Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
85.Buru buru


__ADS_3

setelah membuka gerbang, shinta buru buru mengambil mobil nya yang ada di garasi rumah, kemudian menjalankan dengan kecepatan yang lumayan tinggi sampai sampai dia lupa belum menutup gerbang kembali


dalam perjalanan ia selalu berdo'a agar diberi keselamatan, apalagi menyadari dengan kecepatan laju nya yang lumayan tinggi, bukan tanpa alasan, mendapat kabar bahwa cctv itu berhasil di perbaiki membuatnya menggila sesaat


ia tau kalau ia juga salah melajukan mobil dalam kecepatan tinggi, namun mau bagaimana lagi? dia sudah sangat tidak sabar untuk menyaksikan sendiri rekaman itu, menunggu bian yang baru mengirim lewat email nanti siang pun terasa sangat lama bagi nya


tidak lama perjalanan, dari kejauhan dia dapat melihat kalau ada beberapa polisi yang sedang melakukan razia kendaraan


"kenapa pagi pagi begini mereka udah kerja sih? gak sarapan dulu apa sama istrinya?" gumam nya sambil memutar balikkan mobil nya dan memutuskan lewat jalan lain


"tapi kalau polisinya jomblo? ya sarapan dulu kek sendirian, salah sendiri jomblo" gumam nya lagi tapi dengan pembahasan yang tidak jelas, dia juga lupa kalau dirinya sendiri pun sama sama jomblo nya


kenapa harus putar balik? karena untuk sekarang lebih baik putar balik daripada harus berurusan dengan polisi karena itu akan semakin memperlama perjalanan nya ke rumah sakit


"alhamdulillah.. " ucap nya saat merasa jalanan yang tidak terlalu ramai karena masih pagi, dengan begini ia pasti akan sampai lebih cepat di rumah sakit


setelah beberapa menit perjalanan, ia mengurangi kecepatan nya saat ingin membelokkan mobil untuk memasuki area parkir rumah sakit, dan memarkirkan mobil nya disana dengan rapi


Brukk!


"aww.. " pekik nya kesakitan


tiba tiba saja shinta terjatuh karena keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, dan tidak melihat ada batu yang tidak sengaja mengenai kaki nya, alhasil dia tersandung dan celana kulot yang ia pakai pun agak sedikit kotor karena terjatuh dengan posisi kedua lutut yang menumpu badan nya


"hei batu, ngapain sih kamu di sini? sengaja ya mau bikin aku jatuh?" tuding nya kesal dengan menunjuk batu yang ada di hadapan nya


dia tidak tau kalau adit melihat semua kejadian itu dan yang paling membuat nya tersenyum adalah waktu melihat shinta memaki maki batu yang tidak bersalah itu, dan kebetulan adit juga brangkat pagi pagi hari ini


"kamu gak papa?" tanya adit seraya menghampiri shinta


"eh..gak papa" jawab shinta seraya menahan malu juga menahan perih di lutut nya


*dia gak dengar kan?* batin shinta bertanya tanya


"sini kubantu" ucap adit mengulurkan tangannya


"aku bisa kok" ucap shinta kemudian berdiri dengan perlahan dan memegangi gagang pintu mobil nya


ia membenahi sedikit hijab yang ia pakai, lalu berpamitan pada adit untuk masuk terlebih dahulu


"aku duluan, permisi" ucap nya kemudian langsung berjalan dengan setengah berlari, jujur saja ia ingin sekali menyaksikan rekaman cctv itu secara langsung


"tahan shinta.. " gumam nya berjalan dengan menahan perih dan nyeri yang ia rasakan pada lutut nya


setelah sampai di depan ruangan reyhan, ia segera mengetuk pintu berwarna putih itu


tok tok tok!


"pak.. ini saya" ucap shinta karena dia yakin kalau reyhan pasti mengenali suara nya


"masuk.. " terdengar suara sahutan reyhan dari dalam, benar bukan apa yang shinta katakan?


ceklek!


