Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
78.Siapa?


__ADS_3

setelah mengirim pesan dan mendapat balasan dari seseorang, ia kemudian masuk ke kamar dan berbaring di sebelah sisil


*ayo shinta...pejamkan matamu! kau sudah berjanji untuk tidak akan menggunakan obat tidur lagi kan* batin nya berusaha memejamkan mata


ia kemudian mematikan semua lampu di dalam kamar, menyalakan proyektor bintang, dan memutar lagu relaksasi, itu trik yang biasa ia pakai saat hati nya tidak tenang dan tidak bisa tidur


~


pagi pun datang, seperti biasa bahwa mereka akan menunggu bi asti datang, dan baru berangkat kerja


karena SIM dan semua tanda pengenal sudah ia jadikan jaminan, alhasil sekarang jannah lah yang harus menyetir setiap hari


"kenapa lo serahin semua tanda pengenal lo?" tanya jannah dengan pandangan fokus ke depan


"karena gue kebawa emosi, yaudah gue serahin aja semuanya" jawab shinta enteng dengan pandangan yang masih keluar jendela


"kalau hilang?" tanya jannah


"toh kalau hilang ya tinggal bikin lagi" jawab nya yang lagi lagi membuat jannah heran karena nada enteng dari shinta


*awas aja nanti aku bakalan marahin pak rey* batin jannah


"jangan bilang kasus ini ke siapapun ya.. karena bisa aja pelaku nya memang salah satu rekan kita" ucap shinta mewanti wanti


"lo tenang aja, gue yakin lo bisa ngatasi masalah kecil ini" ucap jannah terkekeh


"kecil kecil cabe rawit, bikin gue pusing" ucap shinta menggelengkan kepala nya


~


setelah perjalanan beberapa menit, mereka sampai di rumah sakit bertepatan dengan reyhan yang juga sedang memarkirkan mobil nya


sebenarnya shinta juga jannah melihat adanya reyhan disana, namun mereka lebih memilih untuk diam, terutama shinta yang menunjukkan muka dingin nya hari ini


*kamu gak nyamperin aku kan? itu artinya kamu memang gak percaya sama aku* batin shinta saat melihat reyhan hanya diam saja


sadar jika telah membuang waktu, ia kemudian memasuki rumah sakit dengan disusul janah di belakang nya


reyhan yang melihat hal itu sebenernya juga sakit hati karena melihat wajah dingin yang muncul karena perbuatan nya sendiri


tadi ia ingin menemui shinta untuk menjelaskan sesuatu, namun melihat kedatangan seseorang, hal itu pun di urungkan karena takut orang itu akan curiga


"maaf" hanya satu kata gumaman yang keluar dari mulut reyhan


~


"pagi" sapa jannah yang baru masuk ruangan dengan shinta


"pagi" jawab semua orang


*tumben?* batin shinta heran saat melihat dara yang tersenyum lebar ke arah nya


tapi dia lebih memilih tidak peduli dan mulai fokus dengan kerjaan yang harus dia lakukan lebih teliti agar tidak terjadi kasus seperti kemarin lagi


yang kemarin aja belum selesai, apalagi kalau muncul masalah lagi? auto pusing tujuh keliling dong


"shin, gimana?" tanya sela lirih yang hanya dijawab gelengan kepala oleh shinta


semua pun fokus dengan pekerjaan masing masing, namun sesekali shinta juga memandangi rekan kerja nya satu persatu hingga jam makan siang pun mendatangi mereka


"ehh mau kemana?" tanya shinta saat semua orang sudah keluar dan jannah juga ikut keluar


"keluar bentar" jawab jannah


"kok gak ngajak gue?" tanya shinta

__ADS_1


"kalau gue ngajak juga pasti lo gak akan mau kan? gue udah hafal kebiasaan lo" tanya jannah balik


"ya setidaknya basa basi kek" ucap shinta


"gue basa basi juga palingan lo jawab hamm hemm hamm hemm kan?" ucap jannah yang mennah ada benarnya


