
"Ooh... beneran lo gak mau makan?" Tanya Jannah memastikan
"Gak deh, pengen makan masakan bibi aja ntar" Jawab Shinta sembari meneruskan pekerjaan yang tertunda
"Yaudah gue makan bentar" Pamit Jannah dan Shinta mengangguk sebagai jawaban nya
🌸🌸🌸
Jam pulang kerja, waktu yang melegakan bagi para orang dewasa yang bekerja, sama seperti author yang merasa lega dan mengucap syukur alhamdulillah waktu jam pulang sekolah😂
Shinta yang baru saja keluar dari rumah sakit seketika berhenti ketika melihat ada dua pemulung yang duduk di pinggir jalan dengan pakaian lusuh mereka
"Ayo!" Ajak Jannah menoel lengan Shinta yang sedang menatap jalan raya
"Jan, gue minta tolong beliin roti atau camilan, beras, telor sama mie instan gitu di minimarket depan" Ucap Shinta mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas nya
"Sembako?" Tanya Jannah mendengar beberapa bahan makanan
"Iya"
"Buat apa?" Tanya Jannah menerima uang itu dengan mengernyitkan dahi nya
"Udah beli aja, yang banyak dan jumlahnya harus sama, gue mau beli makanan di kantin dulu" Jawab Shinta kemudian kembali masuk ke rumah sakit
"Lah... tadi katanya gak laper" Gumam Jannah heran lalu berjalan ke minimarket untuk membeli pesanan Shinta barusan
15 menit kemudian Shinta keluar dengan menenteng kantong plastik berisi makanan dengan lauk nya, sama pula dengan Jannah yang baru selesai belanja dan membawa dua kantong besar berisi pesanan sahabat nya tadi
"Udah? kurang gak uang nya?" Tanya Shinta seraya membantu Jannah untuk mengambil satu kantong
"Gak sih, masih ada sisa" Jawab Jannah
"Yaudah, kita kesana yok!" Ajak Shinta menunjuk sebrang jalan dimana tempat pemulung beristirahat tadi
"Oke" Jawab Jannah memgiyakan karena mulai mengerti bahwa barang yang mereka beli tadi itu untuk orang lain kemudian mengikuti langkah Shinta yang berjalan terlebih dahulu
"Assalamualaikum..." Sapa Shinta tersenyum tipis saat dia sudah berdiri di depan beberapa pemulung, terlihat jelas bahwa mereka sedang menahan lapar dan maka dari itu Shinta juga membeli makanan tadi
"Waalaikumsalam... neng nya mau buang sampah plastik ya?" Jawab salah seorang wanita paruh baya sekaligus bertanya karena melihat Shinta dan Jannah membawa kresek besar
"Oh, enggak buk" Ucap Shinta berjongkok karena terkesan tidak sopan jika ia berdiri di depan orang yang lebih tua
"Terus mau ngapain neng?" Tanya orang salah satu nya lagi dengan ramah
"Kita ada rezeki dikit buat ibuk" Ucap Shinta sembari memberikan makanan yang dia beli di kantin rumah sakit
"Sama ini buk... mohon di terima ya" Ucap Shinta lagi memberikan bahan makanan
"i-ini serius neng?" Tanya ibu itu dengan tangan yang bergetar dan mata berbinar
"Serius buk" Jawab Shinta tersenyum
"Ya Alloh... anak ku bakal suka bisa makan lauk sama mie" Ucap ibu yang lain dengan air mata meleleh karena bersyukur
"Ya Alloh neng... makasih ya, semoga rezeki nya selalu di lancarkan"
"Iya neng... makasih banyak, berkat neng anak saya nanti bisa makan nasi dan gak kelaparan"
Hal ini yang paling Shinta sukai, ketika ia bisa sedikit membantu orang lain dan melihat senyum mereka yang mengembang karena hal hal sederhana, ia juga suka mendengar do'a yang mereka panjatkan untuk nya
"Amin... ini rezeki dari Alloh buk, saya hanya perantara saja" Ucap Shinta seraya mengelus lengan ibu ibu yang sedang terisak
Jannah hanya menyaksikan dengan senyum merekah, ia sudah biasa melihat Shinta yang suka menolong orang lain di sekitar mereka
"Yaudah kalau gitu saya permisi dulu ya buk, hati hati kalau pulang" Ucap Shinta berdiri dari duduk jongkok nya
"Assalamualaikum..." Pamit Shinta dan Jannah
"Waalaikumsalam neng..."
