
Saat sampai di rumah sakit, perawatan gawat darurat segera di lakukan dan ruang operasi pun sudah di siapkan
"Maaf, anda tidak boleh masuk dan silahkan tunggu di luar" Ucap suster saat Reyhan menuju ruang operasi
Shinta mengangguk, dia menoleh ke adah suami nya, berusaha meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja
"Aku menanggu mu disini, bertahan ya" Ucap nya tersenyum walau itu sangat sakit
Reyhan hanya mengangguk, meskipun dia merasa ada yang aneh di sini, tapi dia yakin kalau kebenaran akan terungkap setelah selesai operasi nanti
Lampu luar ruangan menyala, pertanda ada operasi yang sedang di lakukan di dalam
"Nona, anda baik baik saja?" Tanya Tiara yang baru sampai dan menghampiri nona nya yang duduk di kursi tunggu
Shinta diam tidak menjawab, dia masih bingung dan ini terlalu cepat bagi nya, baru saja tadi pagi dia bertemu dengan suami, makan siang bersama ke tempat yang jauh dengan alasan ngidam, tapi sore ini? justru bukan hal baik yang terjadi melainkan cobaan yang menghampiri mereka
"Nona tolong jawab saya" Ucap Tiara
"Kenapa? kenapa harus suami saya yang menjadi korban nya? harus nya mereka membunuh saya saja, bukan mengincar suami saya terlebih dahulu" Ucap Shinta mengeluarkan apa yang ada di pikiran nya
"Jika anda terluka maka suami anda akan lebih terluka" Ucap Tiara menepuk pundak itu
"Jika suami saya terluka dan itu terjadi karena saya, maka saya akan lebih merasa bersalah di sini" Sanggah Shinta
"Maaf, ini juga salah tim kami yang tidak bisa menghalangi mereka nona" Ucap Tiara yang merasa bersalah, bagaumanapun dia adalah ketua tim itu
"Tolong diam! saya pusing" Ucap Shinta memijat pelipis nya, kepala itu sedang berpikir bagaimana caranya menyelesaikan semua ini, masalah yang belum ada ujung nya
Beberapa jam berlalu, namun operasi itu belum selesai, terbukti dari lampu yang masih menyala
Shinta tetap menunggu, selama apapun dia akan tetap menunggu sampai proses pengambilan peluru itu berhasil
"Nona, apa anda tidak mau makan malam? anda hanya sholat maghrib saja tanpa memasukkan satu makanan pun" Ucap Tiara
"Kamu pikir saya bisa makan dalam keadaan seperti ini?" Ucap Shinta datar tapi dengan kening berkerut, pusing memang
Dia bahkan lupa dengan kram yang muncul di perut saat terbentur tadi
"Anda mau membuat janin itu kelaparan? lalu sakit dan tidak bisa merawat suami anda sendiri?" Ucap Tiara yang sebenarnya kasihan namun keras kepala nona nya itu masih ada
Dia bisa memaklumi, siapa juga orang yang bernafsu makan saat pasangan hidup nya sedang berjuang di ruang operasi? tapi calon bayi di situ tidak boleh kelaparan
Perkataan tadi membuat Shinta berpikir, memang dia lapar sih tapi tidak ingin makan, tapi bagaimana dengan calon bayi nya? tidak mungkin dia membiarkan janin itu tumbuh dengan tidak sehat
"Terimakasih" Ucap nya menerima satu buah roti dan air mineral, ya walau hanya makan beberapa suapan saja tapi setidaknya ada karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
"Maafkan kelalaian tim saya nona" Ucap Tiara
"Ketika otak dingin saya kembali, mungkin ini takdir yang mengharuskan saya bertemu mereka secara langsung" Ucap Shinta
Karena tim white blood memang di tugas kan untuk melindungi Bian yang sebenarnya di balik tubuh laki laki itu adalah dia, tapi ternyata lawan mereka lebih dulu menemukan identitas Shinta dan langsung melakukan penyerangan tanpa melukai Bian lagi
"Apa nona yakin?" Tanya Tiara ragu
"Mau bagaimana lagi? jika saya menghindar dan terus menjalani hidup seperti ini, maka kapan masalah ini selesai? salah paham yang yang ada di pikiran mereka tidak akan ada habis nya" Jawab Shinta yakin
"Kalau begitu tim kami akan menemukan mereka secepat mungkin" Ucap Tiara mendukung karena dia sendiri pun gemas dan ingin mencekik para penjahat itu
Selesai pembicaraan singkat, lampu operasi pun mati, pertanda jika proses di dalam sana sudah selesai
Terlihat juga dokter laki laki yang bertugas keluar dari ruangan dengan masih berpakaian steril lengkap pada umum nya