"hmm" jawab shinta


"nah kan..gue bilang juga apa, udah gue keluar dulu ya.. mau nitip?" tanya jannah yang dijawab gelengan oleh shinta


sebenarnya jannah bukan ingin makan siang, namun ingin bertemu dengan rendra di taman rooftop rumah sakit


"lama banget" gumam jannah yang duduk di sana


"hai.. " ucap rendra yang datang dengan tersenyum lebar dan melambangkan tangan nya, namun berbeda dengan jannah yang sudah siap dengan tanduk nya


"kenapa? kangen ya?" goda rendra saat dia sudah berdiri di depan jannah


"kangen? kangen kamu bilang?" tanya jannah memastikan


"iya dong" jawab rendra


"gimana bisa aku kangen kalau sahabat aku lagi kena masalah kayak gitu?" ucap jannah dengan nada tegas nya


"ya aku tau, tapi- " ucap rendra belum selesai


"tapi apa? lagian temen kamu itu kok bisa sih nuduh shinta di depan banyak orang? ha?" tanya jannah kesal


"tapi udah ada buktinya jan" ucap rendra


"ya meskipun ada bukti, seharusnya dia tanya dulu.. konfirmasi dulu ke shinta secara pribadi, jangan kayak kemarin yang langsung nanya di depan banyak orang" ucap jannah mengeluarkan kekesalan nya


"lagian ya.. dia itu pernah bilang kalau dia percaya sama shinta bahkan kalau shinta gak punya bukti, tapi apa? buktinya dia tetap ingkar dengan ucapannya sendiri, apa dia gak tau? kalau dengan dia bersikap kayak gitu sama aja dengan dia nyakiti shinta" sambung jannah


"dan.. kalau pak rey menang pintar, harusnya dia cari dulu kebenaran nya karena bisa aja ini jebakan untuk shinta, tapi... ah udahlah, pak rey nya juga udah gak peduli kan? emang ya.. semua laki laki tuh sama aja" sambung nya


"ck, gara gara reyhan doang ini" ucap rendra kesal sambil mengacak kasar rambut nya


"gue?" ucap reyhan yang tiba tiba sudah berdiri di belakang rendra


"iya, ini semua gara gara lo" ucap rendra yang sudah membalikkan badannya menghadap reyhan


"gara gara lo jannah jadi marah sama gue kan... lagian lo kok gak ngejelasin apa rencana lo ke shinta sih?" tanya rendra yang sudah tau rencana reyhan kemarin setelah diberi tahu, dan sebenarnya tadi dia juga ingin menjelaskan rencana reyhan ke jannah, namun jannah nya keduluan nyerocos tanpa henti... alhasil dia hanya diam dan mendengarkan semua omelan nya


"mau jelasin gimana orang dia gak mau ketemu sama gue" ucap reyhan mengingat kemarin dia yang pergi ke rumah shinta


"gue aja males ketemu sama lo sebelum tau rencana lo, apalalgi shinta yang tersangkut di depan semua orang? pastinya dia lebih ogah ketemu sama lo" ucap rendra yang memang ada benarnya juga


"nanti gue bakal jelasin ke dia" ucap reyhan


"kenapa gak sekarang aja sih?" tanya rendra


"situasinya gak memungkinkan" jawab reyhan kemudian berlalu dari hadapan rendra


sedangkan di lain tempat, ada jannah yang makan siang dengan rasa kesal hari ini


sebenarnya tadi jannah berniat memarahi reyhan, namun mengingat wajah garang reyhan dan mengingat kalau reyhan itu juga atasannya, misi memarahi reyhan pun ia urungkan dan lebih memilih melampiaskan amarah nya pada rendra, nanti juga pasti rendra sampaikan ke reyhan, itu pikir nya


tapi jika jannah beranggapan kalau reyhan tidak tau bahwa dia sedang memaki nya, berkebalikan dengan reyhan yang sudah mendengar omelan jannah pada rendra ketika reyhan ada di taman rooftop tadi, jadi misi memarahi reyhan pun sebenarnya juga berhasil tanpa sepengetahuan jannah


jam selesai kerja adalah hal yang ditunggu semua orang dewasa, termasuk shinta juga jannah


mereka memutuskan untuk langsung pulang karena ada beberapa hal yang harus shinta periksa


