
Setelah akad selesai dan kedua orang yang telah di persatukan, hanya tinggal makam bersama, obrolan dan perbincangan hangat antar keluarga
Tak jarang mereka saling melempar godaan untuk pengantin baru yang malu malu itu termasuk Shinta, wajah nya sudah lelah karena menujukkan semburat merah yang terlalu banyak
*Pengen kabur trus cuci muka* Batin Shinta karena dia memang tidak nyaman apabila memakai riasan terlalu lama
Seakan dapat membaca hati nya, semua orang tua memutuskan untuk langsung kembali ke Surabaya saja, termasuk orang tua Shinta yang akan berangkat kesana sekarang, padahal acara nya akan di selenggarakan besok
Melihat hal itu Reyhan tersenyum puas, ya seperti nya orang tua mereka faham jika dia memerlukan waktu untuk berdua saja, tapi... senyum nya sirna ketika mendapati tidak semua nya ke Surabaya, masih ada dua adik nya Shinta, kemudian Rendra, Jannah, dan Laila yang bersantai di ruang tamu
"Waalaikumsalam..." Jawab semua nya ketika mobil orang tua mereka melaju ke Surabaya
"Kakak pulang dulu" Pamit Harun karena dia sedari kecil tinggal bersama bibi yang rumah nya pun bersebelahan dengan rumah orang tua Shinta, dulu Harun ikut bibi nya karena sang bibi tidak bisa memiliki anak
"Iya, hati hati" Jawab Shinta setelah mengecup kening bocah yang sudah tertidur pulas di gendongan kakak ipar nya
"Abang istirahat dulu ya, capek" Ucap Egi seraya menggandeng sang istri ke kamar milik nya yang ada di rumah orang tua nya
"Aku ke kamar dulu, mau cuci muka" Ucap Shinta berjalan begitu saja meninggalkan semua orang yang masih ada di ruang tamu
"Gak lo kejar Rey?" Tanya Rendra dengan memegang kulit kacang di tangan nya
"Lo gak denger? dia mau cuci muka!" Ucap Reyhan
"Itu kode loh Rey, masa lo gak mau?" Goda Rendra dan... bugh, bantal sofa pun melayang begitu saja di wajah tampan nya
"Ampun lo habis nikah malah tambah galak" Kesal Rendra namun tetap di sertai tawa nya
"Makanya nikahin Jannah, biar lo tau rasa nya!" Ucap Reyhan
"Tau, nikahin sana... nanti direbut orang nangis" Ejek Laila
"Lha ketimbang kamu, jomblo teros..." Cibir Rendra balik
"Itu tanda jodoh ku kenceng banget do'a nya, makanya gak ada yang ngedeketin aku" Ucap Laila membela diri nya
"Lah... mana ada hubungan nya kak?" Tanya Wildan heran
"Hust... bocah gak boleh ikut ikut" Ucap Laila yang membuat Wildan memajukan bibir nya lima centi meter
"Bocah bocah gini punya pacar, gak jomblo kayak kak Laila" Ejek Wildan kemudian berlari ke kamar kakak nya untuk menghindari amukan Laila
"Heh... bocah" Teriak Laila dengan bola mata yang membesar
"Udah la... emang kenyataan nya kan lo jomblo" Ucap Jannah terkekeh
Ajudan hanya diam tanpa ekspresi, kemudian berdiri dan menyusul adik nya yang pergi ke kamar Shinta barusan
Disisi lain, Shinta yang sudah mandi dan mengganti pakaian nya dengan pakaian sopan tertutup tak lupa hijab yang menutupi kepala nya karena masih ada laki laki bukan mahrom di rumah nya, ia duduk di depan cermin berniat menghapus sisa sisa make up yang membandel
Tok tok tok...