"Bagaimana keadaan nya dok? operasi nya lancar kan?" Tanya Shinta menggebu
"Alhamdulillah operasi nya berhasil, untuk sementara biarkan suami anda istirahat total lebih dulu untuk meringankan rasa sakit nya" Jawab Dokter itu
Shinta bisa bernafas lega sekarang, dia juga meminta agar dokter dan semua rekan yang melakukan operasi kali ini bisa menyembunyikan tentang kejadian yang di alami suami nya, dia tidak mau hal ini terendus media yang mana justru akan semakin menjadi nanti nya
"Pasien adalah privasi kami, apalagi beliau juga pemilik rumah sakit ini, saya dan lain nya akan menjaga amanat itu" Jawab nya
"Terimakasih, apa boleh saya menemui suami saya?" Tanya Shinta, sebenarnya dia juga tidak tahan untuk segera melihat keadaan Reyhan
"Tentu saja boleh, tapi setelah pasien di pindahkan ke ruang perawatan" Jawab nya ramah
"Baik, terimakasih" Ucap Shinta menganggukkan kepala nya dan membiarkan dokter itu pergi untuk membersihkan badan setelah operasi dan melakukan tugas nya yang lain
"Nona, apa setelah ini suami anda akan tahu semuanya?" Tanya Tiara
"Sebelum kejadian ini saya bahkan sudah berniat jujur dan memberi tahu kan semuanya" Jawab Shinta dengan pandangan fokus ke ruang operasi, Reyhan masih di sana untuk di siapkan pindah ruangan
"Apa tuan Bian juga harus ikut menjelaskan? karena saya rasa banyak orang yang tahu termasuk adik anda" Ucap Tiara
"Mungkin saya harus menelfon Adib dan menyuruh nya kesini, hanya untuk menjelaskan semuanya jika saya tidak kuat berbicara nanti" Ucap Shinta membuka ponsel nya dan menelfon ajudan
π : Halo kak, kenapa?
π : "Kamu bisa datang ke rumah sakit?" Tanya Shinta
π : Ngapain? siapa yang sakit?
π : "Mas Rey yang sakit, untuk kejelasan nya mending kamu kesini deh" Ucap Shinta
π : Kenapa gak di telfon aja sih kak?
π : "Gak bisa, buruan kesini pokok nya" Ucap Shinta lalu mematikan sambungan telefon tanpa menunggu jawaban adik nya
"Tuan Bian bagaimana?" Tanya Tiara
"Saya akan memberi tahu nya nanti, untuk sekarang tugas Bian adalah mencari keberadaan Alena Lee, orang yang dia cintai namun juga menghianati" Jawab Shinta selalu kalem tapi mak jleb
Kemudian pintu ruangan itu terbuka dan memperlihatkan para suster yang sedang membawa ranjang Reyhan menuju ruang rawat
"Apa suami saya masih dalam pengaruh bius sus?" Tanya Shinta mengikuti ranjang itu
"Benar, mungkin beberapa jam lagi beliau juga bangun, sabar ya bu" Jawab salah satu suster
πΈπΈπΈ
Ruangan serba putih, di sini lah Reyhan berada, terbaring di ranjang yang juga serba putih dengan perban di lengan kanan bekas tertembak sore tadi
"Terimakasih sudah bertahan, cepat bagun dan aku akan menjelaskan semuanya" Ucap Shinta, dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang, menemani dan menunggu suami nya sampai kesadaran itu kembali
Hati itu tetap sakit mengingat suami nya yang terluka, dan itu pun karena dia, perban yang menempel pun di sebabkan oleh nya, bukan orang lain, mata yang biasa tegas itu pun masih terpejam sekarang
"Meskipun kamu nanti akan marah dan kecewa, tapi kamu pasti tahu mas kalau aku tidak mungkin menyembunyikan sesuatu tanpa alasan yang jelas" Ucap Shinta sembari menggenggam tangan kekar yang terdapat selang infus dan mengelus rambut suami nya
"Nona, adik anda sudah datang kesini" Ucap Tiara dari luar, dia memang menunggu di luar karena tidak ingin mengganggu nona nya
__ADS_1
Mendengar hal itu, Shinta langsung berdiri dan keluar karena tidak mungkin ia menjelaskan di dalam kamar pasien yang mana justru akan mengganggu istirahat suami nya nanti
"Kak, emang kak Rey sakit apa sampai kakak gak kasih izin aku masuk?" Tanya ajudan
"Sebenarnya....." Jawab Shinta menceritakan kejadian di panti asuhan tadi tanpa terlewat sedikit pun begitu pula dengan niat nya yang sudah ingin membongkar dan bicara jujur pada suami nya
"Hah? gila emang para penjahat itu" Ucap ajudan bernafas berat, terlihat sekali dia juga frustrasi dengan hal ini "Trus keadaan kak Rey gimana?"
