
"apa keputusan lo gak terlalu berlebihan?"
"allohu akbar.. " ucap shinta kaget saat jannah tiba tiba sudah ada di belakang nya, dan menanyakan hal tadi
"lo ngagetin aja jan.. sejak kapan lo masuk kamar gue?" tanya shinta heran karena dia tidak mendengar suara knop pintu kamar nya terbuka sama sekali
"barusan" jawab jannah terkekeh, shinta memang tidak pernah mengunci kamar nya kecuali saat ia berangkat kerja, bukan karena tidak mempercayai bi asti, tapi baginya kamar adalah hal privasi dan kebersihan kamar nya juga tanggung jawab diri nya sendiri
"trus yang berlebihan maksud lo apa?" tanya shinta
"katanya lo mau bantu biaya sekolah adik nya si mak lampir itu jadi?" tanya jannah
huft..
*untung dia gak tau kalau gue tadi chat an sama bian* batin shinta lega
"jawab he..malah bengong" ucap jannah menyenggol lengan sahabat nya itu
"gak jadi" jawab shinta menggelengkan kepala
"kenapa?" tanya jannah heran karena setaunya kalau shinta itu sulit mengubah keputusan yang sudah dia ambil
"lo bayangin aja deh.. apa mau ibu nya nerima bantuan dari gue? mereka pasti bakal nolak karena gue juga orang asing kan?" ucap shinta yang memang ada benar nya
"dan..kalau sampai dara tau, dia pasti bakal ngelarang gue buat bantuin ibu sama adik nya" sambung shinta mengingat betapa benci nya dara pada diri nya
"iya juga, trus rencana lo?" tanya jannah
"gue rekomendasi in ibu nya pekerjaan aja, karena gue rasa seseorang akan lebih suka jika diberi kesempatan bekerja untuk mengais rezeki dari pada menerima bantuan dari seseorang tanpa mengeluarkan keringat kan?" jawab shinta dengan senyum tersungging di bibur nya
"gue dukung lo, ya..meskipun awal nya gue gak setuju, tapi setelah gue pikir pikir emang kasian kalau ibu sama adik nya ikut terlantar hanya karena kesalahan si mak lampir" ucap jannah
"gue udah pernah ngerasain gimana rasa nya gak ada yang bantuin gue sama sekali, maka dari itu gue gak mau jadi orang egois yang memikirkan perasaan sendiri, hanya karena dara yang salah, gue gak mau keluarga nya juga jadi korban karena keluarga nya gak ada salah apa apa sama gue jan" ucap shinta mengingat masa lalu nya dulu dengan tatapan sendu nya
"aduh.. jangan ingat ingat masa lalu shin, sedih gue denger cerita lo tau gak" ucap jannah menepuk punggung shinta, dia memang tau semua masa lalu sahabat nya itu
"hmm, bunda kayak nya mau kesini deh" ucap shinta mengalihkan pembicaraan
"tau darimana lo?" tanya jannah heran
"tadi nanya, katanya kapan gue libur, kapan gue punya waktu kosong, gitu.. " jawab shinta
"ya wajar shin, kita udah lumayan lama disini kan?" ucap jannah yang dibalas anggukan oleh shinta
"iya, seneng tapi juga pusing" ucap shinta
"gue tau, tapi jangan dipikirin lebih dalam lagi, sekarang buruan tidur, besok selesai pemecatan dara, kita siap siap buat ngasih pelajaran sama duo sableng itu" ucap jannah dengan senyum penuh arti
"apa aja ya hukuman nya?" tanya shinta dengan memegang dagu nya sendiri
"besok kita pikirin, sekarang buruan tidur" ucap jannah mendorong tubuh shinta dari balkon untuk masuk ke kamar nya
"good night" ucap jannah sebelum keluar dari kamar shinta
"too" jawab shinta seraya memakai selimut di tubuh nya, juga menaikkan selimut sisil yang sudah terlepas begitu saja dari tubuh nya karena bocah itu tidak bisa diam sama sekali meski dalam keadaan tidur
__ADS_1
pagi pun datang, setelah melaksakan kegiatan di pagi hari, mereka langsung berangkat ke rumah sakit karena mengingat banyak pekerjaan yang akan menanti setiap hari
"shin, nanti kamu di panggil ke atas" ucap sela yang mendatangi shinta di meja nya
"gak bisa apa ya kalau aku gak ikut?" tanya shinta dengan nada memohon nya
"gak bisa, ini kasus ada hubungan nya sama kamu.. jadi kamu juga harus hadir" jawab sela memberikan pengertian
"emang kasus apa?" tanya adit yang mendengar obrolan mereka
"emang ada kasus?" tanya bagas yang ikut ikutan
"gak ada, kenapa pada nyaut semua ya?" jawab sela terkekeh
"kuping nya tajam" timpal monik terkekeh
"heh monikah...dari pada budek kan gak lucu, masa ganteng ganteng gini budek" ucap bagas dengan pd nya
"heh bagasi..kalau lo yang budek juga gue gak peduli" cibir monik
"udah udah, ini malah berantem" ucap jannah melerai monik juga bagas yang memang seperti tom and jerry setiap hari
"dia duluan" ucap keduanya kompak dengan menunjuk lawan masing masing
"dahlah terserah kalian deh" ucap jannah yang mulai pusing sendiri, sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan bagas juga monik itu
