
"Assalamualaikum abang... " Ucap Shinta saat panggilan vodeo call dengan Egi benar benar sudah tersambung
"Waalaikumsalam adek abang... " Jawab Egi disana dengan senyum mengembang di bibir nya
"Selamat ya buat adek abang udah ada yang khitbah, maafin abang gak bisa pulang sekarang" Ucap Egi dengan memperhatikan Shinta
"Makasih abang, gak papa kok" Ucap Shinta yang mengerti jika kakak nya punya banyak pekerjaan
"Oh iya bang, kenalin ini kak rey" Ucap Shinta dengan mendekat di samping Reyhan agar kakak nya bisa melihat wajah Reyhan
"Kita ketemu lagi" Ucap Egi yang membuat Shinta bingung
"Iya bang" Jawab Reyhan dengan senyum tipis di wajah nya
"Emang kalian pernah ketemu? dimana?" Tanya Shinta heran
"Nanti abang cerita sama kamu, karena nanti di hari H kalian pasti abang pulang kok" Jawab Egi dan Shinta hanya mengangguk saja karena saat ini bukan waktu yang pas untuk bercerita
Mama Riana kemudian datang ke arah Shinta juga Reyhan karena ada hal terlupa yang belum mereka berdua lakukan
"Kalian belum tukar cincin sebagai tanda jadi loh" Ucap Mama Riana mengingatkan
Shinta yang mendengar hal itu masih saja tersipu malu, berbeda dengan Reyhan yang mengeluarkan kotak merah dari saku kemeja nya
"Ini ma" Ucap Reyhan memberikan kotak merah itu pada mama Riana
Kemudian Shinta memberikan ponsel nya pada Laila agar kakak nya bisa melihat dia yang bertukar cincin nanti
"Gue jadi juru kamera dadakan" Ucap Laila dengan memegang ponsel yang tengah mode video call dengan kamera menghadap ke belakang
"Besfriend multifungsi itu namanya" Ucap Shinta terkekeh
"Iya, lumayan latihan jadi fotografer juga" Sahut Jannah
"He'em, siapa tau nanti bisa aku sewa buat jadi fotografer di nikahan ku sama Jannah" Ucap Rendra dengan mengedipkan mata nya
"Ogah... ngerekam berdiri berjam jam kan capek bwambang, masih banyak juru kamera lain nya" Ucap Laila dengan mengerucutkan bibir nya yang membuat semua orang kompak tertawa
"Sini sayang..." Panggil mama Riana
Shinta kemudian mendekat dan berdiri di samping Reyhan, dimulai dari Mama Riana yang memyematkan cincin di jari Shinta, sedangkan bunda Shinta memyematkan cincin di jari Reyhan
Semua momen itu tak luput dari semuanya termasuk Egi yang melihat melalui video call dan Rendra yang memang bertugas sebagai juru foto hari ini
Setelah semuanya selesai, mereka semua berkumpul di meja besar yang mana itu memang disiapkan untuk makan malam
Kegiatan makan malam yang biasanya selalu hening kini berganti dengan beberapa pendapat tentang hari pernikahan, beberapa orang tua meributkan tanggal
Sedangkan yang akan menikah hanya membiarkan dan manut saja pada keputusan orang tua mereka, yang penting tentang konsep pernikahan nanti mereka sendiri yang akan menentukan
"Shin" Panggil Reyhan pada gadis yang ada di samping nya
"Kenapa?" Jawab Shinta dengan menoleh ke samping
__ADS_1
"Ikut aku ke balkon bentar" Ajak Reyhan yang membuat Shinta bingung ingin menyetujui atau tidak karena sekarang banyak anggota keluarga yang memperhatikan mereka
"Yaudah boleh deh, tapi sama Sisil ya?" Tanya Shinta yang diangguki Reyhan karena dia sudah hafal kebiasaan Shinta yang mana enggan berduaan dengan nya kecuali keadaan dhorurot sih
Shinta kemudian mengajak Sisil yang duduk di sebelah nya bersama sang kakak ipar, dan yang di ajak pun menganggukkan kepala karena kemanapun Shinta mengajak nya pergi pasti bocah itu tidak akan menolak