"Alhamdulillah operasi nya lancar, hanya tinggal menunggu obat bius itu menghabiskan reaksi nya" Jawab Shinta
"Aku mau masuk kak" Ucap ajudan membuka pintu ruang rawat namun melihat Reyhan sudah membuka mata di sana, seperti nya memang baru bangun
Shinta melihat nya, dia juga tahu kalau suami nya sudah bangun, buru buru dia menghampiri Reyhan untuk memastikan keadaan nya
"Mas Rey, aku panggil dokter ya" Ucap Shinta ingin memencet bel namun tangan itu terhenti akibat gelengan kepala dari suami nya
"Kenapa? kamu baru bangun dan tolong biarkan dokter yang memeriksa" Ucap Shinta sedikit memaksa namun tetap, bukan Reyhan nama nya jika tidak bisa menolak
"Udah kak, jangan di paksa kalau kak Rey gak mau" Ucap ajudan mencegah kakak nya
Shinta menawarkan air putih yang hanya di minum sedikit saja oleh suami nya, seharusnya tidak ada masalah di pencernaan karena operasi hanya di lakukan di bagian lengan
"Apa yang kamu sembunyikan dari ku?" Kata pertama yang keluar dari mulut Reyhan setelah diam seribu bahasa
Shinta menghela nafas, dia tahu kalu Reyhan tidak akan melupakan hal yang terjadi hari ini semudah itu
"Kamu keluar dulu" Ucap Shinta pada adik nya yang langsung di turuti ajudan karena pasangan suami istri itu butuh waktu berdua untuk membicarakan semuanya
"Apa yang mau kamu tahu?" Tanya Shinta saat ia duduk di kursi samping ranjang setelah mengubah posisi suami nya menjadi setengah duduk
"Semuanya, ini membuatku bingung sayang. Dan aku juga tahu kalau ada sesuatu yang tidak aku ketahui di sini" Jawab Reyhan berusaha sabar
"Aku akan menceritakan sepenggal kisah yang belum kamu tahu, tapi kamu juga harus tahu kala ada alasan kenapa aku menyembunyikan nya mas" Ucap Shinta
"Aku tahu, jujur sekarang akan mengurangi kemarahan ku" Ucap Reyhan mewanti wanti agar dia tidak menggunakan emosi nanti
Huft...
