
setelah cukup lama berdiam diri tidak jelas di balkon, shinta memutuskan untuk tidur karena udara di balkon juga semakin dingin
beberapa jam tidur dengan rasa gelisah di hati nya, pagi pun datang, pagi ini ia kembali bangun dengan nafas yang tidak teratur
*ventolin ku.. * batin shinta yang berusaha untuk tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan sisil, dengan tangan sambil mencari suatu barang di laci meja nakas
setelah menemukan nya, ia menghirup benda itu dalam dalam untuk menghilangkan sesak nafas yang dia rasakan saat ini
huft... huft...
*ayo.. berhentilah* batin nya lagi ketika sesak nafas itu belum hilang, sesekali ia juga memukul dada nya dengan satu tangan
*kenapa harus muncul sekarang?* batin nya lagi dengan mulut yang masih setia dengan ventolin
huft... huft..
ia sedikit kesusahan untuk menghilangkan sesak nafas itu, namun setelah beebrapa menit, akhirnya rasa sesak itu pun perlahan hilang
"alhamdulillah.. " gumam nya setelah melepas ventolin dan bertepatan dengan sisil yang bangun dari tidur nya
melihat hal itu, ia segera menyimpan ventolin kembali agar bocah kecil itu tidak melihat benda apa yang sedang ia pegang
"tante.. " panggil sisil yang berada di tengah ranjang dengan mata terpejam, mungkin gadis kecil itu masih berusaha mengumpulkan nyawa nya
"hei.. bangun yuk, sholat subuh" ucap shinta mendekati sisil dan menepuk pelan lengan nya, ia memang membiasakan sholat walaupun umur masih dini, itu akan berguna ketika mereka sudah dewasa nanti
merasa dipanggil untuk sholat subuh, sisil pun menganggukkan kepala dan mengubah posisi tidur nya menjadi duduk
bagian yang lucu bagi shinta adalah ketika melihat ekspresi sisil yang berusaha mengumpulkan nyawa nya karena ingin melaksakan sholat subuh
"udah?" tanya shinta yang melihat sisil telah membuka lebar mata nya, dan bocah itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban
setelah melaksakan sholat, ia selalu berdo'a agar apapun kegiatan yang akan dia lakukan hari ini selalu diberikan kelancaran
"pagi" sapa shinta juga sisil yang turun tangga
"pagi.. " jawab jannah yang sudah duduk manis di meja makan
"belum mandi?" tanya jannah saat melihat sisil masih memakai piyama tidur tadi malam, berbeda dengan shinta yang sudah rapi dengan pakaian kerja nya sendiri
"belum tan.." jawab sisil menggelengkan kepala, tadi memang ia hanya berwudhu saja, untuk mandi? lebih baik ia memilih mandi dengan bi asti dari pada mandi subuh subuh dengan shinta
"mau makan apa jan?" tanya shinta yang melipat kemeja nya hingga siku dan berdiri di depan meja dapur
"toast aja, simple, mudah, enak.. " jawab jannah terkekeh sambil menghampiri sahabat nya itu dan ikut membuat toast
"mudah apa kita yang gak bisa masak?" tanya shinta dengan tangan memegang roti roti an
__ADS_1
"eh.. kita bisa masak ya, cuman kalau mau berangkat kerja gini lebih enak sarapan roti" jawab jannah yang memang benar adanya, mereka berdua akan berkutat di dapur jika tidak dikejar dengan jam kerja
setelah beberapa menit, toast yang mereka buat pun jadi, cukup simple..hanya roti dengan isian selai, kemudian di panggang sebentar dengan menggunakan mentega
sehabis sarapan mereka memilih langung berangkat karena bi asti sudah datang, juga jam yang memang mengharuskan mereka berangkat
"baik baik dirumah sama bibi ya.. jangan nakal, assalamu'alaikum" ucap shinta berpamitan
"waalaikumsalam" jawab bi asti
saat sampai di parkiran rumah sakit, shinta tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenali turun dari mobil milik direktur keuangan rumah sakit, karena shinta tidak menyetir, alhasil dia bisa melihat itu semua, ia mengernyitkan alisnya pertanda tidak mengerti tentang kejadian barusan
*ngapain dia berangkat satu mobil?* batin shinta bertanya tanya
"shin, yuk turun" ajak jannah yang tidak digubris oleh shinta
"ayo turun.. " ajak nya lagi sambil menarik tangan shinta agar segera keluar dari mobil
"eh iya.. maaf" ucap shinta refleks sambil melangkahkan kaki nya
saat sampai di ruangan farmasi, shinta langsung melirik ke arah orang yang dia lihat tadi.. sedangkan yang dilirik hanya bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa apa
"mata lo shin" bisik jannah saat melihat shinta yang belum berhenti melirik seseorang
"iya iya" ucap nya yang tersadar dengan perbuatan konyol nya barusan
saat sedang fokus dengan beberapa kertas laporan obat, sudut mata nya tidak sengaja menangkap seseorang yang keluar dari mobil direktur keuangan tadi pagi, sekarang sedang keluar dari ruangan farmasi dengan kata pamitan yang tergesa-gesa
ingin sekali rasanya ia mengikuti orang itu, namun suara sela menghentikan langkah nya dan mengurungkan niat nya untuk mengikuti seseorang
"kamu di panggil ke atas" ucap sela saat dirinya sudah sampai di hadapan shinta
"buat apa?" tanya shinta heran karena ini bukan tanggal untuk menyerahkan laporan
"kamu ke atas aja.. gak papa kok" ucap sela meyakinkan dan hanya dibalas anggukan saja dari shinta
ia kemudian langsung baik ke atas dimana ruangan reyhan berada, dalam hati ia selalu bertanya tanya..untuk apa reyhan memanggilnya?
