Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
159. Mencari


__ADS_3

Selepas sholat subuh baru lah Reyhan bersiap untuk check out dari hotel dan mencari istri nya, ia tahu kalau wanita itu pasti sedang marah dan kecewa sekarang, bahkan sangat kecewa pada nya


Reyhan menelfon Evan karena hanya asisten lawak itu yang bisa dia andalkan


πŸ“ž : Huam... ya pak? kenapa?


πŸ“ž : "Baru bangun kamu? sholat subuh Van!" Tanya Reyhan membelakakkan mata nya


πŸ“ž : Astagfirullah... udah sholat pak, mau tidur lagi gak jadi karena pak bos nelfon saya


πŸ“ž : "Kalau gitu sekarang juga kamu dan Teo check out dari kamar, saya tunggi di parkiran" Ucap Reyhan lalu mematikan ponsel nya begitu saja


Di kamar lain Evan mematap malas ponsel nya, lalu membangunkan Teo yang masih tertidur pulas


"Apa sih Van? weekend libur" Ucap Teo menepis tangan si asisten lawak


"Pak bos nunggu di parkiran, kita di tunggu sekarang!" Ucap Evan turun dari ranjang dan segera membenahkan koper nya


Teo terlonjak kaget dan refleks bangun dari tidur nya "Hah? minggu loh ini... masa kerja?" Ucap nya


"Terpaksa, gak papa sih ntar juga di ganti sama cuti yang lain dan penting gaji tetap dapat bonus" Ucap Evan mengancingkan lengan kemeja nya


Reyhan yang baru turun di parkiran pun melihat ada mobil pribadi istri nya di sana, ternyata benar bahwa Shinta pergi tanpa membawa mobil nya, bahkan kunci mobil itu pun Reyhan temukan berada di ranjang kamar hotel


*Aku tahu kamu marah, tapi tolong penting kan keselamatan mu sayang* Batin Reyhan lalu memasukkan koper nya di bagasi mobil itu


10 menit berlalu, ia masih berdiri dengan tegap dan ekspresi dingin nya, bahkan orang yang melihat pasti beranggapan bahwa dia sedang dalam amarah, hawa dingin yang keluar dari tubuh kekar itu bak mengalahkan udara kota bandung pagi ini


"Pagi pak... maaf la-" Ucap Evan terhenti karena sang bos menatap tajam diri nya


"Pagi pak" Sapa Teo menundukkan kepala


"Pagi, sekarang kalian pergi ke kantor dan kembalikan mobil ini" Ucap Reyhan menunjuk mobil kantor yang mereka pakai untuk perjalanan kemarin


"Dan untuk kamu Van, mobil saya ada di kantor itu kamu bawa ke apartemen, setelah itu kalian boleh istirahat" Ucap Reyhan datar, mobil pribadi milik nya memang berada di kantor karena tidak jadi di pakai akibat kena muntahan nya sendiri


"Baik pak" Ucap Teo patuh karena tugas nya hanya sepele dan mudah di kerjakan


"Lah... terus bapak pulang nya gimana?" Tanya Evan, Reyhan hanya melirik mobil hitam istri nya pertanda dia akan pulang menggunakan mobil itu


"Trus bu bos mana pak?" Tanya Evan lagi, nyali nya memang benar seakan mempunyai nyawa 10 di depan atasan nya


"Jangan banyak nanya, cepat kerjakan tugas kamu" Ucap Reyhan kesal, dia memang berjanji pada Shinta agar apapun masalah rumah tangga mereka di kemudian hari, baik dia maupun Shinta sepakat untuk enggan mengumbar aib dan menyelesaikan nya berdua


"Ck, pagi pagi udah marah kayak singa" Setelah mengatakan itu Evan langsung berlari menuju mobil kantor, dari pada kena omel bos nya nanti kan lebih baik dia kabur


"Saya juga permisi pak" Ucap Teo mengikutk Evan


Reyhan hanya mengangguk saja, dia juga tidak memperdulikan ucapan Evan tadi, yang penting saat ini adalah mencari keberadaan istri nya


"Kamu di mana sih sayang?" Gumam nya menjalankan mobil itu keluar dari hotel, Shinta yang meninggalkan kendaraan nya itu akan membuat Reyhan susah melacak dimana keberadaan nya


Tempat pertama yang ia tuju adalah apartemen, rumah mereka berdua di mana selama ini cinta selalu hidup di dalam nya, kekonyolan mereka kejar kejaran atau apapun itu ada yang ada di apartemen mereka


