
Mereka berdua masih bersantai ria dengan menonton siaran televisi, kapan lagi bisa liburan berdua seperti ini kan? Ya walaupun liburan pertama tidak bisa jauh jauh tapi lumayan juga lah
"Aku masih mikir, aku punya salah apa ya sama mereka?" Ucap Shinta bertanya tanya kenapa ada orang yang bisa menaruh dendam mendalam pada nya
"Em... hubungan kamu dulu sama Zean itu gimana sih?" Tanya Reyhan yang masih di posisi sama, yaitu berbaring di paha istri nya
"Apa ya? Aku rasa sih cuman sebatas teman sahabat atau apa lah, tapi kak Zean sendiri bilang kalau aku udah seperti adik nya" Jawab Shinta merasa jika dia dan Zean mempunyai hubungan normal normal saja, tidak ada ikatan mengenai cinta sama sekali
"Dia pernah bilang suka atau cinta nggak sama kamu?" Tanya Reyhan semakin penasaran
"Enggak sih... cuma-"
"Cuma apa?" Potong Reyhan tidak sabaran
"Dih... sewot banget mas, cuma bilang kalau aku adik nya jadi nilai nya juga berharga bagi dia, udah gitu aja" Jawab Shinta
"Dia suka sama kamu" Jawab Reyhan datar
Shinta melotot, omong kosong apa ini? "Kamu ngomong apa sih?" Ucap nya kesal
"Masa' kamu gak peka? Dia sangat peduli kan sama kamu?" Tanya Reyhan
"Iya, kak Zean juga bilang peduli karena aku yang kasih semangat dari awal kok, bukan ada apa apa" Jawab Shinta
"Dari sikap nya udah kelihatan kok yang, waktu aku ketemu dia juga Zean bilang kalau dia gak menjalin hubungan sama wanita karena ada orang lain di hati nya" Ucap Reyhan tetap dengan pemikiran nya
"Kapan kamu ketemu kak Zean?" Tanya Shinta
"Sebelum kejadian hari itu" Jawab Reyhan
"Trus kenapa kamu mikir kalau orang lain di hati nya kak Zean itu aku? Mungkin aja dia suka sama orang lain tapi aku gak tau siapa orang itu" Ucap Shinta memberi penjelasan
"Gak mungkin yang, mana mau dia ngelindungi kamu sampai buat tim white blood itu, meskipun kamu termasuk orang yang menyemangati dia, tapi apa perlu se ketat itu?" Ucap Reyhan memajukan bibir nya
Shinta memicingkan mata nya, misua ini kesambet apa sih? Heran deh "jiltuhaneun?" Ucap nya menahan senyum
질투하는 (jiltuhaneun) \= cemburu
"Jiltuhaneun? Heh... iya aku jiltuhaneun" Ucap Reyhan ngegas mengakui kalau dia memang sedang cemburu
Shinta tertawa terbahak bahak, apalagi di tambah gelitikan di perut nya dari sang suami yang semakin mengeraskan suara nya
"Hahaha... udah udah, cukup" Ucap Shinta menjauh dari Reyhan agar tidak mendapat gelitikan maut lagi
"Sini gak?" Ucap Reyhan kala melihat istri nya menjauh dan turun dari ranjang
"Enggak, tangkap aku kalau bisa wleek!..." Ucap Shinta menjulurkan lidah nya sambil berjalan mengelilingi kamar hotel yang luas itu
"Awas kamu ya!" Ancam Reyhan ikut turun dan menghampiri sang istri
Semakin cepat ia berjalan maka semakin cepat pula langkah kaki Shinta untuk menghindar di sertai tawa nya
"Haha... ayo sini sini" Ucap Shinta
Meskipun langkah kaki nya sudah cepat, namun percuma karena itu tidak akan bisa mengalahkan kaki Reyhan yang jelas langkah nya lebih besar
"Haha... jangan jangan kesini, nanti aku kalah" Ucap Shinta terus menghindar
Reyhan tidak mempedulikan itu, siapa yang menantang nya maka harus merasakan kekalahan "Kena kamu" Ucap nya sambil memeluk bahu sang istri dari belakang
"Yah... aku kalah dong" Ucap Shinta mengercutkan bibirnya
"Udah, jangan lari lari yang... lagi hamil muda jadi gak boleh" Ucap Reyhan melarang
"Dari mana kamu tau mas?" Tanya Shinta tidak tau pengetahun suami nya mengenai kehamilan
"Sebelum liburan aku udah konsultasi lagi ke dokter kamu itu yang di rumah sakit" Jawab Reyhan
"Kapan? Kamu kan gak beranjak sama sekali dari tempat tidur rumah sakit" Ucap Shinta mengerutkan alis nya
