
π: "halo, lin ini gue harus gimana?" tanya jannah saat telepon tersambung dengan elin
πv "gimana apanya sih? kok lo panik gitu?" tanya elin bingung di telepon
π: "ini shinta kayaknya mulai lagi deh, gue harus gimana?" tanya jannah
π: "lo tenangin dulu kayak biasanya jan" jawab elin di telepon yang berusaha tidak ikut panik
π: "gak bisa, dia di taman rooftop, trus pintunya dikunci, aduhh gue harus gimana sekarang?" tanya jannah makin panik
π: "eh lo bisa hubungi orang yang namanya reyhan itu kan? karena belakangan ini shinta pernah bilang kalau dia nyaman sama orang itu, berarti kemungkinan cuman orang itu yang bisa nenangin dia" ucap elin
π: "berarti bener dong pemikiran gue" ucap jannah
π: "ya intinya lo udah ngehubungin orangnya belum?" tanya elin
π: "ini lagi usaha, yaudah gue tutup dahulu bye" ucap jannah cepat dan langsung mematikan sambungan telepon
*aduh, ini kok pak rey gak baca baca pesan gue sih?* batin jannah bingung
setelah menunggu beberapa menit namun tidak ada tanda pesan dibaca oleh reyhan
*alah bodo amat deh, telepon aja* batin jannah langsung menelepon rey
sedangkan di tempat reyhan berada, dia baru saja selesai mandi dan bersiap siap untuk tidur, namun nada dering telepon seketika menghentikan aktifitasnya
"jannah? ngapain?" gumam reyhan saat tau yang menelepon nya adalah jannah
π: "ha-" belum sempat reyhan mengucapkan halo
π: "pak, bapak itu ke mana aja sih lama banget ngangkat telepon nya" teriak jannah di telepon sampai reyhan kaget mendengarnya
π: "maaf, ada apa?" tanya reyhan sambil sedikit menjauhkan ponsel nya dari telinga karena suara jannah yang mampu merusak gendang telinga
π: "bapak serius gak sama shinta?" tanya jannah yang masih berteriak di telepon
π: "serius" jawab reyhan tegas
π: "ya kalau serius buruan kesini, ini genting pak" ucap jannah ngegas
π: "ada a-" belum sempat reyhan bertanya
π: "udah gausah banyak nanya deh pak, ini genting banget pak dan saya takut shinta terluka, bapak kesini cepetan sebelum terlambat" ucap jannah berteriak makin panik
π: "pak-" ucap jannah belum selesai
ketika jannah masih ingin mengomel, reyhan langsung mematikan sambungan telepon dan buru buru mengambil kunci mobil miliknya
"cepat buka gerbangnya pak" teriak reyhan saat dirinya sudah menaiki mobil dan menyuruh pak satpam untuk membuka gerbang rumahnya
"baik tuan" balas pak satpam
setelah gerbang benar benar terbuka, reyhan langsung keluar dari rumah dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi
"eh buset dah.. udah kayak setan aja" ucap pak satpam mengelus dada nya saat melihat laju kecepatan mobil rey
sampai rumah shinta
"cari siapa tuan?" tanya pak didi yang melihat mobil rey berhenti di depan gerbang
"shinta pak, tolong buka gerbang nya" ucap reyhan pada pak didi
"maaf tuan, tapi non shinta melarang siapa pun masuk ke rumah ini" ucap pak did
"pak, ini genting jadi tolong buka gerbangnya" ucap reyhan memohon
"maaf tuan, saya tidak bisa" ucap pak didi menggelengkan kepala
"buka gerbangnya pak" teriak jannah yang tiba tiba datang keluar dari rumah
"tapi non shinta nanti marah kalau saya buka gerbangnya" ucap pak didi saat jannah sudah berdiri di hadapannya
"saya yang akan tanggung jawab" ucap jannah menyakinkan tetapi pak didi tetap masih diam
"pak, buka gerbangnya pak" ucap jannah memohon
"saya tidak bisa non" ucap pak didi kekeh dan itu membuat jannah sangat jengkel rasanya
"buka gerbangnya pak" ucap reyhan
"saya tidak bisa tuan, mengertilah" ucap pak didi
"pak, saya mohon pak.. hiks" ucap jannah yang mulai menangis
"ini genting pak dan saya gak mau shinta terluka" ucap jannah dengan airmata yang masih mengalir
dan.. berhasil
tangisannya barusan membuat pak didi menjadi tidak tega
"saya tidak tanggung jawab ya non" ucap pak didi sambil menuju gerbang
"iya pak" jawab jannah kemudian menghapus air mata nya
"terima kasih pak" ucap reyhan saat mobil nya masuk ke pekarangan rumah shinta
"di mana dia?" tanya reyhan
"rooftop" ucap jannah sambil berlari ke dalam rumah untuk menuju rooftop dan diikuti reyhan
"ini dikunci pintu nya?" tanya reyhan saat sampai di depan pintu rooftop
"iya, dobrak aja karena kunci utama sama kunci serep dibawa sama shinta" ucap jannah sambil mundur ke belakang
brak!
