
"lo dapet foto itu dari mana?" tanya jannah
"lo gak tau siapa gue?" tanya laila bercanda
"ya ya ya, laila alfi raharja, anak bungsu dari pebisnis terkenal prabowo raharja yang identitas nya masih disembunyikan dari media" jawab jannah terkekeh
identitas laila memang masih disembunyikan karena dia lebih suka hidup bebas tanpa dikelilingi media dan tanpa embel embel nama raharja, hanya shinta dan jannah saja yang tau identitas asli nya
"nah karena laila anak bungsu, jadi ke mana pun dia pergi, pasti di awasi" timpal shinta
"bener la? sampai sekarang?" tanya jannah
"iya, makanya tadi yang gue suruh nyari informasi tentang dara itu anak buah bokap gue" ucap laila menjelaskan
"ooh" ucap jannah ber'oh'ria
"tetapi shin, gue masih bingung deh" ucap laila tiba tiba
"bingung kenapa?" tanya shinta
"yang suka duluan sama lo kan kak rey, lah kok dara yang marah sih? gak masuk akal" ucap laila menggelengkan kepala
"haduh, orang kalau udah di butakan cinta itu bisa berbuat nekat la" jawab shinta
"itu mah obsesi, gila aja sih, sesama perempuan kok saling menyakiti" ucap laila heran
"nama nya juga hidup, gak semua orang di dunia ini baik" ucap jannah
"iya sih" ucap laila membenarkan
"udah ah, tidur yuk" ajak shinta
"ya, goodnight" pamit laila naik ke atas
"too" jawab laila juga shinta
skip jam 7 pagi
"selamat pagi dua sahabatku yang cantik" ucap shinta ceria saat baru turun menuju meja makan
"pagi" jawab laila juga jannah
"ciee, mood cinderella nya balik" ucap laila saat melihat shinta yang ceria pagi ini
"iya nih, ibu ratu udah baikan" timpal jannah terkekeh
"selagi mood gue baik, sekarang ayo makan" ajak shinta duduk di meja makan
"gak nyambung shin, apa hubungannya mood sama sarapan?" tanya laila
"ya ada dong, kalau mood gue baik, gue pasti sarapan di rumah" jawab shinta seadanya
"ya ya terserah" ucap laila dan mereka pun makan bertiga dengan hikmat
skip sampai rumah sakit
"eitsss tunggu dulu" cegah shinta saat mereka mau masuk ke ruang farmasi
"apaan dah?" tanya jannah bingung
"jangan ada pertengkaran lagi loh" ucap shinta mengingatkan
"ck, iya bawel" ucap jannah
"pagi" sapa shinta juga jannah saat masuk ruangan
"pagi juga" jawab sela dan monik
"shin, kamu gak papa kan?" tanya sela menghampiri shinta
"gak papa kok" jawab shinta sambil menggelengkan kepala
"syukur deh" ucap sela
"si mak lampir mana?" tanya jannah yang melihat tidak ada dara di sana
__ADS_1
"hari ini lagi izin" jawab monik
*akhirnya, hari ini hidup gue akan tenang tanpa omelan si bandar ghibah* batin shinta
"wah, pasti malu karena kejadian kemarin malam" ucap jannah terkekeh
"kejadian apa?" tanya monik
"kejadian-" ucap jannah terpotong
"gak ada kejadian apa apa kok, udah yuk kerja" potong shinta
"iya" jawab mereka
"tadi lo kok motong ucapan gue?" tanya jannah berbisik saat dia juga shinta sudah duduk anteng di kursi masing masing
"mereka gak perlu tau lah, gak baik juga" jawab shinta
"ohh" ucap jannah
tetapi belum sempat shinta menyentuh bulpen nya, rendra tiba tiba masuk ke ruangan
"shinta, kamu di panggil pak direktur" ucap rendra
"ada apa ya?" tanya shinta
"langsung aja ke atas" jawab rendra yang di angguki shinta
*ada apalagi ini?* batin shinta bertanya tanya
"baik, saya kesana" ucap shinta berdiri dan segera menuju ruangan reyhan
tok tok tok
"masuk" jawab reyhan dari dalam saat pintunya diketuk
"permisi pak, ada apa bapak manggil saya?" tanya shinta
"jelaskan tentang kejadian ini" ucap reyhan sambil menunjuk laptop nya yang memperlihatkan kejadian mereka bertengkar kemarin
tetapi tidak dengan reyhan, dia bisa melihat kalau shinta memang sedang menyembunyikan sesuatu
"benar?" tanya reyhan
"benar pak" jawab shinta menyakinkan
"gak ada yang kamu tutupi?" selidik reyhan
"gak ada pak" jawab shinta
*aku gak mau masalah ini membesar, kalau nanti kamu tau dengan sendirinya ya udah gak papa* batin shinta