Saat Shinta juga Jannah hendak memasuki mobil, ada orang yang meneriakkaan nama nya dan ternyata itu salah satu pemulung tadi
"Neng... tunggu neng!" Ucap nya membuat kedua gadis itu langsung menoleh
"Ya, ada apa ya buk?" Tanya Shinta bingung karena ibu ibu yang kembali menghampiri nya
"Ini uang neng ketinggalan di kantong tadi" Ucap ibu ibu itu dengan memberikan uang lembaran merah yang jumlahnya banyak
"Oh... itu uang punya ibuk, buat beli keperluan ibuk yang lain nya atau modal usaha mungkin" Jawab Shinta memberikan ide karena dia memang menyelipkan uang di dalam kantong plastik tadi
"Bagus sih neng... nanti saya bisa punya penghasilan sendiri, tapi ini kebanyakan" Ucap ibu ibu itu merasa tidak enak
"Itu artinya rezeki yang Alloh kasih untuk ibu juga banyak" Ucap Shinta menggenggam tangan wanita paruh baya itu agar uang nya tidak di kembalikan
"Ya Alloh neng... saya gak bisa ngomong apa apa lagi selain makasih" Ucap ibu itu mengeluarkan air mata nya
__ADS_1
"Terima kasih nya jangan lupa sama Alloh juga ya buk" Ucap Shinta mengingatkan dan tersenyum
"Iya neng pasti, hati neng baik... banget, semoga bahagia selalu menyertai ya neng" Ucap ibu itu dengan sesegukan yang tersisa
"Amin... kalau gitu saya pulang dulu ya buk, udah hampir maghrib, assalamualaikum..." Ucap Shinta dan untung nya dia sudah sholat ashar di di musholla rumah sakit
"Waalaikumsalam neng... hati hati" Ucap ibu tadi melambaikam tangan dengan hati terus mengucap syukur kala melihat mobil Shinta semakin menjauh dari pandangan nya.
Kali ini Jannah menyetir dengan tenang sembari melihat pemandangan sore hari
"Lo bahagia?" Tanya Jannah
"Iya, dari dulu waktu gue masih gak punya apa apa, gue punya impian bisa bantu orang lain untuk bahagia walaupun dengan hal hal kecil, jika gue bahagia maka gue berharap kalau orang di sekeliling juga bahagia" Jawab Shinta
"Kenapa lo bisa mikir hal itu?" Tanya Jannah
"Gue pernah ngerasa in gimana jadi orang gak punya, gimana rasanya gak ada yang bantuin gue sama sekali dan hal itu suka bikin hati gue miris ketika ada orang yang bernasib sama kayak gue dulu" Jawab Shinta memberi jeda
"Bantu orang gak harus beliin dia rumah, gak harus beliin dia mobil, karena definisi bahagia bukan hanya dari segi kemewahan, lo liat kan tadi kalau kita cuman beliin beberapa bahan makanan aja mereka udah bahagia" Ucap Shinta dan Jannah mengangguk sebagai jawaban nya
"Mungkin sebagian orang menganggap itu hal kecil dan remeh, padahal dengan hal sederhana kayak gitu udah bikin mereka seneng dan hari hari mereka bahagia walaupun tidak sebahagia hari orang lain, dan yang paling penting akan ada jiwa semangat bangkit yang tumbuh di hati mereka untuk mengubah keadaan hidup nya" Sambung Shinta mengingat dimana Jannah dan Laila dulu yang selalu memberi dukungan untuk bangkit walaupun dia dan Jannah hanya murid beasiswa, berbeda dengan Laila yang memang anak orang mampu
"Gue bukan tuhan yang bisa bagi rata rezeki di seluruh alam, tapi setidak nya gue akan usaha buat ngasih kebahagiaan pada orang orang sekitar gue" Ucap Shinta sembari menyunggingkan senyum nya
