
Selepas makan siang, kedua orang tua Shinta meminta waktu sebentar pada anak dan menantu mereka, Reyhan pun menyanggupi karena pasti ada yang ingin di bicarakan
"Kamu ikut bunda ya" Ajak bunda yang dijawab anggukan kepala oleh Shinta
Reyhan ngobrol di kamar ayah Ari, sedangkan Shinta dibawa bunda ke kamar nya semalam
"Duduk sini" Ucap bunda menyuruh Shinta duduk di sofa yang ada di ruang tamu kamar
"Kamu tau kewajiban seorang istri kan?" Tanya bunda menatap lekat manik mata putri nya
"Tau bunda, mencintai, melayani dengan sepenuh hati dan mendampingi suami dalam keadaan apapun itu" Jawab Shinta
"Terus?" Tanya bunda merasa ada yang kurang dengan jawaban tadi
"Membangun komitmen saling percaya satu sama lain, kalau salah satu di antara kami ada kekurangan, maka pasangan nya lah yang akan melengkapi" Jawab Shinta menurut pandangan pribadi nya
"Kamu tau kalau dalam rumah tangga itu tidak selalu berjalan mulus kan?" Tanya bunda, dan lagi lagi Shinta mengangguk sebagai jawaban nya "Bunda ingatkan, jika nanti ke depan nya ada masalah di antara kalian, jangan di selesai kan dengan emosi, salah satu di antara kalian harus menekan ego dan mulai membahas masalah secara baik baik" Sambung bunda
"Iya bunda" Ucap Shinta yang mana bagi nya selagi itu nasihat baik maka pasti ia dengarkan
"Kalau ada masalah, jangan sampai kamu keluar rumah sebelum semuanya selesai tanpa izin dari suami" Ucap bunda "Kamu tau hukum meninggalkan suami bukan?"
"Tau bunda, hukum nya haram, karena wanita yang pergi tanpa se izin suami, maka langkah nya penuh dengan laknat dari Alloh, juga tanpa ridho suami" Jawab Shinta dan sang bunda pun tersenyum mendengar nya
Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam: (Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Alloh sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya.) HR. Al Khatib
"Sekarang bicara sama bunda, apa yang kamu takuti nak?" Tanya bunda
Shinta menghela nafas sebelum menjawab "Saat ada nya cinta yang memudar, hingga berakibat mencari kesenangan pada yang lain nya" Jawab Shinta
"Jika kamu takut suatu hal, maka kamu juga harus punya cara penanganan nya" Ucap bunda
"Kita harus mencari cara dan berjuang untuk jatuh cinta lagi pada pasangan masing masing" Jawab Shinta
*Aku selalu berdo'a agar ucapan bunda dulu tidak akan menjadi boomerang untuk Shinta di masa depan* Batin Shinta
Dan tanpa sadar mereka menjawab hal yang sama seperti di kamar ayah Ari
"Jika suatu saat cinta itu memudar, biar ayah sendiri yang menjemput putri ayah, karena ayah tidak mau dia bernasib sama seperti bunda nya, cukup saya, ayah nya yang menyakiti nya, jangan kamu torehkan luka lagi pada hati nya karena bagaimanapun dia putri ku satu satu nya" Ucap ayah Ari
Reyhan sedikit tersentak dengan perkataan ayah mertua nya barusan, sekarang memang banyak perselingkuhan yang terjadi dengan alasan cinta yang telah pudar
"Bukan bermaksud buruk, ayah hanya mewanti wanti kamu saja" Ucap ayah Ari
"Ayah... kalau suatu saat cinta itu pudar, Rey akan sibuk mencari cara agar bisa mencintai pasangan Rey lagi' Ucap Reyhan tanpa keraguan sedikitpun karena dia yakin bahwa hati nya hanya berisi satu nama, yaitu Shinta
