
π : Ni anak mau di kasih makan apa?
π : "Anaknya siapa? gue belum punya anak, hamil aja masih sebulan" Ucap Shinta bingung sambil memandangi wajah suami nya
π : Ya Alloh beb... ini tahanan lo di kasih makan apaan?
π: "Owalah... apa aja, yang penting makan" Jawab Shinta paham jika yang di maksud adalah Alena
π : Nasi padang?
π : "Terserah, yang penting ada sayur nya biar dia sehat" Jawab Shinta
π : "Di kasih mi instan?"
π : "Jangan gila, gak sehat itu buat perut nya" Ucap Shinta menepuk jidat nya sendiri
π : Ternyata lo masih bisa peduli sama orang yang udah jahat sama lo ya Shin
Laila di sana menggelengkan kepala, dia mengenal betul bagaimana sifat sahabat nya yang tidak pernah berubah, hanya lebih dewasa saja
π : "Yakali gue kasih dia makanan basi, nanti meninggoy siapa yang mau tanggung jawab? gue gitu? ogah tau gak!" Ucap Shinta mencoba bersikap jahat, dia tidak mau di nilai terlalu simpati pada orang lain
π : Iya iya gue percaya, kalau gitu gue beli makanan buat dia dulu deh
"AKU GAK MAU MAKAN!!!" Tiba tiba saja terdengar teriakan yang berasal dari ponsel Shinta sampai membuat telinga nya berdenging
"Kenapa?" Tanya Reyhan bingung sambil mengerutkan alis nya kala melihat sang istri menjauhkan ponsel dari telinga
"Gak papa, nanti aku jelasin" Jawab Shinta
π : Gak mau makan? dih... terserah lo, lo mati kelaparan juga gue gak peduli!
Suara Laila terdengar emosi di sana, ya mungkin dia sedang berbicara dengan Alena yang menolak makan
π : "Sut... udahlah jangan marah, beliin aja makanan, biar nanti di makan sendiri" Ucap Shinta mereda emosi sahabat nta
π : Lagian ya... ini cewek aneh banget, gue udah baik gak lakban mulut nya supaya dia gak kesakitan, tapi nyata nya? malah teriak teriak seakan lagi gue aniaya, padahal gue gak ngapa ngapain
π : "Huft... emang tahanan mana yang gak teriak teriak?" Ucap Shinta
π : Ya... iya sih, tapi kesel tau gak? berasa budek kuping gue
π : "Suruh siapa gitu beliin makanan, dan kenapa lo pagi pagi udah di gudang?" Tanya Shinta heran
π : Ya penasaran aja sama keadaan nya, udah mati apa belum
π : "Hust... mending beliin makanan aja deh cepet, kasihan tau kalau dia gak sarapan" Ucap Shinta
π : Iya... bye, assalamualaikum
π : "Waalaikumussalam"
Shinta menutup ponsel nya, lalu menatap Reyhan yang juga menatap nya, dia tahu kalau suami nya menunggu sebuah penjelasan
"Jelasin darimana ya" Ucap Shinta mengetuk dagu nya dengan jari telunjuk
"Dari dahi kamu" Ucap Reyhan menunjuk dahi istri nya
"Emang masih berbekas?" Tanya Shinta meraba dahi nya sendiri
"Masih, parah banget" Jawab Reyhan sengaja
Mendengar hal itu, Shinta langsung membuka kamera ponsel nya dan melihat keadaan wajah nya secara langsung
"Mana ada? udah mau hilang ini" Ucap Shinta kesal karena sang suami membohongi nya
"Kamu kesal karena aku berbohong tentang hal yang kecil bukan? maka sama hal nya ketika kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, bahkan itu lebih besar dari kebohongan yang aku ucapkan barusan yang" Ucap Reyhan
"Iya ih... aku salah, aku minta maaf" Ucap Shinta menggenggam tangan itu
"Lagian kamu juga ngapain sembunyi in fakta lama lama?" Tanya Reyhan
"Udah mau jujur mas, beneran tapi tiba tiba ada masalah itu makanya aku gak bilang" Jawab Shinta
"Ya tapi kan kamu bisa jujur dari awal kan?"
