
reyhan masih setia mondar mandir di depan gerbang karena sedari tadi belum ada yang membuka gerbang untuk nya
tak lama kemudian, bi asti datang dan membuka gerbang namun hanya sedikit
"shinta ada kan bi?" tanya reyhan
"maaf, non nya lagi keluar, ada urusan" jawab bi asti sopan
"bibi gak bohong kan?" selidik reyhan
"bibi gak bohong" tiba tiba ajudan shinta yang menjawab yang tiba tiba datang dengan menaiki moge nya
*huftt selamat* batin bi asti lega
"kakak ku gak ada di rumah, dia lagi keluar entah kemana" sambung nya santai
bi asti yang melihat kedatangan nya langsung membuka gerbang sedikit lebar agar moge itu bisa dimasukkan
"lebih baik kamu pergi, kakak ku gak mau ketemu sama kamu" ucap ajudan yang sudah di dalam gerbang kemudian menutup nya rapat rapat
*ntah kenapa aku gak percaya kalau dia gak ada di rumah* batin reyhan
setelah sadar kalau shinta tidak akan mau menemui nya sekarang karena ia juga tau kalau shinta pasti marah dengan nya, ia kemudian masuk ke mobil dan memutuskan untuk pulang karena ada beberapa hal yang harus segera ia selesaikan
"assalamu'alaikum" ucap ajudan saat masuk rumah
"waalaikumsalam om" jawab sisil yang masih belepotan dengan stroberi nya
"tante kamu dimana sil?" tanya nya
"di atas om" jawab sisil kemudian kembali fokus dengan stroberi nya
mendengar jawaban sisil, ia kemudian langsung menuju ke atas karena ada yang harus ia tanyakan sekarang
"kak, kenapa-.. " ucapnya saat sampai di taman rooftop dan melihat ada orang lain disana
"ekhem.. matanya" sindir shinta saat melihat adik nya itu hanya diam sambil melihat sela
"eh iya kak" ucap ajudan saat tersadar
"salam dulu toh, masa' kalah sama sisil" cibir shinta yang tidak mendengar salam sama sekali
"iya kak, assalamualaikum" ucap nya sambil duduk di sebelah shinta
"waalaikumsalam" jawab ketiga gadis itu kompak
"kenapa kakak gak mau ketemu sama laki laki itu?" tanya ajudan
"ada, nanti aja kakak kasih tau alasan nya" jawab shinta yang lelah menceritakan lagi dari awal
"kalau gitu aku pulang dulu ya" pamit sela
"di anter pak didi aja ya?" ucap shinta memberi tawaran
__ADS_1
"kenapa gak aku aja kak?" tanya ajudan, dan 3 2 1
"aaaa.. iya iya, lepas kak, maaf" ucap ajudan saat telinga nya dijewer oleh shinta
"kamu mau berduaan sama cewek trus yang ketiga nanti setan gitu?" tanya shinta
"aaa, enggak loh kak, maaf.. ini lepasin dulu" ucap ajudan menepis tangan shinta yang masih nangkring di telinga nya
"nanti kalau telinga ku putus gimana?" ucap nya sambil mengelus telinga yang sudah memerah
"makanya kalau mau deketin tuh pakai cara yang modern dikit kek, jangan alibi nganter pulang segala..itu lagu lama" cibir shinta
"kakak mah kayak gak pernah muda" ucap ajudan mengerucutkan bibir nya
jannah hanya terkekeh geli melihat perdebatan adik dan kakak itu, berbeda dengan sela yang wajah nya sudah memerah
"jan, lo ke bawah gih, temuin pak didi suruh nganter sela, sekalian bawa pulang aja mobil nya" ucap shinta
"heh? tumben banget? itu mobil kesayangan lo kan?" tanya jannah heran
"percuma juga punya mobil gak punya SIM" ucap shinta
"ha? emang SIM kakak kemana?" tanya ajudan yang belum sempat dijawab shinta
"kakak harusnya malu sama semut, semut aja bawa makanan segede itu gak pernah hilang, lah kakak bawa SIM setipis keripik tempe aja hilang" lanjut nya nyerocos tanpa henti
"kamu sotoy banget deh, SIM nya gak hilang, udah nanti aja aku cerita in" ucap shinta kesal
"gue sama sela ke bawah dulu ya" ucap jannah yang diangguki keduanya
"waalaikumsalam" jawab mereka kompak
"kak, dia siapa?" tanya ajudan saat jannah juga sela sudah turun ke bawah
"emang kenapa?" tanya shinta balik