"Ya... Rendra cukup berguna" Ucap Reyhan tergelak, dia memang meminta bantuan Rendra untuk menghubungi dokter dan berkonsultasi tentang liburan di awal kehamilan istri nya
"Oalah... makanya kamu minta Rendra ke rumah sakit hari itu, berarti aku harus bilang makasih sama dia" Ucap Shinta melepaskan lengan Reyhan dari leher nga dan mengambil handphone untuk menghubungi Rendra sesuai ucapan nya
"Punya nomer nya Rendra?" Tanya Reyhan karena sahabat nya itu baru saja mengganti nomor handphone
"Punya, tapi lewat Jannah lebih enak" Jawab Shinta lebih memilih menghubungi lewat sahabat nya saja agar tidak terjadi kesalah pahaman
Ia mengambil ponsel nya di atas nakas, lalu duduk berdampingan di ranjang dengan sang suami dan membuat panggilan video dengan Jannah
"Assalamualaikum... ada apa?" Tanya Jannah kala melihat sahabat nya yang sedang liburan
"Waalaikumsalam, itu mau ngucapin makasih sih sama Rendra" Jawab Shinta
"Oalah... untuk konsultasi itu ya? Sama sama santai aja, nanti gue sampe in ke mas Rendra" Ucap Jannah ikut senang dengan keadaan sekarang walau sebenarnya hanya dia yang tidak tahu tentang keadaan sekarang
"Oke, lo lagi ngapain?" Tanya Shinta
"Baru pulang dari rumah sakit, mau nyiapin makan malam dulu sih" Jawab Jannah
"Ooh.. yaudah itu aja, lo lanjut lagi sana masak" Ucap Shinta menggunakan gestur tangan mengusir
"Dih... yaudah selamat liburan, yang penting jangan bikin dedek lagi karena satu aja belum keluar dan kalau lagi MP jangan keluar di dalam, bahaya! Karena gue gak mau ponakan gue kenapa napa" Ucap Jannah nyerocos panjang lebar sambil tertawa lalu memutuskan panggilan video mereka
__ADS_1
Tit
"Hehh... lambemu" Ucap Shinta refleks mengeluarkan jawa medok nya, Jannah sama sekali tidak ada malu malu nya mengucapkan seperti itu
Lambe : mulut
Reyhan malah terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius
"Kamu kenapa?" Tanya Shinta heran
"Aku tadi aman aman aja kan?" Bukan nya menjawab namun Reyhan justru bertanya balik
"Apa nya yang aman?" Tanya Shinta tidak paham dengan apa yang suami nya tanya kan
"Aku tadi gak khilaf keluar di dalam kan? Aku gak akan melukai anak kita kan? Iya kan yang?" Tanya Reyhan beruntun dengan ekspresi syok nya
"Apasih..." Ucap Shinta kesal dengan pipi nya yang memerah, bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan seperti itu dengan gamblang? Malu uyy
"Aku nanya loh yang, kenapa pipi kamu merah gitu?" Ucap Reyhan gemas dengan istri nya yang masih saja shy shy cat
"Enggak" Jawab Shinta singkat padat dan jelas seperti perasaan mas doi padaku, eaaa...
"Apanya yang enggak?" Tanya Reyhan semakin menggoda sang istri
"Itu jawaban pertanyaan kamu tadi, ah taulah... aku wudhu dulu" Ucap Shinta segera beranjak ke kamar mandi karena waktu sholat maghrib telah menyelamatkan nya
"Ulangi lagi yang, hahaha" Ucap Reyhan tertawa sambil menggelengkan kepala nya
🌸🌸🌸
"Makan malam di mana sih emang nya?" Tanya Shinta saat jam menunjukkan pukul tujuh malam
"Di luar, boleh pakai baju cantik asal jangan pakai make up" Ucap Reyhan pada sang istri yang baru saja menyentuh lipstik nya
"Kamu bercanda ya? Trus bibir ku kalau kering gimana?" Tanya Shinta tidak masalah jika tidak memakai make up karena dia pun lebih memilih skincare saja, tapi lipstik itu agak wajib bagi nya
"Tenang aja, ada ini yang" Ucap Reyhan menunjuk bibir nya sendiri sambil menaik turunkan alis nya
"Mesum" Ucap Shinta lalu memakai hijab nya
"Bukan mesum, tapi halal" Ucap Reyhan menekan kata halal
Mereka keluar dari kamar menuju tempat makan malam yang sudah di siapkan sebelum nya sesuai perintah dari Reyhan
"Tumben pakai sandal?" Tanya Shinta pada suami nya, ia menggandeng lengan itu agar tidak jatuh dan tetap mesra dengan berjalan beriringan
