Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
156. Apa ini kamu mas?


__ADS_3

Setelah Sela menyerahkan laporan obat obatan mereka, tak lama kemudian Shinta di panggil ke atas yang sudah pasti untuk di mintai keterangan tentang surat pengunduran diri milik nya


"Kamu di panggil ke atas, katanya hanya untuk konfirmasi dan beberapa alasan resign aja" Ucap Sela saat dia kembali ke ruangan nya


"Iya, makasih" Ucap Shinta berdiri, namun tangan nya justru di tarik oleh Jannah


"Lo beneran mau resign? mau ninggalin gue di sini gitu?" Tanya nya sendu


Bukan nya terharu namun Shinta justru langsung menggelengkan kepala nya "Lebay... kita tetangga hanya beda beberapa pintu, siapa yang mau ninggalin lo?"


"Ya tapi kan beb, gak ada yang bisa nemenin gue ghibah pas jam kerja, huaa... " Ucap Jannah di sertai tangis palsu nya


"Hust... sembarangan lo, mana ada gue pernah ghibah? istighfar Jan" Ucap Shinta heran


"Oh... berarti cewek rata rata ghibah ye?" Ucap Bagas melirik Monik yang ada di sebelah nya


"Gak semuanya Gas" Sahut Adit


"Tuh... dengerin, gak semua cewek hobi nya ghibah, emang elo" Cibir Monik ganti


"Emang gue kenapa?" Tanya Bagas tidak mengerti


"Yang di omongin cewek mulu" Cibir Monik menggelengkan kepala


"Wajar lah Mon karena gue jomblo, lagian ngelamar lo juga gak di terima terima" Ucap Bagas membela diri


"Ngelamar itu datang ke rumah, temu in orang tua gue, dasar gak peka!" Kesal Monik


"CIEE...." Sorak semua orang yang ada di ruangan termasuk Shinta karena rekan mereka baru saja memberi lampu hijau pada laki laki yang berniat serius


"Bukan nya gue gak peka Mon, cuman mau masti in dan minta persetujuan dari lo, kalau udah dapet lampu hijau kayak gini kan besok gue bisa ke rumah lo sama orang tua gue" Ucap Bagas dengan senyum nya karena sang wanita pujaan hati memberi jalan pada nya


"Tuh... mau di lamar Mon, siap siap aja" Timpal Sela terkekeh


"Yaudah aku ke atas dulu, kalian pulang aja kan sekarang udah di luar jam kerja" Ucap Shinta melirik arloji nya yang menunjukkan jam 4 sore


"Nugguin kamu aja deh" Ucap Sela yang di setujui semua rekan mereka


"Hmm? kenapa nungguin aku?" Tanya Shinta mengernyitkan dahi nya


"Kalau pengajuan resign nya hari ini, itu artinya sekarang hari terakhir kamu kerja" Ucap Sela mengingat besok adalah hari minggu dan mereka libur


"Mau perpisahan atau gimana nih?" Tanya Shinta


"Boleh tuh" Ucap Adit, sebatas rekan saja tidak lebih, ia masih normal dan tidak mau jadi pebinor dalam rumah tangga orang lain


"Kayak nya jangan sekarang, waktu nya kurang tepat" Ucap Jannah


"Kurang tepat gimana maksudnya?" Tanya Sela


"Di tunda dulu, sekalian nanti perayaan di terima nya lamaran si Bagas" Ucap Jannah memberi ide


"Nah... bagus tuh" Ucap Shinta setuju


"Yang nraktir Bagas sama Shinta" Ucap Adit


"Setuju, entar bayar nya patungan ya Shin" Ucap Bagas membuat kesepakatan yang di acungi jempol oleh Shinta


"Lamaran nya aja belum tentu gue terima" Ucap Monik dengan lirikan sinis nya


"Mon!" Pekik Bagas agar perempuan di sebelah nya itu tidak menggoda nya lagi


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Jika semua rekan pulang dari rumah sakit, maka berbeda pula dengan Shinta yang saat ini sedang menuju ruangan direktur utama


Ruangan yang dulu di tempati suami nya, kini sudah di ganti orang lain, tentu nya orang yang di percaya oleh Reyhan dan papa Raka untuk mengurus segala sesuatu tentang rumah sakit


"Masuk" Terdengar suara dari dalam yang sudah jelas bahwa itu pimpinan mereka yang baru beberapa bulan menjabat


"Permisi pak... " Ucap Shinta masuk ke ruangan yang sudah lama tidak ia lihat dan seperti kebiasaan nya dulu yang selalu masuk tanpa menutup pintu