Ngebut menjadi jalur jitu saat ini, apalagi masih pagi dan jalan raya belum se ramai biasanya, beberapa menit ia sampai di apartemen dan segera menekan pasword


Pemandangan pertama yang ia lihat adalah bibi sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu, mungkin ia kelelahan pikir Reyhan


"Assalamualaikum, bi... bangun" Ucap Reyhan pelan karena dia ingin menanyakan sesuatu sekarang


"Waalaikumsalam, eh... bapak udah pulang?" Ucap bibi mengusap wajah bantal nya


"Iya bi, kalau ngantuk bibi bisa tidur di kamar tamu, saya mau ke kamar" Ucap Reyhan menyeret koper nya dan masuk ke dalam kamar, tempat yang menjadi saksi bisu saat ia memadu kasih, bercanda ria, apapun mereka berdua lakukan bersama di kamar itu


Ceklek!


"Sayang... kamu di sini kan? kenapa gelap?" Tanya Reyhan meraba saklar lampu, setahu nya Shinta tidak akan bisa tidur di kamar yang gelap


"Jangan bercanda yang... aku minta maaf, ayo keluar, kita bicara baik baik ya" Ucap Reyhan mengelilingi kamar itu, namun lagi lagi nihil, jangankan bentuk, suara istri nya pun tidak terdengar sama sekali


Ia berpikir mungkin Shinta berada di kamar mandi, lantas dia langsung memeriksa walk in closet dan kamar mandi yang memang menjadi satu


Kosong! jawaban itu selalu Reyhan ucapkan dalam hati nya, tidak ada siapapun di dalam kamar ini, lantas kemanakah istri nya?


"Sayang... kamu di mana sih?" Ucap nya lagi lalu memeriksa lemari istri nya, baju baju, sepatu ataupun tas masih lengkap dan tidak ada yang berkurang satu pun di sana


Rasa lega lumayan menyusup saat melihat barang istri nya masih utuh, Reyhan seakan lupa kalau dulu Shinta kabur ke Korea juga tidak membawa baju, hanya uang, paspor dan visa sebagai pertahanan hidup nya


Namun mata nya menangkap satu hal, bungkusan kantong plastik ada di sudut lemari istri nya, segera Reyhan membuka itu yang ternyata isi nya adalah susu beserta vitamin untuk ibu hamil


Deg! lagi lagi rasa bersalah dan takut menyeruak secara bersamaan, bayangan istri nya yang hamil dan dia yang menyakiti nya, dia telah menyakiti hati calon ibu dari anak nya


*Ternyata kamu memang hamil anak kita, buah cinta kita sayang* Batin Reyhan, ingin sekali ia menangis dan menyesali semuanya, namun dia sadar kalau itu tidak berguna, dari pada membuang buang waktu lebih baik ia mencari keberadaan istri nya


"Bi... bibi pernah lihat istri saya minum ini?" Tanya Reyhan saat ia keluar kamar dan bertemu bibi di dapur lalu menunjukkan susu ibu hamil itu


"Belum pernah pak, dan saya baru kembali kerja kemarin lusa karena ibu meliburkan saya" Jawab bibi


"Kapan terakhir kali bibi lihat istri saya?" Tanya Reyhan


"Tadi malam pak, makanya saya sampai ketiduran karena nunggu in ibu yang belum pulang pulang" Jawab bibi, terlihat jelas wanita paruh baya itu pun tengah khawatir


Reyhan mengusap wajah nya, dia merasa kalau Shinta memang pergi kali ini, entah kemana ia pun tidak tahu, karena istri nya itu orang yang susah bersosialisasi sama seperti diri nya, pasti dia tidak akan suka dengan tempat tempat yang ramai orang


Bertanya pada orang tua juga tidak mungkin dia lakukan, Shinta sangat tertutup yang mana tidak akan mungkin pulang ke rumah orang tua nya, jika Reyhan bertanya pun pasti mama Riana akan marah besar pada nya


Bertanya ajudan, orang yang dekat dengan istri nya pun juga tidak mungkin, yang ada akan terjadi baku hantam antara dia dan ajudan, mengingat betapa over protektif nya polisi muda itu pada sang kakak


*Kamu di mana sayang? tolong kembali lah* Batin Reyha, ia bahkan sudah menelfon istri nya berkali kali namun tetap, hanya suara operator wanita yang menyahuti mendandakan Shinta mematikan ponsel nya