satu kali dobrakan reyhan berikan namun tidak bisa membuka pintu rooftop
*aku harus bisa* batin reyhan kemudian mendobrak nya lagi
dan brakk!
dobrakan ketiga baru lah pintu dapat terbuka, dan saat jannah ingin masuk, tangan reyhan memberi kode untuk 'jangan masuk'
di taman rooftop terlihat shinta yang sedang duduk dengan tangan memegang kalimba dari ajudannya kemarin dan pandangan mata yang kosong sampai dia tidak mempedulikan suara dobrakan pintu barusan
kemudian shinta mulai bernyanyi sambil memainkan kalimba dengan jari nya
note: author saranin kalian untuk baca arti lirik lagu nya supaya kalian paham akan perasaan shinta saat ini, juga paham akan pesan yang ingin author sampaikan, dan kalau punya waktu luang silakan dengarkan sendiri lagunya, tetapi author tidak memaksa ya:)
π΅thats okay D.O exo
~by shinta p.a
Suthage seuchyeogan
(Sudah lama berlalu)
__ADS_1
Gamjeongdeure mudyeojineun gamgak
(Inderaku mati rasa dalam perasaan)
Eonjebuteonga iksukhaejyeobeorin
(Sejak kapan aku terbiasa dengannya?)
Maeumeul sumgineun beopdeul
(Cara untuk menyembunyikan perasaanku)
Nan eodijjeume wa issna
(Dimakah aku berada?)
Apman bogo dallyeoogiman haessdeon
(Aku hanya melihat ke depan dan terus berlari)
Doraboneun geosdo waenji geobi na
(Mengapa aku begitu takut untuk berbalik)
Mirwodun yaegideul
(Semua kisah yang kusimpan)
Sigani gadeut nae anen
(Seiring berjalannya waktu, di dalam hatiku)
Haengbokhaesseossdeon ttaeron
(Saat-saat aku bahagia dahulu)
Gaseumi jeoril mankeum nunmulgyeoun naldo
(Bahkan hari yang penuh air mata sebanyak hatiku yang mati rasa)
Maeil gati tteugo jineun taeyanggwa
(Setiap hari matahari terbit dan terbenam dengan cara yang sama)
Jeo dalcheoreom jayeonseure bonae
(Seperti bulan yang terbenam dengan sendirinya)
Ttaeron ulgo ttaeron usgo
(Kadang aku menangis, kadang aku tertawa)
Gidaehago apahaji
(Tidakkah itu menyakitkan?)
Dasi seollego mudyeojigo
(Aku berdebar kemudian kembali mati rasa)
Maeumi ganeun daero issneun geudaero
(Seperti itulah hatiku bereaksi apa adanya)
Sumanheun byeori geuraessdeusi
(Seperti bintang yang tak terhitung jumlahnya)
Eonjena gateun jari
(Selalu ada di tempat yang sama)
Je moksui bicheuro hwanhage bichul teni
Sumgiji malgo neoreul boyeojullae pyeonhi ne moseup geudaero
(Jangan sembunyi, aku pasti akan menunjukkannya padamu)
Geurae gwaenchanha gwaenchanhado
(Dirimu yang seperti itu, tidak apa-apa, tidak apa-apa)
Oneul nan cheoeumeuro
(Hari ini, untuk pertama kalinya)
Soljikhan nae maeumeul majuhae
(Aku melihat hatiku yang sebenarnya)
Geoul ape seoneun geosdo meomusdae
(Di depan cermin, aku berdiri penuh ragu)
I pyojeongeun tto wae irido eosaekhae
(Lagi, mengapa raut wajahku terlihat canggung?)
Areumdaun geon neul sojunghago
(Sesuatu yang indah, itu selalu berharga)
Jamsi meomulda adeukhi meoreojyeodo
(Selalu sebentar dan menjauh perlahan)
Neul maju bodeut pyeongbeomhan
(Itu selalu jelas seperti yang terlihat)
Ilsangeul chaeul maeumui nun
(Mata hati memenuhi kehidupan sehari-hari)
Geu ane gamchwodun oeroumdo
(Bahkan kesepian yang tersembunyi dalam hatimu)
Jamsi meomul su issge hae
(Bisa tetap ada di sana untuk sesaat)
Geujeo barabwa
(Karena itu, cobalah kau lihat)
Budeureoun barami bulmyeon
(Saat angin yang lembut berhembus)
__ADS_1
Maeumeul yeoreo jinagal haruya
(Bukalah hatimu, itu adalah hari yang harus dilalui)
Ttaeron ulgo ttaeron usgo
(Kadang aku menangis, kadang aku tertawa)
Gidaehago apahaji
(Tidakkah itu menyakitkan?)