"gak papa kak, cuman penasaran aja.. eh tapi moge nya gak pernah dipake ya?" kurang enak mesin nya " tanya ajudan mengalihkan perhatian, belum saat nya dia memikirkan tentang hal itu saat ini
"gimana mau makai orang gak dibolehin sama kamu, jadi ya tiap hari cuman dipanasin doang" ucap shinta
"iya juga, emang beneran gak pernah di pake?" tanya ajudan lagi
"pernah sekali kok, tapi ada gak enak nya juga bawa moge" jawab shinta
"kok gak enak? kan keren" tanya ajudan heran
"kalau macet gak bisa nyelip kendaraan lain, mau ngebut juga takut nabrak, berasa naik gajah taman safari deh" jawab shinta apa adanya
"wah..berarti kakak kalau naik motor suka ngebut ya?" selidik ajudan
"dari dulu" jawab shinta enteng ketika dia merasa tidak ada yang perlu di tutupi lagi
"nakal banget emang" cibir ajudan
__ADS_1
"kayak kamu dong" ucap shinta
"buruan cerita in kak, aku nanti malam mau dinas" ucap ajudan yang penasaran
"bingung nyeritain nya darimana" ucap shinta menghela nafas panjang
"jangan sesak nafas dulu loh kak, cerita dulu" goda ajudan agar kakak nya lebih rileks
"kamu mah gitu" cibir shinta mengerucutkan bibir nya
"makanya buruan cerita" ucap ajudan memberi perintah
"huh.. iya iya, jadi.. " ucap shinta menceritakan semuanya dengan nada malas karena sesungguhnya dia tidak ingin mengingat kejadian hari ini
"kok bisa kayak gitu ya? trus kok si laki laki itu gak percaya sama kakak?" tanya ajudan setelah mendengar semuanya
"ya mana aku tau" jawab shinta mengedikkan bahu nya
"apa perlu kasus ini di bawa ke ranah hukum? biar bisa di selidiki sama anggota Intel kepolisian" tanya ajudan
"aku rasa jangan dulu deh, entah kenapa kakak yakin kalau pelaku nya orang berpengaruh juga, soalnya dia bisa loh masukin nama kakak ke laporan itu" ucap shinta
"iya juga, kalau dia punya koneksi ya alamat bakal ada suap menyuap nanti" ucap ajudan
"nah itu.. " ucap shinta membenarkan
"tapi apa kakak yakin bisa ngatasi masalah ini?" tanya ajudan
"yakin gak yakin, tapi tenang aja.. biarin kakak jadi detektif bentar" ucap shinta terkekeh
"detektif conan?" cibir ajudan
"gak papa dong, detektif conan edogawa kan imut" ucap shinta mengingat film anime kesukaan nya yang tak lain dan tak bukan adalah detektif conan edogawa
"terserah kakak deh, aku kebawah dulu ya, mau mandi... gerah banget" ucap ajudan seraya keluar dari taman rooftop
saat malam tiba, seperti biasa kalau setelah menidurkan sisil, shinta pasti akan pergi ke balkon kamar untuk memikirkan apa saja kegiatan nya hari ini, apa hari ini ia melakukan kesalahan atau tidak, dan lain sebagai nya
ia berdiri dan menghela nafas dalam dalam, dengan angin dingin di malam hari yang terus menerpa wajah nya, ia juga masih menerka nerka tentang siapa yang berani memfitnah diri nya, maka dari itu ia memutuskan menghubungi sesorang untuk memeriksa dan meretas cctv rumah sakit
đ©: "retas cctv seperti kemarin, lakukan secepatnya!" pesan nya
"white blood? aku baru ingat kalau ada tim white blood" gumam nya yang tiba tiba teringat sesuatu sambil menggigit salah satu jari tangan nya
"apa aku pakai tim white blood aja ya?" gumam nya lagi
bersambung
aasalamu'alaikum para readers yang setia dan selalu mengikuti cerita ini, selamat hari raya idul fitri 1442 hijriah bagi yang merayakanâ€
semoga di tahun tahun berikut nya kita diberi kesehatan dan umur yang panjang agar bisa bertemu kembali dengan bulan yang suci ini,juga kembali mensucikan diri dengan melakukan hal hal positif
terimakasih banyak buat para readers yang setia dan menyimak cerita receh author ini dari awal, author mencintai kalian selaluâ€đ€
__ADS_1
wassalamualaikum:v
@nuriya_hwa