"Kamu Shinta? tenaga kesehatan yang baru menyampaikan surat pengunduran diri?" Tanya pak direk rumah sakit tanpa mempersilahkan lawan bicara nya untuk duduk


"Iya pak" Jawab Shinta menganggukkan kepala


"Kenapa? selama ini kinerja kamu bagus, meskipun kamu sempat terlibat skandal obat yang ternyata itu hanya jebakan" Ucap nya membaca seluruh kejadian di rumah sakit ini


"Karena alasan pribadi yang membuat saya resign dan alasan itu berasal dari diri saya sendiri pak" Jawab Shinta sopan

__ADS_1


"Tolong jelaskan alasan kamu" Ucap nya


"Sesuai kontrak kerja bahwa saya menanda tangani surat selama enam bulan kerja, dan masa itu akan berakhir besok pak" Jawab Shinta


"Padahal saya berniat menawari kamu untuk memperpanjang masa kontrak" Ucap nya


"Walaupun bapak menawari, tapi maaf saya akan menolak tawaran itu pak" Ucap Shinta


"Jelaskan alasan nya" Ucap nya


"Saya yang dulu masih single dan sekarang sudah bersuami memiliki pemikiran yang berbeda, saya hanya ingin menjadi wanita biasa yang bisa mengabdi pada suami saya" Jawab Shinta


"Kamu yakin? dan nanti jadi wanita yang bergantung pada suami?" Tanya nya


"Di dalam kehidupan ini, tidak ada seorang istri yang bergantung pada suami nya, karena memang kewajiban seorang laki laki adalah menafkahi keluarga nya pak" Jawab Shinta


Ia hanya tidak suka kalau wanita bersuami yang tidak bekerja itu di katai bergantung pada suami, padahal kewajiban suami memang menafkahi keluarga dan akan di pertanggung jawab kan saat di akhirat nanti


"Ya saya setuju dengan kata itu karena saya sendiri juga melarang istri bekerja, tapi apa kamu tidak ingin meninggikan karir kamu? atau kamu bisa jadi pemateri saat seminar farmasi nanti" Ucap nya


Ini yang membuat Shinta berpikir keras, profesi nya sebagai seorang apoteker memang tidak mudah, apalagi meraih gelar sarjana dan gelar profesi nya


Yang mana butuh waktu 4 tahun untuk sarjana farmasi, lalu melanjutkan pendidikan kurang lebih 1 tahun untuk mengambil dan mendapatkan profesi apoteker, total waktu yang dia tempuh 5 tahun dan itu semua belajar bersamaan dengan kuliah managemen bisnis nya, jadi ia memegang dua gelar yaitu S. Farm, Apt ( sarjana farmasi apoteker) dan S.M.B ( sarjana managemen bisnis)


Tapi balik lagi, itu memang perjuangan nya saat masih single dulu dan sekarang dia sudah bersuami, impian nya yang ingin menjadi wanita biasa pun sudah ada di depan mata, hanya tinggal melangkah kan kaki nya saja


Pemikiran nya sekarang pun menjadi fokus pada keluarga kecil mereka yang akan memiliki anggota baru, dia harus bisa menjaga nya dengan baik di kemudian hari


Apalagi urusan cafe yang belakangan ini sedikit terbengkalai karena aktivitas nya, ia juga harus mengurus usaha yang dia bangun sendiri dari nol persen saat masih belum memiliki apa apa


"Tidak pak" Jawab Shinta yakin, keputusan nya benar benar sudah bulat


"Kamu tidak ingin menjadi pemateri? atau membantu orang sakit yang membutuhkan sebuah obat?" Tanya nya lagi


"Kalau di undang sebagai pemateri maka saya tidak akan menolak pak, asalkan kewajiban saya sebagai seorang istri tidak terabaikan" Ucap Shinta yakin karena menjadi pemateri seminar hanya sekali dalam beberapa bulan, tapi kalau bekerja? itu setiap hari sudah dia lakukan


Soal membantu orang sakit? dia sedang ada proyek dengan Bian untuk membuka apotek gratis khusus orang orang yang tidak mampu mengeluarkan biaya obat mereka, pengalaman pribadi dia yang pernah sakit tapi tidak bisa membeli obat, hal itu memberi dorongan tersendiri bagi Shinta agar ia bisa membantu orang lain


"Perjalanan lima tahun yang kamu tempuh tidak akan sia sia?" Tanya nya lagi


"Saya yakin tidak pak, tanggung jawab saya sudah berpindah di tangan suami, maka dari itu saya juga akan menghormati keputusan dia yang berusaha melindungi saya" Jawab Shinta, ia akan patuh pada suami apapun itu asal semua demi kebaikan mereka sendiri


