Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
152. Tiga minggu


__ADS_3

Shinta tidak ingin berlama lama, ia ingat kalau sekarang masih jam kerja dan harus meneruskan pekerjaan nya


*Kejutan untuk kamu waktu pulang nanti* Batin nya menyimpan tespack yang sudah di lapisi dengan tisu itu ke dalam saku jas kiri nya agar tidak tercampur dengan barang milik Sela di saku kanan


Ceklek


Shinta kembali ke ruangan dan melihat rekan kerja nya sedang sibuk dengan kertas di tangan masing masing


"Udah di kasih barang nya?" Tanya Sela yang terpecah arah fokus nya ketika rekan nya datang


"Udah, nih" Jawab Shinta mengeluarkan dan memberikan kotak dari dokter Dewi tadi


"Makasih banget ya" Ucap Sela


"Sama sama" Jawab Shinta tersenyum tipis lalu kembali duduk manis di kursi nya


"Tumben" Celetuk Jannah tiba tiba saat sahabat nya itu sudah duduk di samping nya


"Hah? apanya yang tumben?" Tanya Shinta bingung


"Tumben lama banget di kamar mandi, dapet apa gimana?" Tanya Jannah dengan sedikit berbisik


"Oh... gak papa, cuman tadi lagi mengangumi aja" Jawab Shinta, dia hanya ingin suami nya menjadi orang pertama yang mengetahui kehamilan nya


"Mengagumi siapa? gue aduin ke pak Rey lo ya!" Ancam Jannah memicingkan mata nya


"Hust... suudzon banget lo astagfirullah, orang gue lagi mengagumi diri sendiri, Alloh menciptakan hamba nya dalam bentuk sebaik mungkin, jadi gak boleh insecure dan wajib mengangumi diri sendiri" Jawab Shinta yang ketularan pede versi syariah dari suami nya


"Tumben banget lo ndalil pagi pagi gini?" Tanya Jannah


"Ya gak ndalil sih, kan emang bener gitu nyata nya" Jawab Shinta santai sambil mengedikkan bahu nya


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Jam makan siang, semua orang akan mengisi perut nya dan ada juga yang melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu sebelum makan


"Rooftop yuk!" Ajak Jannah kala mereka berdua baru saja keluar dari musholla rumah sakit


"Gass, tapi pesen makanan dulu" Ucap Shinta mengambil ponsel dan membuka layanan pesan makanan online di sana


"Oke, pesan aja jangan lama lama" Ucap Jannah menunggu apa yang di lakukan sahabat nya


"Ya Alloh... pengen martabak ih" Gumam Shinta dengan jari terus menggeser menu di ponsel nya


"Lo belum pernah di sleding ya?" Ucap Jannah ketika mendengar gumaman sahabat nya, mana ada martabak di jual siang bolong gini


"Udah sering dulu waktu latihan bela diri" Jawab Shinta tidak faham jika pertanyaan Jannah bukan menuju kesitu


"Emang ada martabak di jual siang siang sundel bolong gini?" Tanya Jannah


"Ya kan kali aja ada yang jual gitu loh, kan lumayan gue bisa makan martabak di siang bolong, bukan siang sundel bolong" Ucap Shinta membenarkan


"Gak ada yang jual martabak siang siang gini Shin... pesen yang lain aja deh, keburu waktu istirahat siang nya habis nih" Ucap Jannah melirik jam tangan yang ia kenakan


"Yaudah bubur ayam aja lah" Ucap Shinta memesan bubur ayam beserta cakue yang menurut nya cocok jika di makan bersama


"Panas gini mau makan bubur ayam?" Tanya Jannah heran karena biasanya sahabat nya itu hanya akan makan bubur ayam ketika pagi hari


"Iya lah, lo mau juga gak? ada siomay juga nih" Ucap Shinta menunjukkan menu di layar ponsel nya


"Siomay aja" Jawab Jannah


Keduanya lalu keluar menuju parkiran karena harus menunggu makanan di sana, kemudian baru lah naik ke taman rooftop untuk menikmati istirahat siang dan mengisi perut mereka


"Ehem.. hem.. " Shinta tanpa sadar bergumam sambil senyum senyum sendiri, dia hanya bersyukur saja karena di beri kepercayaan untuk menjadi seorang ibu, terbukti dari hasil tespack yang menunjukkan dua garis tadi


Plak... Jannah nenempelkan punggung tangan nya di kening Shinta


"Lo sakit?" Tanya Jannah heran


Plak.. Shinta menepis tangan Jannah yang masih nangkring di kening nya dan mengganggu aktivitas halu nya "Enak aja!, enggak lah" Sanggah nya mengelak


