Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
179. Bali, im back


__ADS_3

"Bukan gitu, aku cuman masih belum paham penyebab kali ini" Ucap Shinta mengusap air mata nya, menyebalkan! kenapa dia sangat cengeng sekarang?


"Udah udah.. sini" Ucap Reyhan mengulurkan tangan nya


"Mau ngapain?" Tanya Shinta bingung dengan mata nya yang sembab


Reyhan tidak menjawab, dia hanya tersernyum saja... walau sedang ada masalah, namun dia juga harus bisa tenang mengingat ada bumil yang lebih sensitif dari nya sekarang


Kesal? Tentu saja dia kesal dengan wanita pembuat onar dalam rumah tangga mereka, tapi gegabah juga tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik bersabar sampai waktu nya tiba.


Di luar ruangan Reyhan, terdapat Evan yang sedang berdiri tanpa tujuan setelah memerintahkan tim untuk memindahkan Alina, dia bingung harus mengerjakan apa sekarang?


Pulang? Heoll... tidak mungkin, masih ada atasan nya yang berada di dalam, dia tidak bisa meninggalkan pasangan itu karena sebentar lagi pun dia juga yang akan mengantar keduanya ke suatu tempat


*Ya Alloh... sesungguh nya hanya engkau yang maha tau segala nya* Batin Evan kasihan dengan atasan nya yang mengalami masalah


Segarang apapun Reyhan juga tetap baik, bagi Evan atasan nya tersebut mempunyai sisi manusia seperti pada umum nya, hanya saja lebih memilih untuk di sembunyikan


"Huft.. duduk aja lah Van, dari pada berdiri kayak patung gak ada guna" Ucap Evan duduk di meja kursi yang menjadi ruang kerja nya sehari hari


Flashback beberapa waktu yang lalu


"Putar balik Van" Ucap Reyhan


Setelah mendapat perintah seperti itu, tentu saja dia langsung putar balik menuju tukang bakso yang di maksud Shinta


5 menit kemdian~


"Ayeayy..." Ucap Shinta bersorak gembira ketika mobil berhenti tepat di warung bakso bertenda


"Yang" Ucap Reyhan memegang tangan istri nya seolah tidak ikhlas jika wanita itu makan makanan pedas


"Hiks.. iya nak, kita gak jadi makan bakso ya" Ucap Shinta mulai berdrama demi bisa makan bakso tersebut


"Boleh sayang, tapi jangan pakai sambal" Ucap Reyhan mengingatkan


Shinta memajukan bibir nya, ish... apa enak nya makan bakso tanpa sambal? Hampa seperti hidup kalian ketika di tinggal sama mas doi kan? hayooo ngaku!


"Gak ada tawar menawar, kalau mau ayo turun dan kalau gak mau kita lanjut ke kantor" Ucap Reyhan titik gak pake koma


"Iya sayang" Ucap Shinta mengucapkan panggilan tersebut dengan harapan bahwa suami tercinta nya itu akan luluh


Reyhan tetaplah Reyhan, dia memang bersikap dingin tapi tidak dengan orang orang yang dia cintai termasuk orang tua nya, maka dari itu dia akan melindungi orang orang kesayangan nya sampai hal terkecil pun


"Bakso satu pak" Ucap Shinta setelah duduk di kursi yang tersedia


"Kok satu?" Tanya Reyhan


"Trus berapa? Emang kamu mau?" Tanya Shinta


"Udah kenyang, maksud aku buat Evan yang" Jawab Reyhan yang duduk di sebelah istri nya


"Ah... saya enggak dulu buk, udah makan di rumah" Tolak Evan dengan halus


"Beneran gak ada yang mau ya?" Goda Shinta menunjuk bakso kuah merah di atas nampan yang sedang menuju ke arah nya


Glek!


