
Reyhan juga Shinta kemudian kembali duduk di tempat masing masing untuk membahas tanggal, rasanya saru (tidak baik) kalau mengobrol dengan berdiri
"Kenapa satu bulan lagi ma?" Tanya Shinta
"Bulan depan masuk syawal, itu bulan bagus loh" Jawab bunda menjelaskan
"Kenapa? kelamaan ya?" Tanya mama Riana dengan senyum menggoda
"I-" Ucap Reyhan terhenti
"Enggak ma, justru Shinta ragu karena jangka waktu nya yang pendek" Sahut Shinta cepat sebelum Reyhan mengatakan yang tidak tidak
"Jangan khawatir, waktu nya cukup kok sayang" Ucap mama Riana lembut
"Rey... bulan depan kamu bisa ambil cuti kan?" Tanya papa Raka memastikan
"Bisa pa" Jawab Reyhan yang berniat akan mengosongkan schedule nya bulan depan
Setelah para orang tua sepakat tentang tanggal dan menyerahkan urusan lain nya pada anak mereka, para orang tua pun mengakhiri makan hari ini karena waktu yang sudah malam dan semua memutuskan kembali ke kamar masing masing
Tinggallah para anak muda yang masih bersantai di dalam aula, kecuali ajudan dan wildan yang sudah kembali ke atas
"Shin" Panggil Laila
"Hmm?" Jawab Shinta dengan menoleh ke arah Laila
"Lo masih ingat sama gaun pengantin impian lo?" Tanya Laila dengan mengeraskan suara nya, sengaja agar Reyhan mendengar nya
Dan ternyata berhasil... ucapan Laila barusan terdengar jelas di telinga Reyhan yang sedang mengerjakan pekerjaan nya di hadapan layar kotak, apalagi kalau bukan laptop
"Mulut lo astagfirullah... " Ucap Shinta heran dengan menggelengkan kepala nya
"Gaun pengantin?" Ucap Reyhan menautkan kedua alis nya
"Ah... iya, gue juga masih ingat sama gaun impian nya Shinta" Sahut Jannah dengan menahan tawa nya
"Gaun? emang dia punya gaun pengantin impian?" Tanya Rendra heran
"Punya, ada kok di daftar desain nya Lala" Jawab Jannah
"Bener?" Tanya Reyhan meminta jawaban pada gadis yang ada di hadapan nya dan terhalang meja saja
"Ya... bener sih, tapi itu kan dulu dan sekarang mungkin udah hilang gambar desain nya" Jawab Shinta mengedikkan bahu nya
"Enak aja, siapa yang bilang kalau desain itu hilang? masih ada di tangan gue sampai sekarang" Sahut Laila tidak terima karena dia benar benar menjaga desain gaun milik Shinta
"Kok bisa si kutub itu punya gaun pengantin impian?" Tanya Rendra yang membuat Shinta melotot ke arah nya
"Shin... ayo jelasin" Ucap Jannah terkekeh dengan memberikan gestur tangan silahkan
Shinta kemudian berdehem sebentar sebelum menceritakan tengang gaun impian nya
"Kan Lala waktu SMA dulu mendalami hobi nya di bidang desainer pakaian, dan dia minta aku supaya deskripsi in gaun pengantin impian atau gaun yang paling aku suka, karena kita jadi sahabat udah lama... yaudah aku turutin kemauan nya dan Lala akhirnya ngegambar desain sesuai deskripsi ku" Ucap Shinta menceritakan dengan bernostalgia masa abu abu putih mereka
"Mau pakai gaun itu nanti?" Tanya Reyhan serius karena dia memang berniat mengabulkan apapun yang Shinta minta untuk pernikahan mereka nanti
"Kayak nya jangan, waktu nya pasti gak cukup" Jawab Shinta mengingat waktu yang hanya satu bulan dan tidak mungkin gaun itu bisa jadi dalam waktu dekat