"Mbak, aku boleh masuk?" Tanya Wildan di depan pintu kamar yang tertutup
"Masuk aja" Jawab Shinta dari dalam, Wildan yang mendengar sahutan kakak nya pun langsung masuk tanpa menutup pintu kembali, ia duduk di pinggiran kasur kakak nya
"Aku mau ngobrol penting mbak" Shinta yang mendengar ucapan adik nya pun bergegas meletakkan alat pembersih dan duduk di samping adik nya
"Mau ngobrol apa?" Tanya Shinta lembut, Wildan langsung menjatuhkan kepala nya di bahu sang kakak seraya buliran bening menjatuhi pipi nya begitu saja dan membasahi bahu Shinta
"Hei...kok nangis? kenapa? hmm?" Tanya Shinta lembut, belum sempat Wildan menjawab, ajudan lebih dulu menyusul masuk ke kamar Shinta
"Ngapain lo nangis? dasar cengeng" Ejek ajudan yang sedari dulu memang tegas dengan adik nya
"Apa sih? ikut campur aja, sana sana keluar" Ucap Wildan mengusap air mata nya dan mengusir ajudan keluar, namun tetap kakak laki laki nya itu justru berdiri diam di tempat
"Kamu diam dulu kenapa sih? ingat umur kamu udah dewasa, jangan bikin adik nya malah tambah marah" Ucap Shinta menggeleng kepala karena dua adik nya ini memang suka sekali bertengkar, yang satu sifat nya gampang melow dan satu nya lagi bersifat tegas
"Mbak gak akan lupain aku kan nanti?" Tanya Wildan membuat Shinta mengerutkan alis nya
"Ya enggak lah, kamu kira mbak itu apa sampai lupa sama kamu?" Jawab Shinta dengan menggelengkan kepala nya
"Ya kan siapa tau aja mbak lupa karena kita kan lima bersaudara" Ucap Wildan mengerucutkan bibir nya
"Gak akan, trus yang bikin kamu nangis itu apa? mbak yakin bukan ini penyebab nya" Tanya Shinta yang sangat mengenal adik nya meskipun mereka tinggal bersama tidak terlalu lama
"Aku... aku kan bentar lagi mau masuk akademi militer" Ucap Wildan bercerita dengan memberikan jeda
"Terus?" Tanya Shinta meminta penjelasan lebih lanjut
"Mbak tau lah kalau aku punya pacar, dia bilang kalau aku masuk akademi militer dia gak setuju mbak, dia gak ngedukung cita cita aku" Ucap Wildan membuat Shinta mengerti sekarang, sedangkan ajudan hanya menggelengkan kepala nya
"Kamu bingung gitu mau milih yang mana?" Tanya Shinta dibalas anggukan kepala oleh adik nya
"Gini loh wil, itu cewek lo sekarang jadi apa?" Tanya ajudan yang tiba tiba menyahuti
"Dia sekolah pramugari" Jawab Wildan
"Trus lo ngedukung?" Tanya ajudan
"Ya iyalah, masa cita cita pacar sendiri gak ngedukung, sama aja aku gak ngertiin dia dong" Jawab ajudan ketus
"Nah, kalau lo aja peduli trus kenapa dia gak peduli? dan kalau dia gak peduli sama cita cita lo, trus ngapain di pertahanin?" Ucap ajudan membalik jawaban Wildan yang memang benar jika dipikirkan
"Lo liat deh mbak kita, apa pernah dia mikirin pacar? apa pernah mbak deketin cowok? enggak kan? mbak lebih milih karir buat ngebantu biaya adik adik nya, dia lebih milih sukses dulu, masa lo yang laki laki gak mau gapai cita cita dulu baru nikah? kalah lo sama mbak kita... emang lo mau nanti bernasib sama kayak ayah?" Ucap ajudan mengingat sang ayah yang belum mapan ketika menikah, mendengar ceramah tujuh turunan pun membuat Wildan menggelengkan kepala nya
"Tapi mbak gak bisa gapai cita cita nya, mbak gak bisa wujudin mimpi jadi dokter" Ucap Wildan membuat Shinta mengernyitkan dahi nya
__ADS_1
"Dan itu karena keegoisan orang tua kita" Sahut ajudan yang langsung membuat Shinta menatap nya tajam
"Adib! udahlah jangan di ungkit lagi" Ucap Shinta kemudian ia beralih menatap Wildan dan berkata
