
Pagi menghampiri, selepas sholat subuh tadi pasutri ini masih bergelung di bawah selimut yang sama
"Mas lepasin, mau bikin sarapan" Ucap Shinta berusaha melepaskan tangan sang suami dari perut nya
"Gak mau!" Tolak Reyhan, dia memang sedari tadi malam selalu dekat bahkan enggan melepaskan dekapan nya pada sang istri
"Lepasin dulu, nanti peluk lagi" Ucap Shinta menjanjikan pada suami yang sedang cosplay menjadi bayi besar nya ini
"AKU BILANG GAK MAU!" Ucap Reyhan menekan setiap kata kata nya
Huft...
"Yaudah, bantuin bikin sarapan aja gimana? mau kan?" Tanya Shinta menawarkan setelah menghela nafas panjang tadi
"Peluk dari belakang" Ucap Reyhan yang membuat istri nya memijat pelipis, di tolak ngelunjak, di turutin nanti dia juga yang akan sedikit kesusahan
"Tapi tangan kamu jangan kemana mana ya?" Ucap Shinta mewanti wanti
"Iya, janji peluk doang sayang" Ucap Reyhan meyakinkan
Karena sudah membuat kesepakatan, Shinta akhir nya memulai hari hari seperti biasa, membuat sarapan, menyiapkan baju yang akan suami nya kenakan untuk berangkat, dan memandikan bayi besar nya, eh.. iya kah? pokok nya gitu deh
Dan semua kegiatan tak luput dari pandangan Reyhan, sentuhan dari tangan nakal itu, dan beberapa ucapan manja mulut nya yang muncul hari ini
"Nah... gini kan ganteng, gak bau asem" Ucap Shinta mengancingkan kemeja di tubuh suami nya
"Enak aja bau asem, gak pernah ya" Ucap Reyhan mengelak karena tubuh nya itu selalu wangi kapan pun dan dimana pun
"Masa sih?" Ucap Shinta menautkan alis nya, dia hanya menggoda sang suami saja
"Kalau gak percaya coba cium ini" Ucap Reyhan menunjuk bibir nya sendiri
Wealah dalah... niat mau ngerjain malah dia sendiri yang di kasih jebakan balik, zonk deh
"Hehe... nanti aja deh, takut kamu khilaf" Ucap Shinta cengengesan sembari memundurkan langkah nya agar tidak berlanjut ke tahap yang lebih jauh lagi
"Kenapa kalau khilaf? bukan nya justru dapat pahala ya" Ucap Reyhan
"Jangan macam macam ya! bentar lagi kita berangkat kerja loh" Ucap Shinta menunjuk jam dinding
"Bolos satu kali boleh lah" Ucap Reyhan enteng
"Sembarangan, kamu gak ingat apa semalam sampai berapa sesi? masa belum puas?" Ucap Shinta, bukannya tidak mau... tapi sekarang jam nya memang sudah mepet dan tubuh nya pun masih berasa remuk gara gara kelakuan suami nya tadi malam plus tadi di kamar mandi
"Haha... bercanda sayang, puas banget malah" Ucap Reyhan tertawa sembari mengedipkan satu mata nya
"Kan... kan, jahil nya keluar pasti kena virus dari Rendra nih" Ucap Shinta menggelengkan kepala
"Jahil sama kamu doang kan gak papa" Ucap Reyhan membela diri
Setelah ikut mengganti pakaian, Shinta kemudian mengajak suami nya untuk keluar dari wardorbe kamar dan sarapan berdua, seperti biasa bahwa pekerjaan menjadi istri adalah mengambilkan makanan suami nya
"Enak gak?" Akhir akhir ini hal itu yang selalu Shinta tanyakan pada suami nya