"Semoga aja usaha kita di berkahi dan gak sia sia" Ucap Jannah, dia dan Shinta memang sama sama usaha dari nol, ia juga ingat bahwa sahabat nya itu jungkir balik kuliah sambil mencari uang tanpa dukungan orang tua, sama hal nya dengan dia karena sang orang tua pun sudah lama berpulang ke pangkuan nya
Sesampai nya di rumah mereka langsung melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan bi Asti dan pak Didi yang masih belum pulang
"Bibi... aku kangen sama masakan bibi" Ucap Shinta kala melihat bi Asti datang menyiapkan makanan di dapur
"Aduh... non bisa aja, baru juga beberapa hari" Ucap bi Asti terkekeh
"Tapi emang enak loh bi" Ucap Shinta seraya duduk di meja makan karena lapar yang menghampiri
"Masakan non juga enak" Ucap bi Asti tersenyum
"Hehe... makasih bi" Ucap Shinta yang memegang sendok berisi nasi beserta lauk nya, namun... belum sempat makanan itu masuk, terdengar suara klakson mobil dan suara laki laki yang tidur satu ranjang dengan nya dari hari hari kemarin
"Assalamualaikum..." Ucap Reyhan langsung masuk ke dalam rumah karena pak Didi tadi pun langsung membuka gerbang
"Waalaikumsalam mas, udah pulang?" Jawab Shinta sekaligus bertanya dan menghampiri suami nya, mengambil tangan itu, dan mencium nya
"Udah, kamu makan malam?" Tanya Reyhan balik setelah mencium kening istri nya
"Ya... setengah malam sih karena tadi gak mood makan siang" Jawab Shinta nyengir karena dia yakin bahwa Reyhan pasti akan menceramahi nya
"Ssttt... iya aku minta maaf, tadi cuman mual aja" Ucap Shinta, Reyhan kemudian menyingkirkan perlahan telunjuk istri nya
"Kamu hamil? masa baru sekali bikin langsung jadi, bibit unggul apa gimana?" Ucap Reyhan ngawur dan, plak.... satu pukulan kecil mendarat di lengan nya
"Sembrono... gak mungkin lah, semua butuh proses loh" Ucap Shinta merasa malu karena bi Asti pasti mendengar percakapan mereka
"Kan kali aja langsung jadi sayang..." Ucap Reyhan tersenyum jahil
"Aduh non... semoga nanti di kasih momongan yang banyak" Ucap bi Asti mendoakan dan yang mengaminkan nomor satu adalah Reyhan, kalau soal itu mah semangat 45 hayukkk kapan aja dia siap
"Amin... "
"Ayo aku temenin makan" Ajak Reyhan, Shinta pun menyanggupi saja dan memakan makanan nya dengan lahap, tidak ada rasa canggung di depan suami nya, kalau makan yang penting prinsip tenang dan kenyang
"Pelan pelan" Ucap Reyhan mengusap sudut bibir itu lalu mengambilkan air putih saat istri nya sudah selesai makan
"Oh iya, kan aku tadi nyuruh langsung pulang aja... kenapa kesini?" Tanya Shinta
"Sengaja kesini, aku belum pernah tidur disini kan?" Jawab Reyhan
"I-iya sih, tapi udah ngabarin mama?" Tanya Shinta lagi
"Udah sayang" Jawab Reyhan santai sembari mengelus kepala berambut panjang itu karena Shinta tadi melepas hijab nya dan pak Didi juga sudah tidak berada di dalam rumah
"Cie... pengantin baru berduaan terus" Ledek Jannah saat ia baru turun dengan baju tertutup dan hijab instan menutupi kepala nya