"Pakai gaun impian kamu juga gak papa, bukan nya setiap perempuan punya pernikahan impian mereka ya?" Ucap Reyhan
"Ya... iya sih, emang gak ngerepotin?" Tanya Shinta yang khawatir kemauan nya justru akan merepotkan dan akan menjadi kendala
"Gak akan repot, apa sih yang enggak buat pernikahan kita?" Goda Reyhan yang justru menimbulkan keramaian di dalam aula
"Cieeee.... "
"Uhuy.... "
"Suit suit.... "
Sorak Jannah, Rendra, dan juga Laila kompak
*Apaan coba?* Batin Shinta dengan muka yang memerah dan memutuskan untuk minum, tapi berbeda dengan Reyhan yang tetap pada tampang tembok nya
"Sebenar nya gaun impian lo itu hampir jadi" Ucap Laila membuat Shinta tersedak minuman nya
"Ha? kapan lo bikin gaun itu?" Tanya Shinta terkejut setelah mengelap bibir nya dengan menggunakan tisu
"Udah lama, gue iseng banget bikin gaun punya lo dan ternyata lo beneran nikah" Jawab Laila terkekeh mengingat Shinta yang selalu menghindari laki laki
"kalau gue gak nikah?" Tanya Shinta ingin tau bagaimana nasib gaun itu
"Ya... terpaksa di simpan terus di dalam lemari kaca, sampai lo bener bener nikah karena gak ada yang boleh pakai gaun itu selain elo!" Jawab Laila
"Manis" Ucap Shinta tersenyum
__ADS_1
"Soosweet kali... " Sahut Jannah
"Kan sama aja, artinya manis" Ucap Shinta
"Yaudah, berarti nanti baju kita ambil dari butik nya Laila aja" Ucap Reyhan yang disetujui Shinta
"Kalau urusan yang lain boleh di bicara in waktu kita udah pulang gak? aku ngantuk" Tanya Shinta yang sebenarnya ingin melakukan sesuatu
"Iya, kamu istirahat aja, aku ada urusan pekerjaan sama Rendra" Ucap Reyhan
"Oke, kalian mau ikut gak?" Tanya Shinta pada duo sahabat nya
"Ikut dong... tidur bertiga mumpung lo belum nikah" Jawab Laila dan akhirnya mereka bergandengan bertiga menuju kamar Shinta
Saat mereka bertiga sampai di depan pintu kamar hotel
"Kalian duluan aja, ini kunci nya" Ucap Shinta dengan memberikan kartu kunci kamar nya
"Lo mau kemana?" Tanya Jannah heran
"Iya, tadi katanya ngantuk?" Tanya Laila
"Gue mau ngambil barang yang ketinggalan di kamar ajudan, jadi kalian duluan aja... jangan nungguin gue" Ucap Shinta kemudian berjalan menuju kamar yang ada di sebelah nya
Laila juga Jannah hanya mengedikkan bahu, kemudian masuk ke kamar Shinta dan meninggalkan sang empu disana
"Ada apa kak?" Tanya ajudan membuka pintu kamar saat mendengar bel berbunyi dengan mata yang masih setengah terpejam
"Aku mau masuk, ada yang mau aku tanya in" Jawab Shinta kemudian nyelonong masuk ke kamar adik nya, sedangkan ajudan pun hanya membiarkan saja
Shinta kemudian duduk di sofa sudut kamar dan dia juga bisa melihat Wildan yang tengah fokus dengan ponsel nya dengan rebahan di kasur hotel
"Mau nanya apa kak?" Tanya ajudan seraya duduk di samping Wildan
"Sebelum acara ini, kak Rey ke rumah kita gak?" Tanya Shinta membahas rumah di kota J
"Ya mana aku tau, kan aku juga di bandung sama kayak kakak" Ucap ajudan dengan mengedikkan bahu nya
"Aku tau kalau kamu pasti gak tau, tapi adek kita yang usil ini pasti tau" Ucap Shinta menunjuk Wildan
"Aku? aku ngapain?" Tanya Wildan menunjuk diri nya sendiri ketika sadar bahwa sang kakak tengah membicarakan nya