"Masakan kamu dan mama itu memang ter enak" Jawab Reyhan memberikan dua jempol nya dan istri nya itu pasti akan tersenyum senang serta bertepuk tangan
"Jawaban kamu jujur gak sih?" Tanya Shinta
"Jujur sayang, emang masakan kamu beneran enak kok" Jawab Reyhan, semenjak menikah dia memang lebih suka masakan rumah buatan istri atau pun mama Riana, bagi Reyhan kedua nya sama sama istimewa
"Alhamdulillah deh..." Ucap Shinta lega, karena gak sia sia juga dia belajar beberapa menu tambahan untuk mereka makan
"Kamu kenapa gak makan?" Tanya Reyhan kala melihat istri nya belum melahap satu sendok pun makanan
"Ah... itu, ya mau lihatin kamu makan karena habis ini kan aku gak bisa lihat mas" Jawab Shinta
Reyhan meletakkan sendok nya, ia menatap lekat sang istri lalu berkata "Nanti kita bisa video call sayang, jaman sekarang udah canggih loh... kalau waktu sarapan dan sebelum tidur nanti aku pasti hubungin kamu"
"Istirahat siang?" Tanya Shinta yang tidak mendengar kata siang hari di sana
"Siang hari kadang kita makan sama client, tapi aku usahakan jam istirahat siang untuk ngehubungin istri aku nanti" Jawab Reyhan, ntah sekarang ganti Shinta yang seakan enggan melepas nya
"Oke"
"Sekarang makan!" Ucap Reyhan memberi perintah
"Siap pak misua" Ucap Shinta lalu fokus pada makanan nya, bahkan suami nya itu pernah berkomentar tentang dia yang tumben menjadi banyak makan, tapi entahlah... dia sendiri pun merasa biasa saja, makan ya makan yang penting kenyang
Selesai makan kedua pasutri itu kembali bersiap dengan Reyhan si rambut klimis membawa kpper yang di siapkan istri nya tadi malam, Shinta seperti biasa memakai atasan kemeja, celana kulot longgar, hijab yang menutupi dada di sertai jas putih dan tas selempang di lengan nya
"Udah siap?" Tanya Shinta pada sang suami yang duduk di ruang tamu
"Belum" Jawab Reyhan
"Hmm? emang ada yang ketinggalan ya?" Tanya Shinta mencoba mengingat ingat
"Batin aku yang belum siap pisah sama kamu" Jawab Reyhan, cie... berusaha romantis nih si yang awal nya gunung es
"Gombal... katanya gak sampai satu minggu kok sayang" Ucap Shinta menirukan cara bicara suami nya tadi malam
"Emang gak sampai satu minggu, tapi siapa nanti yang mandiin aku di sana?" Ucap Reyhan menaik turunkan alis nya
"Dasar bayi besar" Ucap Shinta mencubit kedua sisi pipi suami nya
"Bayi besar kamu ini mau di kiss sekarang" Ucap Reyhan cepat cepat menyambar bibir yang membuatnya candu itu hingga pertukaran sesuatu pun terjadi, dan membuat bibir mereka sama sama basah
"Udah kan? sekarang kita berangkat ya... aku udah mau telat nih" Ucap Shinta setelah melepas pagutan itu dan melirik jam dinding yang sudah hampir menuju angka delapan
"Yaudah ayo" Ucap Reyhan berdiri dari duduk nya dan menarik koper dengan satu tangan, dimana satu tangan nya lagi? ya di gunakan untuk yang lebih bermanfaat seperti menggandeng tangan istri nya
Ceklek!
