
sedangkan di tempat shinta berada, dia sedang menepikan mobilnya di pinggir jalan dan berdiam diri di sana
"aku harus bagaimana?" ucap shinta sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
bayangan masa lalu yang buruk bagi nya pun mulai bermunculan di ingatan nya
*ah iya, barang itu* batin shinta lalu mencari suatu barang di mobil nya
beberapa menit kemudian
"akhhh aku lupa tidak membawa nya di mobil" ucap shinta frustrasi bahkan tubuh nya sudah mulai bergetar
"aku harus telepon ajudan" ucap shinta dan mengeluarkan ponselnya
📞: "assalamu'alaikum, kamu ada di mana?" tanya shinta saat panggilan terhubung
📞: "waalaikumsalam, di rumah dinas kok" jawab ajudan di telepon
*karena rumah dinas dia lebih dekat dari sini daripada aku harus pulang* batin shinta
📞: "aku kesana sekarang, ya udah assalamu'alaikum" ucap shinta
📞: "ha? waalaikumsalam" jawab ajudan dan tit! telepon dimatikan
shinta mengemudikan mobil nya juga agak kesusahan karena tubuh nya semakin bergetar dan napas yang mulai tidak beraturan, dalam hati dia terus berdo'a agar diberi keselamatan sampai tujuan
skip sampai rumah dinas
shinta segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah, dan
tok tok tok!
"assalamu'alaikum, dek buka pintu nya" ucap shinta sambil mengetok pintu
"waalaikumsalam kak" jawab ajudan sambil membuka pintu rumah, dan begitu pintu rumah terbuka
ceklek
"astaghfirullah kak, kakak kenapa?" tanya ajudan saat melihat shinta memegang dada nya dengan tubuh yang masih gemetaran
"sini kak" ajudan membantu kakak nya untuk masuk dan duduk di sofa
"sebentar kak, aku ambilin ventolin inhaler punya kakak dulu" ucap ajudan setelah mendudukkan shinta di sofa, dan bergegas mengambil ventolin punya shinta
setelah mendapatkan apa yang dia cari, ajudan pun langsung kembali menemui shinta di sofa
"ini kak, aaaa" ucap ajudan menyuruh shinta membuka mulut nya sambil tangannya memegang ventolin untuk dimasukkan ke mulut shinta
shinta pun segera menghirup dalam dalam ventolin itu lewat mulut nya, selama shinta menghirup ventolin, ajudan yang ada di samping nya juga terus menerus mengusap punggung shinta sampai gemetaran di badan kakak nya itu hilang sedikit demi sedikit
10 menit~
20 menit~
beberapa menit setelah menghirup ventolin itu, sesak napas shinta pun hilang juga tubuh nya yang mulai tenang
__ADS_1
"udah" ucap shinta setelah melepas ventolin di mulut nya
"kok bisa kayak gini kak?" tanya ajudan yang masih mengelus punggung shinta
"maaf" hanya itu yang bisa shinta ucapkan
"aku nanya loh kak, harus nya kan di jawab, apa karena bunda?" tanya ajudan karena hal seperti ini pernah terjadi sebelum nya dan shinta hanya mengangguk sebagai jawaban
"biar aku yang bicara sama bunda" ucap ajudan
"jangan, udah biarin aja, ingat! bunda itu orang tua kita" ucap shinta mencegah
"tapi kak-"
"udah gak ada tapi tapi an, kakak gak papa kok" ucap shinta menenangkan adiknya itu
*siapa yang sakit sih? kok aku yang nenangin dia* batin shinta terkekeh
"ya udah deh" ucap ajudan
"oh iya, mana barang kakak?" tanya shinta
"barang yang mana sih?" tanya ajudan bingung
"barang yang aku nitip beli itu loh" jawab shinta
"oh iya, ada di dalam, nanti aku ambil" ucap ajudan
"oke" ucap shinta mengangguk
"oh ya kak, aku mau nanya" ucap ajudan
"apa bener yang dibilang sama dokter elin?" tanya ajudan
"kamu udah tau?" bukannya menjawab, shinta malah nanya balik
"tau, udah buruan di jawab" ucap ajudan
"kakak sebenarnya juga gak tau kalau kakak itu jatuh cinta atau enggak, kakak masih bingung, hanya saja kalau ngeliat ada perempuan lain yang menyukai dia tuh rasa nya kakak gak suka" jawab shinta terus terang
"ooh, tetapi kayaknya kakak beneran jatuh cinta deh" ucap ajudan menanggapi cerita kakak nya barusan
"ntahlah, kakak juga gak tau" ucap shinta malas dan menghela napas panjang
"kalau kakak gak siap ya jangan di paksa, biarin aja mengalir dengan sendirinya" ucap ajudan sambil mengelus kepala kakak nya yang tertutup hijab
"hmm" jawab shinta
"orang yang bikin hati kakak bergerak itu siapa sih?" tanya ajudan yang memang belum tau siapa orang yang berhasil membuat kakak nya jatuh cinta
"belum waktunya kamu tau sekarang" jawab shinta
"ya udah aku gak maksa, sekarang aku ambilin barang kakak dahulu" ucap ajudan yang di angguki shinta
"mau nginap di sini gak?" tanya ajudan menghampiri shinta sambil membawa barang pesanan kakak nya
__ADS_1
"gak mau ah, nanti di gerebek polisi" jawab shinta terkekeh seraya berdiri dari kursi nya
"lah kan polisi nya aku sendiri kak" ucap ajudan sambil memberikan barang milik shinta
"emang kalau polisi gak bisa di gerebek?" tanya shinta
"ya bisa sih, tetapi kamu kan kakak ku" jawab ajudan
"udah ah, ini malah ngakak debat" ucap shinta
"pulang sekarang?" tanya ajudan
"iya lah, udah malam nih" jawab shinta
"ya udah, hati hati ya kak" ucap ajudan sambil mengantar shinta keluar rumah
"iya" jawab shinta dan keluar dari rumah dinas adiknya itu
"assalamu'alaikum" pamit shinta
"waalaikumsalam" jawab ajudan
skip sampai rumah
setelah memarkirkan mobil nya di garasi, shinta segera masuk rumah untuk istirahat karena tubuh nya sangat lelah hari ini
"baru pulang?" tanya jannah yang melihat shinta masuk rumah dengan membawa kardus kecil di tangan nya
"hmm" jawab shinta padat, singkat, dan jelas
"dari mana shin?" tanya laila
"ajudan" jawab shinta
"trus lo mau ke mana?" tanya laila saat melihat shinta berjalan menuju tangga
"kamar" jawab shinta
dan setelah shinta naik ke atas
"shinta kenapa sih?" tanya laila penasaran
"biarin aja, dia lagi ingin sendirian" jawab jannah
sedangkan di kamar shinta
setelah membersihkan tubuh, shinta langsung naik ke atas ranjang empuk milik nya
*aku harus gimana?* batin shinta sambil menatap langit langit kamar
*apa mungkin aku beneran jatuh cinta?* batin shinta bertanya tanya pada diri sendiri sampai akhirnya tertidur dengan lelap karena kelelahan
_________________
Hai kakak kakak pembaca, aku mau minta like nya nih buat novel ini ya😗 sama komen nya dong kasih saran atau kritikan buat author🙂
__ADS_1
dan makasih banget buat yang udah ngasih dukungan💜
maaf ya kalau ceritanya kurang memuaskan, makasih juga buat yang udah mau baca☺