Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
89.Rekaman


__ADS_3

rekaman mulai berputar, pertama hanya menunjukkan dara bersama direktur keuangan yang memasuki lobby hotel yang memamg terdapat ruang tunggu disana dengan rangkulan mesra ala mereka


namun kemudian ada seorang laki laki yang menghampiri mereka, sayang nya laki laki itu memakai masker, jadi reyhan tidak tau siapa orang nya


kemudian direktur keuangan membuka satu map yang kalau dilihat secara detail itu seperti berkas laporan obat


dara mulai menunjukkan sebuah foto dari ponsel nya yang kalau dilihat dengan jelas itu adalah tanda tangan, juga nama lengkap shinta


setelah itu laki laki berperawakan pendek itu mulai menanda tangani sesuai dengan yang ditunjukkan dara tadi, lebih tepat nya pria itu menjiplak tanda tangan juga meniru penulisan nama milik shinta


dan setelah sesemua nya selesai, direktur keuangan memberikan amplop tebal berwarna coklat seperti berisikan uang pada laki laki itu kemudian langsung menyuruh nya pergi karena tugas nya sudah selesai


*oh.. jadi itu cara nya dia bisa dapet tanda tangan ku* batin shinta mengerti


"udah udah, stop kak" ucap shinta yang ingin menghentikan putaran rekaman itu


"hmm" deheman reyhan keluar kemudian menyudahi video rekaman itu karena merasa sudah mendapatkan bukti yang akurat


"jadi si mak lampir itu nyewa orang buat niru tulisan?" tanya jannah


"iya, tapi lo kan katanya punya rekaman mereka berdua yang lain rey, gak ditunjukin sekalian?" jawab sekaligus pertanyaan dari rendra


saat reyhan ingin menjawab, shinta lebih dulu membuka mulut nya


"jangan, itu aib mereka berdua, bukan urusan kita, yang penting sekarang udah terungkap semuanya" jawab shinta mencegah juga mengingat kalau wakil direktur keuangan sudah mempunyai istri


"ohh" ucap jannah juga rendra barengan


*aduh..kok kepalaku pusing ya?* batin shinta saat kepala nya tiba tiba pusing sambil memijat pelipis nya pelan


"kamu gak papa kan?" tanya reyhan saat melihat gadis yang ada di hadapan nya


"aku gak papa" jawab shinta menganggukkan kepala nya, ia kemudian menoleh ke arah sisil yang sedang sibuk sendiri


"mau makan apa?" tanya shinta pada sisil karena mereka belum memesan makanan sedari tadi


"omelet tante" jawaban sisil membuat shinta tersenyum karena menu itu memang ada di cafe ini


mereka memesan menu masing masing, kemudian makan dengan hikmat yang sesekali ada obrolan, meskipun shinta juga reyhan tidak menanggapi nya sama sekali


reyhan makan dengan menatap gadis di depan nya yang banyak diam kali ini, ia mengerutkan kening nya ketika menyadari kalau wajah itu terlihat pucat


"aku tanya sekali lagi, kamu gak papa kan? kok muka kamu pucat gitu?" tanya reyhan yang sudah tidak sabar untuk tidak bertanya


"hmm? emang iya?" tanya shinta balik dengan mengerutkan alis nya


"iya loh shin, kelihatan agak jelas" jawab jannah yang ada di samping nya


"tante sakit?" tanya sisil yang ikut bertanya


"enggak kok sayang" jawab shinta dengan mengelus kepala bocah itu, kemudian kembali menghadap reyhan untuk menjelaskan


"aku gak papa, tadi cuman mual sama pusing aja" ucap shinta dengan senyum tipis di bibir nya


"kamu gak bohong kan?" tanya reyhan memastikan yang di balas gelengan kepala oleh shinta


"mungkin asam lambung ku lagi naik" ucap nya mengedikkan bahu

__ADS_1


"jangan mungkin, lebih baik kita periksa aja sekarang" ucap reyhan hendak beranjak dari duduk nya


"aku gak papa kak, tadi cuman lupa belum minum vitamin" cegah shinta


"jangan membahayakan kesehatanmu sendiri" ucap reyhan mewanti wanti


"aku beneran gak papa, nih aku bawa vitamin nya, habis ini aku minum di depan kamu" ucap shinta mengeluarkan botol kecil dari dalam tas nya dan menunjukkan nya pada reyhan


"minum sekarang" perintah reyhan dengan kembali ke tempat duduk nya


"habis makan baru boleh minum kak" ucap shinta mengingat makanan nya masih belum habis


"cepet habisin, trus minum vitamin nya" ucap reyhan yang lagi lagi memberikan perintah nya


"sabar kak, nanti aku kesedak dong" ucap shinta memanyunkan bibir nya


"duh.. dunia serasa milik berdua ya" cibir jannah terkekeh


"kenapa? kamu mau juga? yaudah ayo kita bikin dunia sendiri milik berdua" ajak rendra mengedipkan sebelah mata nya


"ih.. om ren genit" ucap sisil yang tiba tiba melihat kedipan mata rendra barusan


