Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
186. Soljighage daedabhaejwo


__ADS_3

"Kalian tadi ngomongin apa?" Ucap Jannah dengan muka bingung nya ketika dia kembali dari kamar dan mendengar suara tadi


"Eh... itu loh, Shinta mau pelihara meong tapi gak di bolehin sama suami nya, makanya dia kesel" Ucap Jannah memberi alasan yang cukup masuk akal sih karena ibu hamil memang di sarankan untuk tidak dekat dekat dengan hewan berbulu tersebut


"Lagian lo ya... udah mau hamil tua masih aja bandel" Ucap Jannah menggelengkan kepala nya


"Meong tuh lucu tau..." Ucap Shinta yang dulu nya pernah memiliki kucing saat masih duduk di bangku MI


"Tapi gak lucu buat kesehatan anak yang ada di dalem perut lo!" Ucap Jannah jadi gemas sendiri dengan kelakuan sahabat nya


"Iya iya bumil, semesta banget lo" Ucap Shinta menepuk pelan punggung Jannah


"Apa hubungannya coba sama semesta?" Tanya Laila bingung dan tidak paham pasti nya


"Semesta jahat kan galak si" Ucap Shinta yang maksudnya adalah galak sih...


"Itu namanya galaxy bego!" Ucap Laila menggelengkan kepala nya, kok bisa Shinta makin lama makin eror gini? Heran


"Bego bego gini ada yang cinta, ada yang langsung halalin gue" Ucap Shinta tersenyum serta menjulurkan lidah nya


"Yang lebih aneh lagi ini anak nih" Ucap Laila menunjuk Jannah yang sedang diam menyimak pembahasan


"Kok gue???"


"Lo dulu ngeluh ke gue, protes kenapa 'itu' sakit banget... eh ternyata sekarang ada isi nya juga tu perut" Ucap Laila dengan nada pura pura julid nya


"Bener... dulu sampek nelfon gue subuh subuh trus marah marah, lah sekarang malah udah isi Rendra junior" Ucap Shinta membenarkan, lucu saja kalau mengingat bagaimana Jannah marah pada nya


Jannah jadi merasa malu sendiri, memang mulut nya susah sekali untuk di tahan jika di depan duo somplak tersebut "Ya kan gue kaget dong, eh... taunya ke-keterusan" 


Shinta dan Laila auto ngakak, benar benar sahabat nya yang satu itu sangat jujur sekali


"Haha udah udah kasian pipi nya bengkak nanti" Ucap Shinta melihat betapa merah nya muka Jannah


"Bener, kalau Rendra tau mungkin kita jadi bahan amukan" Ucap Laila tergelak sambil memegangi perut nya


"La... kenapa lo gak sama Bian aja sih?" Tanya Jannah merasa bahwa Laila dan Bian jika di sandingkan pun memiliki kecocokan


"Sama tukang body shaming? Ogah amat gue, masih ada laki laki lain yang baik hati di luar sana" Ucap Laila


Namun trio wek wek itu terkejut ketika mendapati televisi menayangkan berita pelecehan seksual yang sedang marak di bicarakan


"Laki laki baik di luar sana ya..." Ucap Shinta tersenyum miring karena seperti nya kosa kata itu masih belum cocok untuk di gunakan


"Liat noh... dan tadi lo bilang apa?" Ucap Jannah memejamkan mata karena merasa aneh dengan ucapan Laila barusan "Tukang body shaming maksud lo siapa?"


"Ya Bian lah, mana mungkin dia cari pasangan tanpa liat fisik dulu?" Ucap Laila baru sadar ketika ia keceplosan dan Jannah pun tidak tahu sama sekali soal kasus Alina Alena


"Su'udzon mulu heran gue" Ucap Jannah berdecak sambil bersedekap dada


"Gue mau cari pasangan kayak bokap gue aja deh.. udah baik hati, royal lagi bagaikan hero untuk anak nya" Ucap Laila tersenyum manis sambil meletakkan tangan nya di dada sendiri


"Yaudah cari sono bokap lo versi muda" Ucap Jannah


"Muda dan kaya sih lebih tepat nya" Ucap Shinta yang hanya bercanda namun di acungi jempol oleh Laila


"Modal cinta doang emang mau makan gragal?" Ucap Laila


"Dih... ntar beneran suka sama orang yang modal cinta doang bakal mampus loh, hati hati kalau ngomong tuh" Ucap Jannah menepuk pipi sahabat nya