"Pakai sepatu gak enak yang, kan lagi makan malam berdua sama istri doang masa' pake sepatu?" Ucap Reyhan
"Iya sih, aku lebih suka kamu tampil apa adanya" Ucap Shinta
"Mungkin aku harus lebih rajin olahraga ya? Kamu banyak makan otomatis berat badan ku juga ikut naik" Ucap Reyhan
"Jangan, pokok nya kamu gak boleh diet sebelum anak kita lahir" Ucap Shinta melarang
"Kenapa emangnya?" Tanya Reyhan semakin gemas
"Biar kita sama sama gemuk lah... nanti kamu gak bisa ngeledekin aku lagi" Jawab Shinta mengungkap alasan nya
"Kamu bukan tambah gemuk yang" Ucap Reyhan
"Trus tambah apa?" Tanya Shinta berharap suami nya akan mengatakan hal yang menyenangkan hati nya
"Tambah makan" Jawab Reyhan yang tidak sesuai harapan
"Dih.. awas aja kamu ya" Batin Shinta kesal sekali dengan suami nya
"Selamat makan sayangku dan calon anak kita" Ucap Reyhan menunjukkan meja yang sudah di siapkan untuk mereka
"Wah... bisa romantis juga kamu ya" Ucap Shinta terkekeh
Dari situ mereka bisa melihat pantai dalam keadaan malam, serta beberapa gedung yang kemungkinan adalah hotel penginapan
Reyhan hanya tersenyum saja, dia kadang bersikap romantis pun di waktu tertentu dan hanya di depan istri nya saja
"Silahkan duduk tuan putri" Ucap Reyhan menarik satu kursi dan membiarkan istri nya duduk di sana
"Eh.. aku udah naik pangkat tau mas" Ucap Shinta
"Naik pangkat jadi apa?" Tanya Reyham
"Jadi ratu, dan kalau anak ini lahir em... dia yang ganti jadi tuan putri atau pangeran" Jawab Shinta yang tidak bisa mengetahui jenis kelamin calon anak nya karena kandungan yang masih muda
"Baik ratu... saya pastikan kalau raja mu ini akan membuat istri dan calon anak kita kenyang" Ucap Reyhan menunduk
"Hahaha... udah ah aku laper, duduk dulu raja" Ucap Shinta menunjuk kursi di samping nya
Reyhan menurut lalu membuka penutup makanan yang di dalam nya sudah tersedia beberapa macam
"Wah... ini makanan kesukaan ku semua ya?" Ucap Shinta melihat ada makanan favorit nya yang salah satu adalah pasta
"Iya, semua buat kamu" Ucap Reyhan memberikan piring berisi pasta tersebut
__ADS_1
"Bukan buat aku aja, tapi buat anak kita juga" Ucap Shinta menunjukkan perut nya
"Tau sayang, makanya aku pesan dengan porsi yang lebih banyak" Ucap Reyhan, hehe... suami yang pengertian
Mereka menikmati makan malam dengan keadaan sama sama tersenyum dan bahagia, walau hal itu belum selesai namun waktu yang berpihak saat ini sungguh berharga, makan malam dengan pasangan lalu tersenyum bersama bahkan saling menyuapi rata rata menjadi impian semua orang termasuk mereka berdua yang sudah berhasil mewujudkan nya
"Mau foto?" Tanya Reyhan mengeluarkan ponsel nya karena yang dia tau wanita paling suka membuat kenangan bersama orang tercinta
"Mau" Jawab Shinta bersemangat lalu menggeser kursi nya hingga tubuh mereka saling berdempetan
"Tiga.. dua.. satu"
Reyhan tersenyum sekaligus terkejut karena foto tertangkap saat istri nya menempelkan bibir di pipi sang suami, sengaja saat hitungan ketiga Shinta sudah mengambil ancang ancang untuk mencium pipi itu di depan kamera
"Foto terbaik" Ucap Reyhan
"Simpan, nanti kita cetak" Ucap Shinta yang di setuju i suami nya
"Mau ke pantai?" Tanya Reyhan kala melihat pandangan istri nya yang fokus pada kumpulan air tersebut
"Mau lari di pantai, tapi sadar kalau sekarang ada adek" Jawab Shinta merasa ada yang kurang jika tidak berlarian di pantai
Reyhan memikirkan ide san saat itu juga...
"Aaaaaaaaa" Teriak Shinta puas ketika hembusan air mengenai muka nya dan bisa berkeliling pantai di malam hari sesua keinginan
Berlari? Tidak, Reyhan menggendong nya di punggung lalu sang suami itu berlari sekuat tenaga mengelilingi pantai
Huft... huft..