Tunggu, rumah sakit? dia baru ingat bahwa Shinta sangat menyukai taman rooftop, segundah apapun hati nya pasti wanita itu akan pergi ke taman rooftop untuk menenangkan diri


"Saya pergi dulu bi" Pamit Reyhan memutuskan untuk mencari di taman rooftop rumah sakit


"Hati hati pak" Ucap bibi sopan, meskipun ada rasa takut di dalam hati nya, tentu saja ia khawatir dengan majikan yang selama ini selalu baik pada nya


🌸🌸🌸

__ADS_1


Di situasi lain, ajudan beberapa kali kena amuk oleh dokter yang menangani Shinta, atas kecerobohan nya juga sang kakak bisa kehilangan kesadaran nya kembali


"Kan aku udah bilang, jangan ungkit masalah nya dulu, ngeyel banget kalau di bilangin, sekarang pasien ku gak sadar lagi kamu mau tanggung jawab? kasihan loh" Ucap dokter itu


"Ya mana aku tahu kalau kakak bisa pingsan lagi" Ucap ajudan menunduk


"Enteng banget jawaban mu" Ucap dokter itu yang ternyata kenal dengan ajudan, polisi muda yang belakangan ini sibuk dengan patroli malam


"Jangan bercanda ah, pusing nih" Ucap ajudan mengacak acak rambut nya


"Kakak mu jauh lebih pusing" Sahut dokter laki laki itu yang dapat melihat kalau Shinta mempunyai depresi dan rasa takut yang berlebihan


"Bisa gak kalau dia keluar dari rumah sakit? kakak ku gak suka tidur di ranjang serba putih, udah kayak mayat aja" Tanya ajudan


"Gila? baru beberapa jam dia di rawat, eh malah mau di bawa pulang" Ucap dokter itu menggelengkan kepala


"Bukan pulang, mau ku bawa ke tempat tempat yang bisa bikin dia tenang" Ucap ajudan


"Boleh sih sebenar nya, tapi harus sedia ventolin dulu" Ucap dokter itu menepuk pundak ajudan


"Udah ada di mobil, tinggal bawa kakak pergi dari sini aja" Ucap ajudan


"Nunggu dia sadar dulu, baru boleh keluar tapi harus hati hati" Ajudan hanya mengangguk saja, pikiran nya masih kacau sekarang, apalagi pada Harun yang membuat kakak nya semakin down, ingin sekali dia baku hantam dengan kakak laki laki nya yang sangat minim pengertian itu


"Eh... kakak mu cantik juga ya" Ucap dokter yang langsung mendapat pelototan mata dari ajudan "Jangan macam macam, dia udah nikah" Ucap ajudan, ya meskipun pernikahan kakak nya sedang dalam masalah


"Tau... dia mantan apoteker di rumah sakit ini, dan kabar nya dia juga menikah dengan pemilik rumah sakit sekitar tiga bulan yang lalu" Ucap dokter, ya... Shinta di memang di bawa ke rumah sakit milik keluarga Reyhan


"Kerjaan mu sebagai dokter itu apa sih? hobi banget dengerin gosip" Ucap ajudan menggelengkan kepala lalu masuk ke kamar rawat kakak nya


Ternyata Shinta sudah bangun kembali, terlihat jelas kalau wajah yang selama ini cantik, sekarang malah pucat walaupun tidak mengurangi kadar kecantikan nya sama sekali


"Kak... " Panggil ajudan


"Hmm? kenapa?" Jawab Shinta menoleh, sedatar apapun tatapan nya tapi ia berusaha merespon siapapun dan ingin bersikap seolah dia baik baik aja


"Kita keluar dari rumah sakit ini sekarang aja ya..." Ajak ajudan


"Oke, aku gak suka kamar pasien" Jawab Shinta menganggukkan kepala nya, ia sadar kalau ini rumah sakit milik keluarga suami nya, dan sudah jelas pasti Reyhan akan kesini nanti


Tidak! tidak! dia belum siap untuk bertemu dengan laki laki itu lagi, orang yang membuat nya mengenal cinta namun juga menyakiti cinta nya


Setelah melakukan pemeriksaan kembali, dokter mengijinkan asalkan Shinta harus menjaga pola pikir nya, menjaga kandungan yang ada di dalam perut nya dan tidak sering melamun, apalagi sendiri an di tempat yang berbahaya


Ajudan membawa kursi roda dan masker untuk kakak nya, ia hanya berhati hati saja kalau nanti ada yang mengenali Shinta