Begitu mereka keluar dan mengunci pintu apartemen, ternyata hal itu bertepatan pula dengan Rendra dan sang istri yang juga baru keluar dari apartemen mereka, jarak nya dengan milik Reyhan memang hanya beberapa pintu unit saja
"Wih... yang mau keluar kota asem bener muka nya" Ledek Rendra menahan tawa
"Mas!" Tegur Jannah menjewer pelan telinga suami nya
"Lo juga ntar ngerasa in hal yang sama" Ucap Reyhan enteng
"Rey... gue kan masih jadi wakil, gak wajib keliling luar kota dong" Ucap Rendra
"Trus bokap lo gitu yang mau meninjau keluar kota? emang dasar anak durhaka gak kasihan sama orang tuanya yang udah tua" Cibir Reyhan balik dengan menggelengkan kepala nya
"Tuh... dengerin, harus pengertian sama papa" Ucap Jannah mengingatkan suami nya
"Iya sayang... nanti bulan depan ada jadwal nya sendiri" Ucap Rendra yang sudah tahu jika bulam depan juga ia akan mengalami hal yang sama seperti Reyhan
"Tumben telat Jan?" Tanya Shinta heran
"Kita udah punya bayi gede malah jadi sering telat" Jawab Jannah
"Iya sih" Ucap Shinta membenarkan, bukan telat hanya saja dering mepet waktu nya
"Mau berangkat berdua gak? biarin aja mereka ngobrol sesuka hati" Ucap Jannah melirik dua orang laki laki yang entah tengah membicarakan hal apa kali ini
__ADS_1
"Lo mau gue mental ke pluto ya?" Ucap Shinta, mana mungkin dia meninggalkan sang suami, yang ada malah dia kena hukuman nanti
"Huft... gini ceritanya kapan kita berangkat" Ucap Jannah kesal
"Mas Rey, aku udah telat loh" Ucap Shinta menarik jas itu
"Eh... maaf sayang, iya ayo" Ucap Reyhan mengiyakan dan mereka berempat turun menggunakan lift yang sama, hanya berbeda kendaraan saja
"Pak Evan berarti udah di parkiran rumah sakit dong?" Tanya Shinta di sela sela perjalanan mereka
"Emang kenapa kamu nanya in Evan? peduli banget kamu sama dia" Ucap Reyhan datar sembari menatap jalan raya
"Cemburu?" Goda Shinta
"Gak" Ucap Reyhan menyangkal, istri nya berbicara dengan pria lain aja dia sudah kepanasan apalagi menanyakan laki laki lain di hadapan nya
"Haha... jangan cemburu, lagian aku juga cuman nanya aja kok, kan kasihan kalau pak Evan nunggu nya kelamaan" Ucap Shinta lalu memberi kecupan singkat pada pipi suami nya
"Jangan gitu, oleng ke hotel nih" Ucap Reyhan melirik setir nya
"Ish... aku udah mau masuk jam kerja, nanti aja kapan kapan" Ucap Shinta
"Kalau aku pulang?" Tanya Reyhan memastikan
"Oke deal" Jawab Shinta setuju dengan tantangan suami nya
Saat sampai di parkiran rumah sakit, ternyata benar sudah ada Evan yang duduk di pinggiran pembatas dan mulut nya terbuka,mungkin blangkeman karena menunggu sang atasan yang terlalu lama
"Tuh bener, kasihan kan" Ucap Shinta mengarahkan pandangan nya pada Evan
"Nanti di perjalanan biar Evan tidur, dia bisa istirahat" Ucap Reyhan
"Lah... trus yang nyetir siapa? kamu gitu pegang kemudi keluar kota?" Tanya Shinta bingung
"Enggak sayang, nanti ada dua orang lagi... dia manager perusahaan, trus sama supir" Jawab Reyhan
"Supir nya gantian sama siapa kalau dia capek?" Tanya Shinta
"Gantian sama Evan atau Teo" Jawab Reyhan dan istri nya itu hanya mengangguk faham
Mereka berdua keluar dari mobil dan menghampiri Evan sebentar, tampak sang asisten lawak itu masih mengantuk
"Assalamualaikum... pagi pak Evan" Sapa Shinta
"Waalaikumsalam, pagi juga bu dan pak bos" Ucap Evan menganggukkan kepala dengan mata setengah terpejam
"Sampai jam berapa Van?" Tanya Reyhan
"Jam enam pagi pak" Jawab Evan
"Kenapa terlalu pagi?" Tanya Reyhan mengernyitkan dahi nya
"Kan pak bos yang nyuruh pagi pagi, yang nyuruh siapa eh... yang telat siapa" Cibir Evan kesal
"Kamu yang terlalu pagi" Ucap Reyhan menyalahkan sang asisten lawak
"Bapak juga lama banget kayak kucing lagi kawin" Ucap Evan, sedangkan Shinta yang mendengar hal itu jadi malu sendiri, oh ayolah... kamu kan bukan kucing Shin, jangan malu lagi oke!
"Udah makan?" Tanya Reyhan, dia juga kasihan sebenar nya, hanya masih gengsi jika mengakui nya
"Cie... bapak nih perhatian bener sama saya, cuman gengsi nya aja itu loh gede banget" Ucap Evan nyengir
Cih!