"Makanya kalian harus bersyukur Allah kasih kehidupan serba cukup" Ucap Laila menjadi bijak dalam sekejap


"Apalagi elo... udah serba cukup dari lahir, jadi rasa bersyujur juga harus lebih tinggi" Ucap Jannah karena dia dan Shinta pun memulai dari nol


"Iya iya, tau..." Ucap Laila mengerucutkan bibir nya karena dia pun kadang suka mengeluh dengan keadaan tanpa melihat bahwa banyak orang lain yang lebih kekurangan


"Aunty... udah selesai pembicaraan nya? Kalian gak mau kasih aku cemilan nih?" Ucap Shinta mewakili bayi nya yang ada di dalam


"Bilang aja kalau lo yang laper" Ucap Laila


"Emang iya, wlee' " Ucap Shinta membenarkan karena dia pun selalu menyediakan camilan di rumah


"Gue udah pesen makanan sih, tunggu aja bentar" Ucap Jannah


"Gue penasaran deh, ini calon keponakan udah bisa nendang belum ya?" Tanya Laila menyentuh perut buncit sahabat nya


"Yang gue rasain sih belum, maybe nanti karena gerakan janin itu mulai muncul usia enam belas minggu sampai dua puluh minggu" Jawab Shinta menjelaskan


"Aaa gak sabar gue tuh" Ucap Laila gemas

__ADS_1


"Yang hamil Shinta, yang gak sabar elo" Ucap Laila terkekeh, aneh sih lagian...


Setelah makan, nyemil bercanda bercanda dan ya... melakukan hal yang biasa mereka perbuat saat masih tinggal bersama dulu


Bisa di bilang mengigat serta flashback tentang masa lalu mereka yang sering bercanda ria seperti ini walau di iringi masalah percintaan


"Eh.. sekarang jam makan siang kantor ya? Gue pamit dulu kalau gitu" Ucap Shinta yang sudah memiliki janji dengan suami nya


"Yah... tega banget gak sampek sehari udah pulang" Ucap Jannah heran


"Ada kencan tuh Shinta sama pak misua nya" Ucap Laila tau alasan sebenarnya namun enggan membuka mulut


"Kencan kencan, bukan kencan prend tapi udah siang gue mau maksi bareng" Ucap Shinta


"Sama aja kali maemunah"


"Maksi apaan?" Tanya Jannah


"Makan siang bareng suami dong... nanti gue telfon deh kalau lo masih kangen" Ucap Shinta di sertai tawa nya


"Bisa aja, trus mau naik apa kesana?" Tanya Jannah


"Gue udah pesen taxi online, tenang... yang nyupir langganan nya Adib kok jadi jangan khawatir" Jawab Shinta menunjukkan handphone nya


"Kenapa gak gue aja sih yang nganter?" Tanya Laila


"Apa sih? Kantor nya mas Rey deket kok.. jangan berlebihan deh" Ucap Shinta lalu beranjak dari duduk nya


"Udah ya... gue pamit dulu, assalamualaikum" Ucap Shinta, setelah mendapat jawaban baru lah dia keluar dari apartemen yang mana sudah ada taxi online menunggu nya di parkiran


"Sesuai alamat ya neng?" Tanya pak sopir sebelum menginjak pedal gas nya


"Iya pak, kantor WY" Jawab Shinta membenarkan alamat tujuan nya lalu membuka handphone untuk mengabari suami nya


Mr.Suami❤


📩 : "Mas, aku udah di jalan.. kamu gak lagi sibuk kan?"


Beberapa menit kemudian


📩 : Sesuai janji sayang, kamu naik apa?


🌸🌸🌸


Reyhan yang sedang menunggu di lobby seketika terkejut ketika melihat taxi yang di tumpangi istri nya berhenti tepat di depan kantor


*Waduh... berani juga bu bos ya* Batin Evan yang sedari tadi berdiri di samping bos nya


"Makasih neng"


"Sama sama pak" Jawab Shinta tersenyum walau tahu dia akan mendapat omelan dari suami nya nanti


Perlahan kaki itu melangkah masuk dan langsung menghadap suami nya di dalam lobby


"Kenapa naik taxi?" Tanya Reyhan yang tidak peduli ketika menjadi pandangan para pegawai nya


"Kamu mau aku marah di sini atau di ruangan kamu?" Tanya Shinta balik dengan berbisik di telinga sang suami, hanya karena naik taxi saja raja nya itu sudah ingin ngamuk apalagi kalau yang lain?


