Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
76.Mengabaikan


__ADS_3

bingung? jelas sekarang bingung adalah hal yang shinta rasakan saat ini, ia benar benar merasa tidak tahu apapun tentang obat itu, tapi yang jadi pertanyaan, bagaimana bisa di laporan itu tertera nama nya yang menunjukkan kalau dia yang membuat laporan itu


"kamu gak papa kan?" tanya sela yang memang sudah tahu tentang kasus ini sejak awal


"aku gak papa" jawab shinta menggelengkan kepala nya


"hiks, gue jadi supir dadakan" ucap jannah yang berusaha mengubah suasana mellow saat ini


"gak papa, sekali sekali" ucap sela yang baru menyadari kalau dia dan shinta duduk di bangku belakang, sedangkan jannah yang memegang kemudi


"dua kali dong nama nya" ucap jannah


"pahala jan" ucap sela terkekeh


cara jannah mengubah suasana ternyata tidak berhasil karena sedari tadi shinta hanya diam dengan alis mengerut, menandakan dia sedang memikirkan sesuatu


begitulah shinta, tidak mudah untuk mengalihkan perhatian nya


"gue bingung banget" gumam shinta menggigit salah satu jari tangan nya


setelah beberapa menit perjalanan, mereka bertiga sampai di rumah shinta yang langsung di sambut dengan pak didi


"udah pulang non?" tanya pak didi saat membuka gerbang rumah


"udah pak" jawab jannah tersenyum sambil menganggukkan kepala


selesai memasukkan mobil ke garasi, mereka bertiga buru buru masuk ke rumah karena ada beberapa hal yang perlu shinta bicarakan mengenai tadi


"assalamu'alaikum" ucap jannah dan sela saat membuka pintu ruang tamu


"waalaikumsalam" jawab bi asti yang datang dari dalam diikuti sisil di belakang nya


"tante.. " ucap sisil girang sambil memeluk shinta, eh ralat.. maksudnya memeluk kaki shinta karena hanya itu yang dapat ia gapai


"tante tau gak? tadi sisil makan stroberi loh sama bibi, rasanya acem tapi enak" ucap sisil bercerita tentang kegiatan nya selama dirumah tadi, namun tidak ada respon sama sekali dari shinta yang pandangan nya masih lurus kedepan


jannah yang berdiri di samping shinta dapat melihat kalau raut muka sisil berubah karena merasa di abaikan, ia pun segera menyenggol pelan lengan shinta agar tersadar dari lamunan nya


"eh.. iya, kenapa?" tanya shinta refleks saat dirinya mendapat senggolan dari jannah di lengan nya


jannah yang melihat itu segera mengkode dengan mata mengarah kebawah pertanda menunjuk sisil


shinta yang menyadari langsung jongkok untuk menyetarakan tinggi nya dengan sisil, dia merasa bersalah karena secara tidak sadar telah mengabaikan anak kecil yang tidak mempunyai salah apa apa, ia juga sadar kalau seharus nya tidak membawa masalah kerjaan di hadapan sisil


"sisil tadi makan stroberi ya?" tanya shinta sambil memegang lengan sisil yang masih menunduk


"tante dengerin sisil?" tanya sisil mengangkat kepala nya ketika mendengar pertanyaan shinta


"denger dong.. tadi cuman lagi nyimak sisil aja" jawab shinta berbohong, sebenarnya tadi bi asti sempat mengirim pesan kalau sisil hari ini minta makan stroberi, jadi dia sudah tau sebelum sisil yang bercerita


"stroberi nya enak banget loh tante" ucap sisil yang telah kembali mood nya dan membahas stroberi


"oh ya? enak banget ya?" tanya shinta


"he'em.. enak banget" jawab sisil menganggukkan kepala


"mau makan lagi?" tanya shinta yang tentu saja diangguki oleh bocah kecil itu, anak kecil mana yang tidak tergiur dengan camilan? apalagi sisil yang memang sangat menyukai buah buahan


"yaudah.. makan sama bibi dulu ya, tante ada keperluan bentar sama temen tante, tapi nanti setelah selesai tante langsung nyusulin sisil makan stroberi" ucap shinta yang membuat bocah itu berpikir seketika


"lama?" tanya sisil

__ADS_1


"enggak kok, sebentar aja...oke?" tanya shinta balik


"oke" jawab sisil menganggukan kepala


"bi.. nitip sebentar ya, saya mau keatas" ucap shinta yang diangguki bi asti


"ayo sel, jan" ajak shinta yang diangguki keduanya


shinta mengajak sela juga jannah ke taman rooftop karena itu tempat yang sangat nyaman digunakan untuk mengobrol


eitsss pintu taman rooftop udah diperbaiki ya.. jadi udah gak jebol lagi



"gila sel, gimana bisa di laporan itu ada nama ku?" tanya shinta menggebu saat mereka bertiga sudah duduk anteng


"ya aku juga gak tau, tapi apa bener kamu yang bikin laporan itu?" tanya sela balik


"sebenernya aku gak yakin, ya aku jawab iya aja karena di laporan itu ada nama ku sebagai pembuat, kan itu udah gak bisa dipungkiri lagi" jawab shinta


hanya jannah yang bingung dengan situasi saat ini, melihat shinta yang tiba tiba emosional, mendengar pembicaraan shinta juga sela yang sama sekali tidak masuk di otak nya


"tunggu, kalian ngomongin apaan sih?" tanya jannah penasaran


"ayo jawab!" ucap jannah saat melihat keduanya masih diam


"gue dikira tersangka kasus obat yang dilarang ada di rumah sakit" jawab shinta membuat jannah membelalakkan mata nya seketika