Reyhan dan Evan sama sama meneguk air liur nya, tapi.... gengsi mau makan karena tadi udah duluan menolak


"Kamu aja yang makan" Ucap Reyhan


Shinta mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum lebar, jika di suruh makan maka dia adalah manusia yang paling semangat pejuang empat lima


Slurp... slurp


Kuah merah sedap langsung itu masuk ke perut nya dengan lancar tanpa halangan

__ADS_1


"Enak?" Tanya Reyhan


"Emh... enak, tapi sayang gak pedes" Ucap Shinta kembali menyindir tentang sambal


"Mau makan ya mak-"


"Ah iya iya iya" Potong Shinta sebelum suami nya ngomel panjang lebar kembali


Reyhan membuka ponsel nya sembari menunggu istri nya selesai makan, ah... di sini lah terdapat kesempatan, diam diam Shinta mengode Evan agar asisten lawak itu mengalihkan perhatian bos nya


"Sst...." Ucap Shinta lirih sambil mengarahkan mata nya ke arah sang suami


Evan kaget, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia sama sekali tidak mengerti dengan kode yang Shinta berikan


"Apa buk?" Ucap Evan sangat sangat lirih bahkan hanya mulut yang terbuka namun tidak mengeluarkan suara


Shinta kembali menjawab dengan mata nya seakan bilang "Kamu alihkan perhatian suami saya sebentar"


Evan mengerti sekarang, namun dia menggelengkan kepala nya, mana mungkin dia berani mengalihkan perhatian atasan nya agar wanita hamil itu bisa mengambil sesendok sambal


Shinta merasa kesal, namun tidak menyerah... ia menyatukan kedua tangan nya, memohon agar pria jomblo tersebut mau membantu nya demi sesendok sambal


Huft... terpaksaaa, mau menolak tapi dia kasihan dengan bu bos yang hanya ingin satu sendok sambal


"Pak" Panggil Evan  mencoba dengan Shinta yang memberi dukungan seraya tersenyum lebar


"Hmm" Jawab Reyhan tidak menoleh dan masih fokus dengan ponsel nya


"Pak"


"Hmm" Jawaban yang sama


"Kalau di panggil itu noleh, jangan ke handpone terus" Ucap Shinta sengaja agar lebih cepat ia bisa mengambil perasa pedas tersebut


"Apa Van?" Ucap Reyhan menoleh ke kiri tepat di depan asisten nya


"Anu apa?" Tanya Reyhan heran


Sat set sat set


Selagi Reyhan masih menghadap ke arah lain, dengan jurus angin Shinta mengambil tiga sendok sambal dan memasukkan ke dalam mangkok nya


Evan melotot, tadi kan perjanjian hanya satu sendok dan kenapa sekarang jadi tiga sendok?


"Kamu melotot sama saya?" Ucap Reyhan yang menyadarkan sang asisten lawak


"Eh... enggak pak, maaf maksud saya ada anu..." Ucap Evan menggaruk kepala nya


"Anu apa sih Van? Gak jelas!" Kesal Reyhan lalu menatap istri nya yang masih anteng makan


"Aku gak makan pedas kok" Ucap Shinta menggelengkan kepala, untung saja bakso tersebut kuah nya sudah merah jadi tidak akan kelihatan jika di tambah sambal


"Iya, makan yang lahap" Ucap Reyhan sambil mengelus puncak kepala istri nya


Beda lagi dengan sang asisten yang langsung mengelus dada nya berkali kali


"Aman aman..." Batin Evan


Flashback end


Byurrrrr


"Haffff... pak, kok nyiram saya?" Ucap Evan yang terbangun karena kaget dengan air yang mengenai muka nya


"Saya cuman kasih air dikit" Ucap Reyhan memegang gelas yang air nya masih banyak, dalam artian tadi dia hanya menuang sedikit saja


"Saya agak ngantuk sih pak, oh iya jam penerbangan sebentar lagi loh pak" Ucap Evan melirik arloji nya

__ADS_1


"Makanya bangun, anterin saya ke bandara dulu" Ucap Reyhan


"Sendirian? Ibuk gimana?" Tanya Evan


"Ck, kebanyakan nanya kamu" Ucap Reyhan


Ceklek!


