harun dengan sang istri juga Sisil
Saat di malam hari, semua orang sedang pergi berbelanja kebutuhan makanan, hanya tinggal Shinta dan Sisil yang berada di taman apartemen karena ingin bermain di sana
Bola yang Sisil gunakan justru terlempar entah kemana dan bocah itu di bawa oleh sosok tidak di kenal saat Shinta sedang mengambilkan mainan lain untuk nya
Setelah tahu kalau keponakan nya hilang, Shinta mendapat telepon agar mengambil Sisil di area yang dekat dengan perhutanan di Osaka
Tanpa pikir panjang tentu saja ia pergi menggunakan taksi online, saat sampai tujuan ia melihat gadis kecil itu duduk tertunduk di pinggir jalan yang sepi karena memasuki ares perhutanan
Mata Sisil sembab, sangat jelas kalau bocah itu habis menangis sampai capek dan akhirnya tertidur di jalan, dalam hati Shinta menjerit, tega sekali penjahat itu meninggalkan anak kecil di area hutan seperti ini
Sejak saat itu Sisil akan takut bila berinteraksi dengan orang baru, dan awalnya Shinta berniat menceritakan ini pada Harun dan Sela, tapi akibat Sisil yang terlalu trauma pun bocah itu melarang tante nya untuk menceritakan kejadian itu, mungkin karena ancaman yang penjahat katakan pada Sisil hingga membuat gadis kecil itu takut.
"Kini kau tahu kak kalau kehidupan istri mu tidak mudah, yang dia jalani adalah sehari hari menjadi incaran para pembunuh itu" Ucap ajudan
"Tapi... kenapa dia enggan mengatakan nya padaku? bahkan aku baru tahu setelah kami menikah tiga bulan lama nya" Ucap Reyhan
Ajudan tersenyum samar "Ternyata kau tidak tahu sifat kakak ku yang sebenarnya ya?" Ucap nya
"Maksud mu?" Tanya Reyhan yang ngeloading pikiran nya
"Bayangkan, aku sudah bilang bayangkan kau ada di posisi kakak ku, apa kau juga akan jujur dan mengatakan semuanya pada istrumu walau akibat nya akan mengenai anggota keluarga mu? jawab aku! apa kau akan mengatakan fakta itu walau istri mu akan menjadi taruhan nya?" Ucap ajudan mulai terpancing emosi, dia hanya ingin meluruskan sesuatu
__ADS_1
Reyhan menggeleng, tentu saja dia juga memilih diam dan menyelesaikan sendiri, ketika semua selesai baru lah dia akan mengatakan yang sejujurnya pada sang istri
"Jawab aku, jangan hanya gelengan kepala atau aku sendiri yang menutup mulut mu pakai lakban?" Ucap ajudan, aihh dongkol kali lama lama bicara sama kutub ini
"Tidak, aku akan mengatakan nya ketika masalah sudah selesai" Jawab Reyhan
"Kalian berdua sama kan? kau dan kak Shinta berpikiran sama, menyembunyikan sesuatu dan menghadapi sendiri karena keselamatan keluarga adalah taruhan nya, lantas kenapa kau tidak mengerti perasaannya tadi?" Ucap ajudan mengusap kasar wajah nya
Reyhan diam, memang benar yang adik ipar nya katakan bahwa dia dan Shinta berpikiran sama jika menghadapi masalah seperti itu, lantas kenapa dia tidak bisa mengerti perasaan istri nya tadi? alasan di balik semua ini sangat lah masuk akal
"Aku tahu kau kecewa karena pasangan hidup mu menyembunyikan hal besar, tapi dia juga manusia kan? tempat nya salah dan aku tidak membela siapapun, kakak salah kau juga salah karena ceroboh membiarkan wanita laknat seperti Alina masuk ke kamar office tell mu" Ucap ajudan
"Tapi kenapa Zeze grup melakukan penyuntikan dana ke perusahaan ku?" Tanya Reyhan
"Kenapa? apa kau merasa di remehkan jika istri mu membantu mu? Zeze grup yang memimpin adalah kakak ku dan Bian wakil nya, dia melakukan penyuntikan itu karena merasa bahwa masalah foto yang kau alami itu penyebab nya juga kakak, masalah ini seperti ranting yang terus berhubungan"