"jangan lupa ke atas ya.. " ucap sela mengingatkan, kemudian kembali ke meja kerja nya sendiri
"iya deh, nanti" ucap shinta malas dengan menghela nafas pelan
"gue takut kebawa emosi, ntar keluar kata kata kasar dari mulut gue, apalagi kalau gue gak sengaja do'a in dia yang jelek jelek, trus ada malaikat lewat dan do'a jelek gue tadi di ijabah gimana? dosa dong gue nanti" jawab shinta panjang kali lebar
"ya banyakin istighfar deh, ngadepin setan emang susah" ucap jannah terkekeh sambil melirik dara di meja kerja nya yang masih sibuk sendiri, dia memang lebih banyak diam semenjak dekat dengan wakil direktur keuangan
"gue serius kali" ucap shinta
"ya gue juga serius, makanya banyakin istighfar" ucap jannah
"hmm" hanya deheman malas yang keluar dari mulut shinta
setelah jarum jam menunjukkan angka sembilan, sela melirik ke arah shinta pertanda 'sekarang kamu ke atas', dan shinta yang faham hanya mengangguk
"aku keluar sebentar" pamit shinta kemdian keluar dari ruangan farmasi
setelah jarak 10 menit, sela ganti memanggil dara, sela memang memanggil mereka dengan jeda waktu karena itu perintah dari reyhan
"dara.. kamu di panggil ke atas" ucap sela
"aku? ngapain?" tanya dara heran sambil menunjuk dirinya sendiri
"iya" jawab sela datar lalu kembali ke tempat duduk nya
*gak sabar liat muka si mak lampir waktu dapet balasan dari perbuatan nya sendiri* batin jannah yang memang dari awal sudah menahan untuk tidak mengomeli dara
sedangkan di tempat shinta berada, dia sudah duduk manis di sofa yang ada di ruangan reyhan
__ADS_1
"rileks aja.. dari tadi muka nya udah kayak mau dihukum gantung" ucap reyhan bercanda saat melihat raut muka shinta yang sedikit tegang
"tumben lo bisa bercanda?" goda rendra yang juga ada di ruangan itu
"saya bukan tegang pak, tapi takut kepancing emosi trus cakar cakaran? huh.. saya gak bisa ngebayangin hal itu" ucap shinta menggelengkan kepala nua
"mau cakar ya tinggal cakar aja kok susah" ucap reyhan enteng, namun sebenernya dia hanya bercanda, tidak mungkin dia membiarkan shinta bertengkar dengan dara nanti nya
"iya shin, tinggal cakar udah" timpal rendra
"saya gak pernah manjangin kuku pak, jadi gak bisa" ucap shinta dengan mengangkat kedua tangan nya memperlihatkan jari jari yang terlihat rapi tanpa kuku panjang
"jambak aja" ucap rendra terkekeh
"jangan pernah pakai tangan kamu yang bersih hanya untuk bertengkar dengan sampah seperti dia" ucap reyhan tegas, dan shinta juga tau itu.. untuk apa bertengkar? toh tidak akan ada guna nya juga
"iya pak, gak ada faedah nya juga saya bertengkar" ucap shinta
*ya alloh.. tolong lindungi lisan ku nanti agar tidak mengatakan atau mendoakan hal hal buruk meskipun orang itu telah menyakitiku, aku akan berusaha untuk memaafkan kesalahan nya* batin shinta berdo'a dalam hati nya
tok tok tok!
(bunyi pintu diketuk)
"itu mereka rey" ucap rendra yang sudah dapat menebak nya
"masuk" ucap reyhan yang seperti biasa, dengan nada dingin bin datar seperti jalan aspal
ceklek
pintu terbuka dan muncul lah dara juta wakil direktur keuangan yang entah kenapa bisa sampai di ruangan reyhan dengan waktu yang bersamaan
"maaf pak, ada apa bapak manggil saya?" tanya dara tapi reyhan belum menjawab, dia justru menatap wakil direktur keuangan
"maaf pak, ada apa ya bapak manggil saya?" tanya wakil direktur keuangan itu
dan tanpa basa basi "kalian di pecat, silahkan ambil surat PHK masing masing dan segera keluar dari rumah sakit ini" ucap reyhan tegas menekankan kata 'pecat' kemudian melirik rendra yang berdiri di sebelah nya dengan memegang dua surat pemberhentian kerja
"what?" pekik dara kaget dengan bola mata yang membesar
"tunggu pak, maksudnya gimana ya?" tanya wakil direktur keuangan yang bernama bena dengan nada kaget nya
"iya pak, ini maksudnya apa? bapak gak lagi bercanda kan?" tanya dara menggebu, kemudian dia melirik shinta yang masih duduk di sofa
"saya tidak pernah bercanda!" tegas reyhan dengan nada garang nya
"apa karena dia pak?" tuduh dara emosi dan menunjuk shinta dengan tangan nya
*istighfar shin.. * batin shinta kaget sambil mengelus lengan nya sendiri
reyhan yang melihat itu tentu saja emosi nya langsung terpancing, dari tadi dia sudah menahan untuk tidak berkata kasar atau memukul, tapi sekarang? justru lawan main nya yang mencari mati dengan nya
bersambung
maaf nih kalau feel nya kurang, ntah kenapa hari ini bawaannya author sedih mulu sampai mewek😓
__ADS_1