"maaf pak, saya datang pagi pagi" ucap shinta masuk ke ruangan tanpa menutup pintu, itu memang kebiasaan nya, agar tidak menimbulkan fitnah ketika mereka sedang berbicara berdua saja


"tidak apa apa, duduk di situ" ucap reyhan menunjukkan sofa


shinta yang mendengar itu langsung mengernyitkan dahi nya, tumben? tumben reyhan menyuruh nya duduk di sofa, padahal biasanya pasti dia akan disuruh untuk duduk di kursi yang ada di depan meja reyhan


tanpa babibubebo, ia langsung duduk anteng di sofa itu dan menunggu reyhan membuka mulut nya

__ADS_1


tapi karena reyhan belum segera membuka mulut nya, itu membuatnya tidak sabar dan langsung memulai percakapan


"pak, mana?" tanya shinta sopan


"apanya yang mana?" bukan nya menjawab, justru reyhan yang bertanya balik


"rekaman cctv nya pak" jawab shinta menghela nafas berat


"laptop saya ngeblank, tunggu sebentar" jawab reyhan membuat shinta membelalakkan mata nya


"kok bisa pak? berapa lama?" tanya shinta


"mungkin satu jam an" jawab reyhan sambil menatap layar laptop nya


rekaman cctv itu memang ada di laptop pribadi nya, bukan komputer kerja


"ya alloh, percuma dong aku ngebut tadi?" gumam nya malas


"apa? kamu ngebut?" tanya reyhan dengan sedikit berteriak


*aduh... aku lupa kalau pendengaran nya cukup tajam* batin shinta sambil menepuk nepuk pelan mulut nya


"jawab pertanyaan saya" ucap reyhan yang sudah mulai berdiri dari kursi nya dan melangkah menuju sofa


"bukan ngebut pak, tapi ntah kenapa tangan saya gatal, jadi laju nya agak cepat" jawab shinta cepat


"itu sama saja" ucap reyhan duduk di sofa yang tidak jauh dari shinta


"maaf pak" ucap shinta menundukkan kepala nya


"lain kali jangan seperti ini lagi, kamu tau kan? itu bahaya, apalagi SIM kamu masih ada di saya" ucap reyhan yang sedang menahan kekesalan nya


mendengar pengakuan bahwa shinta mengebut, itu sangat membuatnya khawatir dengan gadis itu


"karena bapak mengirim pesan tentang cctv itu" jawab shinta jujur


reyhan yang mendengar itu langsung mengusap wajah nya, itu juga kesalahan nya, sudah tau kalau shinta ingin mengungkap kasus ini secepatnya, lalu kenapa dia masih mengirim pesan itu pagi pagi dan menyebabkan shinta ngebut dalam perjalanan


"maaf" ucap reyhan lirih


"loh..kenapa minta maaf pak? bapak tidak salah kok, harusnya saya yang minta maaf" ucap shinta merasa bersalah


"saya yang menyebabkan kamu ngebut kan? karena pesan dari saya kan?" tanya reyhan yang memang ada benar nya


"tapi pak.. itu juga kemauan saya kok, udah lah pak, jangan minta maaf, saya jadi ngerasa bersalah" ucap shinta


"ya.. kamu kan emang salah, tapi separuh kesalahan ada di saya" ucap reyhan


"yaudah, berarti kita berdua salah.. udah adil kan pak?" ucap shinta yang diangguki reyhan


huftt


*lega.. * batin shinta


"pak.. bapak begadang ya?" tanya shinta saat melihat kantung mata yang lumayan terlihat jelas di mata reyhan


"iya" jawab reyhan singkat


"kenapa begadang pak? tidak baik untuk kesehatan loh pak" ucap shinta mengingatkan


"nunggu hasil cctv kemarin sekalian" jawab reyhan yang memang dia belum sempat pulang dari kemarin