tok tok tok!
"masuk" suara reyhan menyahuti dari dalam dan membuat shinta langung membuka pintu ruangan itu
"kamu sudah datang?" tanya reyhan yang hanya dibalas anggukan oleh shinta
*sepertinya dia sengaja bersikap cuek karna masih marah denganku* batin reyhan yang dapat melihat hal itu
"kamu harus sopan kalau bersikap dengan atasan" ucapan reyhan barusan membuat shinta langsung mengubah mimik wajah nya yang tadi datar menjadi senyum cerah seketika
__ADS_1
*itu kan hanya senjata mu saja pak* batin shinta
huft..
"maaf pak, ada apa bapak memanggil saya?" tanya shinta dengan nada sopan seperti yang biasa ia lakukan pada reyhan jika di rumah sakit
"saya minta maaf atas kejadian kemarin kemarin yang membuat kamu sakit hati" ucap reyhan dengan nada kalem nya, yakali minta maaf dengan nada ngebentak? tidak mungkin kan
"pak.. tidak baik membahas itu di jam kerja, lebih baik sekarang kita bersikap sewajarnya seperti atasan dan bawahan" ucap shinta yang tidak ingin membahas hal pribadi di rumah sakit
"tapi-" ucap reyhan terpotong
"jika yang ingin bapak bicarakan itu hal diluar kerjaan, lebih baik saya segera keluar dari sini" ucap shinta yang membuat reyhan harus mengalah sekarang
"oke, tunggu.. saya hanya ingin menunjukkan sesuatu" ucap reyhan membuka laptop pribadi yang ia pegang
"menunjukkan apa pak?" tanya shinta mendekati meja reyhan
"kamu tau apa artinya ini?" tanya reyhan menunjukkan rekaman cctv parkiran pegawai rumah sakit pagi ini
"iya pak, artinya aman kan?" tanya shinta yang sengaja ingin mengerjai reyhan sedikit
"ck, bukan.. maksudnya jika mereka berangkat bersama, itu artinya kemungkinan mereka memiliki hubungan pribadi bukan?" tanya reyhan
"tapi kalau cewek nya ini cuman numpang gimana pak?" tanya shinta balik
"emang kamu gak malu kalau numpang dengan atasan?" tanya reyhan
"ya kalau terpaksa mau gimana lagi? gak ada cara lain kan pak?" ucap shinta yang benar adanya
"iya sih" ucap reyhan membenarkan
"tapi kamu kan bisa ngeliat kalau ekspresi direktur keuangan yang paling gugup kemarin kan?" tanya reyhan yang diangguki shinta karena dia memang melihat hal itu
"apa ada gadis yang mau sengaja berurusan dengan seorang penjahat?" tanya reyhan yang memang berniat memancing shinta
"ya gak ada pak, tapi kalau karena faktor cinta atau dendam dengan seseorang, itu sangat memungkinkan" jawab shinta membuat mata nya sendiri melebar seketika, dan reyhan yang melihat ekspresi shinta hanya tersenyum
"sekarang kamu paham?" tanya reyhan yang diangguki shinta
"apa mungkin dia pelaku nya?" gumam shinta yang masih terdengar di telinga reyhan
"jangan berbaik hati lagi" jawab reyhan mewanti wanti gadis yang ada di depannya itu
shinta akui memang jika reyhan itu pintar, namun dia masih bertanya tanya, apa mungkin orang itu pelaku nya? orang yang sengaja menjebak nya? apa analisa reyhan memang benar kali ini?
bersambung
__ADS_1
maaf karena hari ini telat update🙏