"Kak Rey ke rumah gak sebelun acara ini?" Tanya Shinta menatap intens adik nya
"Ya... ya iyalah, mau ngelamar kan harus izin dulu sama ayah bunda" Jawab Wildan santai
"Kakak mau interogasi nih ceritanya?" Tanya Wildan balik, sedangkan ajudan hanya menyimak saja
"Kalau iya kenapa? kan cuman kamu yang tinggal sama ayah bunda" Jawab Shinta mengakui jika dia memang ingin menginterogasi adik nya
"Aku gak bisa ngasih tau kak, karena waktu kak Rey baru sampai aja aku pamit keluar rumah" Ucap Wildan dengan mengalihkan pandangan mata nya
"Kamu bohong kan?" Selidik Shinta yang sudah tau gelagat adik nya ketika berbohong
"Kak... pliss deh, jangan tanya aku" Ucap Wildan
"Kenapa? kamu punya janji buat gak ngasih tau aku ya?" Tanya Shinta menebak
"Iya" Jawab Wildan mengaku karena dia memang sempat berjanji pada Reyhan untuk tidak memberi tau Shinta tentang kedatangan nya meminta restu
"Cerita in sama kakak deh, kakak kan yang mau nikah... jadi aku harus tau dong gimana cerita nya waktu kak Rey ke rumah" Ucap Shinta
"Tanya aja sama bunda" Ucap Wildan
"Aku yakin bunda juga gak akan ngasih tau aku" Ucap Shinta dengan mencebikkan bibir nya
Dia tidak ingin bertanya pada sang bunda karena bunda nya sendiri pasti enggan memberi tau diri nya supaya Shinta tidak semakin membenci sang ayah
"Aku beliin sepatu keluaran terbaru deh" Ucap Shinta berusaha membujuk
"Gak, udah punya banyak sepatu" Ucap Wildan menolak
"Aku beli in handphone baru" Ucap Shinta
"Nih... baru satu bulan beli" Ucap Wildan menolak lagi dengan menunjukkan ponsel milik nya
"Ck, PS gimana?" Tanya Shinta
"Udah ada di kamar aku" Ucap Wildan menolak lagi
Berulang kali Shinta membujuk dengan barang barang yang akan dia belikan namun tetap di tolak oleh Wildan, dan akhirnya dia tau barang yang benar benar adik nya inginkan
"Macbook keluaran terbaru?" Tawar Shinta membuat Wildan bimbang
"Tuh... macbook keluaran terbaru loh" Ucap ajudan ikut mengompori karena dia pun juga penasaran bagaimana cara Reyhan agar mendapat izin dari ayah nya
__ADS_1
"Besok kamu bebas milih versi nya di toko" Sahut Shinta
Wildan yang memang menginginkan barang itu pun akhirnya turun iman juga
"Beneran ya?" Tanya Wildan memastikan
"Iya" Jawab Shinta yang mana dia tidak mau ingkar dengan ucapan nya sendiri
"Sekarang buruan cerita" Ucap ajudan
Wildan perlahan pun mulai menjelaskan dari awal sampai akhir bagaimana cara Reyhan mendapat izin dari ayah nya
Sedangkan di tempat lain, ada dua gadis yang sedang sibuk dengan masker di wajah masing masing
"Gue gak nyangka kalau Shinta yang justru duluan nikah" Ucap Laila terkekeh dengan men tap tap wajah nya agar nutrisi masker tersebut dapat meresap sempurna ke dalam kulit nya
"Ya karena yang ketemu sama jodoh nya dia duluan" Jawab Jannah tengah rebahan wenak
"Gue jadi pengen nikah" Ucap Laila yang disambut toyoran dari Jannah
"Nikah kan bukan cuman enak nya aja, tapi selamanya" Ucap Jannah
"Ya gue juga tau, makanya pengen ngejalanin hubungan selamanya" Ucap Laila
"Ada noh laki yang nganggur, dia juga tampan" Ucap Jannah tersenyum jahil
"Siapa?" Tanya Laila