"Maaf, bapak tau?" Tanya Shinta terkejut


"Iya, saya datang waktu pernikahan kalian, dan mungkin kamu sudah lupa" Jawab nya


"Ah... iya pak, maaf" Ucap Shinta


"Tidak apa apa, oh ya... nanti kalau ada seminar ke farmasi an, apa kamu mau menjadi tamu pemetari di sana?" Tanya nya


"Insyaalloh mau pak, sudah saya jelaskan tadi" Jawab Shinta


"Baik, kalau begitu hari ini hari terakhir kamu bekerja, saya apresiasi dengan kinerja kamu selama ini" Ucap nya menanda tangani persetujuan surat resign dari Shinta


"Terima kasih pak"


"Berhenti bekerja bukan berarti berhenti berkarir, tetap semangat dan salam kan dari saya untuk pak Rey"


Selesai dengan urusan nya, Shinta langsung turun ke bawah berniat keluar dari rumah sakit, ia sudah melihat lihat ruangan yang selalu ia kunjungi saat bekerja, juga menyapa nenek yang dulu ia dan Reyhan selamat kan saat syal nya terlilit di kursi roda


"Selamat sore nek" Sapa Shinta yang berada di rooftop laintai lima


"Sore juga neng apoteker" Sapa nenek itu balik


"Nenek kontrol lagi ya?" Tanya Shinta duduk setengah jongkok untuk menyamakan tinggi mereka


"Iya neng, sekalian ke rooftop" Jawab nenek itu tersenyum, meskipun sedang sakit tapi ada keinginan untuk sembuh bagi nya


"Oh... saya mau pamit dulu nek, hari ini hari terakhir saya kerja" Ucap Shinta mengingat diri nya yang lumayan sering menyapa pasien nenek itu ketika dia kontrol


"Loh... kenapa neng? kok keluar?" Tanya nenek itu


"Kontrak kerja saya sudah habis, dan saya juga ingin fokus pada keluarga saya" Jawab Shinta


"Emang itu udah jadi pemikiran tersendiri bagi wanita yang sudah menikah ya neng, saya do'a kan aja nanti rezeki nya lancar di manapun meng berada" Ucap nenek itu dapat mengerti, maklum kan dia juga wanita


"Amin... nenek juga semoga cepat sembuh dan tetap semangat!" Ucap Shinta tersenyum lebar dan mengepalkan tangan nya sebagai dukungan, yang dia tahu memang nenek itu sedang menjalani kemoterapi untuk menyembuhkan penyakit nya


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

__ADS_1


Keesokan hari nya, Reyhan telah bersiap dengan barang barang yang sudah ia kemasi ke dalam koper, rencana nya memang pagi ini dia akan pulang jika tidak ada kendala


"Semua sudah siap pak" Ucap Evan tiba tiba muncul di balik pintu yang membuat sang bos terkejut tentu nya


"Van... ketuk pintu dulu bisa gak? atau mau saya potong sekalian tangan kamu?" Geram Reyhan


"Potong tangan Evan, masak di kuali, eh... ya enggak atuh pak, tadi pintu nya gak di kunci, jadi saya masuk aja ke kamar bapak" Ucap Ecan nyengir


"Tadi malam saya kunci pintu nya" Ucap Reyhan yakin


"Tapi tadi saat ketuk langsung kebuka loh pak pintu nya, kemarin malam lupa gak di kunci mungkin pak" Ucap Evan santai


"Saya udah kunci pintu nya Van, serius" Ucap Reyhan kekeh, dia benar benar mengunci pintu office tell nya tadi malam


"Mungkin belum ke lock bapak udah lepas kunci duluan, lebih baik sekarang siap siap pak... Teo sudah nunggu di bawah" Ucap Evan


Reyhan menurut karena memang benar bahwa mereka harus segera berangkat pulang, tapi entahlah masih ada rasa mengganjal tentang perkataan Evan yang berbicara kalau kamar nya tidak terkunci semalaman


"Semua sudah siap kan pak? tidak ada yang ketinggalan? kalau begitu mari kita ke bawah" Ucap Evan membawa koper bos nya keluar dari kamar office tell


Mereka turun di parkiran office tell yang mana sudah ada Teo berdiri manis di samping mobil


"Pagi pak... semoga perjalanan pulang kita hari ini di lancarkan, tanpa ada kendala" Ucap nya sambil membuka pintu belakang


"Amin, dan saya masih bisa buka pintu sendiri" Ucap Reyhan sangat tidak suka tentang hal itu


"Baik pak" Teo menurut saja dan mulai membantu Evan untuk memasukkan koper di bagasi lalu menyetir dan memulai perjalanan mereka