"Mesam mesem kayak orang kesambet" Ucap Jannah


"Mesam mesem tok penting gak gendeng gak opo lah" Ucap Shinta membalas dengan logat jawa nya


"Yeh... kandani lak ngeyel, jangan mesam mesem terus loh" Ucap Jannah mengingatkan


"Terserah gue wleekk!" Ucap Shinta menjulurkan lidah nya kemudian menikmati bubur ayam yang dia beli tadi


"Hadeh... kadung sutres iki" Ucap Jannah menggelengkan kepala lalu ikut melahap siomay tadi


Ponsel Shinta yang berada di atas meja tiba tiba berdering, ada panggilan video dari sana


"Mas Rey? emang udah sampai ya?" Gumam Shinta sebelum mengangkat panggilan itu


"Udah jawab aja, kangen tuh pak Rey" Goda Jannah menaik turunkan alis nya, Shinta menurut dan segera menerima panggilan itu agar suami nya tidak ngambek nanti


"Assalamualaikum, ada apa mas?" Tanya Shinta saat wajah nya sudah berhadapan dengan suami melalui layar ponsel


"Waalaikumsalam sayang, mau ngabarin aja kalau sekarang udah sampai di officetel" Jawab Reyhan di sana sembari menunjukkan ruangan nya


Note : officetel adalah gabungan hotel dan office (kantor), sehingga seseorang bisa tinggal di situ sekaligus membawa pekerjaan mereka

__ADS_1


"Oh ya? alhamdulillah kalau gitu, rencana mau meninjau bangunan itu kapan?" Tanya Shinta karena setahu nya sang suami kesana memang karena ada kendala pembangunan gedung


"Nanti setelah makan siang kita kesana, sekarang mau mandi dulu, badan rasanya lengket yang" Jawab Reyhan mencium bau badan nya sendiri


"Ohh... " Ucap Shinta hanya ber'oh'ria saja, pikiran nya masih travelling bagaimana ekspresi sang suami nanti jika tahu bahwa ia sekarang tengah berbadan dua


"Kamu ngapain senyum senyum gitu? kangen ya?" Tanya Reyhan menebak nebak berhadiah


"Hmm? ya senang aja lah... kan suami dinas, sampai dengan selamat" Jawab Shinta tersenyum


"Perasaan dari tadi mesam mesem udah kayak semar" Celetuk Jannah menggelengkan kepala nya


"Gak papa Jan, itu tanda nya gue bahagia" Ucap Shinta membela diri


"Bahagia karena aku pergi dinas gitu?" Tanya Reyhan di sana


"Ya Alloh... enggak lah mas, pokok nya bahagia aja hari ini aku bisa makan bubur ayam" Ucap Shinta melebarkan senyum nya


"Kelakuan istri ku, makan bubur ayam aja udah seneng banget ya?" Ucap Reyhan ikut tersenyum sendiri


"Di luar sana masih banyak orang yang gak bisa makan, jadi bersyukur kita bisa menikmati rezeki pemberian nya" Ucap Shinta membalas perkataan suami nya


"Ya... aku juga tahu sayang, kadar kebahagiaan orang benar benar berbeda" Ucap Reyhan karena istri nya itu pasti dan selalu tersenyum bahagia karena hal hal kecil


"Yaudah kamu mandi gih mas... bau nya nyampek sini" Ucap Shinta berpura pura dan menutup hidung nya dengan jari


"Bayi gede kamu ini gak ada yang mandiin" Ucap Reyhan


"Heol... mandiri dulu sampai kamu pulang nanti, oke?" Ucap Shinta membuat kesepakatan


"Oke, berarti nanti kamu wajib mandiin dari atas sampai bawah" Ucap Reyhan


"Iya... udah ah sana mandi, trus makan siang" Ucap Shinta ingin menyudahi karena jam istirahat juga akan habis berapa menit lagi


"Iya sayang, i love you" Ucap Reyhan memberikan kecupan online dari sana


"Love you too" Jawab Shinta yang memberikan kiss bye, masa dia memberi kecupan basah lewat video call? gak enak ih


Tit! panggilan di matikan dan berakhir dengan Jannah yang masih bergidik geli


"Apa sih?" Tanya Shinta heran


"Geli gue denger nya" Jawab Jannah mengusap telinga nya sendiri


"Lo kan udah nikah, pasti tahu gimana rasanya kan?" Ucap Shinta


"Ya belum pernah se lebay itu juga Shin" Ucap Jannah, mana mungkin dia selebay itu saat baru satu minggu menikah


"Tau ah, bye the way nanti lo bisa ke apartemen gue gak?" Tanya Shinta


"Nobar drakor yuk!" Ajak Shinta


"Nanti gue izin sama mas Ren dulu" Ucap Jannah sadar jika apapun yang ingin dia lakukan harus mempunyai izin dari suami