"Kan halal" Ucap Shinta terkekeh kemudian mengajak Reyhan untuk naik ke kamar nya
Ceklek... kamar bernuansa cream dengan hiasan aesthetic terpampang di hadapan nya
"Kamu mandi dulu mas... dari luar banyak kuman, nanti habis mandi aku mau bicara sesuatu sama kamu" Ucap Shinta dengan tangan melepas jas dan dasi milik suami nya
"Iya sayang, aku mandi dulu" Ucap Reyhan karena dia pun membawa baju ganti di dalam mobil nya, kemudian masuk ke kamar mandi dan memulai segala ritual membersihkan badan
Sembari menunggu suami nya mandi, Shinta berdiam diri di walk in closet untuk berpikir sejenak, kemudian mengeluarkan kotak hitam dari dalam lemari nya yang mana sudah di letakkan ajudan tadi pagi
*Semoga aja mas Rey gak marah* Batin Shinta harap harap cemas dengan memeluk kotak itu dan berjalan duduk di pinggir ranjang
Ia duduk dengan perasaan tidak karuan, takut apabila Reyhan benar benar akan marah karena dia suka bermain dengan benda berbahaya
__ADS_1
Bukannya takut dilarang menyentuh benda itu lagi, tapi dia takut dengan amarah seseorang yang dia cintai, meskipun ia tahu kalau Reyhan tidak pernah berniat marah pada nya, tapi tetap saja... ini bukan hal yang mudah bagi nya
"Ngelamunin apa sayang?" Tanya Reyhan tiba tiba yang sudah memakai pakain casual sehabis mandi
"Ehmm? udah selesai?" Tanya Shinta tidak sadar jika dia sudah merenung terlalu lama
"Udah" Jawab Reyhan dengan senyum yang selalu tersungging saat di depan istri nya, tapi saat mata nya melirik ke arah kotak hitam itu, senyim pun tiba tiba sirna di gantikan dengan tatapan penasaran
"Kotak pistol?" Ucap Reyhan yang membuat Shinta terkejut bukan main, bagaimana bisa suami nya tau kotak tersebut
"Mas, ka-kamu tau kotak ini?" Tanya Shinta gelagapan
"Aku tau, dan kenapa kamu punya kotak ini?" Tanya Reyhan balik dan rasa terkejut pun juga ada di hati nya, kenapa sang istri bisa punya kotak itu?
"Buka aja" Ucap Shinta memberikan kotak itu dengan ragu karena takut Reyhan akan benar benar marah
Perlahan Reyhan membuka kotak itu, dan terlihat jelas ada satu buah pistol berwarna hitam, dan ada tulisan Inisial AZ
"Ini pistol kamu?" Tanya Reyhan berusaha tetap tenang meskipun dia benar benar sangat terkejut dengan hal yang dia lihat hari ini
"I-iya, itu milikku" Jawab Shinta dengan suara bergetar, rasa takut sudah menyelimuti nya dari awal
"Bagaimana bisa? bagaimana bisa kamu punya benda berbahaya ini?" Tanya Reyhan yang terkesan menggebu
"Aku akan jelaskan, tapi jangan marah padaku" Ucap Shinta menunduk, ia tidak berani menatap wajah suami nya sekarang
"Aku berusaha tidak marah, tapi jelaskan dulu padaku" Ucap Reyhan meletakkan pistol itu di atas nakas, kemudian menangkup kedua pipi istri nya
"Jangan marah, kamu janji gak akan marah kan?" Ucap Shinta memastikan karena hati nya mudah sekali rapuh jika terkena bentakan
"Insyaalloh... sekarang kamu jelasin dulu" Jawab Reyhan duduk di samping istri nya dan siap mendengarkan sebuah penjelasan
"Kamu masih ingat kak Zean yang aku ceritakan?" Tanya Shinta
"Yang membantu mu kabur? ya aku masih ingat" Jawab Reyhan
