
Sesuai dengan kesepakatan, hari ini Shinta sudah mendapatkan izin untuk besok dan pulang ke kota J, untung nya rumah sakit dapat memberi nya hari libur walaupun dia termasuk pegawai baru
"Nanti balik jangan lupa bawa oleh oleh" Ucap Monik sebelum Shinta pulang kerja
"Oleh oleh aja pikiran lo" Cibir Bagas
"Trus apalagi kalau gak oleh oleh?" Tanya Monik
"Nikah sama gue kek yang dipikirin" Ucap Bagas
"Cuih... ogah banget" Ketus Monik dengan mengibaskan tangan nya
"Udah ya kita pulang dulu... " Pamit Jannah dengan menggeret tangan Shinta agar segera keluar dari ruangan
"Ya.. hati hati" Jawab Sela dengan melambaikan tangan nya
Jannah terus menarik tangan sahabat nya itu sampai mereka benar benar sampai di parkiran
"Ayo pulang!" Ajak Jannah
"Lo gak ada niatan buat bantuin gue gitu?" Tanya Shinta seraya masuk ke mobil nya
"Bantuin apa?" Tanya Jannah balik dengan perlahan memgemudikan mobil nya
"Biar gue gak jadi pulang" Jawab Shinta dengan menunjukkan cengiran khas nya
"Udalah... semua baik baik aja, lo gak perlu khawatir dan jangan cengar cengir gitu" Ucap Jannah yang membuat Shinta langsung memajukan bibir nya lima centi meter
Ingin sekali Shinta meminta bantuan pada Bian agar dia tidak jadi pulang, namun mengingat nama nya yang akan musnah dari KK pun hal itu ia urungkan
"Lo kenapa juga khawatir banget soal nama KK?" Tanya Jannah dengan pandangan lurus ke depan
"Ya trus gue harus buat nama KK sendirian gitu? ntar bisa bisa gue dikira janda kembang" Ucap Shinta menjelaskan mengingat usianya yang masih muda
"Lo pulang gak pulang juga ujung ujungnya nama lo tetep ilang dari KK" Gumam Jannah pelan
__ADS_1
"Apa? lo bilang apa barusan?" Tanya Shinta, memang telinga nya tidak setajam telinga Reyhan dalam hal pendengaran
"Gak, gak ada" Jawab Jannah gelagapan kemudian lebih memilih fokus dengan jalan raya daripada menanggapi ocehan dan omelam Shinta yang mengeluh hanya karena disuruh pulang
Sumpah demi apapun Jannah ingin sekali memyumpal mulut yang tengah banyak bicara kali ini, kan tinggal pulang trus balik lagi ke bandung juga apa susahnya sih? heran
*Sabar Jannah... jangan sampai mulut lo comber dan ngasih tau Shinta kalau pak Rey itu orang yang mau ngelamar dia* Batin Jannah berusaha menambahkan kadar kesabaran pada dirinya sendiri
"Trus gue harus gimana dong jan?" Tanya Shinta frustrasi setelah berbicara panjang lebar
"Ck, lo besok berangkat dan lusa balik kesini, udah cukup itu aja" Jawab Jannah yang lama lama ikutan frustrasi dengan ocehan unfaedah dari sahabat nya
Pintar dalam menghadapi kerjaan atau masalah, tapi bego dalam hal percintaan, ya itulah Shinta, 24 tahun hidup dengan enggan mengenal kata cinta, bukan tanpa alasan melainkan dia sangat takut hal yang membuatnya trauma akan diulangi oleh pasangan nya nanti
"Sekarang lo turun, beresin barang barang lo" Ucap Jannah saat mereka berdua sudah sampai di rumah dan mau tak mau Shinta harus turun dan masuk ke kamar untuk mengemasi pakaian nya dalam koper kecil
"Mau dibantuin non?" Tanya bi Asti
"Nggak perlu bi, cuman dikit aja kok" Jawab Shinta dengan meneruskan langkah menuju kamar nya
Keesokan hari nya, ajudan sudah sampai di rumah karena jadwal penerbangan mereka adalah jam enam pagi, ya karena keluarga Shinta memang sengaja menyuruh untuk mengambil penerbangan pagi
