
"Ba-bagaimana bisa? hiks... bagaimana bisa bunda mengambil keputusan rujuk disaat aku sudah benar benar bahagia dengan kehidupan sederhana yang kami jalani, bagaimana bisa? hiks"
"Sayang... mungkin bunda melakukan itu memang berdasarkan keputusan terbaik menurut nya" Ucap Reyhan kembali menenggelamkan kepala Shinta di dada nya
"Kenapa bunda melakukan itu yang justru membuatku mengingat kenangan saat usiaku masih sembilan tahun, susah payah aku berusaha menepis kenangan buruk, namun justru bunda yang mendekatkan ku kembali dengan ayah dan otomatis kenangan itu justru memperkuat di ingatanku, hiks"
"Saat bunda sudah sehat tanpa dampingan dan perhatian ayah, aku berusaha berbicara pada nya tentang perihal rujuk itu, namun bunda menjawab 'ayah kamu itu jodoh nya bunda, kalau bukan jodoh trus ngapain kita punya lima anak?' "
"Lelah berdebat sampai aku mengatakan bahwa jangan sampai bunda menyesal dengan apa keputusan yang bunda buat sendiri, setelah berbicara seperti itu... aku lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi dan menumpahkan segala rasa ku disana, mengguyur kepala ku sampai rasa ini benar benar hilang" Hal yang baru Reyhan ketahui jika Shinta lebih memilih untuk menangis di kamar mandi agar dapat meredam suara nya
"Setelah kepala ku benar benar dingin, aku masuk kamar dan merenungi semua nya, aku mulai berpikir bahwa hidup dua tahun tanpa perhatian ayah itu sudah biasa bagi ku, karena sedari kecil aku tidak pernah dekat dengan ayah mengingat beliau yang jarang memiliki waktu untuk anak anak nya, tapi mungkin tidak bagi kedua adikku, mereka memang sudah mengerti bahwa orang tua mereka berpisah, namun hidup dua tahun seperti itu kurasa tidak mudah untuk mereka, jadi aku mulai berpikir, apa mungkin kedua adik ku akan bahagia jika kedua orang tuanya kembali bersatu?"
"Dari situ aku mulai mencoba untuk menerima keputusan yang bunda buat hanya demi kedua adikku, aku tidak ingin jika mereka merasakan menjadi anak broken home, aku ingin mereka merasakan kasih sayang utuh."
"Kamu menyetujui keputusan bunda demi kedua adik mu?" Tanya Reyhan
"Emm... aku melihat mata adik ku berbinar ketika melihat orang tua nya bersama, dan aku mulai memahami keadaan bahwa mungkin ini yang terbaik untuk adik ku, tapi tidak untuk ku... setiap aku melihat muka ayah selalu saja kenangan itu berputar di kepala ku, begitu juga saat beliau ada di dekat ku, aku pasti akan sedikit gemetar an, tapi aku berusaha menahan semua nya hanya demi adik ku, begitupun kedua kakak laki laki ku yang awal nya sangat marah dengan keputusan bunda pun akhir nya luluh juga" Jawab Shinta
"Apa karena kejadian itu kamu jadi takut sama darah?" Tanya Reyhan dengan terus mengelus rambut istri nya
"Tidak" Jawab Shinta
"Trus kenapa kamu takut dengan darah sayang?" Tanya Reyhan lagi
"Beberapa bulan setelah rujuk orang tuaku menjalani kehidupan suami istri pada umum nya, hanya saja kami masih beda rumah, dan suatu hari ayah kembali melakukan kesalahan" Jawab Shinta
"Waktu itu bunda baru pulang ke rumah setelah bertemu dengan ayah, tapi... bunda dalam keadaan terluka dan wajah nya terdapat darah yang mengalir"
"Saat aku dan abang bertanya kenapa bunda terluka seperti itu, dan ternyata.... ayah yang melakukan nya, dia melakukan KDRT sampai terdapat goresan di wajah bunda yang membuat darah itu mengalir, a-aku bisa apa? aku tidak bisa melakukan apapun saat itu, aku hanya menangis di dapur dan mengadukan semua nya pada yang di atas, dan sejak saat itu aku menjadi takut jika melihat darah yang mengalir dari tubuh orang lain"