"baru pulang non?" tanya bi asti saat membuka pintu rumah

__ADS_1


"iya bu" jawab mereka kompak sambil masuk ke rumah


"lo kenapa sih?" tanya jannah yang melihat shinta buru buru naik ke atas


untung nya sisil masih tidur, jadi dia tidak perlu merasa bersalah karena telah mengabaikan anak kecil


"mau pipis" jawab shinta yang hanya alasan saja


sesampainya di kamar, dia buru buru membuka laptop dan memeriksa email yang masuk


πŸ“§ : "maaf, sepertinya cctv di ruangan itu sudah dirusak, kami tidak dapat meretas nya"


isi pesan email itu membuat shinta merasa aneh seketika


"kalau dia bisa merusak cctv dengan mudah tanpa dicurigai, itu artinya pelaku memang orang yang sudah terpercaya di rumah sakit? tapi siapa?" gumam shinta


"ayo shinta.. pikirkan cara lain lagi" gumam shinta sambil mengetuk ngetuk dahi nya dengan tangan


"shin.. bi asti pamit mau pulang" ucap jannah yang berdiri di depan kamar shinta


"iya bentar" ucap shinta yang turun dari kasur, dan keluar dari kamar


~


makan malam pun tiba, tetap seperti biasanya dengan sisil yang semangat ketika makan malam


"lo diet?" tanya jannah saat melihat shinta hanya mengaduk makanan nya


"gue keatas dulu, sisil makan yang bener ya.. "ucap shinta yang diangguki bocah kecil itu, sedangkan jannah yang melihat nya hanya menggelengkan kepala


sedangkan shinta pergi ke balkon kamar nya ntuk menghubungi seseorang


" kang bihun kan ahli IT" gumam shinta mencari nomor bian di ponsel nya, kemarin memang bian sempat mengirim pesan kepada nya


πŸ“ž: "assalamu'alaikum kang bihun" ucap shinta


πŸ“ž: waalaikumsalam, kenapa zef? kangen sama gue ya?


πŸ“ž: "iya, kangen bantuan lo" jawab shinta terkekeh


πŸ“ž: lo ada masalah apa?


πŸ“ž: "penjelasan masalah udah gue kirim ke email, tapi apa lo bisa perbaiki cctv lewat jarak jauh?" tanya shinta


πŸ“ž: bisa aja sih, ini gue buka email dari lo


πŸ“ž: "oke" jawab shinta


setelah bian membaca email dari shinta, bian mulai membuka kembali percakapan


πŸ“ž: kok bisa lo kesandung masalah ini zef?


πŸ“ž: "ntahlah.. ada yang gak suka kali sama gue" jawab shinta asal


πŸ“ž: kenapa gak pakai tim white blood aja?


πŸ“ž: "jangan lah.. mereka juga ada kerjaan, nanti aja kalau lo gak bisa, baru pakai tim white blood" ucap shinta


πŸ“ž: ishh kan mereka digaji besar juga buat dikasih kerjaan zef


πŸ“ž: "ya gue tau, tapi kalau nyangkutin white blood itu nanti aja" ucap shinta


πŸ“ž: yaudah, gue coba dulu.. nanti kalau masalah ini membesar, kita pakai tim white blood dan lo gak boleh nolak!


πŸ“ž: "iya..kalau gitu gue matiin dulu telfon nya, assalamu'alaikum" ucap shinta

__ADS_1


πŸ“ž: waalaikumsalam zef


bersambung


__ADS_2