"Jika masalah yang kau alami penyebab nya adalah orang lain, sudah pasti kak Shinta akan membiarkan mu berjuang sendiri terlebih dahulu untuk menyelamatkan perusahaan tanpa membantu ataupun melakukan penyuntikan itu, jika kau tidak bisa baru lah kakak akan membantu mu" Ucap ajudan, duh lama lama haus juga bicara panjang kali lebar gini
Reyhan baru paham di sini, rasa tanggung jawab istri nya begitu tinggi sampai ketika masalah muncul dan itu di sebabkan karena nya, Shinta akan cepat tanggap memberi sebuah bantuan
"Aku mempercayaimu sangat susah, ada beberapa rekan yang ingin melamar kakak ku tapi dengan tegas aku menolak nya! sampai sini kau tahu bahwa menerima mu sebagai suami kakak ku tidak lah mudah, aku percaya kau bisa melindungi kakak ku maka jangan rusak kepercayaan ku pada mu juga" Ucap ajudan
"Kunci rumah tangga adalah saling percaya, kalian sudah saling mempercayai hanya saja tingkat kejujuran perlu kalian tambah lagi, bukan bermaksud menggurui tapi aku berharap kau dan kakak bisa belajar dari semua ini, takdir nya memang tidak bisa di hindari, tapi jika kalian berdua berusaha maka paati kebaikan itu akan memihak pada tuan nya" Ucap ajudan sadar jika dia saja belum menikah tapi sudah berani berkata seperti itu
Nasehat itu bukan hanya untuk kakak nya saja, melainkan gambaran untuk dia ketika sudah menikah nanti
"Dari awal kak Shinta sudah percaya kalau kau tidak akan selingkuh, maka dari itu buat diri mu memiliki kepercayaan untuk kakak karena yang dia lakukan pun punya alasan kuat, bahkan sama dengan pemikiran mu sendiri" Ucap ajudan
"Kecewa boleh, tapi jangan sampai hal ini menghancurkan rumah tangga indah yang sudah kalian bayangkan, apalagi calon anak sedang menunggu kalian tersenyum saat mengajari ia berjalan nanti" Ucap nya sambil menepuk bahu kiri Reyhan lalu keluar dari ruangan
Dia ingin memberi waktu agar Reyhan bisa merenungi semuanya sendiri, memilih jawaban yang tepat dengan kepala dingin
Setelah mendengar beberapa hal panjang tadi, Reyhan lalu melanjutkan tulisan nya yang sempat tertunda.
🌸🌸🌸
Di sisi lain, Shinta sampai ke gudang tempat penyimpanan beberapa bahan bangunan untuk proyek perusahaan
Tentu nya setelah dia mandi, sholat isya' dan berganti pakaian di rumah tadi
"Tiara, apa anak anak di panti asuhan perlu di evakuasi terlebih dahulu? jika iya maka nanti langsung saja sewa hotel karena kita tidak punya gedung panti lain, apalagi di rumah saya yang tidak akan mungkin anak anak tidur di kasur lantai" Ucap Shinta tidak ingin jika bocah bocah di panti asuhan tidur di kasur lantai, itu terlalu keras dan tidak nyaman pasti nya
"Saya rasa tidak nona, tapi nanti jika memang perlu maka saya akan melakukan sesuai perintah" Ucap Tiara
"Lakukan yang terbaik" Ucap Shinta kemudian turun dari mobil, baru masuk ada beberapa penjaga yang menunduk ke arah nya
"BUMILLL!!!"
"ALLOHU AKBAR!" Shinta memegang dada nya yang terasa denyut jantung lebih cepat karena seseorang yang mengejutkan nya
"Nona, anda tidak apa apa?" Tanya Tiara yang di balas anggukan kepala
"Lo tuh ngapain di sini?" Tanya Shinta terkejut dengan keberadaan Laila di depan pintu gudang
"Hehe... gue kan ikut misi menangkap Alena, si tukang ajar itu" Jawab nya cengengesan
"Duh... kalau lo sampai kenapa napa gimana? ntar senapan bokap lo melayang kena ketua tim gue La" Ucap Shinta tepok jidat sendiri
"Haha, gak akan dan gue ikut karena udah izin sama Bian, lo tenang aja lah" Ucap Laila meggandeng bumil itu seraya mengajak nya masuk ke dalam
Ceklek!