"Udah, kamu harus bisa menentukan apa yang terbaik buat diri kamu sendiri, dan kamu masih ingat nasihat bunda yang selalu di ucapkan sama anak anak nya? bunda berharap kalau setidak nya putra mereka mapan dulu sebelum berkeluarga"
"Iya mbak, aku ingat" Jawab Wildan menganggukkan kepala nya, sang bunda memberi petuah itu karena tidak mau kalau anak laki laki nya nanti sampai menelantarkan anak dan istri karena belum mapan
"Sekarang kamu ke kamar, renungi semua nya" Ucap Shinta diangguki adik nya
"Dan kamu, wajar kalau Wildan bersikap gitu... dia masih remaja, labil sama kayak kamu dulu" Ucap Shinta pada ajudan
Setelah kedua adik nya keluar, Shinta langsung memijat pelipis nya karena pusing sang adik belum terlalu bisa mengontrol emosi nya
*Cita cita? impian jadi dokter?* Batin Reyhan yang mendengar semua percakapan tiga saudara itu, hanya saja tadi ketika adik ipar nya keluar dia langsung bersembunyi di ruang tamu
Reyhan kemudian masuk kamar tanpa permisi membuat sang pemilik langsung berdiri karena kaget
"Eh kak, mau mandi?" Tanya Shinta karena hari sudah menjelang sore
"Baru manggil mas, kenapa sekarang kakak lagi?" Tanya Reyhan mengerutkan dahi nya
"Iya maaf, kebiasaan" Jawab Shinta dengan senyum menunjukkan barisan gigi nya yang rapi dan membuat Reyhan langsung menarik hidung pesek itu
"Aduh... sakit, KDRT ini namanya" Ucap Shinta cemberut dengan hidung yang sudah terlihat merah bak stroberi
"Gak papa, biar manis kayak stroberi" Ucap Reyhan terkekeh
"Stroberi itu asem" Sanggah Shinta, dia kemudian menunjuk kamar mandi agar Reyhan dapat segera membasuh tubuh nya
"Gak mandi bareng?" Goda Reyhan sebelum ia menutup kamar mandi
"Gak, aku gak mau mandi dua kali" Jawab Shinta
Ia kemudian membuka koper Reyhan yang ada di kamar nya karena dia harus menjalani peran baru sebagai seorang istri, setelah mengambil pakaian suami nya, baju itu ia taruh di kasur agar Reyhan dapat mengambil nya dengan mudah
Setelah selesai dengan urusan nya, Shinta kembali ke ruang tamu karena masih ada sahabat setia yang menunggu nya
"Lama bener lo ngapain aja?" Tanya Jannah dengan memainkan ponsel nya
"Dih... kayak gak tau aja lo" Ucap Laila menoyor lengan Jannah
"Jangan piktor ya kalian bertiga!" Ucap Shinta mewanti wanti
"Loh loh... kok aku ikut ikutan?" Tanya Rendra menunjuk diri nya sendiri
"Sahabat nya kak Rey, pasti gak beda jauh sama kak Rey" Ucap Shinta yang langsung membuat Rendra tertawa terbahak bahak
"Dari ketampanan aja sebelas dua belas sama Reyhan" Ucap Rendra
"Enak aja, gantengan calon papa mertua ku lah" Sahut Laila yang berniat bercanda saja
"Rumah kamu deket sini?" Tanya Rendra
"Iya, beda desa aja" Jawab Jannah
"Gak papa, nanti habis sholat ashar biar gue sama kak Rey yang nganter" Ucap Shinta
"Aku ikut ya" Ucap Rendra meminta izin
"Mau ngapain?" Tanya Jannah heran
"Disana ada nenek kamu kan? aku mau bersilaturrahmi aja" Jawab Rendra
"Bilang aja mau minta restu, gitu aja kok susah" Sahut Laila
"Ya itu niat terselubung, tapi gak jadi terselubung karena udah ketahuan" Ucap Rendra terkekeh
"Ya berarti nanti kita berlima kesana, sekalian aku juga udah lama gak ketemu sama nenek nya Jannah" Ucap Shinta mengijinkan
"Iya, gue juga" Sahut Laila
"Kalau gitu nanti malam gue sama Laila tidur di rumah gue aja" Ucap Jannah yang diangguki Laila, mereka tidak ingin mengganggu sahabat nya yang tengah ingin berduaan
"Trus aku gimana?" Tanya Rendra kebingungan
"Duit banyak kan? hotel disini juga banyak kok" Ucap Laila enteng
"Tidur disini mau? kamar tamu kosong" Ucap Shinta menawari karena bi Asti beserta anak dan suami nya juga ikut ke Surabaya, Shinta memang sengaja agar keluarga kecil mereka bisa liburan sejenak tanpa melayani nya