"Oke"


Saat di rasa jam istirahat siang berakhir, mereka membereskan sisa sisa bungkus makanan dan turun ke bawah untuk memulai lagi pekerjaan nya


"Kalian berdua ini ada aja ya kelakuan nya" Ucap Adit kala melihat siapa lagi kalau bukan Bagas dan Monik yang hobi sekali membuat keramaian di ruang kerja


"Udah cocok loh... lanjut di khitbah aja Gas" Timpal Jannah


Ya siapa juga yang tidak gemas melihat dua orang berbeda gender itu sama sama memakai masker wajah dan bando agar rambut mereka tidak basah


Shinta hanya tersenyum saja, dia cukup terhibur karena mempunyai rekan kerja yang selalu ada saja akal jahil nya


"Gak mau ya, Bagas kan mau nya nikah sama embek" Ucap Monik melirik laki laki yang ada di sebelah nya


"Mon... gue serius loh Mon, masa lo gak ada rasa sama sekali sama Bagas yang ganteng dan berwibawa ini?" Ucap Bagas pede dengan menegakkan badan nya


"Ada" Jawab Monik singkat yang membuat lawan nya itu langsung terlihat bersemangat empat lima


"Rasa apa?" Tanya Bagas tidak sabar


Sebelum Monik menjawab, Sela lebih dulu menyahuti obrolan unfaedah ini "Rasa pengen di lamar sama kamu"


"Di lamar siapa Sel? perasan gak punya cowok" Tanya Adit


"Iya, alias jomblo mblo" Ucap Bagas menekan kata kata nya


"Dih... kayak lo gak jomblo aja" Ucap Monik sambil menoyor pelan kepala laki laki itu


"Bentar lagi kan mau naik pelaminan sama lu" Ucap Bagas mengedipkan satu mata nya


"CIEEEE...." Sorak semua orang yang ada di ruangan termasuk Shinta


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Selesai bekerja, Shinta masih ingat jika dia harus memeriksa kebenaran tentang kehamilan nya


*Dokter Dewi itu jam praktek nya hanya sampai sore kan?* Batin Shinta mengingat ingat


"Shin... gak pulang?" Tanya Jannah saat di ruangan hanya tinggal mereka berdua karena semua sudah pulang ke rumah masing masing dan Sela masih di ruangan atasan untuk menyerahkan berkas obat hari ini

__ADS_1


"Ya pulang, tapi nunggu ajudan soal nya kita mau pergi ke tempat lain dulu" Jawab Shinta


"Yaudah, gue duluan ya... udah di jemput sama bayi gede di parkiran" Ucap Jannah berdiri dan melambaikan tangan nya


"Hmmm... babay" Ucap Shinta membalas lambaian tangan itu lalu membuka ponsel nya


Ajudanโค


๐Ÿ“ฉ : Kak... aku udah di parkiran nih, katanya suruh jemput


๐Ÿ“ฉ : "Kakak ada urusan kecil sebentar, kamu bisa tunggu di parkiran? kalau gak bisa biar kakak pulang naik taksi aja" Balas Shinta


๐Ÿ“ฉ : Bisa aja kak, tapi jangan lama lama


๐Ÿ“ฉ : "Iya... gak akan lama kok" Balas Shinta kemudian langsung meletakkan ponsel di saku jas nya


Tak ingin berlama lama, dia keluar ruangan dan naik ke lantai tiga, dimana ruangan dokter Dewi berada


tok tok tok


"Masuk" Suara sahutan dari dalam yang sudah jelas bahwa itu pemilik ruangan


"Permisi dok" Ucap Shinta masuk dan menundukkan kepala


"Oh... kamu, gimana hasil nya?" Tanya dokter Dewi to the point, dia sudah tahu siapa Shinta dan siapa suami nya yang tak lain adalah pemilik rumah sakit ini


Perlahan tangan itu menjulur, mengambil tespack yang ia simpan dan menunjukkan hal itu pada dokter yang sudah dalam ahli nya


"Alhamdulillah... positif" Ucap Dokter Dewi ikut senang, dokter berusia kepala empat itu selalu ramah kepada siapapun


"Tapi bukan nya perlu di pastikan lagi ya dok?" Tanya Shinta, setahu nya hasil tespack bisa saja salah


"Memang perlu, mari ke ruang periksa saja supaya semua nya bisa terlihat dengan jelas" Ajak dokter Dewi dan yang di ajak pun hanya menurut saja dengan jantung berdegup kencang


Shinta perlahan merebahkan tubuh nya di atas ranjang pemeriksaan, harap harap cemas semoga saja hal ini memang benar ada nya


"Maaf ya, kita lihat lewat USG" Ucap dokter Dewi saat menyingkap sedikit baju di bagian perut Shinta dan mengoleskan gel dingin di sana