Saat Shinta dan Reyhan sudah berdiri di waktu yang bersamaan
"Kalian mau kemana?" Tanya ayah Ari
"Ke balkon sebentar ayah" Jawab Shinta yang tau kalau sifat ayah nya itu sangat tidak suka jika dia pergi dengan laki laki yang belum memiliki ikatan halal dengan nya
"Udah lah yah... biarin aja, cuman sebentar dan lagian pergi nya juga sama Sisil kok" Ucap Bunda kala melihat cucu nya yang ada di gandengan Shinta
"Yaudah boleh" Ucap ayah Ari mengijinkan
"Awas khilaf bro!" Goda Rendra yang dibalas tatapan tajam oleh Reyhan
"Kalian juga awas khilaf!" Ucap Shinta mewanti wanti Rendra dan Jannah dengan memicingkan mata nya
"Ampun mbak jago! gak akan lah shin, tenang aja" Ucap Rendra terkekeh
"Gue nih jomblo bebas gak akan ada kata khilaf" Ucap Laila bangga dengan menepuk pundak nya sendiri
"Ye... jomblo juga bisa khilaf bambang" Ucap Jannah menyenggol lengan Laila
"Bisa tapi jarang kan?" Tanya Laila dengan mengedip ngedipkan mata nya
"Mohon maaf nih ye, prinsip nya Lala no sentuh sentuh sebelum halal" Sambung Laila yang diacungi jempol oleh semua orang
"Kenapa ngajakin kesini?" Tanya Shinta dengan mendekap Sisil yang sedang memainkan bros hijab yang ada di dada nya
"Sengaja, pusing liat mereka debat masalah tanggal" Jawab Reyhan yang justru membuat Shinta terkekeh
Shinta kemudian memandang tangan kiri nya yang kini terdapat cincin yang melingkar cantik di jari manis nya, Reyhan melihat itu dan tersenyum lalu mengikuti Shinta dengan mengangkat tangan kiri nya dan mensejajarkan dengan tangan mereka
Shinta juga tersenyum ketika melihat tangan kiri Reyhan yang tepat nya di jari manis kini ada cincin sepasang dengan nya yang melingkar disana
"Ini cincin yang aku pilih waktu di tanya sama mama kan?" Tanya Shinta
"Iya, aku yang minta tolong mama buat nanya sama kamu" Jawab Reyhan, ia kemudian mengeluarkan ponsel nya dan memfoto tangan mereka berdua yang tengah berjejer serta memperlihatkan cincin pasangan di jari manis masing masing
"Kenapa di foto?" Tanya Shinta mengingat Reyhan yang sangat jarang mengabadikan momen dalam hidup nya
"Sengaja, supaya generasi kita berikut nya bisa ngeliat foto ini" Jawab Reyhan yang tentu saja membuat semburat merah muncul di wajah Shinta
"Ini kita pakai untuk proposal aja trus nanti untuk pernikahan beli lagi?" Tanya Reyhan membahas cincin yang mereka kenakan
"Enggak lah...ini kita pakai saat udah menikah juga, tapi posisi nya nanti pindah melingkar di jari manis tangan kanan kita" Jawab Shinta menjelaskan dan Reyhan mengangguk ngangguk saja
"Kenapa kamu mau nerima aku?" Tanya Reyhan
"Nanti kalau gak di terima nangis..." Ejek Shinta
__ADS_1
"Ya gak gitu juga, aku beneran nanya loh" Ucap Reyhan
"Em... kenapa ya? karena kamu kaya, ganteng, trus apalagi yang buat aku nolak?" Jawab Shinta dengan gaya pongah nya yang justru membuat Reyhan melengos begitu saja karena tidak percaya dengan jawaban yang Shinta berikan
"Haha, oke oke.. gini, kamu itu Insyaalloh laki laki yang aku nanti sejak 8 tahun yang lalu" Ucap Shinta membuat kening Reyhan berkerut karena mereka saja baru kenal selama empat tahun
"Kamu pasti bingung kan? jadi 8 tahun lalu ada orang yang bilang sama aku kayak gini 'percaya dan yakinlah... kalau di masa depan nanti pasti akan ada laki laki yang memperjuangkanmu, mengubah pandangan mu tentang cinta dan kehidupan sehingga trauma mu akan berangsur menghilang' aku masih ingat kata kata itu dengan jelas"