"Ayah pegang ucapan kamu" Ucap ayah Ari menepuk bahu Reyhan
Setelah memberi wejangan pada anak mereka, semua orang langsung bersiap untuk ke bandara dan kembali ke Bandung
🌸🌸🌸
Bandung, yap... mereka langsung kembali karena tidak bisa berlama lama mengambil cuti pekerjaan, meskipun ada sedikit kejadian berderai air mata dari orang tua Shinta
"Kak... aku pulang sama bibi, pak Didi, trus kak Jannah" Pamit ajudan saat mereka akan berpisah di bandara
"Iya, kakak bakal sering ke rumah kok" Ucap Shinta karena dia akan tinggal di rumah mama Riana
Ajudan akan tinggal di rumah dinas nya karena tidak mungkin dia tinggal berdua satu atap dengan Jannah, wanita yang bukan mukhrim nya
"Huhu... gue bakal tinggal sendirian" Ucap Jannah membuat ekspresi sedih
"Eleh... biasa juga sendirian terus" Ucap Laila menggelengkan kepala
"Ck, kan ceritanya biar melow dikit" Ucap Jannah kesal
"Lo gak sendirian, ada pak Didi sama bi Asti" Ucap Shinta menenangkan
"Gak nyanga non udah nikah, padahal baru beberapa bulan bibi kerja di rumah non" Ucap bi Asti
"Shinta juga gak nyangka bi, tapi mungkin ini memang garis takdir" Ucap Shinta kemudian beralih menatap pak Didi
"Jagain Jannah ya pak... kasian nanti kalau di patok ayam" Ucap Shinta terkekeh
"Siap non" Ucap pak Didi dengan senyum nya
Shinta kemudian menatap Lita, gadis yang usia nya masih remaja
__ADS_1
"Hai cantik, semangat belajar ya..." Ucap Shinta mengelus rambut panjang gadis itu
"Makasih kakak"
"Kalian semua kalau kangen boleh kok main main ke rumah jengukin Shinta, iya kan pa?" Ucap mama Riana menyenggol lengan suami nya
"Iya dong, biar rame" Ucap papa Raka menyetujui dengan senyum nya
"Berarti kalau Rendra nginap di rumah malam ini gak papa om?" Tanya Rendra yang sengaja menggoda Reyhan saja
"Bo-" Ucap papa Raka terhenti karena sahutan putra nya
"GAK, pulang aja sana!" Ucap Reyhan cepat karena enggan di jahili Rendra lagi, sang orang tua pun hanya menggelengkan kepala melihat sifat judes putra nya
"Iya iya Rey, gue gak akan ganggu lo lagi" Ucap Rendra terkekeh
Setelah berpamitan, semua kembali ke rumah masing masing yang mana Laila juga langsung ke Bogor karena harus mengurus butik juga tugas dari papa nya, begitu juga Ajudan dan Jannah yang harus kembali ke profesi masing masing, dan Rendra yang pulang ke apartemen nya.
Sedangkan di sisi lain, kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara kini terus saja bergandengan seakan enggan melepaskan sebentar saja
"Kenapa liatin aku terus sih?" Tanya Shinta bersemu merah saat mereka dalam perjalanan pulang
"Emang kenapa? terserah aku dong mau liatin apa aja" Jawab Reyhan enteng dengan terus menggenggam tangan istri nya dan menyandarkan kepala nya di bahu Shinta
Untung saja mereka berbeda mobil dengan orang tua Reyhan, tapi tetap saja masih ada Evan yang menjadi supir dan bertugas menjemput mereka berdua
"Malu sama pak Evan" Ucap Shinta
"Van, kamu gak lihat kan?" Tanya Reyhan menekan kata kata nya
