Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
36.Janji


__ADS_3

"dia nyakitin lo?" tanya shinta


"gue bakal hajar dia" ucap laila heboh sambil berdiri di atas sofa


"sama, yuk hajar" ajak shinta


"kalian dengerin gue dulu napa" ucap jannah kesal melihat tingkah absurd kedua sahabat nya itu


"ya lo gak cerita cerita sih" ucap laila kembali duduk


"maka nya ini gue mau cerita" ucap jannah


"buruan" ucap shinta gak sabar


"iya, jadi nih ya tadi tuh dia nanya sama gue, apa dia bisa ngisi hati gue" ucap jannah


"trus?" ucap laila


"awal nya gue masih bingung, trus akhirnya gue jawab aja" ucap jannah


"jawab apa?" tanya shinta


"gue jawab kalau gue gak berani pacaran dan gue juga masih punya janji sama seseorang kalau gue gak akan pernah pacaran" jelas jannah


"janji sama siapa?" tanya laila


"tunggu tunggu, tadi lo bilang janji?" tanya shinta


"iya" jawab jannah


"jangan jangan maksud lo janji tadi itu yang pernah kita berdua buat?" tanya shinta kaget dan jannah mengangguk dengan muka polos nya


"astaga jannah" ucap shinta sambil menggelengkan kepala


"apaan sih shin? gue kepo" tanya laila


"jan, itu kan janji kita buat waktu masih SMP, sekarang udah gak berlaku lagi lah" ucap shinta


"jadi kalian berdua bikin janji buat gak pacaran?" tanya laila


"iya" jawab shinta dan jannah kompak


"kok gak ngajak gue sih?" tanya laila kesal


"mana bisa kita ngajak lo" ucap shinta


"kok gak bisa?" tanya laila


"lo dulu kalau ngeliat orang ganteng dikit aja langsung oleng" ucap jannah mengingat masa SMP mereka


"hhehe" cengir laila


"udah udah, ini malah nostalgia" ucap shinta


"sekarang gimana?" tanya laila yang mendapat jawaban kedipan mata dari shinta


"lo suka gak sih sama rendra?" tanya shinta


"guu suka, cuman gue masih takut" jawab jannah


"au ah gua masuk kamar dulu" pamit jannah menuju tangga


"hmm" ucap shinta


"rencana lo apaan shin?" tanya laila saat jannah sudah menghilang dari ruang keluarga


"ada deh" jawab shinta


"ishh, gak asyik lo" ucap laila


"besok kan hari minggu, dan gue sama jannah libur, jadi rencana gue dilaksana in pas masuk kerja aja" ucap shinta


"gue ikut?" tanya laila

__ADS_1


"ya iyalah" jawab shinta


"ya udah, gue ke kamar dulu, ngantuk" pamit laila


"oke" ucap shinta


"kok gue ngerasa jadi mak comblang sih" ucap shinta pada diri nya sendiri saat memikirkan rencana nya


"au ah, mending ke kamar" ucap nya dan segera tidur di kamar


pagi jam 4 subuh


shinta terbangun karena semalam apapun dia tidur, dia pasti akan bangun tepat jam 4 subuh


"shalat dahulu deh" ucap shinta dan segera melaksanakan salat


setelah melaksanakan salat, shinta langsung menelpon rendra, karena dia yakin kalau rendra pasti sudah bangun di jam segini, dia menelpon subuh subuh juga agar tidak ketahuan sama jannah


πŸ“ž: "halo assalamu'alaikum" sapa shinta


πŸ“ž: "waalaikumsalam, kenapa shin?" tanya rendra di telepon, terdengar jelas kalau suaranya tidak bersemangat


πŸ“ž: "aku mau ngomong nih, mau dengerin atau enggak?" tanya shinta


πŸ“ž: "soal apa?" tanya reyhan


πŸ“ž: "jannah" jawab shinta singkat


πŸ“ž: "dia pasti udah cerita kan kalau udah nolak aku?" tebak rendra


πŸ“ž: "iya" jawab shinta


πŸ“ž: "trus mau ngomongin apa lagi?" tanya rendra


πŸ“ž: "makanya dengerin dulu dengan seksama" ucap shinta


πŸ“ž: "hmm" respon rendra


πŸ“ž: "beneran?" tanya rendra semangat


πŸ“ž: "iya" jawab shinta


πŸ“ž: "tapi dia bilang kalau punya janji sama seseorang untuk... " ucap rendra belum selesai


πŸ“ž: "jangan di dengerin, itu janji antara aku sama jannah, dan itu kita buat juga waktu zaman jahiliah, zaman kita masih SMP" potong shinta