"Boleh deh" Jawab Rendra
"Berarti besok lo berangkat ke Surabaya sama siapa?" Tanya Jannah
"Adik sama abang gue disini semua, besok gue berangkat sama kak Rey bareng mereka" Jawab Shinta yang diangguki Jannah
"Gue ke kamar dulu, siapa tau kak Rey butuh sesuatu" Ucap Shinta melenggang ke kamar nya, namun saat ia membuka pintu justru Reyhan masih belum selesai mengancingkan baju yang sudah dia siapkan tadi
"Eh... kamu selesai in dulu, aku kelu-" Ucap Shinta terhenti karena Reyhan menarik tangan nya dan menutup pintu kamar
*Lah... kenapa pintu nya di kunci?* Batin Shinta bertanya tanya ketika mendengar bunyi kunci pintu diputar oleh tangan Reyhan
"Kenapa? butuh bantuan?" Tanya Shinta yang berusaha bersikap biasa saja, padahal jantung nya sedang lompat tali karena baru kali ini ia berdekatan posisi dengan seorang laki laki, berduaan di kamar pula, alamak... meskipun udah sah juga tetep aja jedag jedug hati nya
"Enggak" Jawab Reyhan dengan tangan satu mengancing baju nya sampai selesai dan satu tangan lagi masih memegang tangan istri nya
"Boleh aku melepas ini?" Tanya Reyhan meminta izin dengan menunjuk hijab instan yang Shinta kenakan, istri nya mengangguk karena dia sadar kalau dia sudah menjadi milik Reyhan seutuh nya, walaupun merasa malu sih
__ADS_1
Reyhan perlahan melepas hijab itu dan meletakkan di atas tempat tidur, kemudian tampaklah rambut Shinta yang hitam legam, panjang se punggung dan tipis
Ini lah pertama kali Reyhan melihat Shinta tanpa mengenakan hijab nya, dan hanya satu kata yang terucap dari bibir itu
"cantik"
"Boleh aku peluk kamu?" Lagi lagi Reyhan meminta izin, jujur Shinta juga mengijinkan hal itu namun bibir mungil nya kalu untuk berbicara, jadi hanya anggukan saja yang dia berikan
Reyhan membawa Shinta ke dalam dekapan nya, rasanya hangat, nyaman dan lega menjadi satu, tidak ada rasa takut untuk bersentuhan hingga membuat Reyhan semakin mempererat dekapan nya, ia menghirup dan mengecup berkali kali rambut istri nya
*Jantungku... jangan lompat dong, kan yang peluk suami kamu sendiri* Batin Shinta merasa degupan jantung nya sangat cepat,perlahan tangan nya terulur untuk membalas pelukan dari tubuh kokoh yang mendekap nya dan melingkarkan tangan milik nya di pinggang Reyhan walaupun tidak terlalu erat
Hal yang Shinta rasakan juga sama dengan Reyhan, hangat dan nyaman... mereka memejamkan mata, membiarkan waktu berpihak sejenak pada mereka berdua
"Kamu gak ingin mengejar impian mu?" Tanya Reyhan
"Impian apa?" Tanya Shinta mengerutkan keningnya dan tetap dengan posisi berpelukan seperti semula
"Dokter" Jawab Reyhan
"Kamu dengar pembicaraan ku tadi?" Tanya Shinta terkejut dengan berusaha melepaskan pelukan mereka, namun Reyhan sang suami justru mendekap nya semakin kuat
"Aku akan mendukungmu kalau kamu benar benar menginginkan nya" Ucap Reyhan
"Aku... aku tidak menginginkan nya lagi" Ucap Shinta menggelengkan kepala nya
"Kenapa? bukankah itu memang impianmu?" Tanya Reyhan lembut dengan terus membelai rambut istri nya
"Itu bukan impianku lagi" Jawab Shinta
"Beri aku alasan yang memang benar benar menghalangimu untuk menjadi dokter" Ucap Reyhan
Huft...Shinta menghela nafas dalam dalam sebelum mengatakan nya
"A-aku takut dengan darah" Jawab Shinta yang ganti membuat Reyhan terkejut karena baru tau, ia kemudian mengendurkan pelukan nya sedikit dan menatap wajah istri nya
"Sejak kapan?" Tanya Reyhan