__ADS_1


"ya ampun pak.. bapak bisa melakukan nya dirumah kan?" tanya shinta


"bisa, tapi biar sekalian disini aja" jawab reyhan enteng seperti tidak ada beban sama sekali, padahal tubuh nya sudah merasakan yang namanya lelah dan shinta dapat melihat itu


"sembari menunggu laptop bapak, lebih baik bapak tidur dulu, saya kebawah aja" ucap shinta ingin beranjak dari duduk nya


"tunggu.. itu lutut kamu kenapa?" tanya reyhan yang dapat melihat kalau celana kulot itu kotor, bahkan hampir sobek, untung nya tidak sampai sobek dan kaki shinta tidak jadi terlihat


"jatuh pak" jawab shinta dengan cengiran khas nya


"jatuh? kok bisa? dimana?" tanya reyhan bingung


"itu.. tadi di parkiran saya buru buru turun sampai tidak sengaja tersandung batu, jadi jatuh deh" jawab shinta enteng


"kalau gitu kamu obatin dulu di UGD" ucap reyhan


"tidak perlu pak, ini hanya luka kecil" ucap shinta menolak


"mau berobat di bawah, atau saya sendiri yang akan mengobati nya?" tanya reyhan


kalau sudah begini, lebih baik shinta memilih berobat di UGD saja, dari pada lutut nya harus dilihat reyhan


"tidak perlu pak, saya ke UGD saja, permisi" ucap shinta buru buru keluar dari ruangan reyhan, sedangkan si empu hanya tersenyum karena melihat ancaman nya berhasil


20 menit kemudian shinta yang sudah selesai mengobati lutut nya di UGD hanya diam sambil menatap ponsel nya, bukan tanpa alasan, dia hanya menunggu pesan dari reyhan


direktur ganteng


📩: laptopnya udah bisa di gunakan, kamu kesini sekarang kalau bisa


shinta yang membaca pesan itu lansung tersnyum lebar, dia buru buru turun dari ranjang perawatan, dan melangkah cepat ke ruangan reyhan


karna jam kerja masih belum dimulai, alhasil dia lebih memilih untuk langsung ke ruangan reyhan


ceklek


dia langsung membuka pintu dan bertanya pada reyhan


"mana pak?" tanya shinta bersemangat sambil melangkah mendekati reyhan yang duduk di kursi kebesaran nya


"ini, kita lihat sama sama" ajak reyhan yang diangguki shinta


mereka sama sama menyaksikan cctv itu dengan reyhan tetap di kursi nya, dan shinta duduk di kursi yang ada di depan meja reyhan, mereka sangat fokus dengan rekaman itu, pandangan tanpa teralihkan sedikitpun, tanpa berbicara satu sama lain, hening.. hanya video rekaman itu yang berputar


beberapa saat kemudian setelah mereka melihat rekaman cctv itu dengan jelas dan dengan mata terbuka


shinta merasa sangat kecewa, hatinya juga sakit, dia menggenggam celana nya dengan erat, bahkan mata nya sudah merah karena menahan tangis nya, ia tidak habis pikir dengan bukti yang ada di depan mata nya, bagaimana bisa orang itu melakukan nya?, dan akhirnya 3..2..1


tes


air mata nya sudah tidak bisa ditahan lagi dan terjun bebas seketika, dia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir


reyhan dapat melihat itu, dia hanya diam membiarkan shinta mengeluarkan rasa kekecewaan nya


"hiks" akhirnya satu isakan keluar dari mulut shinta


"hiks.. hiks, ahh kenapa dia melakukan nya?" ucap shinta masih dengan isak tangis nya dan menutup kedua wajah nya dengan telapak tangan


"hiks.. aku tidak menyangka, kenapa dia melakukan nya? hiks, apa salahku padanya?" ucap nya lagi tetap dengan menagis disertai isakan nya


reyhan tau kalau shinta sangat kecewa dengan rekaman yang dia lihat barusan, hati nya juga ngilu mendengar tangisan beserta isakan dari gadis yang sangat dia cintai

__ADS_1


bersambung


__ADS_2