"Udah mas, katanya mau berangkat kan? udah kalian berangkat aja sekarang biar sampai lokasi gak terlalu siang" Ucap Shinta yang capek sendiri mendengar perdebatan barusan
"Iya sayang, sini dulu" Ucap Reyhan menarik tangan istri nya dan memeluk tubuh itu, dia tidak sadar kalau masih ada asisten lawak si jomblo abadi yang menyaksikan
"Hati hati ya... jangan lupa baca do'a agar Alloh selalu melindungi kalian, jaga kesehatan juga di sana" Ucap Shinta membalas erat pelukan suami nya
"Kamu juga hati hati, jangan mampir ke manapun tanpa izin dari suami" Ucap Reyhan beberpaa kali mengecup kepala yang terbalut hijab itu
"Iya..." Ucap Shinta menurut dengan mata berkaca kaca, sekuat tenaga ia menahan air mata nya, tapi usaha itu justru sia sia dan berakhir jebol juga tanggul nya
"Jangan nangis, maaf ya... " Ucap Reyhan, ternyata mudah jika ingin membuat istri nya menangis, bahkan air mata itu sudah merembes membasahi jas yang dia pakai
"Gak papa, jangan minta maaf" Ucap Shinta, dalam hati ia bertekad bahwa ini bukan salah suami nya, hanya dia saja yang entah kenapa terlalu sensitif
"Apa aku gak jadi pergi aja? mungkin masih bisa di ganti kan sama yang lain sayang" Ucap Reyhan yang membuat sang istri langsung mendongak menatap nya
"Eh... jangan, kamu udah kerja keras buat proyek ini dan jangan sampai gagal ya, sebagai istri itu harus mendukung kerja keras suami untuk menafkahi keluarga nya" Ucap Shinta mencegah
"Beneran? tapi kamu gimana sayang?" Tanya Reyhan
"Iya gak papa, di apartemen ada bibi, nanti kalau kesepian aku juga bisa ke rumah mama atau ajudan" Ucap Shinta tersenyum, dia tidak boleh bersedih di depan suami nya yang ingin mennggapai rezeki
"Yaudah, maaf ya sayang..." Ucap Reyhan menghapus air mata itu, mencium kening sang istri dalam dalam kemudian menyatukan hidung dan kening mereka
Evan hanya geleng geleng kepala dan berusaha memfokuskan pandangan nya pada titik lain
*Bisa bisa nya mereka mesra mesra an di depan jomblo ini, tolong... ada yang bawa karung gak? pengen ngumpet nih* Batin Evan berteriak, dalam hati ia merutuki bos nya yang membuat adegan mesra dan membuat jiwa jomblo nya meronta ronta
Mentang mentang mau LDR seminggu memang ada aja kelakuan nya
"Udah ya... aku pergi dulu, jaga kesehatan kamu" Ucap Reyhan tersenyum, dia hanya sedih aja tapi menahan untuk tidak keluar air mata, bisa bisa jatuh harga diri nya di depan sang asisten lawak jika hal itu terjadi
"Iya... jaga hati dan pandangan loh" Ucap Shinta terkekeh
"Tenang aja bu... nanti kalau pak bos deket sama cewek biar saya lapor sama ibuk" Sahut Evan yang mendapat balasan pelototan mata dari atasan nya
"Haha... makasih pak Evan" Ucap Shinta
"Aku berangkat ya, assalamualaikum sayang..." Ucap Reyhan merasa dia juga harus memulai perjalanan sekarang
"Waalaikumsalam mas..." Jawab Shinta
"Mari buk... saya sama suami anda ini berangkat dulu ya, takut pak bos nangis nanti kalau lama lama" Ucap Evan terkekeh
"Mari juga pak Evan" Ucap Shinta menganggukkan kepala
Dua laki laki itu kemudian berjalan menuju mobil Reyhan yang akan di gunakan untuk perjalanan mereka
"Ayo pak bos" Ajak Evan membuka pintu mobil bagian belakang dan plak... Reyhan menepuk keras pundak asisten nya
"Aduh pak... kenapa mukul saya sih?" Tanya Evan mengusap pundak nya yang kepanasan
"Duduk di depan, kamu pikir saya supir gitu?" Ucap Reyhan memberikan tatapan yang selalu menghunus itu bagi semua orang