"Mas, kamu tahu Zeze grup?" Tanya Shinta perlahan
"Ya, perusahaan yang di kelola Bian setelah pemilik nya meninggal" Jawab Reyhan
Siapa yang tidak tahu Zeze grup? semua orang di kalangan bisnis sudah tahu tentang perusahaan yang bergerak di bidang aset dan properti, perusahaan itu juga sudah bekerja sama sejak dulu dengan papa Raka
Hanya saja pemilik nya yaitu Zean meninggal tanpa alasan, bahkan publik tidak ada yang tahu penyebab nya hingga sekarang kepemimpinan di gantikan dengan Bian Aditya, entah siapa pemilik nya sekarang, Bian atau bukan pun dia tidak tahu
"Setelah kak Zean meninggal, perusahaan itu menjadi milik ku sejak satu tahun yang lalu" Ucap Shinta yang benar benar membuat Reyhan terkejut di sini
Hah? bagaimana bisa? istri nya pemilik perusahaan itu dan dia baru mengetahui setelah tiga bulan pernikahan mereka
"Kamu pasti bingung kan? sama juga dengan ku, aku sangat bingung kenapa kak Zean memberikan hal yang dia bangun sendiri an dari nol" Ucap Shinta di sertai nafas berat nya
"Jangan bikin aku salah paham, lebih baik jelaskan dari awal kalian mengenal satu sama lain" Ucap Reyhan yang mana dia juga kenal dengan Zean namun hanya beberapa tahun saja
Shinta mengungkap semuanya, awal ia bertemu tempat tahun saat dengan Zean, bagaimana mereka bisa dekat seperti adik kakak pada umum nya, dan beberapa hal yang Zean tinggal kan untuk nya sebelum meninggal
Lengkap dengan kejadian dan penyebab Zean meninggal, hari itu menjadi hal yang tidak pernah Shinta lupakan, hari di mana orang yang mendukung nya pergi meninggalkan semua orang
Walaupun berat untuk memberitakan, tapi ini jalan terbaik, setelah semuanya selesai maka tidak ada lagi yang harus di sembunyikan dari suaminya
"Tiara, saya rasa peluru itu penting" Ucap ajudan kepada gadis yang ada di depan nya
"Saya juga berpikir demikian, tapi bagaimana cara mendapatkan peluru itu?" Tanya Tiara, di mata orang lain dia hanya lah orang awam seperti biasa
"Kamu tahu nama dokter yang melakukan operasi tadi?" Tanya ajudan
"Iya" Jawab Tiara mengangguk
"Selagi kakak bicara kita bisa cari dokter nya terlebih dahulu" Ucap ajudan.
"Mau ngapain?" Tanya Tiara bingung
"Mau ngajakin minum cendol. Ya saya mau minta peluru nya lah Tir" Ucap ajudan kesal sendiri dengan perempuan yang belum faham itu
"Oh... kirain, emang bisa?" Tanya Tiara
"Bisa" Jawab ajudan tersenyum saja, dia sudah berniat untuk melaporkan dan membawa semua masalah ini ke meja hijau
"Cara nya?" Tanya Tiara
Ajudan menjawab dengan menunjuk name tag yang dia gunakan, mudah sebenarnya mengambil peluru itu ketika kasus ini sudah masuk ke jalur hukum
Mereka meninggalkan ruangan dan pergi ke tempat dimana dokter istirahat, lebih tepat nya ke ruangan dokter itu sendiri
Tok tok tok!
"Ehem... permisi" Ucap ajudan di depan pintu salah satu ruangan dokter bedah
"Siapa? masuk" Jawab dokter dari dalam
Ceklek!
Ajudan masuk di ikuti Tiara di belakang nya, gadis itu akan menjadi penonton kali ini
"Ya? ada perlu dengan saya?" Tanya dokter itu yanh sedang beristirahat setelah melakukan pengecekan beberapa kondisi pasien nya
"Saya pihak polisi yang di tugas kan untuk mengambil peluru dari operasi yang anda lakukan" Ucap ajudan
Tiara menggelengkan kepala nya, ternyata adik sang nona ini menggunakan pangkat untuk menjalankan misi nya
"Maaf boleh lihat surat nya? saya tidak bisa menyerahkan peluru itu begitu saja" Ucap nya ragu
*Aduh... gimana nih?* Batin ajudan kebingungan sembari mencari jalan lain
"Anda tidak percaya? perkenalkan saya Adib, adik ipar dari Reyhan pemilik rumah sakit ini, sekaligus polisi yang dia percaya" Ucap ajudan mengulurkan tangan nya
"Masa' sih?" Tanya dokter itu yang masih ragu
"Ck... yaudah nih kalau gak percaya" Ucap ajudan membuka ponsel nya lalu memperlihatkan sebuah foto keluarga, ada dia dan Shinta, beserta saudara yang lain di situ
"Oh... adik ipar nya pak direk" Ucap dokter itu mrngangguk faham
"Iya, sekarang saya minta dulu peluru nya" Ucap ajudan mengadahkan satu tangan nya
"Trus perempuan itu? gak mungkin kalau adik ipar nya pak direk juga kan" Ucap dokter tadi melihat jika saudara Shinta laki laki semua, tidak ada yang perempuan
"Astagfirullah... pak dokter, saya kan ganteng, nah dia istri saya yang cantik" Ucap ajudan meraih lengan perempuan itu agar berdiri sejajar dengan nya, terpaksa!!!