"what? lo gak bercanda kan?" pekik jannah kaget


"gue kalau bercanda juga pilih pilih tema jan" ucap shinta


"tema apa?" tanya jannah


"sa ae lo shin, tapi gue masih bingung kalau ngedengerin shinta, kamu aja deh sel yang jelasin" ucap jannah meminta sela menjelaskan


"gimana?" tanya sela mminta persetujuan shinta untuk menjelaskan nya


"jelasin aja lah, aku bingung mau jelasin dari mana" ucap shinta menghela nafas panjang


"jadi... " ucap sela menceritakan masalah dari awal sampai akhir bak mendaftar orang orang dari sabang sampai merauke


"haa? kok bisa sih?" tanya jannah saat selesai mendengar penjelasan sela


"mana gue tau" jawab shinta mengedikkan bahu nya


"dari pada nyelundupin obat, mending bisnis prostitusi online" ucap jannah bergurau


"ye...sama sama dapet dosa dong bambank" ucap shinta sambil menoyor lengan jannah


"tau, itu mah gak ada beda nya" ucap sela terkekeh


"bercanda yeorobun (orang²/guys) " ucap jannah dengan jari membentuk peace✌


"eh trus kamu belum cerita tadi di ruangan ngapain aja kan? buruan cerita gih" ucap sela menyuruh shinta


"gini... " ucap shinta bercerita tentang bagaimana dan apa saja kejadian di ruangan reyhan tadi sebelum mereka pulang


"wah.. gila keterlaluan sih pak rey" ucap jannah menggelengkan kepala setelah mendengar cerita shinta, begitu pula dengan sela yang tidak menyangka


"tapi aku rasa pak rey cuman lagi emosi aja, jadi jangan di ambil hati ya kata kata nya" ucap sela

__ADS_1


ntah kenapa seteleh mendengar ucapan sela, shinta tiba tiba teringat saat bagaimana reyhan yang menenangkan nya malam malam saat trauma nya kambuh, memori itu teringat jelas karena dia saat ini juga sedang ada di rooftop dimana tempat kejadian malam itu berlangsung


*ah.. udahlah shinta, sekarang itu gak penting, yang penting masalah ini harus terselesaikan* batin shinta menggelengkan kepala berusaha untuk menepis bayang bayang malam itu yang muncul di pikiran nya


"yang penting aku harus cari tau tentang masalah ini" ucap shinta yang diangguki jannah juga sela


"ponsel kamu bunyi" ucap sela menunjuk ponsel shinta yang tergeletak di sofa


shinta mengambil ponsel nya dan tertera jelas panggilan dari reyhan, juga banyak panggilan yang tidak terjawab


ia tidak mempedulikan hal itu dan berniat menaruh kembali ponsel nya, namun belum sempat ponsel itu menyentuh sofa, panggilan kembali muncul dari orang yang sama


"heh...males banget" ucap shinta kesal kemudian memutuskan mematikan daya ponsel nya supaya reyhan tidak dapat mengubungi nya lagi


"sabar ya.. tapi kamu mau mulai menyelidiki dari mana?" tanya sela


"kalau menyelidiki satu per satu rekan kita itu pasti butuh waktu yang lumayan lama" ycap shinta


"iya juga ya.. " ucap sela membenarkan


"kenapa gak dimulai dari cctv aja shin? kan di semua ruangan pasti ada cctv nya kan?" ucap jannah memberikan ide


"tumben encer otak lo" ucap shinta


"jannah mah selalu encer" ucap jannah dengan gaya pongah nya


meskipun begitu mereka hanya bercanda saja.. tidak ada niatan untuk sombong atau apapun itu


"hahaha, aku baru ngeliat sisi jannah yang lain hari ini" ucap sela yang baru mengetahui nya


"kita udah biasa bercanda kayak gini" ucap jannah


saat shinta ingin membahas lebih lanjut, tiba tiba bi asti masuk ke taman dengan langkah kaki tergopoh gopoh


"non... ada tuan rey di depan" ucap bi asti membuat shinta kaget seketika


note : bi asti memang memanggil siapapun yang bertamu di rumah shinta dengan sebutan tuan, kecuali untuk adik nya shinta


"ngapain lagi sih dia kesini?" ucap shinta kesal


"bibi udah buka pintu nya?" tanya shinta


"maaf non, belum karena tadi bibi cuman liat dari kamera intercorm rumah" jawab bi asti


"bagus, sekarang bibi bilang sama dia kalau shinta lagi gak ada di rumah" ucap shinta


"beneran non?" tanya bi asti memastikan


"iya bi, tolong ya... jangan bilang kalau saya ada di rumah, bilang aja saya lagi keluar entah kemana gitu terserah bibi" jawab shinta


meskipun merasa aneh dengan permintaan shinta, tapi bi asti tetap menjalankan hal itu


"yaudah non, bibi kebawah dulu ya" pamit bi asti yang diangguki shinta


"gak papa kan kalau gue bohong kali ini... aja?" tanya shinta meminta pendapat


"gak papa deh shin, aku rasa mendingan kamu gak ketemu dulu sama pak rey, dari pada nanti marah marah trus gak sengaja bilang kata kata yang kasar kan?" ucap sela


"iya, gue juga setuju aja kalau lo bohong, setidaknya demi kebaikan" timpal jannah


mereka kembali membahas masalah tadi tanpa mempedulikan reyhan yang masih menunggu di depan pagar rumah shinta

__ADS_1


bersambung


__ADS_2