"Tuh... Bian, teman bisnis lo" Jawab Jannah tergelak
"Ye... kan gue belum punya perasaan apa apa sama Bian" Ucap Laila
"Kan siapa tau nanti bakalan ada bunga bunga yang bermekaran di antara kalian" Ucap Jannah beranjak dari tiduran nya karena bel kamar mereka berbunyi
"Shin... lama bener lo ke kamar ajudan" Ucap Jannah saat Shinta masuk ke kamar
"Ya sambil ngobrol bentar" Ucap Shinta kemudian mencuci muka nya di kamar mandi juga berganti piyama tidur, dan langsung merebahkan tubuh nya di atas kasur
"Lo kenapa?" Tanya Laila merasa kalau Shinta hanya diam saja
"Capek doang pengen tidur" Jawab Shinta kemudian memejamkan mata nya dan berpura pura tidur
Keesokan pagi nya, Shinta yang memang mengambil penerbangan pagi pun langsung mandi dan sholat, kemudian membereskan barang barang milik nya dan turun ke bawah untuk sarapan yang ternyata ada Reyhan juga di restoran hotel
"Mau kemana udah bawa koper?" Tanya Reyhan bingung karena tidak tau jadwal penerbangan Shinta
"Bandara" Jawab Shinta kemudian duduk tak jauh dari Reyhan dan memakan sarapan nya setelah mengambil waffle dan madu
"Jam penerbangan pagi ini?" Tanya Reyhan dan Shinta menganggukkan kepala nya sebagai jawaban
"Pagi kak" Sapa ajudan yang juga sudah membawa koper kecil milik nya dan duduk di samping Shinta karena jam penerbangan mereka memang sama
"Pagi" Jawab Shinta tanpa mengalihkan pandangan dari sarapan nya
"Beneran mau pulang pagi ini?" Tanya Reyhan
"Iya, aku udah pamit sama semuanya" Jawab Shinta yang mana dia tadi sudah berpamitan dengan semua orang
"Aku antar ke bandara ya?" Ucap Reyhan menawarkan
"Jangan, aku udah pesan taksi online, kasian kalau di cancel" Jawab Shinta dengan mengelap bibir nya menggunakan tisu
"Udah kak? ayo berangkat, taksi nya udah sampai di depan loby hotel" Ajak ajudan dengan membawa koper milik kakak nya
Reyhan yang melihat hal itu pun juga ikut mengantarkan Shinta sampai ke depan loby hotel
"Tunggu" Ucap Reyhan mencegah kala Shinta sudah ingin masuk ke dalam mobil
"Aku masuk duluan kak" Ucap ajudan masuk ke dalam mobil karena merasa bahwa Reyhan ingin ngobrol berdua dengan kakak nya
"Kenapa kak?" Tanya Shinta dengan mengerutkan dahi nya
"Kamu kenapa? pagi ini kamu kebanyakan diem" Tanya Reyhan yang merasakan perubahan dari sikap Shinta
"Oh... aku gak papa, cuman lagi mikir persiapan acara kita aja" Jawab Shinta memberi alasan, dan untung nya Reyhan pun percaya dengan hal itu
"Jangan di pikirin terus, nanti kita pikir berdua kalau aku udah pulang ke bandung" Ucap Reyhan mengingat penerbangan mereka hanya berbeda beberapa jam saja
"Aku cuman gugup aja, yaudah aku duluan ya... assalamualaikum" pamit Shinta kemudian masuk ke dalam mobil
"Waalaikumsalam" Jawab Reyhan dengan memandang taksi yang perlahan semakin menjauh
*Sampai ketemu di bandara nanti* Batin Reyhan dengan tersenyum tipis
Sedangkan di dalam taksi, Shinta yang sedang melamun pun terkejut karena tepukan dari ajudan
__ADS_1
"Jangan dipikirin terus kak... lagian hal itu udah terlewat, gak mungkin kita bisa mengulang waktu" Ucap ajudan yang dibalas anggukan kepala oleh Shinta
Bersambung