__ADS_1
Setelah Reyhan tau semua nya, dia hanya bisa mendekap erat dan menenangkan dengan mengelus punggung wanita yang sekarang menjadi istri nya, sekarang dia tau... hal yang membuat Shinta trauma dan hal yang benar benar membuat istri nya takut untuk berdekatan dengan laki laki, juga tau kenapa istri nya bisa takut dengan darah, hanya saja dia masih tidak menyangka kenapa kehidupan istri nya dulu seperti itu, tidakkah orang tuanya kasihan dengan kondisi mental putri kecil mereka? setidaknya tolong beri pemahaman pada putri kecil mereka. Namun apalah daya? nasi sudah menjadi bubur dan hal kemarin tidak akan bisa di putar balik kan lagi
"Karena itu aku sudah tidak bisa mengejar impian ku lagi, di umurku yang masih lima belas tahun aku harus mengubur dalam dalam cita cita ku, dan lagi pula biaya kuliah kedokteran itu sangat mahal, aku tidak mampu mengeluarkan biaya sebanyak itu, bisa makan saja udah alhamdulillah" Ucap Shinta kembali melanjutkan cerita nya
*Kamu udah coba jalur beasiswa sayang?* Tanya Reyhan dalam hati karena dia yakin meskipun Shinta lulus beasiswa juga tidak mungkin bisa menjadi dokter karena rasa takut nya pada darah
"Setelah bekas luka bunda pudar, bunda memutuskan untuk tinggal satu rumah lagi dengan ayah karena mereka sudah rujuk, jadi itu hal yang wajar, tapi.... karena ayah belum mempunyai rumah, kami harus tinggal di rumah tua yang tidak ada kamar mandi nya, bayangkan saja... kalau kami mau mandi juga harus mengantri ke kamar mandi umum" Reyhan mendengar hal itu dengan jelas, jika dia hidup serba mewah dan kecukupan, tapi berbeda dengan Shinta yang harus berjuang pada masa muda nya
"Saat kami sudah tinggal bersama lagi, ayah mulai melarang ku ini itu dan banyak lagi, bisa dikatakan aku sangat tertekan karena waktu itu aku tertarik dengan bahasa asing yang bahkan aku di larang untuk mempelajari hal itu" Shinta teringat bagaimana ayah nya yang marah dan melarang keras kalau dia belajar bahasa asing
"Kenapa ayah melarangmu? bukankah itu bagus?" Tanya Reyhan karena menurut nya belajar bahasa asing itu bagus untuk pengetahuan
"Aku juga tidak tau, ayah terus mengatur kehidupan anak nya yang mana justru membuatku tidak tahan tinggal di rumah, aku kemudian memutuskan untuk tinggal sendiri saja... karena aku merasa bahwa rumah itu neraka, tapi sendiri adalah surga bagi ku, tapi bunda mencegah dengan mengatakan 'kalau kamu pergi dari rumah itu artinya kamu gak ngerti perasaan bunda' aku di bilang tidak mengerti perasaan nya, tapi apa bunda bisa mengerti perasaan ku? mengerti batinku? tidak! aku terpaksa tinggal di rumah sampai lulus SMA hanya demi bunda saja dan menghormati nya sebagai orang tua"
"Waktu berlalu dan akhirnya kebebasan memihak padaku saat aku mengambil beasiswa apoteker di Surabaya, tentu saja aku senang karena jika tidak bisa jadi dokter, setidaknya aku bisa menjadi apoteker, dan selama tinggal di Surabaya tidak ada yang melarang ku ini dan itu... aku bisa menjaga diruku sendiri, tapi... kebebasan itu tidak berlangsung lama karena orang tua menyuruhku untuk pulang saat aku baru kuliah dua semester, aku menurut dan pulang karena kukira ada hal penting yang mengharuskan kehadiranku"
"Kenapa mereka menyuruhmu pulang? mereka rindu?" Tanya Reyhan
"Kamu menolak?" Tanya Reyhan
"Aku hanya diam karena aku lebih suka mengambil tindakan langsung, tapi dalam hati tentu saja aku menolak, ini kehidupan ku dan biarkan aku yang menentukan pilihan nya, aku menolak juga karena takut kejadian itu terulang lagi, kamu tau kegiatan ayahku bukan?" Ucap Shinta sekaligus bertanya dan Reyhan mengangguk sebagai jawaban nya, dia tau kalau sang ayah mertua sering tausiyah di mana mana dan itu menjadi makanan sehari hari untuk beliau
"Orang yang kadar ilmu agama nya tinggi, itu godaan dan hawa nafsu nya juga lebih tinggi dan ayahku gagal menghadapi itu" Ucap Shinta menghela nafas berat