"Udah kak?" Tanya ajudan saat koper milik kakak nya sudah bertengger rapi di dalam bagasi mobil
"Udah" Jawab Shinta kemudian masuk ke dalam mobil adik nya diikuti dengan Jannah yang beralasan ingin mengantar sahabat nya
Setelah perjalanan, mereka pun sampai di bandara dan mengeluarkan barang yang akan mereka bawa dengan cekatan tanpa babibubebo
"Dadah... hati hati" Ucap Jannah melambaikan tangan nya ketika Shinta dan ajudan menjauh dengan membawa koper masing masing
"Dadah.. sampai ketemu nanti" Ucap Jannah terkekeh geli karena ia pun akan ke kota J hari ini, hanya saja dia berangkat dengan jam penerbangan yang berbeda, sengaja agar sahabat nya tidak mengetahui hal itu
Shinta kemudian mengeluarkan tiket nya saat mereka akan check in, dia menatap tiket kelas bisnis itu kemudian menyerahkan pada pihak petugas bandara, begitu juga dengan ajudan yang menyerahkan tiket nya
"Ayolah kak.. jangan cemberut mulu" Ucap ajudan heran melihat ekspresi Shinta yang hanya diam saja
__ADS_1
Sampai mereka masuk ke dalam pesawat dan duduk manis di sana pun Shinta masih diam saja, dia kemudian mengeluarkan ponsel nya karena ingin melihat pesan masuk terutama dari Reyhan
Direktur Ganteng
π© : Bagaimana kabarmu? dan apa kegiatan mu hari ini?
π© : "Baik, tidak melakukan apa apa, hanya saja sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang ke kota J" Balas Shinta tanpa memberi tahukan alasan nya pulang karena dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Reyhan
π© : Kenapa mendadak? apa ada sesuatu yang terjadi?
π© : "Aku juga tidak tahu" Balas Shinta
π© : Baiklah, jangan bersedih dan semoga semuanya baik baik aja
π© : "Aku harap juga begitu" Balas Shinta kemudian mematikan ponsel nya karena pesawat yang mereka tumpangi akan segera take off
"Kak... kakak kan banyak duit, kenapa gak beli tiket first class?" Tanya ajudan yang berusaha menggoda kakak nya karena kursi milik nya memang bersebelahan dengan Shinta
"Dari jawa barat ke jawa timur pakai first class gitu?" Tanya Shinta dan ajudan mengangguk sebagai jawaban
"Ogah... cuman dua jam juga percuma naik first class buang buang duit" Ucap Shinta yang memang sangat memanage keuangan nya
"Haha.. ternyata kakak ku masih sama, managemen uang nya sangat ketat" Ucap ajudan terkekeh karena hal itu memang sudah melekat dari Shinta sejak dia masih duduk di bangku sekolah
"Kakak akan foya foya pada masa nya" Ucap Shinta dengan senyum nya
"Iya, kakak kalau foya foya kan cuman borong makanan atau kalau gak jajan pinggir jalan di beli rata semuanya" Ucap ajudan tergelak
Shinta hanya cemberut karena hal itu memang benar adanya, dia suka berjajan ria dan membeli rata jajanan di pinggir jalan raya yang biasa selalu orang orang nikmati
"Gak papa kali, orang jualan di pinggir jalan kan butuh di beli" Ucap Shinta menasihati adik nya yang sedang tergelak itu
"Iya kakak... apapun yang kau lakukan memang benar" Ucap ajudan mengalah sebelum sang kakak akan lebih kesal lagi nanti nya
Kemudian Shinta lebih memilih untuk menyandarkan badan nya pada kursi yang sudah di atur dan memandang ke arah luar jendela
__ADS_1
Bersambung