"Tidak apa apa dok"


Dokter mulai menggerakkan alat yang dia gunakan itu ke kanan dan ke kiri, mencari letak janin yang belum ia temukan saat ini


"Nah... ini, tolong lihat layar monitor ya" Ucap Dokter Dewi saat menemukan apa yang ia cari, Shinta menurut dan menoleh ke arah layar monitor yang menunjukkan gambar rahim di sana dan satu titik kecil yang bentuk nya seperti apa ia pun tidak tahu


"Dari yang saya lihat usia janin masih tiga minggu, dan ukuran pun hanya sebesar kepala jarum pentul. Bahkan meski posisi janin tiga minggu sudah menempel sempurna pada rahim, di masa ini bentuk janin usia tiga minggu masih berupa embrio yang terus membelah dan memperbanyak sel" Penjelasan yang dokter ucapkan


Tentu saja air mata tidak bisa Shinta bendung lagi, ternyata begini rasa nya sang bunda dulu ketika mengandung diri nya, ternyata seperti ini rasanya ketika ada calon malaikat kecil di dalam rahim kita, semua itu benar benar menyentuh hati nya


"Alhamdulillah... ya Alloh, alhamdulillah" Gumaman syukur dan nama sang pencipta selalu keluar dari bibir itu


"Kondisi nya masih terbilang sehat, tapi calon ibu juga harus berhati hati ya!"


"Untuk detak jantung janin pertama-tama dapat dideteksi dengan USG pada usia 5 1/2 hingga 6 minggu setelah kehamilan. Saat itulah, tanda pertama dari embrio yang sedang berkembang terkadang dapat terlihat. Di usia kehamilan sekitar 7 minggu, detak jantung dapat terdengar lebih baik" Ucap dokter Dewi menjelaskan bahwa sekarang masih belum bisa mendengar detak jantung janin nya


"Normal di usia berapa tadi dok?" Tanya Shinta mulai mengeluarkan suara nya


"Umum nya saat janin usia lima sampai enam minggu nyonya" Jawab Dokter Dewi tersenyum dan ikut memandang layar monitor


"Semoga kamu sehat selalu sayang, kita buat kejutan untuk papa kamu nanti ya!" Gumam Shinta dengan mata basah dan tersenyum, dia ingat Reyhan pernah bicara kalau dia ingin sekali di panggil papa jika sudah memiliki anak nanti


"Sudah cukup? atau masih ingin menandangi beberapa menit lagi?" Tanya dokter Dewi


"Ah... tidak dok" Jawab Shinta menolak karena ia tahu bahwa jam praktek dokter Dewi sudah habis dari tadi


Dokter Dewi membersihkan sisa gel tadi, lalu membawa Shinta agar duduk di meja kerja nya


"Kondisi nya memang sehat, tapi itu wajib di jaga dan jangan melakukan pekerjaan berat, apalagi mengangkat meja dan sebagai nya" Ucap dokter Dewi


"Baik dok, oh iya... kenapa saya tidak mengalami muntah atau Morning sickness ya? bukan nya itu gelaja kehamilan termester awal?" Tanya Shinta


"Tanda ibu hamil memang berbeda beda, ada yang hanya muntah ataupun ***** makan nya meningkat, tidak semua orang mengalami hal itu" Jawab dokter Dewi menjelaskan lalu' memberikan foto USG dan resep vitamin kehamilan yang harus Shinta minum


"Sekali lagi selamat ya... semoga keadaan calon bayi nya sehat sampai persalinan nanti, jangan lupa konsultasi rutin setiap bulan juga" Ucap dokter Dewi


"Amin.... terimakasih dok, em... saya ada satu permintaan" Ucap Shinta tetap mengutarakan meskipun agak ragu


"Silahkan"


"Tolong sembunyikan dari siapapun kalau saya hamil, saya hanya ingin memberi kejutan pada suami nanti" Ucap Shinta


"Ah... baik buk, informasi pasien sangat pribadi dan tentu nya tidak boleh bocor sama sekali" Ucap dokter Dewi menyanggupi karena dia juga tidak suka bergosip ria dengan yang lain


"Sekali lagi terimakasih dok, kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Shinta berdiri dari duduk nya


"Mari juga nyonya Reyhan, semoga bayi kalian sehat selalu" Ucap dokter Dewi ramah


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Shinta keluar dari rumah sakit dengan keadaan hati yang senang tentu nya, berasa terbang di awan awan


"Kak" Ucap ajudan melambaikan tangan nya, dia sudah menunggu berdiri di depan mobil


Shinta menghampiri, lalu padangan mata nya seketika beralih pada tangan adik nya "Kamu jadian sama Sela?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2