"Dia meninggal satu tahun yang lalu, sejak saat itu aku mulai menyukai pistol, aku mulai belajar dan mendalami tentang pistol" Ucap Shinta
"Jadi, dia sudah meninggal?" Tanya Reyhan dan istri nya mengangguk sebagai jawaban
"Emm... awal nya aku hanya berlatih menggunakan pistol orang lain, tapi lama kelamaan aku ingin memiliki nya sendiri, dan pistol itu aku dapatkan di hari ulang tahunku, sebagai pemberian hadiah dari ajudan" Sambung Shinta
"Tapi, bukan kah izin mempunyai pistol di sini sangat susah?" Tanya Reyhan karena setau nya yang berhak memiliki pistol adalah pemilik perusahaan, polisi dan lain sebagai nya, itu pun syarat yang di ajukan sangat bermacam macam
"Laila membantuku untuk mendapat izin, dan umurku sudah 24 tahun, itu sesuai dengan perizinan memiliki senjata api" Jawab Shinta
"Jadi, kamu mulai memiliki pistol dari dua bulan yang lalu?" Tanya Reyhan
"Iya" Shinta melihat suami nya yang mengusap wajah nya
"Kamu gak marah sama aku kan? kamu gak akan ngelarang aku supaya melepas pistol itu kan?" Tanya Shinta memastikan
Huft...
"Selama pistol ini tidak di salah gunakan, aku gak melarang sayang" Jawab Reyhan
"Gimana bisa di salah gunakan? kamu liat ada peluru gak disitu?" Tanya Shinta dan Reyhan pun langsung memeriksa kotak hitam itu kembali yang ternyata tidak ada satu pun peluru di sana
"Kemana peluru nya?" Tanya Reyhan bingung
"Di bawa ajudan, aku gak pernah memakai pistol itu tanpa pengawasan dia" Jawab Shinta mengerucutkan bibir nya
"Kalau begitu kapan kapan kita harus berlatih bersama!" Ajak Reyhan yang membuat sang istri langsung memelototkan mata nya
"Apa? kamu bilang apa barusan?" Tanya Shinta memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah
"Kita latihan menembak bareng nanti" Jawab Reyhan enteng, seperti nya akan menyenangkan jika mereka berdua berlatih bersama
"Tunggu deh, aku masih gak faham" Ucap Shinta menghela nafas berat, dia masih bingung
"Aku juga punya benda ini" Jawab Reyhan yang semakin membuat Shinta terkejut
"Kamu bercanda ya?" Tanya Shinta menoel lengan suami nya
"Aku gak bercanda sayang, aku punya pistol sejak dua tahun yang lalu" Jawab Reyhan dengan nada serius
Shinta menggelengkan kepala, dia yang mau jujur dan mengejutkan Reyhan, tapi sekarang dia sendiri yang mendapat kejutan, namun tak dapat di pungkiri bahwa ada rasa lega ketika suami nya tidak marah, dan masih mengizinkan nya berlatih
"Tapi aku gak pernah liat pistol di kamar kamu" Ucap Shinta heran
"Karena benda itu aku simpan di suatu tempat" Ucap Reyhan, Shinta pun mengangguk saja meskipun ia masih terkejut tentang kenyataan mereka yang sama sama menyukai senjata api
"Aku gak pernah memakai pistol untuk membunuh makhlup hidup, jadi kalau nanti latihan kita harus memakai benda mati, ingat itu!" Ucap Shinta memberi syarat karena dia sangat enggan membunuh makhluk hidup yang tidak bersalah
"Iya sayang, sekarang ayo kita melakukan tembak menembak yang sesungguhnya" Ajak Reyhan dengan seringai di wajah nya
__ADS_1
"Aaa... kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan!"
Bersambung