__ADS_1
Tiara terbelakak, enak saja main aku in oranh sebagai istri nya, ingin marah juga tidak bisa karena ini hanya sandiwara demi mendapatkan peluru itu
*Awas aja kalau di luar ku geprek adik nya si nona ini* Batin Tiara kesal
"Ohh... jadi perempuan ini suami nya mas polisi?" Tanya dokter
"Iya pak, saya Tiara istri nya mas polisi ini" Jawab Tiara ramah dan tersenyum meskipun asli nya dia ogah sekali
"Kalian gak bohong kan?" Tanya dokter itu sekali lagi
"Ya Alloh... enggak pak!" Jawab ajudan dan Tiara kompak, mereka tidak sabar karena capek berdrama menjadi pasangan suami istri
Dokter itu hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk nya, lalu membuka laci dan mengeluarkan plastik yang terdapat satu peluru di sana
"Baik, ini peluru nya dan saya harap anda tidak berbohong" Ucap dokter itu memberikan benda yang menjadi tujuan ajudan kesini
"Gak bohong dok, saya beneran polisi kok" Ucap ajudan menerima peluru itu sambil membanggakan seragam nya
"Dia juga beneran istri anda? dan kalian asli suami istri kan?" Tanya dokter lagi
Huft...
"Iya dok, kami suami istri" Jawab mereka kompak lagi namun dengan nada yang terpaksa, sangat terpaksa!!!
Setelah mendapat peluru itu, mereka keluar bersama, tadi yang bersikap manis di depan dokter justru sekarang jalan jauh jauh an walau koridor masih luas
"Saya terpaksa Tir, lagian ini koridor bukan trotoar, minggir banget jalan nya" Ucap ajudan melihat ada jarak satu meter lebih di antara mereka
"Saya juga tahu, tapi pakai alasan saya adik anda atau apa lah yang lain gitu" Ucap Tiara memajukan bibir nya
"Adik dari hongkong? saudara perempuan saya cuman kak Shinta, trus kamu adik keluar dari mana? lahar panas?" Ucap ajudan menggelengkan kepala
Tiara menghentakkan kaki nya ketika berjalan, dia semakin kesal saja dengan perkataan barusan yang mengejek nya keluar dari lahar panas
"Bercanda Tir, gak ada cara lain lagi dan saya juga minta maaf karena perkataan saya sudah menyakiti kamu, dan secara tidak langsung juga menyakiti suami kamu" Ucap ajudan tulus dari dalam lubuk hati nya
"Suami? saya masih muda belum punya suami" Ucap Tiara
"Lah trus kenapa marah?" Tanya ajudan
"Ya kita kan gak ada hubungan apa apa, ngapain kamu mengaku kalau kita suami istri?" Tanya Tiara balik
"Terpaksa! beneran deh saya gak ada niatan apapun, hanya demi mengambil peluru tadi, maaf" Ucap ajudan
"Iya di maafin, jangan di ulangi lagi" Ucap Tiara mewanti wanti
"Saya juga ogah" Ucap ajudan melengos begitu saja
"Cih... tunggu" Ucap Tiara berlari karena ajudan yang mempercepat langkah kaki nya
Tanpa mereka sadari bahwa ada satu pasang mata yang menyaksikan obrolan barusan, dia berdiri di balik tiang koridor dengan menatap bingung sekaligus penasaran
*Siapa dia? kenapa berdua sama Adib?* Batin nya bertanya tanya
Ajudan yang merasa kalau kakak nya mungkin sudah selesai menceritakan masa lalu langsung masuk ke ruang rawat begitu saja, meninggalkan Tiara yang menunggu di ruang tamu
"Keluar" Ucap Reyhan datar, dia sudah tahu semuanya
"Maksud kamu? aku tahu aku salah, tapi bagaimana jika kamu yang ada di posisi ku? apa yang kamu lakukan?" Ucap Shinta menagan agar air mata nya tidak keluar lagi
Ia memeluk Reyhan dari sisi kiri, mengeratkan pegangan itu di area pundak dan leher seolah enggan melakukan apa perintah suami nya barusan
"Keluar" Ucap Reyhan berusaha melepas pelukan itu dengan tangan kiri nya, namun nihil... bukan nya longgar tapi justru pelukan itu semakin kuat, dia dapat merasakan bahwa ada air mata yang menetes membasahi baju pasien nya di bagian pundak