"Sejak aku berusia lima belas tahun" Jawab Shinta yang mulai mengeluarkan mutiara, eh... air mata karena mengingat peristiwa saat dia masih berusia lima belas tahun
"Tapi kamu kerja di rumah sakit" Ucap Reyhan bingung dengan mengusap air mata itu
"Karena aku mengambil jurusan farmasi obat obatan, tidak ada hubungan nya dengan darah" Ucap Shinta menjelaskan
"Bisa kamu jelaskan kenapa kamu takut dengan darah? tapi kalau kamu gak siap juga gak papa" Tanya Reyhan tetap dengan nada lembut
"Aku mau ngejelasin, tapi nanti... kita harus sholat ashar dulu trus nganterin mereka" Ucap Shinta
"Kemana?" Tanya Reyhan
"Ke rumah nya Jannah, dekat dari sini" Jawab Shinta dan Reyhan menganggukkan kepala nya sebagai jawaban
Tanpa aba aba, Reyhan kemudian mendekat dan menempelkan bibir nya pada bibir tipis istrinya yang membuat Shinta membelalakkan mata nya karena terkejut
Deg... *Ya Alloh jantungku* Batin Shinta tetap diam dengan mata melebar, di masih terpaku dan belum berniat membalas Reyhan
Beberapa detik terus seperti itu, Reyhan kemudian menyudahi ciuman nya dan menatap lekat manik mata istri nya
"Asin" Ucap Reyhan membuat Shinta tersadar dari lamunan nya
"Apanya yang asin?" Tanya Shinta dengan wajah yang memerah karena perbuatan suami nya barusan
"First kiss nya" Jawab Reyhan terkekeh
Plak... Shinta refleks memukul pelan lengan Reyhan
"Salah sendiri main sosor aja" Ucap Shinta kesal dengan memajukan bibir nya, dia tau kenapa tadi asin karena bibir nya lebih dulu basah akibat terkena air mata
"Maaf, kan udah sah jadi bebas dong" Ucap Reyhan dengan mengusap bibir tipis Shinta kemudian kembali mendekat kan wajah nya
"Pejamkan mata" Perintah Reyhan
"Buat?" Tanya Shinta yang masih berdegup kencang karena jarak nya dengan Reyhan hanya beberapa inci saja
"Nurut sama suami" Ucap Reyhan yang membuat Shinta mau tak mau harus memejamkan mata nya
Begitu memejamkan mata nya, Shinta merasa ada benda kenyal yang menempel pada bibir tipis milik nya, dia tidak menolak, rasanya seperti... ah entahlah author tidak bisa menjelaskan karena tidak tau:v
Reyhan yang awal nya hanya mencium kini mencoba untuk menyelam lebih dalam lagi, meskipun Shinta belum membalas nya dan lebih memilih diam karena jujur Shinta juga tidak tau dia harus bagaimana
Setelah dirasa kehabisan nafas karena Shinta menepuk pundak nya, Reyhan pun melepas ciuman itu dengan nafas kedua nya yang tersenggal, bibir yang sama sama basah dan memeluk satu sama lain
"Pertama kali?" Tanya Reyhan, Shinta mengangguk sebagai jawaban, meskipun Shinta tidak membalas ciuman nya, namun Reyhan justru senang karena dia yang pertama kali menyentuh bibir istri nya
Shinta masih memeluk Reyhan karena dia sangat malu dengan apa yang mereka lakukan barusan, meski sudah sah kalau yang namanya pertama kali juga pasti malu kan? dan dia lebih memilih menyembunyikan wajah nya yang sudah seperti kepiting rebus
"Lihat aku" Ucap Reyhan melepaskan pelukan mereka hingga dia dapat melihat dengan jelas semburat merah yang ada di wajah istri nya
"Kok merah? kamu alergi?" Tanya Reyhan yang sengaja menggoda istri nya
"Au ah gelap" Jawab Shinta menoleh ke samping untuk menghindari tatapan suami nya
"Lihat aku" Ucap Reyhan memegang dagu itu hingga wajah Shinta kembali menatap nya, dan disaat Reyhan mendekatkan wajah nya karena ingin mengulagi kejadian tadi
Tok tok tok...
"Rey, adzan woy... ayo sholat dulu" Ajak Rendra yang berada di balik pintu
__ADS_1
Shinta tersenyum penuh kemenangan dengan menjulurkan lidah nya, kemudian berlalu dari hadapan Reyhan untuk mengambil peralatan sholat mereka
Bersambung