Dasi seollego mudyeojigo
(Aku berdebar kemudian kembali mati rasa)
Maeumi ganeun daero issneun geudaero
(Seperti itulah hatiku bereaksi apa adanya)
Sumanheun byeori geuraessdeusi
(Seperti bintang yang tak terhitung jumlahnya)
Eonjena gateun jari
(Selalu ada di tempat yang sama)
Je moksui bicheuro hwanhage bichul teni
Sumgiji malgo neoreul boyeojullae pyeonhi ne moseup geudaero
(Jangan sembunyi, aku pasti akan menunjukkannya padamu)
Geurae gwaenchanha gwaenchanhado
(Dirimu yang seperti itu, tidak apa-apa, tidak apa-apa)
Du sone gadeuk chaewojil chueokdeureun
(Kenangan memenuhi kedua tanganmu)
Sojunghan uri iyagi
(Kisah kita yang berharga)
Jinsimi damgin maeumi
(Sebuah hati yang penuh ketulusan)
Sigani zina dasi gieokhal su issdamyeon
(Andai waktu berlalu dan kau bisa mengingatnya kembali)
Malhal su isseulkka
(Bisakah kau memberitahuku?)
Neodo haengbokhaessdago
(Bahwa kau juga bahagia)
Ttaeron ulgo ttaeron usgo
(Kadang aku menangis, kadang aku tertawa)
Gidaehago apahaji
(Tidakkah itu menyakitkan?)
Modeun geol ssotgo saranghago
(Aku mencurahkan semuanya dan mencintaimu)
Maeumi ganeun daero issneun geudaero
(Seperti itulah hatiku bereaksi apa adanya)
Malhaji moshal gomingeori
(Kekhawatiran yang tak terucap)
Gipge sangcheo nan jari
(Menjadi luka yang kian dalam)
Neul gateun sokdoro heulleoganeun sigani
(Waktu selalu berlalu dengan kecepatan yang sama)
Eonjena geuraessdeusi ssiseonaejul teni
(Selalu seperti itu, waktu akan menghapusnya)
Heureudeut sarado geunyang gwaenchanha gwaenchanhado
(Meski hidup mengalir seperti itu, tidak apa-apa, tidak apa-apa)
reyhan dan jannah yang mendengar nyanyian shinta sampai tidak sadar meneteskan air mata, karena mereka sama sama tau arti lirik lagu yang shinta nyanyikan barusan
"itu lagu self healing yang selalu shinta nyanyikan karena lagu itu yang mewakili perasaannya" ucap jannah memberi tahu reyhan
dan yang diberitahu hanya diam sambil memperhatikan shinta yang masih terus menyanyi sambil menangis sampai tidak mempedulikan jarinya yang mulai terluka
*aku tidak tau apa yang menyebabkanmu menjadi seperti ini, tetapi apa kau tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu rapuh? hatiku sangat sedih, aku tidak ingin melihat mu menangis karena rapuh...aku hanya ingin melihatmu menangis karena bahagia* batin reyhan yang masih menatap shinta
saat melihat jari tangan shinta yang mengeluarkan banyak darah karena memainkan kalimba dengan kasar tanpa menggunakan pengaman jari, reyhann langsung masuk dan menghampiri shinta
"apa yang kau lakukan?" tanya shinta kaget saat kalimba yang sudah ternodai oleh darah itu di ambil paksa oleh reyhan
"kembalikan padaku" rengek shinta yang masih menangis
"hentikan" ucap reyhan yang malah melempar kalimba itu tanpa mengembalikan nya dan berjongkok di depan shinta untuk menyetarakan tinggi nya
"kenapa kau melakukan ini?" tanya shinta masih menangis dengan tubuh yang gemetaran
"aku mohon hentikan, jangan seperti ini" ucap reyhan menatap shinta sambil menggelengkan kepalanya
"hiks.. kembalikan, hiks..itu punyaku" rengek shinta tetapi reyhan masih tetap tidak mau mengembalikan kalimba milik shinta
sedangkan jannah yang berdiri di samping pintu hanya menyaksikan interaksi antara dua anak manusia itu sambil menangis
__________
Hai semuaπ
terus dukung karya author ya
like+komen dong, kan itu gratis dan gak bayar sepeserpun sayang, jadi author mohon yaπ
__ADS_1
karena tanpa dukungan kalian author jadi tidak bersemangat:(
terima kasih juga buat para readers yang selalu mendukung karya ini dan membuat author semangat buat nerusin ceritanyaβ€