"karena kamu gak jujur, hari ini kamu harus bantuin saya nyusun laporan beberapa tahun lalu sampai sekarang" ancam reyhan
"haa? pak saya harus jujur gimana sih? emang bener kok itu cuman salah paham" ucap shinta membela diri
"ya pokok nya kamu harus bantuin saya hari ini" tegas reyhan
"pak.. saya kan biasa pegang obat obatan, mana mungkin saya mengerti tentang laporan itu" ucap shinta berusaha menghindar
"shinta.. kamu kan kerja di bagian pelaporan obat obatan, berkas laporan kayak gini pasti udah biasa buat kamu" ucap reyhan
"tapi saya juga ada- " belum selesai shinta berbicara, rey lebih dahulu menelepon rendra
📞: "ndra, kasih tau sama sela, hari ini tugas shinta biar dia yang handle, karena hari ini shinta harus jadi partner kerja buat bantuin gue" ucap reyhan di telepon
📞: "partner kerja atau mau modus?" goda rendra di telepon yang tentunya hanya reyhan saja yang bisa mendengar
📞: "dua duanya" jawab reyhan
dan setelah mendapat jawaban dari rendra, reyhan pun segera mematikan ponsel nya
"kerjaan kamu beres, jadi gak ada penolakan" ucap reyhan sambil tersenyum puas
*astaghfirullah, baru aja gue ngerasa tenang, ehh ini si bapak malah ada ada aja* batin shinta kesal
__ADS_1
"iya pak, iya" jawab shinta pasrah
"pakai laptop ini" ucap reyhan memberikan laptopnya, sedangkan dirinya sendiri menggunakan komputer yang terletak rapi di meja nya
"baik pak" ucap shinta menerima laptop dan berjalan menuju sofa
"mau ke mana?" tanya reyhan
"ngerjain di sofa pak" jawab shinta
"siapa yang nyuruh kamu ngerjain di sofa?" tanya reyhan
"trus di mana lagi pak?" tanya shinta
"duduk di kursi depan saya, kerjain di situ" ujar reyhan menunjuk kursi di depan nya yang hanya terhalang meja
"baik" jawab shinta, toh percuma jika menolak
*allahumma... banyak banget* batin shinta saat membuka file yang harus dia urutkan
dan reyhan hanya terkekeh karena melihat ekspresi shinta yang terkejut
"urutkan dengan benar" perintah reyhan
"baik pak" jawab shinta
*terserah yang mulia raja deh, yang penting gajian* batin shinta
2 jam kemudian
"pak, saya sudah selesai" ucap shinta sambil mencabut flashdisk di laptop reyhan
*cepet banget, apa mungkin dia punya kerjaan tambahan?* batin reyhan heran
"pak" panggil shinta lagi karena reyhan tidak merespon nya
"eh siapa bilang udah selesai? masih ada yang harus kamu urutkan, ini mau saya kirim, belum lagi semua data pasien yang harus kamu urutkan juga" ucap reyhan sambil menyambungkan komputer nya dengan laptop yang di pegang shinta
"bapak kayak nya sengaja banget ya" ucap shinta lirih dengan ekspresi kesal
"udah jangan kesel, nanti saya ganti waktu kamu" ucap reyhan yang mendengar ucapan shinta barusan
"ganti pakai apa pak?" tanya shinta jengah
"makan siang, saya yang traktir" jawab reyhan
"enggak deh pak, makasih" ucap shinta menolak dengan halus
"gak perlu nolak, kapan lagi kamu bisa makan siang bersama saya yang ganteng ini?" tanya reyhan dengan tingkat kepedean nya yang tinggi
"bapak pede banget ya" ucap shinta malas
"emang beneran saya ini ganteng kok" ucap reyhan membela diri
"iya pak iya, saya percaya" ucap shinta mengalah
*iyain aja lah ya, biar cepet selesai* batin shinta
"gak ikhlas banget kelihatan nya" ucap reyhan
"ini ikhlas dari hati saya yang paling terdalam kok pak" ucap shinta tersenyum paksa sambil mengelus dada nya
"bener?" tanya reyhan meragukan
"iya, udah lah pak saya mau kerja" ucap shinta dan mereka pun fokus dengan pekerjaan masing masing walau posisi mereka sangat dekat dan hanya terhalang dengan meja reyhan saja
skip jam makan siang
"shinta, ayo makan si-" ucap reyhan terhenti saat kepalanya menoleh melihat shinta
_________________
maaf kalau ceritanya gaje, ini novel pertama author🙌
Tinggalkan jejak ya!❤ jangan lupa like+komen sayang💕
__ADS_1
terima kasih buat yang udah baca🙏✨