"Ayo!" Ucap Reyhan menggandeng tangan bumil tersebut lalu naik ke atas menggunakan lift yang biasa ia gunakan


Lagi lagi Shinta menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada di kantor, ya... siapa juga yang tidak penasaran jika ada wanita yang masuk ke ruangan bos galak tersebut, dalam keadaan hamil pula


"Istri nya mungkin"


"Ya alhamdullilah dong kalau istri, itu tanda nya pak bos udah bahagia"


"Gue do'a in yang baik aja deh... ntar juga di ungkap sendiri" Beberapa ucapan karyawan yang terdengar di telinga pasutri itu


"Mau apa yang?" Tanya Reyhan ketika mereka berdua sudah ada di dalam ruang kerja dirut dengan Evan yang berdiri di luar pintu ruangan


"Mau penjelasan dari kamu" Jawab Shinta mendaratkan pantat nya di sofa nyaman yang ada di ruangan suami nya


"Penjelasan apa?" Tanya Reyhan ikut duduk di samping sang istri


"Kamu apaan sih? Sesuai yang tadi waktu kita telfon, aku mau penjelasan tentang hal yang kamu sembunyikan dari aku" Jawab Shinta


"Gak bisa di tukar sama yang lain gitu?" Tanya Reyhan berusaha tawar menawar


"Kamu sendiri ya yang bikin perjanjian kalau kita gak boleh ada hal yang di sembunyikan satu sama lain!" Ucap Shinta mengingatkan dan langsung membuat suami nya diam

__ADS_1


Mau jujur takut istri nya tersaikiti, tapi kalau gak jujur alamat pertengkaran akan terjadi di dalam rumah tangga mereka


Dengan kedua tangan Shinta memegang wajah suami nya, menatap kedua mata yang sekarang nampak lesu serta kebingungan


"soljighage daedabhaejwo" Ucap Shinta benar benar ingin tahu apa yang terjadi


솔직하게 대답해줘 (soljighage daedabhaejwo)


: jawab aku dengan jujur


Reyhan membalas tatapan tersebut, lalu memejamkan mata dan Shinta juga bisa melihat kalau suami nya mengambil nafas secara dalam dalam


"Kamu gak akan nangis setelah tahu kan yang? Bisa kamu janji sama aku?" Tanya Reyhan serius


"Insyaallah, aku janji gak akan nangis" Jawab Shinta menyanggupi


"Beneran ya? Jangan ingkar janji sama aku" Ucap Reyhan memastikan sekali lagi dan mendapat jawaban sebuah anggukan yakin dari istri nya


Reyhan berdiri lalu mengajak sang istri untuk duduk berdua di kursi kebesaran nya, ia akan menjelaskan dengan perlahan serta bukti bukti yang ada di komputer nya


"Kamu diem dulu yang, aku mau jelasin" Ucap Reyhan pada bumil yang ada di pangkuan nya


"Iya"


Reyhan dengan jari nya membuka salah satu file yang Evan kirimkan kemarin, memang hal itu yang ia sembunyikan karena ingin mengetahui lebih dalam lagi dan enggan istri nya memikirkan hal ini


"Kamu tahu logo ini?" Ucap Reyhan memperlihatkan salah satu logo perusahaan ternama yang terlihat mewah


"Kalau gak salah... ini logo Growyer grup itu kan? Perusahaan yang udah berdiri cukup lama" Jawab Shinta mengetahui sedikit tentang beberapa perusahaan


"Jadi... perusahaan ini ada sangkut paut nya dengan kasus yang kita jalani" Ucap Reyhan membuat istri nya tidak mengerti


"Maksud kamu? Apa hubungan nya mereka sama kita?" Tanya Shinta bingung


"Sekarang kamu liat ini, ini logo yang beda tapi intinya kayak sama kan..." Ucap Reyhan menunjukkan logo office tell yang dia tempati


"Tapi sekarang coba kamu liat ini" Ucap Reyhan ganti menunjukkan gambar logo office tell dan logo Growyer grup yang dulu sebelum di perbarui