"Keadaan nya gak segampang itu"
"Ya tapi kamu kan bi-
"Udahlah mas, aku ngaku salah bahkan sangat salah, mau jelasin juga kamu terlanjur ada masalah sama Alina, gimana cara nya aku ngejelasin dalam posisi kita lagi salah paham? siapa istri yang gak sakit kalau liat suami nya tidur sama wanita lain?" Ucap Shinta yang benar adanya jika di pikirkan
"Maaf" Ucap Reyhan sembari menggapai tangan yang sudah menepis nya
"Tau ah, males" Ucap Shinta bersedekap dada, entahlah... dia hanya merasa kesal dan lelah saja karena Reyhan masih menanyakan tentang kebohongan nya
"Dosa yang, hadap sini" Ucap Reyhan memaksa wajah itu agar menoleh pada nya
"Udah ku bilang, aku lagi sensi jadi jangan mancing mancing" Ucap Shinta
"Iya maaf sayang, makanya hadap kesini dulu, jelasin tentang memar di dahi kamu" Ucap Reyhan memutar kursi yang di pakai Shinta hingga menghadap nya
"Ini luka apa? biasanya dahi kamu mulus dan sekarang kenapa ada warna ungu gini?" Tanya Reyhan
Huft...
Shinta menghela nafas, lalu menceritakan kejadian saat Reyhan masih di operasi dan dia yang pergi untuk menemui Alena, tak lupa menjelaskan juga bagaimana bisa luka kecil itu muncul di dahi nya
"Kenapa gak cerita dari tadi sih?" Tanya Reyhan
"Ya kamu gak nanya, lagi mikirin siapa sih?" Tanya Shinta balik sambil mencibir
Oke, Reyhan kicep jika sudah begini, diam salah dan menjawab pun akan semakin salah, pilih yang mana? tentu saja yang pertama
"Kok diem? jangan mikirin Alina ya... buang jauh jauh dia dari pikiran kamu" Ucap Shinta menepuk beberapa kali dahi suami nya
"Demi Alloh aku gak mikirin dia yang, ogah!!!" Jawab Reyhan
"Yaudah, awas aja kalau sampai di kepala kamu terbesit nama wanita lain" Ucap Shinta mengancam
__ADS_1
"Emang hukuman nya apa?" Tanya Reyhan penasaran
"Gimana cara nya terong bisa di nikmati oleh dua orang? cari sendiri jawaban kamu dari situ" Ucap Shinta tersenyum
Glek... Reyhan meneguk ludah,Istri nya ini memang lebih pantas memegang katana daripada pisau, asli deh pasti gemetaran orang di sekitar nya
"Kalau gak macam macam?" Tanya Reyhan
"Ya bakal di sayang terus lah, di elus elus kayak gini" Jawab Shinta sambil mengelus rambut legam dan klimis itu
"Nah... terus yang, enak banget" Ucap Reyhan menikmati pijatan pelan yang di berikan istri nya
"Kamu pasti pernah ketemu sama Alena ya?" Tanya Shinta di sela sela pijatan itu
"Pernah, hanya beberapa kali" Jawab Reyhan, dia bertemu hanya saat ada pertemuan bisnis atau membahas tentang white blood di kantor Zeze grup
"Cantik gak sih?" Tanya Shinta
"Cantikan kamu, jangan mancing terus yang... capek aku kalau kamu sensi terus" Ucap Reyhan
"Aku bukan sensi, tapi cemburu" Ucap Shinta jujur
"Cemburu? trus kalau cemburu kamu mau ngapain?" Tanya Reyhan
"Kok masih nanya mas? bukan nya kamu udah tahu kalau aku punya pistol yang bertuliskan inisial nama ku, kapan pun bisa aku gunakan semau ku" Ucap Shinta, dalam artian dia akan langsung mengambil tindakan pada orang yang berani atau berniat menjadi duri dalam rumah tangga nya
"Serem juga ya istri ku" Ucap Reyhan terkekeh
"Aku galak di depan orang yang tepat kok, tenang aja mas" Ucap Shinta tergelak
"Assalamualaikum" Terdengar salam dari depan pintu ruang rawat
"Waalaikumussalam" Jawab pasangan itu
"Kamu janjian sama orang yang?" Tanya Reyhan karena dia tidak menyuruh orang siapapun untuk kesini
"Enggak, mungkin salah tempat kamar, aku lihat dulu" Ucap Shinta berdiri dari duduk nya
πΈπΈπΈ
Disisi lain, Adib yang dalam perjalanan mengantar Tiara lebih banyak diam, dia masih memikirkan tentang pemilik peluru tersebut
Dia tidak bisa melibatkan anggota polisi lain di sini, mengingat kasus yang tertutup dan pihak dari kakak nya yang belum mengambil kelutusan untuk ke meja hijau
Ckit....