"Setelah ayah memberi tahu tentang perjodohan itu, aku diam diam meminta tolong pada seseorang untuk membuat paspor dan visa karena aku belum pernah pergi ke luar negeri, hanya beberapa hari semua persiapan sudah selesai, malam itu... aku kabur dari rumah dan mengambil penerbangan malam ke korea selatan, untung nya dulu aku tetap mempelajari bahasa asing secara diam diam dan menyembunyikan buku ku" Reyhan agak terkejut mendengar nya, karena kepergian Shinta ke korea itu berawal dari kabur dari perjodohan
"Itu sebab nya kamu menangis di bandara Seoul?" Tanya Reyhan mengingat dia pertama kali bertemu dengan Shinta
"Iya, jujur aku merasa bersalah karena pergi dari rumah tanpa izin, tapi jika aku izin tentu saja aku tidak akan diperbolehkan pergi dan dikurung dalam rumah, aku tidak ingin menikah... aku ingin menggapai kesuksesan dulu, hingga berakhir tinggal di korea selama empat tahun, setelah misi mempunyai cafe berhasil, aku pulang... tapi ke bandung dan memulai kehidupan baru disana"
__ADS_1
"Kamu gak merasa durhaka pada orang tua?" Tanya Reyhan lembut
"Jika aku menurut juga sekarang tidak mungkin kita menikah bukan?" Jawab Shinta
"Ya aku tunggu jandamu" Ucap Reyhan terkekeh
"Kamu tau kenapa aku, Lala, dan Jannah bisa bersahabat dari kita SMP seperti sekarang?" Tanya Shinta dan Reyhan menggeleng sebagai jawaban nya
"Aku pernah melakukan percobaan bunuh diri" Hal ini yang paling membuat Reyhan terkejut
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Reyhan tetap lembut dan berusaha untuk tidak marah karena dia tau kalau Shinta sangat membenci kekerasan
"Karena aku sangat tertekan, bayangan masa lalu yang buruk selalu menghantuiku seperti orang gila, aku benar benar seperti bukan pemilik tubuh, aku benar benar takut jika hal itu kembali terulang di masa depan, aku sangat takut, hiks..." Shinta menjawab dengan isakan yang kembali terdengar
"Jadi mereka berdua yang menolongmu?" Tanya Reyhan mengelus rambut panjang istri nya dan Shinta mengangguk sebagai jawaban nya
"Aku minta tolong untuk kedepan nya, jika kamu marah tolong jangan pukul aku... kamu boleh memarahiku tapi jangan pukul aku" Ucap Shinta tetap dengan isakan yang terdengar, Reyhan menghela nafas karena dia juga tidak mau melakukan KDRT di kemudian hari
"Aku akan berusaha, sekarang tenangkan pikiran mu, semua sudah terjadi dan selesai bukan? aku tau kalau melupakan itu tidak mudah, tapi aku mohon... jangan pernah kamu mengulagi hal itu" Ucap Reyhan membahas bunuh diri
*Belum selesai, aku masih bertanya tanya apakah orang yang membunuh kak Zean, menculik Sisil, dan orang yang berusaha membunuhku adalah orang yang sama?* Batin Shinta
"Emm... aku tidak akan mengulangi nya karena aku sadar kalau itu perbuatan yang di benci Alloh" Ucap Shinta, Reyhan yang mendengar hal itu tersenyum kemudian merebahkan badan Shinta ke samping dan menghadap nya
"Sekarang baca do'a trus tidur" Ucap Reyhan, dia tidak akan mengambil hak nya malam ini karena besok masih ada acara resepsi yang memakan banyak tenaga, dia juga khawatir kalau Shinta tidak akan bisa jalan
Shinta mengangguk dan melakukan hal yang suami nya perintah kan, Reyhan mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur kemudian naik ke ranjang dan mengikis jarak di antara mereka hingga berakhir tidur saling berpelukan satu sama lain, biarlah malam ini menjadi milik mereka berdua dan bulan yang menjadi saksi nya
Bersambung
__ADS_1
Jadi penyebab trauma udah terungkap ya? lunas guys
Btw kisah masa kecil Zefa dan kisah ayah Shinta itu benar benar ada di dunia nyata, hanya saja kisah mereka belum selesai dan author berharap mereka akan menemukan ending yang indah dari Alloh swt dari pada ending asal asal an yang akan dibuat author remahan seperti saya:)