"Kita seneng seneng dulu ya kak" Ucap ajudan bersemangat, dia juga harus bersikap seolah semuanya baik baik saja di depan sang kakak, agar tidak ada lagi yang namanya down karena sebuah masalah


"Apa kamu udah pesan tiket penerbangan ke Jepang yang aku minta?" Tanya Shinta saat kedua nya berada di dalam mobil


"Belum kak, kamu kan gak di bolehin pergi jauh jauh, nanti kalau udah sehat kita ke Jepang" Ucap ajudan, Shinta hanya mengangguk saja


Tanpa sadar mobil mereka berpapasan dengan mobil Reyhan, ajudan keluar dari parkiran rumah sakit, sedangkan Reyhan memasuki area rumah sakit


Ajudan tidak tahu karena dia fokus dengan jalanan di depan nya, begitu pula Shinta yang memandang apapun dengan kosong hari ini, tentu saja dia tidak menyadari kalau mobil yang berpapasan tadi itu juga mobil pribadi nya


"Ya kakak mau nya kemana?" Tanya ajudan balik


Shinta berfikir sejenak, dia mau kemana? pulang ke rumah juga tidak mungkin, apalagi ke apartemen yang sudah sangat malas ia kunjungi


"Panti asuhan" Ucap nya


"Ngapain kesana?" Tanya ajudan


"Ya kangen sama anak anak" Jawab Shinta, memang sudah lama ia tidak mengunjungi panti asuhan yang Zean bangun dari keuntungan perusahaan


Beberapa menit berlalu, mereka sampai di panti asuhan yang mana gerbang itu langsung terbuka apabila Shinta datang


"Pagi neng... tumben pagi pagi kesini" Sapa pak satpam yang bertugas menjaga area panti asuhan


"Pagi pak, iya... kangen sama anak anak" Jawab Shinta tersenyum tipis yang sudah menjadi kebiasaan nya


Mereka memarkirkan mobil di halaman panti, lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam berniat untuk menemui ibu panti


"Assalamualaikum..." Ucap Shinta dan ajudan


"Waalaikumsalam" Jawab anak anak yang tengah bermain di dalam dengan ekspresi polos nya


"Tante..... " Salah satu bocah laki laki berusia lima tahun berlari memeluk kaki Shinta, anak itu memang cukup akbrab dengan nya


"Hai sayang, gimana kabar kamu?" Ucap Shinta sambil jongkok untuk menyamakan tinggi mereka


"Baik loh... tante sendili?" Tanya bocah itu dengan khas cadel saat Shinta mengusap rambut nya


"Alhamdulillah... tante juga baik loh" Ucap Shinta ganti mencubit pipi itu dengan gemas


"Waalaikumsalam... loh neng pagi pagi udah kesini?" Tanya bu Yanti, orang yang mengurus panti asuhan ini


"Iya buk, pengen kesini" Jawab Shinta ramah


"Kalau gitu ke ruangan saya aja neng, ada yang mau saya bicarakan juga" Ucap bu Yanti


"Aku di sini aja kak, mau nemenin anak anak main" Ucap ajudan


"Anak baik... sekarang kamu main sama om itu dulu ya, nanti main sama tante lagi" Ucap Shinta menunjuk ajudan


"Janji ya tante? nanti main sama Han" Ucap bocah itu menyebutkan nama nya


"Oke Han, tante mau bicara sama ibu dulu ya" Ucap Shinta lalu menitipkan bocah itu pada ajudan


"Ayo ganteng, kita main pesawat!" Ajak ajudan menggendong bocah itu lalu berlari menuju kerumunan anak anak yang entah sedang bermain apa sekarang


"Mari neng" Ajak bu Yanti, Shinta menurut dan mengikuti nya dari belakang sampai mereka masuk ke ruangan kepala panti


"Mau bicara apa ya buk?" Tanya Shinta kala mereka sudah duduk di sofa


"Kami merawat satu bayi lagi, baru di temukan kemarin malam di depan gerbang neng, bayi itu seperti nya baru lahir dan di titip kan kesini oleh keluarga nya" Ucap bu Yanti

__ADS_1


"Boleh saya lihat bayi nya buk?" Tanya Shinta, hal seperti ini sudah biasa bagi nya, ketika mengunjungi panti selalu mendapat laporan dari bu Yanti tentang apa saja yang terjadi di sini, termasuk jika ada bayi yang tiba tiba ada mereka temukan


"Boleh, ada di kamar saya neng" Ucap bu Yanti lalu mereka masuk ke kamar yang ada di sebelah ruangan kepala panti