Jdag!
"Aduh... pelan pelan pak" Ucap Tiara saat kepala nya terpentok dashboard mobil karena rem yang mendadak
"Maaf maaf, ada kucing tadi di depan" Ucap Adib
"Kan saya udah bilang hati hati" Ucap Tiara kesal
"Iya iya maaf, kamu obatin pakai ini" Ucap Adib memberi kotak obat mini dari dalam dashboard
Tanpa menjawab, Tiara langsung menyahut kotak itu dan memberikan plaster pada dagu nya yang ikut kepentok
"Kanan"
"Trus rumah nya yang mana?" Tanya Adib bingung karena gang cukup sempit dan banyak rumah yang berdempetan
"Kiri jalan cat warna hijau" Jawab Tiara sambil menunjuk sebuah rumah dengan halaman yang kecil namun sejuk di pandang
"Ohh ini, kenapa gak pindah ke tempat yang lebih luas?" Tanya Adib
"Ya rumah saya emang kecil, tapi banyak kenangan di sini" Jawab Tiara
Ia turun dari mobil, lalu tepat di depan rumah ada bocah berusia tiga tahun yang berlari memeluk nya
"Araaa... " Ucap bocah itu girang
"Assalamualaikum" Ucap Tiara
"Waalaikumsalam" Jawab nya
"Wah... siapa nama kamu?" Tanya Adib pada bocah tersebut, namun anak kecil itu justru diam karena dia tidak mengenal siapa pria yang ada di hadapan nya
"Nama nya Tio" Jawab Tiara mewakilkan
"Oh... Tio" Ucap Adib mengangguk faham
"Anak kamu?" Tanya nya
"Heh... sembarangan, anak dari Hongkong? menikah aja belum pernah" Ucap Tiara
"Ya wajah kamu udah cocok jadi emak emak" Ucap Adib lalu langsung gercep menaiki mobil nya sebelum gadis itu marah
"Enak aja kalau ngomong, hihhh!" Ucap Tiara kesal, ia mengambil buah apel yang di pegang Tio lalu melempar apel tersebut sampai mengenai mobil Adib
"Itu siapa kak Ara? pacar?" Tanya Tio dengan polos nya
"Hust... gak boleh ngomong pacar pacar, itu temen kakak" Jawab Tiara
Tio hanya nyengir saja, bocah itu tau kata pacar dan pacaran pun dari beberapa anak muda yang selalu lewat di depan rumah nya
πΈπΈπΈ
"Yang, bisa kamu tinggalin kita sebentar?" Tanya Reyhan pada istri nya
"Iya, mungkin ada hal serius yang mau kalian bicarakan" Ucap Shinta menurut
"Aku keluar dulu"
Shinta keluar dari kamar menuju ruang tamu, dia menggandeng satu wanita yang seumuran dengan nya
"Shin... gue udah nikah sebulan kok gak hamil hamil?" Ucap nya sambil salto di atas sofa ruang tamu
"Hah? lo kerasukan? sadar Jan... sadar, baru satu bulan loh" Ucap Shinta menepuk pipi sahabat nya
__ADS_1
Ya... tadi yang mengunjungi mereka adalah Jannah dan suami nya alias Rendra, entah dua laki laki itu sedang membicarakan apa di dalam
"Lo berapa bulan?" Tanya Jannah sambil menyentuh perut sahabat nya
"Udah menikah tiga bulan tapi hamil satu bulan, tenang aja... insyalloh di kasih kepercayaan juga kok" Ucap Shinta
"Gak bisa satu bulan langsung di kasih gitu?" Tanya Jannah
"Emang lo mau di tuduh hamil di luar nikah? ha?" Tanya Shinta
"Ya... enggak sih" Ucap Jannah menggaruk tengkuk nya yang tertutup hijab
"Berdo'a sama Alloh, semua manusia di kasih rezeki pada waktu yang tepat" Ucap Shinta
Setelah mengobrol cukup lama, mereka kembali masuk ke dalam yang mana pembjcaraan antar laki laki itu sudah selesai
"Ayo pulang" Ajak Rendra pasa sang istri
"Yah... padahal masih kangen" Ucap Jannah memeluk lengan sahabat nya
"Yang kamu kangenin gak kangen kok, malah mereka mau liburan" Ucap Rendra tergelak
"Liburan? babymoon Shin? seriously?" Tanya Jannah