"Logo office tell sama logo Growyer yang dulu itu sama?" Ucap Shinta membelalakkan mata nya, jelas jelas sama dan tidak ada perbedaan sama sekali antara dua logo tersebut, hanya saja perusahaan tersebut sekarang sudah berganti dengan logo baru


"Iya, itu artinya pemilik perusaan sama office tell yang aku sewa adalah orang yang sama" Ucap Reyhan


"Trus sekarang? Maksud aku inti dari semua ini" Ucap Shinta menanyakan siapa yang membuat semua rencana ini, siapa yang menjebak suami nya dan apa alasan di balik semua ini


"Pihak white blood kasih kabar ke aku, kalau.... meninggal nya Zean juga pelaku tembakan itu ada hubungan nya dengan perusahaan ini, bahkan kemungkinan besar pemilik perusaan ini yang melakukan semuanya" Ucap Reyhan pelan agar istri nya bisa memahami


"Berarti Alina sama Alena itu di kirim sama perusahaan ini? Dan siapa orang itu mas?" Tanya Shinta


"Iya, Alina sama Alena berasal dari perusahaan ini dan... orang itu kemungkinan adalah pemilik perusahaan, karena hanya dia yang punya koneksi paling besar di antara semua anggota perusahaan" Jawab Reyhan


Shinta menghela nafas dan lemas seketika sampai kepala nya terjatuh di pundak sang suami, dia cukup terkejut tapi juga khawatir karena lawan mereka yang memiliki kekuatan walau dari awal dia sudah tahu kalau yang melakukan adalah orang dengan koneksi besar, apa mereka bisa mengatasi masalah ini tanpa mengorbankan satu nyawa pun? Tanpa ada yang terluka sedikitpun?


"Yang, kamu gak papa kan?" Tanya Reyhan panik


"Aku gak papa kok mas" Jawab Shinta tersenyum ketika kepala nya sudah berdenyut, ingin meneteskan air mata juga tidak bisa karena ia sudah berjanji pada sang suami tadi


"Kita ke kamar ya... istirahat di dalam" Ucap Reyhan menggendong bumil yang tiap hari makin berat saja, tapi... ini bukan waktu nya bercanda


Setelah masuk ke kamar istirahat pribadi nya, Reyhan merebahkan istri nya dengan perlahan... ini yang dia khawatirkan, takut hal yang tidak tidak terjadi pada istri tercinta nya tersebut


"Makasih ya... atas kejujurannya, aku hargai itu mas" Ucap Shinta tetap tersenyum dalam keadaan kepala nya yang makin berdenyut, sakit... rasa nya sangat sakit sekali, tapi ia harus menahan rasa sakit tersebut dari pada harus kembali mengonsumsi rhodiola rosea


"Aku masih simpan obat kamu, mau minum itu?" Tanya Reyhan menawarkan karena dia tahu bahwa rasa sakit itu menyerang, terbukti dari badan istri nya yang bergetar cukup kuat


"Gak perlu, aku bisa kok... aku gak papa" Jawab Shinta tidak ingin menelan obat yang sudah hampir ia lupakan


Reyhan jadi sedih dan merasa sangat kasihan dengan istri nya "Kamu yang tenang ya sayang... semua baik baik aja, semuanya baik baik aja" Ucap nya memeluk sang istri sambil menenggelamkan wajah itu di dada nya di sertai elusan punggung dan elusan di kepala yang tertutup hijab


"Percaya sama aku, kita bisa... semuanya akan baik baik aja dan kita juga bisa bahagia sayang" Ucap Reyhan terus menerus berusaha untuk menenangkan istri nya seperti hal yang pernah dia lakukan


"Iya" Jawab Shinta membalas pelukan itu dengan erat


"Jangan khawatir... semua baik baik aja" Ucap Reyhan sambil mencium dahi sang istri agar rasa sakit itu cepat menghilang walaupun emosi nya sendiri juga muncul setelah mengetahui kenyataan kemarin.


Bersambung


Assalamualaikum...


Insyaallah novel ini sebentar lagi ending, mungkin nunggu setelah saya selesai PAS karena butuh waktu longgar untuk nulis nya, terimakasih untuk yang sudah setia membaca dari awal sampai saat ini😽 semoga sehat selalu di manapun kalian berada.

__ADS_1


Wassalamualaikum💗


__ADS_2