Saat masuk, terlihat normal saja seperti kamar biasa nya, ada ranjang untuk orang dewasa, lemari dan meja nakas di sertai lampu tidur


"Ini bayi nya?" Tanya Shinta kala melihat bayi yang masih di gedong itu sedang tidur di ranjang


"Iya buk, dugaan saya dia memang baru lahir" Ucap bu Yanti, Shinta sudah paham dengan hal itu, perlahan ia membawa bayi itu ke dalam gendongan nya, sangat jelas kalau bayi itu baru lahir karena kulit nya pun masih sangat kemerahan


"Kasihan ya buk" Ucap Shinta dengan mata berkaca kaca, beberapa bulan yang lalu pun pihak panti menemukan bayi, dan sekarang hal itu terjadi lagi


"Iya neng, untuk susu nya terpaksa saya kasih susu formula" Ucap bu Yanti


"Tolong beli kan susu terbaik ya buk, nanti akan saya tambah uang bulanan panti" Ucap Shinta karena masalah panti ia yang bertugas memberikan uang untuk kebutuhan anak anak dan yang lain dari keuntungan perusahaan


"Siap neng, semoga aja dia sehat selalu meskipun tidak pernah minum ASI dari ibu nya" Ucap bu Yanti


"Amin... " Ucap Shinta, dalam hati ia merasa pedih akan nasib bayi perempuan yang dia gendong, kenapa orang tua tega membuang bayi se cantik ini?


Beruntung dia tumbuh di keluarga sendiri walaupun kekurangan kasih sayang, ia bersyukur setidak nya dia tidak pernah merasakan hidup di panti asuhan


Shinta kemdian teringat kalau dia pun sedang hamil, perlahan tangan satu nya meraba perut sendiri


*Sayang... walaupun papa belum mengetahui tentang mu, tapi ada ibu yang akan selalu menyayangi mu, maaf sempat melupakan kamu tadi nak* Batin Shinta sempat lupa sejenak dengan kehamilan nya


Tapi ia juga berjanji akan menjaga kandungan dengan baik, bagaimanapun kesalahan Reyhan perbuat, tapi buah cinta mereka tidak ikut andil dan tidak bersalah dalam hal ini, calon bayi itu pantas mendapat gizi yang baik saat ia berada di dalam rahim nya


"Buk... saya bawa bayi ini ke taman ya? cahaya matahari bagus untuk pertumbuhan tulang" Ucap Shinta meminta izin


"Oh iya, bawa aja neng... saya mau bantuin pengurus yang lain buat masak makanan anak anak dulu" Ucap bu Yanti tersenyum


Di sini lah Shinta berada, duduk di bangku taman dengan suasana hangat, dan memangku malaikat kecil di tangan nya


Panti yang Zean dirikan memang memiliki fasilitas yang lengkap, ada taman, arena bermain, kolam renang anak, dan posisi panti pun dekat dengan sekolah agar anak anak tidak perlu jauh jauh ketika belajar


"Jangan khawatir, ayo bahagia sayang" Ucap Shinta seakan bicara pada bayi perempuan itu agar tidak sedih karena di buang oleh orang tua nya


"Kak... udah siang aku berangkat ke polres dulu, kamu masih mau di sini?" Tanya ajudan membawa bocah bernama Han tadi


"Aku masih mau disini, nanti kalau pulang tolong beliin susu hamil sama vitamin ya, cari aja di apotek" Ucap Shinta, mbak apoteker pasti paham soal susu hamil beserta vitamin nya


"Oke, Han... kamu di sini temenin tante mau ya?" Ucap ajudan, dia bahagia ketika Shinta kembali menemukan tujuan hidup nya, yakni menjaga calon bayi yang ada di rahim itu sampai dia keluar dan tumbuh dengan baik


"Mau dong om" Jawab Han lalu bergeser duduk di samping Shinta


Ajudan pamit dan segera berangkat karena sekarang pun memasuki jam kerja nya, bahkan sudah lebih, Shinta melarang nya mengambil cuti agar Reyhan tidak curiga nanti


"Han... kenapa kamu gak main sama temen temen?" Tanya Shinta menunjuk kerumunan anak anak yang sedang bermain di taman, suara tawa khas mereka benar benar menggema di telinga nya


"Han gak suka, meleka bilang Han gak bisa ngomong jelas" Ucap Han karena di usia lima tahun pun cara bicara nya masih cadel


"Gak boleh gitu dong, kalau ada orang lain yang jahat masa kita harus jahat?" Ucap Shinta