Shinta hanya menjawab dengan senyuman karena dia saja tidak tahu jadi liburan berdua atau tidak
"Udah ayo pulang, nanti kita kumpul di rumah baru mereka" Ucap Rendra
"Yaudah deh, kita pamit dulu ya... assalamualaikum" Ucap Jannah
"Waalaikumussalam"
"Makasih ndra" Ucap Reyhan sebelum bestbro nya keluar
"Sama sama"
Setelah pasangan tadi keluar, Shinta mendekat untuk menanyakan rencana liburan atau babymoon barusan
"Emang jadi liburan?" Tanya Shinta
"Jadi lah" Jawab Reyhan
"Kemana?" Tanya Shinta penasaran, ini adalah pertama kali nya dia liburan setelah pulang dari kuliah nya di luar negeri
"Rahasia, nanti juga tahu" Jawab Reyhan yang jelas membuat istri nya langsung cemberut hingga bibir maju lima centi meter
"Makin cantik loh yang, kayak bebek hahaha" Ucap Reyhan tertawa
"Ish... emang aku paling cantik pas lagi apa?" Tanya Shinta
"Paling cantik waktu kamu lagi berdua an sama aku, apapun keadaan nya tapi saat kita hanya berdua an, disitu kamu paling cantik" Jawab Reyhan
"Masa'?" Tanya Shinta
"Iya, eh... ada satu lagi saat kamu paling paling paling cantik di depan ku, mau tahu?" Ucap Reyhan
Mata Shinta berbinar, tentu saja dia ingin tahu "Mau" Jawab nya
"Sini" Ucap Reyhan menyuruh istri nya mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga itu
"Saat.... blablaba"
Plak!
Shinta menepuk lengan Reyhan, bisa bisa nya dia memberikan penyataan seperti itu
"Mesum" Ucap Shinta memicingkan mata nya
"Mesum gimana sih yang? bener dong, kamu istri ku, dan di saat itu kamu paling cantik karena cuman aku yang bisa lihat kan? pasangan halal kamu" Ucap Reyhan menaik turunkan alis nya
"Itu jawaban terjujur yang pernah aku dengar dari mulut kamu mas" Ucap Shinta, memang benar sih... di saat mereka melakukan sunnah di kasur empuk pun hanya mereka berdua saja yang bisa melihat satu sama lain
"Kalau aku paling tampan saat apa?" Tanya Reyhan
"Bener mau tau?" Tanya Shinta balik
"Iya sayang" Jawab Reyhan, dia juga ingin mendengar pengakuan istri nya
"Sama, di saat hanya aku yang bisa lihat kamu, benar benar hanya aku tanpa orang lain lagi" Jawab Shinta yang membuat suami nya tersenyum sendiri
"Gagah ya?" Tany Reyhan pede
"Iya, tapi kamu lebih ganteng lagi saat... " Ucap Shinta menggantung
"Saat apa yang? jujur aja" Ucap Reyhan penasaran
"Kalau jujur berarti kamu mau nurutin apapun yang aku minta ya?" Tanya Shinta memastikan
"Apapun" Jawab Reyhan
"Janji?" Tanya Shinta menyatukan kelingking mereka
"Janji" Jawab Reyhan yakin, apapun akan dia turuti jika itu memang baik untuk istri nya
"Kamu paling tampan saat suami ku kasih izin buat beli seblak, bakso mercon, makaroni pedas, mie pedas, dan lain lain yang berupa makanan pedas" Ucap Shinta menjilat bibir nya membayangkan makanan hangat berkuah itu masuk ke dalam perut nya
Mendengar ucapan yang terlalu jujur tersebut, Reyhan langsung melepaskan tautan jari kelingking mereka
"Jangan harap!!!" Ucap Reyhan memperingati
"Yah... mas, aku-"
"Jangan mimpi ya, aku gak akan kasih izin kamu makan makanan itu" Ucap Reyhan titik tidak bisa di bantah
Shinta merasa hati nya patah, makanan pedas yang dia sukai harus lenyap begitu saja, aih pliss... mau nangis
"Mas..." Ucap Shinta memohon
"Gak boleh" Potong Reyhan
__ADS_1
Bersambung