Tadi yang berekspresi kaget karena kejutan Laila, sekarang berubah menjadi tegas dan sorot mata tajam
"Halo Alina Lee" Sapa Shinta melambaikan tangan nya
Dapat di lihat kalau gadis yang di ikat si kursi itu membulatkan mata nya, mulut di beri bantal sebagai penyangga agar gadis itu tidak melukai bibir nya
Gini gini Shinta yang memberi perintah itu pada anak buah nya karena kasihan jika bibir gadis itu terluka
"Ups... maaf, maksudku hai Alena Lee" Ucap Shinta tersenyum smirk lalu berjalan perlahan mendekati Alena
Tiara memberi kode agar dua anggota white blood di belakang Alena untuk segera menyingkir agar Shinta lebih leluasa kali ini
"Hmmm.. hkmmm" Mungkin Alena ingin bicara tapi tidak bisa
"Kenapa? mau bicara apa kamu Alina Lee? duh... maaf saya sampai salah berkali kali dalam menyebutkan nama" Ucap Shinta sengaja tentu nya
Laila maju dan mengeluarkan bantalan dari mulut itu, ingin sekali dia menampar seseorang yang sudah membuat sahabat nya kesusahan, namun jelas Shinta melarang dia berbuat kekerasan di sini
"Akh... kalian kenapa hah? datang tiba tiba menyeret saya tanpa alasan yang kelas" Teriak Alena tidak terima, mata itu merah menunjukkan dia sedang marah sekarang
"Wah... hebat sekali wanita yang pandai drama ini" Cibir Laila
"Saya rasa tidak perlu basa basi lagi dan kamu sudah tahu alasan penangkapan ini" Ucap Shinta lalu mendekatkan wajah nya ke wajah Alena hingga berjarak beberapa centi saja, dia memberi tatapan tajam yang mampu menghunus beecampur amarah dan kekesalan di sana, sangat menakutkan bagi yang melihat "Kau yang membocorkan identitas ku hanya untuk membantu saudara mu bukan?" Ucap nya dengan nada dingin, menyeramkan seperti ingin menguliti orang di depan nya ini secara hidup hidup
"Apa yang kau katakan? aku tidak tahu tentang hal itu dan lebih lepaskan aku sekarang!!!" Ucap Alena berusaha mengelak dan meronta kan badan nya, terlihat sekali wajah berkeringat itu terlalu berusaha
"Ck ck ck, sudah ketahuan tapi masih mengelak? sayang sekali ucapan mu itu tidak ada guna nya" Ucap Shinta
__ADS_1
Dughhh!!!
Alena mendorong kening Shinta menggunakan kening nya sendiri dengan cukup kuat
"KAUU!!!" Teriak Laila dan Tiara secara bersamaan, bahkan tangan itu sudah melayang ke atas ingin memberikan tamparan, tapi dengan cepat Shinta menghalangi dengan memberi kode bahwa dia baik baik saja
"Aku tidak tahu seberapa dendam nya kau padaku, tapi jika terjadi sesuatu pada saudara mu maka jangan salahkan aku" Ucap Shinta membuka handphone dan menunjukkan foto yang di kirim ajudan
"Untuk apa kau menangkap nya? dia tidak bersalah dalam hal ini" Ucap Alena terpancing emosi serta khawatir melihat saudara nya di foto itu
"Tenang saja...aku tidak pernah berniat membunuh nya, katakan sesuatu untuk menyelamatkan Alina atau dia tidak akan bisa terlepas dari genggaman ku" Ucap Shinta tersenyum lalu menjauh dari Alena
Selagi gadis itu berpikir, ia menengok ke arah Bian yang sedang terduduk lemas di pojok gudang, tempat remang ini membuat nya susah untuk terlihat bagi orang lain
"Bi... gue tahu lo kecewa, tapi terimakasih sudah berlaku adil, jodoh yang baik pasti datang untuk mu Bi" Ucap Shinta berteriak agar Bian mendenfar nya
*Kasihan, korban body goals* Batin Laila menggelengkan kepala nya
"Tidak ada yang mau di bicarakan? kalau begitu saya pergi dulu dan nikmati waktu mu" Ucap Shinta
Dia kesini hanya memberi gertakan untuk Alena saja, tidak ada niatan sama sekali untuk menyiksa atau apapun itu
"AKU BILANG LEPASKAN AKU!" Teriak nya kekeh
"Tidak akan sebelum semua masalah ini selesai termasuk kau masuk ke jeruji besi" Ucap Shinta sadar lalu berbalik badan dan keluar dari gudang besar itu di ikuti dengan Tiara juga Laila
"Bebeb... akhirnya hamil juga dan bentar lagi gue bakal punya keponakan" Ucap Laila memeluk bumil satu itu
"Iya iya makasih... " Ucap Shinta tersenyum, dia menyuruh Laila untuk pulang dan istirahat apalagi ini sudah malam
Baru lah dia kembali ke mobil dan langsung menujur rumah sakit lagi, ia tidak mau jauh jauh dari suami nya walau hanya beberapa jam saja
"Tiara, saya mau nulis dan tolong jangan ganggu sebentar ya" Ucap Shinta memegang secarik kertas dan satu pena sama seperti Reyhan
"Baik nona"
Ia mulai membuat barisan dua kolom, satu berisi kebaikan dan satu lagi berisi tentang kesalahan
Ya... perjanjian yang mereka buat setelah menikah adalah jika mereka sedang tidak baik baik saja atau dalam artian memiliki masalah
Maka mereka harus ingat bahwa pasangan masing masing juga manusia, ia bukan malaikat, ia juga memiliki emosi yang sama seperti manusia pada umum nya
Beri waktu sejenak untuk menjaga jarak, jangan biarkan emosi mengalahkan semuanya, untuk membuat PR matematika saja kita membutuhkan waktu yang lama bukan?