"hahaha.. tuh lihat, kamu genit kata nya" ucap jannah disertai gelak tawa nya


"tau genit dari mana sayang?" tanya shinta heran dengan mengerutkan alis nya


"dari om ganteng" jawab sisil dengan polos nya, shinta yang mendengar hal itu langsung memberikan tatapan tajam nya pada reyhan membuat sang empu kelabakan sendiri


"emangnya kapan om ngomong gitu?" tanya jannah


"iya, kapan? kok tante gak tau?" tanya shinta


"hahaha" jannah justru tertawa mendengar cerita bocah lima tahun itu


*gawat* batin reyhan yang lupa jika daya ingat bocah berumur lima tahun itu memang kuat


"kak... " ucap shinta penuh penekanan


"iya, maaf" ucap reyhan


"emang kapan aku genit?" tanya shinta memicingkan mata nya


"kamu gak genit kok, aku cuman bercanda, beneran" ucap reyhan bersungguh-sungguh


"wah.. keterlaluan si rey, bilang kalau shinta genit" bukan nya membela, rendra justru mengompori nya


"enggak loh, kamu gak genit kok" ucap reyhan membela diri nya sendiri, dia tidak mempedulikan rendra yang masih terus mengompori shinta


"hmm" hanya deheman yang keluar dari mulut shinta


"hmm apa? yang jelas dong" tanya reyhan bingung


"jangan sekali sekali bilang yang aneh aneh sama sisil ya!" peringat shinta


"iya, aku janji, tapi... " ucap reyhan menggantung


"tapi apa?" tanya shinta

__ADS_1


"tapi kalau kamu genit sama aku gak papa kok" ucap reyhan terkekeh, bukan nya malu, shinta justru kesal


"tau ah" ucap nya kemudian fokus dengan makan nya


"hayoo ngambek" ucap jannah menggoda shinta yang sama sekali tidak diperdulikan oleh sahabat nya itu


setelah dirasa hari sudah malam, mereka menyudahi semua pembicaraan kemudian pulang ke rumah masing masing


saat ini shinta sedang di balkon untuk menikmati angin malam yang selalu menjadi kebiasaan nya, padahal dia juga tau kalau angin malam itu tidak baik untuk kesehatan, tapi kalau hanya sebentar saja boleh kan?, itu pikir nya


ia terlihat sedang memikirkan sesuatu, kemudian membuka ponsel dan mengirimkan pesan pada bian


kang bihun🐡


πŸ“©: "assalamu'alaikum kang bihun, lo bisa bantuin gue?" tanya shinta


tak lama kemudian, muncul pesan balasan dari bian


πŸ“©: wa'alaikumsalam, bantu apa zef? btw gue udah liat rekaman nya dan bener si jalang itu yang salah, gue udah kirim rekaman nya di email lo tadi


πŸ“©: "iya, gue juga udah tau rekaman itu tadi kok" balas shinta


πŸ“©: yaudah, kelakuannya jangan diambil pusing zef, masih ada gue disamping lo


πŸ“©: "iya, lagi usaha buat menerima semuanya dengan lapang dada" balas shinta


πŸ“©: good, eh tapi lo tadi mau minta bantuan apa?


πŸ“©: "besok malam, suruh anak buah lo buat nawarin pekerjaan untuk ibu nya dara" balas shinta


πŸ“©: what? maksudnya lo mau bantuin si jalang itu?


πŸ“©: "ibu nya gak salah kali bi, yang salah kan anak nya, ngapain ibu nya ikut ikutan?" balas shinta


πŸ“©: ya ampun zef.. gini nih kebiasaan lo


πŸ“©: "udahlah, turutin permintaan gue" balas shinta


πŸ“©: lo serius kan?


πŸ“©: "dua rius deh bi.. " balas shinta


πŸ“©: ck, iya iya.. trus mau dikasih kerjaan apa? di kantor kan gak nerima wanita paruh baya ze


πŸ“©: "katanya ibu nya pintar masak, sering bantuin tetangga kalau ada hajatan gitu.. nah tawarin aja buat jadi koki di panti, siapa tau ibu nya mau kan?" balas shinta


πŸ“©: masak di panti asuhan?


πŸ“©: "iya, biar bantu in pengurus panti yang lain nya" balas shinta


πŸ“©: boleh deh, besok gue suruh anak buah gue buat ke rumah nya ibu itu


πŸ“©: "ok, makasih kang bihun" balas shinta kemudian meletakkan ponsel nya di atas meja


*aku tau dara bersalah, tapi besok pasti dia akan di pecat kan? aku tidak ingin ibu juga adik nya terlantar, jadi lebih baik ibu itu bekerja meskipun di bawah naungan ku, karena aku sendiri tidak punya rekomendasi pekerjaan di tempat lain, dan dari pada nanti ibu juga adik nya kelaparan, aku tidak bisa membayangkan nya dan aku juga pasti akan merasa bersalah pada mereka* batin shinta


*hanya ini yang bisa ku lakukan* batin nya lagi dengan memandang bulan yang selalu terlihat menawan setiap malam nya

__ADS_1


bersambung


__ADS_2