"Tidak pak" Jawab Evan dengan pandangan fokus ke depan, ada rasa bahagia karena bos nya yang galak ini menemukan tulang rusuk nya, tapi ada juga umpatan di dalam hati karena melihat kelakuan bos nya tanpa tau tempat
*Kalau aku jawab IYA juga pasti bakal di tendang dari mobil ini, bahkan bisa bisa di cekik kayak botol air* Batin Evan
"Tau tempat juga lah mas, kasian kalau pak Evan rindu sama kekasih nya" Ucap Shinta
"Kekasih apa? gebetan aja gak punya" Ucap Reyhan yang sangat mak jlebbb bagi asisten nya
*Lah... kan anda dulu juga gak punya pacar atau gebetan pak, tiba tiba lamaran trus nikah* Batin Evan
"Saya tidak punya gebetan juga gara gara bapak" Ucap Evan menyalahkan
"Karena saya masih setia dengan bapak" Ucap Evan dengan tersenyum manis
*Hilih... ya karena bapak ngasih kerjaan banyak lah, yakali setia ama bapak... saya kan bukan gay* Batin Evan
"Lebih baik langsung sebar undangan, dari pada pacaran doang tapi ujung ujung nya kena ghostingan" Ucap Evan yang di acungi jembol oleh Shinta
"Ngapain kasih jempol?" Tanya Reyhan menggenggam jari jempol itu
"Pemikiran pak Evan bagus dong, langsung sebar undangan dari pada umbar pacaran" Jawab Shinta
"Bener banget bu bos, nanti putus gak jadi nikah malah nangis..." Sahut Evan tergelak yang dibalas tatapan tajam dari Reyhan, berani sekali pria itu bercanda dengan istri nya, sedangkan Evan tidak takut dengan tatapan maut itu, dia malah semakin suka menggoda bos nya
30 menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun masuk pekarangan rumah mansion itu, kemudian memarkirkan kendaraaan dengan rapi
"Pak, udah buka puasa?" Tanya Evan membuat kening sang bos berkerut
"Buka puasa? kamu kira ini ramadhan?" Ucap Reyhan heran dengan pemikiran asisten nya
"Lah... kayak bocil banget gak tau buka puasa versi orang dewasa" Ucap Evan lirih dan Plak... geplakan dari sang bos pun mendarat dengan sempurna
"Jangan berpikiran kotor" Ucap Reyhan
"Iya iya pak, kan cuman nanya... lagian kasian banget udah tiga hari belum buka puasa" Ejek Evan
"Ketimbang kamu? gebetan gak punya trus kapan buka puasa nya?" Oke... lagi lagi Evan harus kalah dengan bos nya
"Kalian itu bahas apa? yaudah aku masuk sendirian aja" Ucap Shinta yang sedang berdiri di depan pintu rumah
"Gak ada" Jawab Reyhan menggelengkan kepala nya
"Yaudah pak, saya pamit dulu... samawa ya pak" Ucap Evan kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah
Pintu rumah dibuka oleh Bi Rini yang menjadi tugas nya di rumah itu
"Makasih bi" Ucap Shinta tersenyum tipis pada bi Rini
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...kok kalian gak langsung masuk aja? panas loh di luar" Tanya mama Riana yang duduk di ruang keluarga
"Baru sampai ma" Jawab Reyhan dengan menyeret dua koper
"Papa lagi istirahat, kalian juga istirahat aja, nanti turun kita makan siang bareng" Ucap mama Riana
"Mama juga istirahat dulu ma, jangan capek capek" Ucap Shinta
"Ini bentar lagi mau nyusulin papa, kalian sekarang istirahat ke atas" Ucap mama Riana
"Iya ma, ayo!" Ajak Reyhan naik ke lantai dua dengan mengangkat dua koper, Shinta ingin membantu namun sudah jelas bahwa Reyhan menolak bantuan nya
"Cantik non nya" Ucap bi Rini tersenyum dengan memandang Shinta yang naik ke atas.