Shinta keluar dari ruangan suami nya dengan pakaian yang biasa dia gunakan


"Ke bandara mau ngapain sih?" Tanya Shinta yang bingung karena belum tau rencana suami nya


"Nanti juga tau yang, jangan banyak nanya kayak Evan ya" Jawab Reyhan merangkul wanita berbadan dua tersebut dan berjalan keluar kantor


"Ninggal terosss" Cibir Evan sambil menghentakkan kaki nya dengan kesal


Bandara~~~


"Loh.. ini kan koper ku, mau di apain sih?" Tanya Shinta saat bertemu bibi di bandara dan membawa barang barang nya


Reyhan tersenyum lalu mendekat di telinga sang istri "babymoon, biar dedek nya kembar" bisik nya


Tuitttttt


"Aduh aduh, sakit" Ucap Reyhan mengaduh ketika pinggang nya mendapatkan cubitan maut


"Semoga selamat sampai tujuan dan pulang dengan keadaan sehat" Ucap bibi ikut bahagia setelah kemarin terjadi peperangan antara suami istri tersebut


"Iya bu bos, selamat liburan" Ucap Evan menundukkan kepala nya


"Makasih pak.. bi, sehat sehat juga kalian" Ucap Shinta merasa senang walau memang terlalu mendadak


"Ayo!" Ajak Reyhan karena pesawat yang akan mereka tumpangi segera lepas landas


Bibi melambaikan tangan sebagai ucapan selamat dan semoga perjalanan mereka lancar tanpa hambatan sama sekali


"Kapan kamu ngerencanain liburan ini?" Tanya Shinta


Mereka duduk bersebelahan dengan Shinta yang tepat di samping jendela pesawat, momen paling indah saat melihat awan


"Ya waktu masih di rumah sakit, tapi kita cuman ke Bali karena dalam keadaan hamil kamu gak boleh bepergian jauh jauh yang" Ucap Reyhan merasa bersalah, kenapa tidak waktu awal awal menikah saja liburan nya? Bisa jauh menjelajah dunia


"Gak papa sih, aku suka negara kita, tapi.... pfftt" Ucap Shinta menahan tawa


"Kenapa? Kok ketawa?" Tanya Reyhan


"Baru kali ini aku liat seorang Reyhan naik pesawat umum" Jawab Shinta meskipun mereka berada di kelas bisnis namun suami nya jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan fasilitas tersebut


"Aku gak bisa bayangin gimana ngomel nya kamu nanti kalau aku sewa jet pribadi" Ucap Reyhan mengungkap alasan nya


"Sewa itu mahal, ya... mungkin nanti insyalloh kalau rezeki nya cukup, kita beli sendiri" Ucap Shinta


"Bukan nya Zeze grup udah punya jet pribadi?" Tanya Reyhan yang pernah menumpangi satu kali


"Itu kan milik perusahaan, bukan punya ku" Ucap Shinta


"Nanti kita buat jet cinta milik kita sendiri" Ucap Reyhan terkekeh


"Hahaha.. amin, gini udah sangat bersyukur banget karena Alloh maha baik" Ucap Shinta mengaminkam saja setiap doa baik yang suami nya panjatkan


Yaa keadaan hidup nya yang termasuk ekonomi memang jauh di bandingkan saat kecil dulu, maka dari itu setiap orang akan mensyukuri perubahan baik yang terjadi


2 jam berlangsung, pesawat tersebut berhenti di bandara internasional gusti ngurah rai yang mana memang menjadi tujuan mereka


"Bali, im back" Ucap Shinta tersenyum lebar ketika ia melihat lapangan bandara tempat nya memijak kan kaki.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2