Fatal akibatnya jika sesuatu yang baru berjeda namun di paksa untuk terus bersambung
Saat waktu jeda dengan pasangan, maka yang harus mereka lakukan adalah menyiapkan pena dan secarik kertas
Mereka berdua menuliskan kebaikan pasangan masing masing, semuanya atau minimal yang mereka ingat
Memulai flashback beberapa waktu lalu dan saat saat di mana mereka serius ingin menikah, saat di mana Reyhan melamar untuk menjadikan nya istri, begitu pula saat dimana Shinta menerima lamaran tersebut
Ingatlah kenangan kenangan indah yang sudah berjalan, di lalui bersama dan mulai memaafkan kesalahan masa kii
Jika sudah selesai menulis maka mereka berdua harus membaca kertas tersebut, seberapa banyak kesalahan istri atau suamimu? begitu pun seberapa banyak kebaikan yang selama ini sudah di lakukan sampai titik ini?
Apakah satu kesalahan ataupun beberapa kesalahan itu sebanding dengan kebaikan yang sudah pasangan kita lakukan? pasti lebih banyak kebaikan nya bukan?
Kemudian belajar untuk memaafkan, atau minta maaf terlebih dahulu sebagai memulai perdamaian, karena suatu kenyataan nya memperbaiki bersama orang yang sama itu lebih baik daripada harus mengulang dari awal bersama orang yang baru.
(terinspirasi dari seseorang)
🌸🌸🌸
Di tengah malam Reyhan terbangun, dia memang tidur tadi setelah menyelesaikan tulisan yang menjadi kesepakatan mereka
Menengok ke kanan, dia melihat Shinta sedang tidur pulas di sofa yang ada di sudut ruangan, dia melihat wajah tanpa make up itu selalu saja cantik walau ada yang aneh, yaitu memar di dahi
Perlahan Reyhan turun dari ranjang pasien dan menghampiri istri nya, yang sakit hanya lengan kanan nya saja, tapi tidak dengan kaki dan tangan kiri nya
Dia mendekat, duduk di bagian sofa yang masih kosong tepat di samping pinggang istri nya
Wajah yang selalu menyambut nya dengan senyum itu ternyata memiliki kehidupan yang tidak mudah, banyak rintangan dan jauh dari yang ia bayangkan
Apa pantas wanita yang sudah berjuang itu di sakiti? dia rasa tidak, sebagai seorang suami harus nya dia juga sadar kalau peran nya bukan hanya memimpin tapi mensupport istri nya, penopang tubuh nya dan calon ibu dari anak anak nya
Cup!
Kecupan mendarat di bagian wajah wanita itu, wanita yang dia cintai dan sudah mengambil alih dari ayah nya
"Emh... kamu ngapain bangun mas?" Tanya Shinta mengucek kedua mata nya, dia gampang terbangun dengan gangguan tidur sekecil aapapun
"Kamu udah menemukan jawaban nya yang? kalau gitu ayo kita cerita, duduk berdua atau bahkan tiduran berdua di ranjang yang sama" Ucap Reyhan menunjuk ranjang pasien yang cukup besar itu
Shinta terdiam, dalam hati ucapan syukur selalu terlontar, apalagi ketika panggilan sayang itu benar benar kembali dia dengar dari laki laki yang sudah menjadi pilihan nya.
Bersambung
maaf kalau di setiap episode ada beberapa typo karena nulis nya malam jadi sambil tahan ngantuk😅
__ADS_1