Shinta yang mengikuti langkah kaki suami nya pun berhenti ketika mereka sampai di depan pintu putih sebuah kamar
"Ini kamar kamu?" Tanya Shinta
"Iya sayang" Jawab Reyhan merogoh celana nya dan membuka pintu kamar itu
Ceklek... kali pertama Shinta melihat penampakan kamar Reyhan yang luas melebihi kamar nya, ranjang king size dan benda benda di kamar yang warna nya terkesan gelap
"Mau mandi?" Tanya Reyhan saat dia sudah duduk di pinggir ranjang
"Iya, biar ngilangin capek" Jawab Shinta meregangkan kedua tangan nya
Reyhan kemudian menunjukkan walk in closet untuk pakaian mereka dan kamar mandi yang ada di sana
"Aku nyusun baju dulu" Ucap Shinta membuka koper kedua nya, sedangkan Reyhan membuka lemari kosong untuk di isi dengan pakaian istri nya
"Perlu bantuan?" Tanya Reyhan
"Gak papa, aku bisa sendiri kok" Jawab Shinta tidak ingin merepotkan, lagian badan Reyhan juga pasti lelah kan
"Suami istri harus saling kerja sama" Ucap Reyhan tersenyum kemudian ikut menyusun pakaian di lemari
Selesai beberes soal pakaian, Shinta langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memulai ritual membersihkan badan nya sendiri, sedangkan Reyhan memilih menunggu Shinta dengan rebahan di ranjang milik nya
15 menit berlangsung, Shinta keluar dari kamar mandi dengan memakai baju rumahan tertutup dan rambut panjang yang sudah ia keringkan
"Mas, kamu mandi dulu gih... udah aku siapin air hangat nya" Ucap Shinta menghampiri suami nya yang sedang rebahan ganteng, dia memang sudah mengisi bathtub dengan air hangat tadi
"Makasih ya" Ucap Reyhan bangun dari rebahan nya dan menuju kamar mandi untuk memulai ritual yang setiap hari ia lakukan
Selepas membersihkan badan, Reyhan keluar dengan celana pendek dan kaos yang sudah Shinta siapkan tadi, kemudian ikut merebahkan tubuh nya di samping Shinta yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang
"Lega banget ya?" Tanya Shinta
"Iya, lega karena udah selesai dan ternyata enak juga punya istri karena semua kebutuhan selalu di siapkan oleh orang yang kita cintai" Jawab Reyhan bergeser dan meletakkan kepala nya di paha Shinta
"Kamu bahagia?" Tanya Reyhan dengan memeluk pinggang yang tengah berhadapan dengan nya, senyum pun tak henti henti nya ia tebarkan di depan sang istri
"Tentu saja, karena menikah itu ibadah terpanjang dan kita sedang menjalani nya" Jawab Shinta mengelus rambut suami nya meski ia harus menahan geli akibat belum terbiasa
"Dan bisa menambah umat rasululloh yang sholeh sholiha" Sambung Reyhan
"Amin..." Ucap Shinta mengaminkan saja karena itu juga kan do'a baik untuk mereka
Tangan Reyhan perlahan meraih muka yang selalu menunjukkan blush on alami itu, menatap manik mata istri nya yang begitu tulus, kemudian memiringkan kepala nya untuk mencari posisi yang tepat
Sedangkan Shinta mulai memejamkan mata ketika hidung pesek milik nya dan hidung mancung milik Reyhan bersentuhan, bibir yang manis perlahan mulai menempel disertai gerakan bibir yang lembut, hingga lama kelamaan menjadi saling menyesap dan merasakan manis masing masing
Reyhan pun mulai menyusuri semua yang ada di rongga dan mengabsen nya ketika sang istri sudah memberi nya izin, terus berlanjut seperti itu bahkan Reyhan tidak memberi kesempatan istri nya untuk bernafas, bibir itu benar benar manis dan candu untuk nya, begitu pula Shinta merasakan hal yang sama dengan Reyhan walau jantung nya kini sedang lompat jauh, dag dig dug...
Saat keduanya sedang menikmati dan mendalami perasaan masing masing lewat sebuah ciuman
Ceklek... pintu kamar tiba tiba terbuka hingga membuat mereka melepaskan tautan itu dan memalingkan wajah masing masing
"Astagfirullah maafin mama" Ucap mama Riana terkejut dengan pemandangan sekilas yang sempat ia lihat
"Makanya Rey, pintu nya di kunci dulu" Ucap mama Riana sembari memegang knop pintu
"Ada apa ma?" Tanya Reyhan berusaha seakan tidak terjadi apa apa dengan mengubah posisi nya menjadi duduk di samping Shinta
"Anu... Itu...
__ADS_1
*Bersambung
maaf baru bisa up karena lagi sakit, dan ianyaalloh nanti malam up lagi*