"Dan kurasa perkataan nya memang benar, kamu datang di kehidupan ku dan perlahan mengubah pandangan ku tentang cinta, kamu juga berusaha membawa pelangi di kehidupan ku"
"Dan aku sangat berterimakasih untuk itu" Ucap Shinta menjelaskan panjang lebar pada Reyhan
"Siapa yang bilang itu sama kamu?" Tanya Reyhan penasaran
"Kak Zean, dia sahabat yang sudah seperti kakak ku sendiri" Jawab Shinta mengingat Zean yang sudah begitu baik pada nya
"Aku juga berterima kasih" Ucap Reyhan yang sekarang ganti membuat kening Shinta berkerut
"Untuk?" Tanya Shinta bingung
"Aku pernah berpikir bahwa semua wanita sama saja, hanya mendekat padaku karena sebuah harta, tapi... aku bertemu dengan mu yang benar benar sangat angkuh pada laki laki manapun" Ucap Reyhan memberi jeda
"Aku juga sempat menjulukimu gadis cengeng karena pertemuan pertama kita waktu kamu menangis di bandara kan?" Ucap Reyhan yang dibalas anggukan oleh Shinta karena itu memang benar ada nya
"Dan aku sengaja menunjukkan kalau aku bukan orang biasa, tapi apa reaksimu? kamu justru kesal dan menganggap aku membuang waktumu karena membicarakan hal yang sangat tidak penting, dari situ aku mulai yakin kalau kau berbeda dengan kebanyakan wanita, dan aku memutuskan untuk mendapatkanmu sebagai pendamping hidupku karena hatiku juga tidak memungkiri kalau aku jatuh cinta padamu" Ucap Reyhan menjelaskan
"Ooh.. tapi kenapa kamu bisa menganggap semua wanita itu sama?" Selidik Shinta dengan memicingkan mata nya
"Kamu kira aku pernah punya kekasih gitu?" Tanya Reyhan yang dibalas anggukan kepala oleh Shinta
"Kenapa? cemburu?" Goda Reyhan
"Au ah gelap, aku udah jujur ya kalau gak pernah punya kekasih satu kali pun" Ucap Shinta
"Aku tau, aku juga gak pernah punya kekasih karena pikiran ku waktu itu hanya belajar dan bekerja, soal kenapa aku bisa menganggap wanita itu sama? ya karena banyak teman temanku yang memiliki kekasih hanya karena harta mereka banyak" Ucap Reyhan
"Ooh.. tapi gimana caranya kamu bisa ngeyakinin ayahku?" Tanya Shinta yang membuat Reyhan gelagapan
"Eh.. kita udah di luar terlalu lama, ayo masuk!" Ajak Reyhan kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan Shinta
"Ayo!" Ajak Reyhan lagi saat melihat Shinta masih diam di tempat
"Aneh nih" Gumam Shinta curiga karena sifat Reyhan yang seperti nya menghindari pertanyaan nya barusan, tapi karena dia enggan membuang waktu, akhirnya dia pun ikut menyusul Reyhan ke dalam bersama Sisil yang ada di gendongan nya
Dan saat mereka bertiga sudah kembali masuk ke dalam aula
"Baiklah, kalian akan menikah satu bulan lagi" Ucap mama Riana lantang yang membuat Shinta terkejut, tapi tidak dengan Reyhan yang justru tersenyum
*Secepat ini? emang waktu nya cukup?* Batin Shinta bertanya tanya karena setau nya menyiapkan pernikahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan
"Kamu tau? aku sangat suka saat melihat ekspresi mu yang memerah dan terkejut, berasa ingin peluk" Ucap Reyhan berbisik yang membuat Shinta melotot ke arah nya.
Enak aja! gak boleh peluk peluk, belum halal
__ADS_1
"Om ganteng mau peluk tante? gak boleh om... nanti dosa" Ucap Sisil yang mendengar bisikan Reyhan barusan dan Shinta yang mendengar hal itu langsung menebarkan senyum penuh kemenangan
Bersambung