πŸ“ž: b"haaa? jadi kalian bikin janji gitu an?" tanya rendra kaget


πŸ“ž: "iya" jawab shinta


πŸ“ž: "emang kalian berdua tuh aneh" ucap rendra


πŸ“ž: "ya gak papa kali, kita mah spesies langka" ucap shinta terkekeh


πŸ“ž: "iya aku percaya kok, makanya reyhan sampai naksir sama kamu" ucap rendra


πŸ“ž: "dih malah bahas itu, udahlah aku tutup dahulu, assalamu'alaikum" ucap shinta


πŸ“ž: "waalaikumsalam" jawab rendra dan mematikan telepon


saat shinta ingin meletakkan ponsel nya di nakas, ada sebuah notifikasi email yang muncul dari seseorang


"apa ni? nanti aja deh buka nya" ucap shinta meletakan ponsel nya dan segera keluar kamar karena di hari minggu dia libur dan pasti akan berolah raga tetapi tidak dengan hari ini


note: shinta juga jannah memang bekerja di rumah sakit, tetapi mereka bekerja di bagian farmasi khusus perencanaan dan pelaporan, maka nya mereka libur jika hari minggu, tidak sama dengan suster atau dokter lainnya yang kalau libur harus ada jadwal dan bergantian


"pagi semua nya" sapa laila yang baru turun kamar bersama jannah


"kalian udah shalat subuh kan?" tanya shinta


"udah dong" jawab laila juga jannah kompak


"lo mau olahraga?" tanya laila

__ADS_1


"enggak, kaki gue masih agak bengkak" jawab shinta


skip jam 8 pagi mereka baru sarapan dengan menu nasi goreng dilengkapi telur mata sapi juga nori buatan mereka sendiri



"masakan kita emang enak" ucap laila saat sudah menelan nasi


"ya iya dong" timpal jannah


"kalau makan diem" ucap shinta, dia tidak suka jika makan di iringi mengobrol


"baik nyonya" ucap laila terkekeh


sedangkan di tempat rey berada, dia juga baru saja turun dari kamar dan berjalan menuju ruang makan


"mau makan apa tuan?" tanya salah satu pembantu di rumah nya


"apa aja bi" jawab reyhan sambil duduk di kursi meja makan


"jadi bener kalau elin itu psikiater" ucap reyhan saat melihat informasi di ponsel nya


reyhan kemarin malam sempat memerintahkan seseorang untuk menyelidiki soal elin, bukan hal yang sulit bagi nya hanya untuk ingin tau informasi tentang elin


"assalamu'alaikum" sapa rendra yang baru nyelonong masuk dan duduk di meja makan


"waalaikumsalam, kebiasaan" cibir reyhan


"heheh" cengir rendra


"maklum lah, di apartemen gue kesepian" ucap rendra mendramatisir


"makanya nikah" ucap reyhan songong


"nah kan songong nya mulai keluar" ucap rendra


"biarin" jawab rey


"nyuruh nyuruh gue nikah, kayak lo udah mau nikah aja" cibir rendra


"belum, tapi akan" ucap reyhan


"akan? maksudnya lo mau nikah?" tanya rendra yang di angguki reyhan


"samas siapa?" tanya rendra lagi


"ya sama shinta" jawab reyhan enteng


"halah, boro boro nikah, lo dapetin hati nya aja belum" cibir rendra meremehkan


"lo juga belum dapetin hati nya jannah, kemarin lo kan di tolak" cibir reyhan balik


"eitss, gue emang ditolak, tetapi dia beneran suka sama gue kok" ucap rendra membela diri


"tau darimana lo?" tanya reyhan


"jadi gini... " ucap rendra menceritakan apa yang diceritakan shinta pada nya tadi dari sabang sampai merauke, sampai mereka tidak sadar bahwa makanan sudah tersaji di meja makan


skip jam 8 malam, di rumah shinta


"oh iya, tadi ada email masuk kan" ucap shinta dan mengambil ponsel nya


*video? berarti udah ada hasil nya* batin shinta saat melihat isi email yang dikirim kan seseorang


beberapa menit kemudian


*apa? jadi dia pelakunya?.... * batin shinta kaget bukan main saat selesai memutar video nya barusan, bahkan sampai tidak sadar kalau tangan nya sudah mengepal sangat erat hingga berwarna kemerahan


______________________


like nya dongπŸ˜—


itung itung hadiah buat othor sekaligus penambah semangat buat up!

__ADS_1


__ADS_2