"Lupa pak... saya kebanyakan ngelindur jadi tuan muda" Ucap Evan dengan cengiran khas nya dan beralih menuju kursi depan dan disusul dengan Reyhan, baru pertama kali ia harus menyetir untuk bawahan nya sendiri sampai kantor nanti
Tin tin
Reyhan membunyikan klakson saat mobil nya sudah mulai keluar dari pelataran rumah sakit
Shinta hanya melambaikan tangan nya dan menatap kendaraan yang semakin jauh dari pandangan nya
__ADS_1
*Ya Alloh... lindungi suami ku dan semua orang yang bersangkutan di manapun mereka berada* Batin Shinta berdo'a bukan hanya untuk suami nya saja, namun juga semua anak buah yang ikut dalam hal ini
Disisi lain, Reyhan yang baru menyetir beberapa menit justru merasakan hal yang aneh, mendadak perut nya mual dan merasa eneg sekarang
Hoek.. hoek
Evan mendengar hal itu langsung membuka mata nya dan melihat ternyata sang bos yang sedang mual dengan satu tangan menyetir dan satu lagi memegang perut nya
"Pak... anda mabuk perjalanan?" Tanya Evan terkejut, tumben sekali bos nya ini mual hanya karena naik mobil
"Seperti nya Van, hoek..." Jawab Reyhan disertai mualan nya
"Biar saya aja yang nyetir pak, minggirin dulu mobil nya" Ucap Evan, rasa mengantuk seketika hilang ketika melihat keadaan sang bos yang membuat nya cukup khawatir
Reyhan menurut, perlahan ia menepi kan mobil dan menyandarkan kepala nya di bantalan kursi
"Pak... apa sebaik nya perjalanan ini di batalkan?" Tanya Evan
"Jangan Van, masalah ini kalau di tunda justru akan merambat kemana mana" Jawab Reyhan dengan nada lemas
"Tapi kesehatan anda bagaimana?" Tanya Evan
"Saya gak papa, saya masih kuat dan jangan kabarin istri saya" Ucap Reyhan takut jika istri nya nanti malah jadu khawatir pada nya
"Tapi pak-" Ucap Evan terhenti dan di gantikan dengan pelototan mata serta ekspresi terkejut ketika melihat bos nya muntah di dalam mobil
Hoek...
"Pak... astaga mobil mahal anda yang milyaran ini jadi kotor kan" Ucap Evan
"Kamu lebih mengkhawatirkan mobil nya dari pada pemilik nya ya?" Tanya Reyhan sinis
"Bercanda pak astaga... saya hubungi Teo dulu, biar dia yang jemput kita di sini" Ucap Evan sembari keluar dari mobil karena bau muntahan itu cukup kuat juga, Reyhan hanya mengangguk saja dan memutuskan untuk duduk anteng dengan membuka jendela mobil agar angin sejuk dapat menerpa wajah nya
🌸🌸🌸
Shinta melakukan kegiatan nya seperti biasa, dari mendata dan menata obat hingga pikiran tentang suami nya cukup teralihkan
"Shin..." Panggil Sela
"Ya" Jawab Shinta menoleh
"Kamu mau keluar ruangan gak?" Tanya Sela
"Iya, habis ini mau ke kamar mandi sebentar" Jawab Shinta karena ia merasa ingin buang air kecil
"Tolong ya... nanti ambilin sesuatu di dokter Dewi" Ucap Sela
"Dokter Dewi di lantai tiga itu ya?" Tanya Shinta yang cukup tahu siapa dokter dokter di rumah sakit ini
"Iya" Jawab Sela membenarkan
"Oke, sekarang aja mumpung belum ada obat yang datang" Ucap Shinta beranjak dari duduk nya lalu keluar ruangan
Sesuai titipan, selepas dari kamar mandi Shinta langsung menuju lantai tiga dan mencari ruangan dokter Dewi di sana
"Ini kan ruangan nya?" Gumam Shinta berdiri di sebuah ruangan bernuansa putih untuk tempat pribadi dokter disini
Tok tok tok
"Masuk" Terdengar suara sahutan dari dalan setelah Shinta mengetuk pintu
"Permisi dok... maaf mengganggu waktu nya" Ucap Shinta masuk ke dalam ruangan itu
"Ah... tidak apa apa, mau periksa kehamilan ya? jam saya praktek di mulai setengah jam lagi, tapi kalau urgent sekarang juga bisa" Tanya dokter Dewi yang memang berprofesi sebagai dokter kandungan