"Kamu senang yang?" Tanya Reyhan berhenti sejenak dengan berdiri di bibir pantai yang langsung menghadap ke air
"Senang banget banget banget, maaksihhhh" Jawab Shinta lalu cup! cup! cup! cup! Serangan ciuman ia terjunkan berkali kali di wajah suami nya
"Haha... udah geli, jangan di sini nanti kita malah butuh tenda" Ucap Reyhan tergelak
"Ishh" Ucap Shinta sambil mengeratkan pegangan di leher sang suami
"Indah" Ucap Reyhan menatap pantai di depan nya
"Iya, indah" Ucap Shinta turun dari punggung suami nya, ia berdiri tepat di samping laki laki yang sangat menyayangi nya dengan rasa cinta yang begitu besar
Reyhan tersenyum lalu memutar badan nya ke kiri hingga berhadapan dengan istri tercinta
"Aku mau bilang" Ucap Reyhan
"Bilang apa?" Tanya Shinta ikut menghadap suami nya
"Aku...." Ucap Reyhan menggantung, ia menatap mata wanita di depan nya, wanita yang sangat berharga bagi nya dan rasa cinta nya pada wanita tersebut pun juga sangat besar
Banyak wanita di luar sana namun hanya wanita itu lah yang mampu membuat hati nya tergerak, dia yang awal nya tidak tertarik dengan cinta pun akhir nya kalah juga sejak saat pertama kali bertemu dengan sang istri dulu
Walaupun banyak kejutan yang dia dapatkan, dari satu dan muncul lagi beberapa fakta lain tentang istri nya, namun satu hal yang hanya dia pikirkan, yaitu berprinsip percaya dengan istri nya yang tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan jelas
Bagi nya sang istri itu jauh dan lebih dari istimewa, wanita yang lebih sederhana dari dia, wanita yang tangguh dan berjuang sendiri sebelum menikah, banyak wanita seksi namun yang seperti istri nya hanya ada satu di dunia, juga di pikiran dan di mata nya yang hanya ada Shinta, istri nya♡
"Mau bilang apa?" Begitu pula Shinta membalas tatapan mata tersebut, bagi nya Reyhan adalah laki laki yang baik bahkan sangat baik, tulus mencintai nya dengan berjuang dari awal sejak ia masih terbelenggu dengan kenangan masa lalu serta trauma
Menurut nya itu adalah hal yang sangat istimewa, Reyhan benar benar bisa meluluhkan hati nya serta membuat nya bisa percaya dengan kata cinta yang dulu tidak pernah ia sentuh
Reyhan juga orang yang tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan dari mulai proses mendapatkan hingga menjaga saat mereka sudah membina rumah tangga
Laki laki ganteng? Banyak, laki laki kaya? Banyak, laki laki setia? Ada tapi jarang, tapi laki laki yang sangat baik dan lebih dari istimewa bagi nya hanya Reyhan, misua♡
"Aku cinta sama kamu" Ucap Reyhan dengan nada setenang mungkin karena keadaan pantai sepi pengunjung yang cukup mendukung
"Aku juga mencintaimu" Balas Shinta dengan senyum nya yang sangat menyenangkan bagi suami nya
"Tapi rasa cinta ku lebih besar" Ucap Reyhan
"Semoga Alloh membalas rasa mu yang mencintaiku" Ucap Shinta
Ingin rasanya Reyhan mencium bibir manis itu, tapi dia sadar kalau sekarang mereka masih ada di tempat umum dan tidak mungkin melakukan itu walaupun pengunjung tidak terlalu banyak
"Hug me" Ucap Reyhan merentangkan tangan nya
Shinta menurut, ia dengan semangat memeluk sang suami sangat erat sampai harum badan itu menyeruak di hidung nya
"Ratu yang baik" Ucap Reyhan tersenyum sambil mengelus punggung istri nya
"Raja yang tampan" Balas Shinta semakin menyusupkan kepala nya di dada bidang nan hangat tersebut
"Calon tuan putri dan pangeran" Ucap Reyhan memberi celah sedikit agar satu tangan nya bisa menyentuh perut sang istri yang tertutup kain
"Perjuangan masih panjang tau, belum sembilan bulan" Ucap Shinta terkekeh
"Gak papa, siapa tau jadi kembar beneran" Ucap Reyhan yang membuat istri nya tertawa
Dalam hati mereka berdo'a serta berharap waktu seperti ini akan terus ada sampai berumur nanti, waktu berdua akan terus memihak walaupun di iringi dengan masalah namun mereka bisa menghadapi berdua, selamanya tetap berdua, sayang~♡
3 month later~~~~
"Sayang, mau bakso"
__ADS_1
Reyhan menggelengkan kepala nya sekaligus gemas dengan sang istri yang hobi sekali memakan bola bola daging berkuah itu
Bersambung