"Telus Han halus gimana?" Tanya bocah tembem dan rambut keriting itu dengan polos nya, siapapun yang melihat pasti akan jatuh cinta pada nya, namun sayang... Han pun di temukan ibu panti di depan pagar disertai catatan dari orang tua nya saat bocah itu masih berusia satu tahun


"Han harus bersikap baik sama semua teman teman kamu, buktikan kalau Han bisa, oke ganteng?" Ucap Shinta membuka kelima jari nya pertanda untuk tos


Plakk "Oke, tapi baik nya nanti aja, Han masih sebel sama meleka" Ucap Han memanyunkan bibir mungil nya lalu memilih untuk bermain dengan si adek bayi


"Iya iya deh terserah Han, tapi janji ya harus jadi anak yang baik!" Ucap Shinta


"Janji" Ucap Han menyatukan jari kelingking mereka


"Oh iya, kira kira nama buat adek cewek ini siapa ya?" Ucap Shinta meminta pendapat pada bocah itu


"Gimana kalau Hani? aku Han telus adek bayi ini Hani" Jawab Han memberi ide


"Yakin Hani? apa Han mau jadi abang nya Hani?" Tanya Shinta menaik kan alis nya, dia suka sekali dengan bocah yang satu ini


"Jadi abang? wah... Han sekalang bisa jadi abang? yeay.. belalti Han punya adik dong" Ucap Han girang dengan mengepalkan kedua tangan nya


"Iya, Han punya adik Hani dan harus di jaga dengan baik nanti" Ucap Shinta tersenyum kemudian mengelus rambut bocah itu


Jika Shinta sedang bercanda dengan anak anak untuk mengalihkan rasa sedih nya, namun berbeda pula di rumah sakit yang mana ada orang kebingungan di sana


"Sayang... kamu di mana sih?" Gumam Reyhan saat berada di taman rooftop, di sana hanya ada beberapa pasien dan perawat, tubuh istri nya sama sekali tidak terlihat


Reyhan sempat berpikir kalau Shinta ada di ruang apoteker, namun hal itu pasti tidak mungkin karena sekarang hari minggu, semua pekerja apoteker di bidang laporan pasti libur sekarang


Melihat keadaan yang sekarang justru membuat nya bingung, bingung harus mencari istri nya kemana? sementara dia saja baru tahu kalau Shinta bisa se nekat ini jika dia sedang marah


"Loh... pak direktur?" Ucap dokter yang menangani Shinta tadi, profesi nya sebagai dokter umum memang sering sibuk, tapi tetap segala gosip di rumah sakit selalu terdengar di telinga nya


Reyhan mengingat dokter itu yang pernah berhadapan dengan nya saat membicarakan pasien dengan penyakit serius, ia menganggukkan kepala untuk membalas sapa an tadi


"Saya cukup prihatin dengan kondisi istri anda, semoga dia cepat sembuh pak" Ucap dokter itu tidak tahu bahwa akar duduk permasalahan yang menyebabkan pasien nya sakit adalah orang di depan nya


"Istri saya? sakit?" Ucap Reyhan mengernyitkan dahi nya, istri siapa yang sakit?


"Iya, nona Shinta kan? mantan apoteker di sini" Ucap dokter itu


"Mantan apoteker?" Reyhan semakin bingung sekarang, setahu nya Shinta masih bekerja di rumah sakit keluarga nya


"Pak direk tidak tahu? tadi pagi istri anda masuk ke unit IGD dalam keadaan tidak sadar kan diri" Ucap dokter itu, bukan tanpa alasan namun Reyhan adalah pihak suami, jadi sudah seharus nya orang itu mengetahui keadaan istri nya


Reyhan sangat terkejut mendengar nya, bagaimana bisa? kenapa Shinta bisa tidak sadarkan diri dan siapa yang membawa nya kesini?


"Di mana istri saya dan katakan bagaimana keadaan nya?" Desak Reyhan mendekat pada dokter umum itu


"Keadaan nya cukup parah apalagi depresi nya yang kambuh, tapi beberapa menit yang lalu dia sudah keluar dari rumah sakit pak, atas permintaan pasien dan adik nya" Jawab dokter itu


Adik nya? berarti saat ini istri nya sedang bersama ajudan?


*Akh... sial lo telat Rey* Batin Reyhan merutuki kelemotan nya, jalur terakhir adalah menemui ajudan, demi bisa bertemu istri dan calon anak nya, mau tidak mau dia harus menemui adik ipar nya yang garang bak blasteran iblis itu, sama seperti dia


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2