"Pak... sebelum pulang kita harus meninjau lokasi lagi untuk terakhir kali, nanti saat sudah sampai di Bandung ada acara peresmian yang harus bapak hadiri" Ucap Evan yang membuat bos nya terkejut


"Kamu gila Van?" Kesal Reyhan


"Saya masih waras bapak Reyhan bin Raka Wijaya, saya lupa ngasih tau jadwal bapak yang lengkap" Ucap Evan sedikit takut karena ini memang kesalahan nya


"Kalau saya harus menghadiri peresmian itu, yang ada makin lama istri saya nunggu Van" Ucap Reyhan menarik rambut nya sendiri


"Hanya satu jam kok pak, atau mungkin bapak bisa ajak bu bos nginap di hotel itu sekalian? biar saya pesan kamar nya" Ucap Evan yang membuat Reyhan terdiam, ide itu lumayan bagus sih menurut nya


"Gimana? lumayan loh pak itung itung bulan madu, kan bapak gak sempat kemarin karena banyak kerjaan, dokumen sialan emang ya pak?" Ucap Evan di sertai senyum ejekan nya


"Pfft..." Teo hanya menahan tawa mendengar dan melihat betapa berani nya asisten Evan pada bos mereka yang sudah seperti harimau


"Kamu mau mati?" Tanya Reyhan melirik tajam ke arah asisten lawak nya itu


"Nanti aja lah pak mati nya, nunggu pahala saya terkumpul sampai luber luber kebanyakan" Jawab Evan pede


"Jangan kebanyakan drama, pesan aja kamar atas nama saya dan untuk kelas apa kamu pasti sudah tahu" Ucap Reyhan menyandarkan kepala nya


"Tau lah pak... melayani bapak beberapa bulan aja saya sudah tahu kebiasaan orang orang seperti bapak" Ucap Evan membuka tablet yang ia pegang untuk memesan kamar


Beberapa menit perjalanan mereka sudah sampai di lokasi pembangunan, terlihat seperti bisa dengan para kuli dan pengangkat beban yang biasa bekerja, setelah berbincang membahas pembangunan, Reyhan memutuskan untuk berjalan menuju pantai karena lokasi itu memang dekat dengan pantai


Ya... dia juga ingin sih memotret beberapa pemandangan air karena istri nya sangat menyukai benda cair berwarna bening itu, dan... saat kaki nya berhenti di pasir putih


"Astagfirullah bapak" Ucap Evan spontan menutup kedua mata bos nya dari belakang dengan telapak tangan karena pantai yang mereka lihat sekarang ramai pengunjung, di antara nya banyak wanita memakai bikini di sana


"Ayo putar balik Van" Ucap Reyhan karena dia juga ogah melihat orang berpakaian minim, jijik rasanya dan berbeda sekali jika melihat pasangan halal sendiri


"Bentar pak bentar" Ucap Evan tersenyum, ya... namanya juga laki laki, khilaf bentar gak papa mungkin


"Saya tinggal di sini kamu" Ucap Reyhan melepas tangan sang asisten di mata nya, lalu balik badan dan melangkahkan kaki nya untuk pergi dari area pantai


"Loh... katanya mau foto pantai, gak jadi pak?" Goda Evan mengikuti dari belakang


"Gak!" Ketus Reyhan, jika dia memotret pemandangan pantai tadi, maka sudah jelas istri nya pasti akan marah besar karena Reyhan melihat ada orang bukan mukhrim nya berpakaian minim di sana


"Cie... takut di marahin ibuk" Goda Evan terus menerus sampai mereka di dalam mobil dan kembali meneruskan perjalanan


Para laki laki menikmati perjalanan, namun di sisi lain Shinta pun sedang menyiapkan kejutan untuk suami nya, ia mengambil satu kotak biru dan mengisi nya dengan tespack, surat hasil pemeriksaan kehamilan, dan secarik kertas kata kata penjelasan


"Nah... selesai, semoga kamu bahagia dengan kejutan kali ini" Ucap Shinta tersenyum lebar, sudah jelas jika ia sedang bahagia sekarang mengingat suami nya akan pulang dan mereka yang akan di anugerahi bayi mungil nanti


Ting! ponsel Shinta membunyijan notifikasi, dengan semangat 45 dia melihat layar itu, siapa tahu suami nya mengabari sesuatu


Namun belum juga satu menit, senyum bahagia yang mengembang itu seketika berakhir karena melihat hal apa yang sekarang ada di dalam ponsel nya


"Apa ini kamu mas?" Gumam nya menahan agar tidak menangis dan terbawa perasaan terlebih dahulu


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2