Jelas itu air mata istri nya, tidak tega sebenarnya, jadi dia hanya membiarkan Shinta memeluk nya tanpa membalas pelukan itu kembali
"Keluar dulu" Ucap Reyhan merubah nada suara nya yang tadi datar, kini menjadi lembut
"Gak mau" Tolak Shinta menggelengkan kepala nya berkali kali
"Ketika aku melakukan kesalahan, kamu pergi untuk menangkan diri bukan?" Ucap Reyhan yang di angguki istri nya
"Demikian juga aku, setelah mendengar semuanya, aku butuh waktu untuk sendiri, seperti yang kamu lakukan... hanya sebentar, beri aku waktu" Ucap Reyhan melepaskan tangan yang melingkar di pundak nya secara perlahan
"Janji sebentar?" Tanya Shinta memastikan
"Hanya sebentar" Jawab Reyhan menganggukkan kepala nya
"Mari kita sama sama melakukan perjanjian yang dulu menjadi kesepakatan kita, kamu ingat kan?" Ucap Reyhan lagi, dia ingat bahwa ada satu perjanjian dia daj istri nya saat awal menikah dan perjanjian itu akan di laksanakan ketika mereka memiliki masalah
"Em" Jawab Shinta menganggukkan kepala, dia juga ingat dengan kesepakatan itu
"Sekarang tinggalkan ruangan ini, kita melakukan kesepakatan itu di tempat yang berbeda untuk menemukan jawaban nya" Ucap Reyhan mengelus pipi istri nya yang basah, merasa berdosa sebenarnya ketika melihat air mata itu terus mengalir
Semarah apapun Reyhan, meskipun hati nya kecewa, dia menahan dan tidak akan pernah melayangkan kekerasan fisik atau bahkam berbicara kasar, dia sudah berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu seumur hidup dalam pernikahan mereka
Ingat akan emosi hanya lah berasal dari iblis yang dapat merusak atau memperburuk suatu masalah
"Emm... aku akan melakukan nya dan kembali kesini setelah selesai" Ucap Shinta menyanggupi ucapan suami nya
"Kamu akan menjadi seorang ibu, jangan terlalu gegabah dengan suatu hal" Ucap Reyhan mengingatkan
"Aku pergi dulu, assalamualaikum" Ucap Shinta mengecup punggung tangan itu
"Waalaikumsalam" Jawab Reyhan, dia harus menyaksikan istri nya keluar dari kamar rawat dengan keadaan menangis dan itu juga karena perintah nya
"Eh, kamu di sini dek?" Ucap Shinta terlonjak kaget saat ajudan berdiri di depan dengan pintu setengah terbuka
"Aku mendengar semuanya kak, aku tahu kalau kakak juga salah dalam hal ini, dan aku juga tidak membenarkan siapapun dari kalian berdua" Ucap ajudan
"Tapi yang di katakan kak Rey memang benar, lebih baik menangkan pikiran terlebih dahulu dari pada kelepasan mengucap hal buruk yang akan menjadi do'a di rumah tangga kalian" Lanjut nya
"Em... aku keluar dulu" Ucap Shinta ingin melangkahkan kaki nya
"Keluar saja, biar aku yang ganti jagain kak Rey di sini" Ucap ajudan menepuk pundak kakak nya dua kali lalu masuk dan menggantikan Shinta di dalam
Shinta berjalan menuju Tiara yang sudah berdiri, seperti nya gadis itu ingin mengatakan sesuatu pada nya
"Nona, tim sudah menemukan Alena Lee dan sekarang mereka sedang menuju ke gudang" Ucap Tiara setelah mendapat kabar dari tim yang dia pegang
"Benarkah?" Tanya Shinta menujukkan senyum sinis nya, mata itu memperlihatkan amarah dan kekecewaan yang menjadi satu
Dia tidak mungkin membiarkan penjahat itu pergi begitu saja tanpa mempertanggung jawabkan perbuatan nya, apalagi masalah kali ini sudah menyangkut nyawa seseorang
Bersambung
bukan karma, melainkan semua yang kita lakukan di dunia ini selalu terdapat sebab akibat yang mana berhubungan dengan perlakuan kita semasa hidup.
__ADS_1