"Eh... tidak dok, saya Shinta yang mau mengambil barang milik Sela" Jawab Shinta meskipun cukup tekejut karena dokter itu mengira dia hamil
"Oh... barang milik Sela, sebentar ya" Ucap dokter Dewi mengambil sebuah kotak dari laci nya
"Ini" Ucap dokter Dewi memberikan kotak itu
"Iya dok, terimakasih..." Ucap Shinta kemudian langkah nya ingin beranjak
"Tunggu" Cegah dokter Dewi
"Ada apa dok?" Tanya Shinta heran
"Kamu benar tidak hamil?" Tanya dokter Dewi dan yang di tanya pun menggelengkan kepala, Shinta benar benar menganggap diri nya belum hamil
"Tapi dari badan kamu kelihatan kalau lagi isi" Ucap dokter Dewi membuat kening itu berkerut
"Masa sih dok? tapi saya baru menikah dan hampir tiga bulan" Ucap Shinta tidak percaya
"Kapan terkahir kali mendapat tamu bulanan?" Tanya dokter Dewi
"Ah... itu satu, du-" Ucap Shinta terhenti, dia baru ingat kalau sudah hampir dua bulan ia tidak mendapat tamu bulanan sama sekali
"Nah... telat kan?" Tebak dokter Dewi
"Mungkin karena hormon saya aja dok, biasanya kan wanita selalu berubah ubah" Ucap Shinta berusaha santai
"Iya, hormon kehamilan, kelihatan dari dada kamu yang lebih kencang" Jawab dokter Dewi
*Aku kan udah menikah, wajar dong kalau berubah bentuk kan udah ada suami nya* Batin Shinta, tapi ia terkejut ketika dokter Dewi menggenggam tangan nya dan memberikan suatu benda
"Coba pakai tespack ini, kebetulan masih pagi dan itu waktu yang baik, jangan sampai kandungan kamu kenapa napa karena telat mengetahui nya" Ucap dokter Dewi tersenyum, dia benar benar yakin kalau apoteker yang satu ini pasti sedang hamil
"I-iya dok, kalau begitu saya permisi" Ucap Shinta segera keluar dari ruangan dokter itu dengan pikiran yang menerawang pembicaraan tadi
Saat ingin menuruni tangga, Shinta benar benar bimbang sekarang, ia harus mencoba atau menganggap tadi hanya omongan belaka saja?
*Apa aku coba aja ya?* Batin Shinta meletakkan kotak milik Sela di saku jas nya kemudian kembali ke kamar mandi untuk mencoba benda kecil itu, ia hanya takut saja jika dia hamil dan telat mengetahui nya yang justru buruk untuk kesehatan kandungan
Ia masuk ke kamar mandi dan melakukan apa yang di tuliskan dalam petunjuk penggunaan
*Maaf kalau hasil nya gak sesuai sama harapan kamu mas* Batin Shinta setelah selesai dan membungkus benda kecil itu dengan tisu, ia masih berdiam diri di kamar mandi dan menunggu hasil nya
Beberapa menit kemudian, seperti nya waktu tadi sudah cukup untuk menentukan hasil nya
Jantung Shinta berdetak lebih cepat dan tidak karuan ketika perlahan ia harus membuka tisu itu
"Bismillah... positif thinking Shinta" Gumam nya memejamkan mata dan mengintip hasil itu secara perlahan
Deg! mata nya membulat sempurna saat tespack itu dengan jelas menunjukkan hasil di depan nya sendiri
"Ya Alloh... ini beneran kan? aku gak mimpi kan?" Gumam nya bertanya tanya seraya air mata yang mulai mengalir, tespack itu ada dua dan menunjukkan hasil yang sama
Beberapa kali Shinta mengucek mata nya, berharap ini hari yang nyata dan bukan hanya sekedar mimpi belaka, ketika sadar kalau ini memang bukan mimpi, ucapan syukur dan hamdalah selalu menghiasi bibir mungil itu
*Kamu pergi di waktu yang kurang tepat mas* Batin Shinta menatap ke bawah tepat di perut nya sendiri.
Bersambung
panjang banget ini... sebagai ganti karena kemarin tidak up ya!
__ADS_1